Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Tikus Kantor


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Kak kau sedang apa?" Gerald duduk disamping Kakak nya.


"Sedang menguji kemampuan pria itu," jawab Gilbert sambil memangku laptop dipahanya.


"Menguji kemampuan pria itu?" Ulang Gerald dengan kening berkerut, "Siapa Kak?" Sambung Gerald.


"Ehem, Daddy," sahut Gilbert masih asyik dengan laptop dipangkuan nya, "Kakak ingin meretas data perusahaan nya. Biar dia merasakan kehilangan sesuatu yang dia jaga," sahut Gilbert.


Gerald manggut-manggut "Apa Kakak akan membuat perusahaan Daddy bangkrut?" Gerald ikut menatap layar ponsel Kakaknya, "Kau hebat sekali Kak," pujinya mengacungkan jempolnya memuji kemampuan sang Kakak.


"Ehem, tidak. Kakak hanya ingin melihat kemampuan nya saja. Membuatnya bangkrut tidak ada keuntungan nya untuk Kakak. Bagaimana pun dia Daddy kita," jelas Gilbert.


Gerald manggut-manggut paham. Kakak nya ini kecil-kecil cabe rawit baik dalam pemikiran mau pun tindakan dan kecerdasan nya, cara berpikir nya luas dan terbuka sehingga banyak pengetahuan yang dia miliki. Gilbert juga memiliki hobby membaca buku, karena sudah ada dasar kemampuan yang dia miliki ketika dia asah kemampuan itu semakin tajam dan teruji.


"Ehem, ternyata dia benar-benar kaya. Lebih kaya dari Ayah," ujar Gilbert


"Daddy kita memang kaya Kak. Semoga kita Kaya seperti Daddy nanti," seru Gerald tersenyum sumringah.


Gilbert menatap adiknya tajam "Kau mau Kakak tendang?" Ancamnya, "Jangan bicarakan dia lagi. Dia bukan Daddy kita, dia hanya Ayah biologis. Kau paham Gerald?" Tegasnya.


Gerald menelan salivanya susah payah. Kakaknya kalau sudah mengancam tak main-main, mampu membuat bulu kuduk nya berdiri ngeri.


"Ehem, kau terlalu serius Kak. Aku hanya bercanda," Gerald langsung kikuk lalu mengusap tengkuknya yang terasa dingin.


Gilbert tak menanggapi ucapan adiknya dia kembali serius dengan laptop dipangkuan nya.


"Ehem, dia hebat juga didunia IT,"


"Pantas kita juga jenius Kak," sahut Gerald.


"Dari pada kau berbicara terus lebih baik ambilkan Kakak air minum," ketus Gilbert jenggah melihat adiknya.

__ADS_1


"Iya Kak," Gerald menurut dari pada terkena amukkan Kakak nya yang sedang mode tidak mood itu.


Gerald keluar dari kamar mengambilkan minuman Kakaknya. Rachel menanamkan kebiasaan pada anak-anak nya agar tidak bergantung pada pelayan yang bekerja di istana keluarga Choky apalagi mereka hanya menumpang disini. Selama hal dibutuhkan bisa dilakukan sendiri kenapa harus menyuruh orang lain? Anak-anak Rachel yang terdidik dan dewasa sebelum waktunya itu mengikuti dan patuh pada perintah dan pesan sang Kakak nya.


Sedangkan Gilbert kembali melanjutkan aksinya. Wajahnya tampak serius seperti orang dewasa. Meski tubuhnya kecil tapi aura nya terlihat seperti orang-orang yang memiliki kecerdasan sangat tinggi.


"Cih, ternyata dia memiliki anti virus juga. Hem, lihat saja aku akan mengirim virus baru padanya," gumam Gilbert.


Takkkkkkkk


"Beres," dia tersenyum smirk setelah menekan tombol enter, "Aku ingin melihat reaksi nya, bagaimana saat dia tahu jika perusahaan nya telah ku retas. Lihatlah besok dia pasti heboh," ujar Gilbert tertawa mengelagar, "Dia harus tahu bahwa sedang berhadapan dengan siapa," setelahnya pria kecil itu menutup laptopnya karena sudah merasa puas dengan sesuatu yang tengah dia kerjakan.


"Son,"


Gilbert terkejut saat mendengar suara seseorang memanggil namanya. Dia menoleh kearah pintu masuk kamarnya dan melihat Rachel masuk bersama Gerald. Untung dia sudah menyelesaikan pekerjaan nya kalau tidak dia bisa ketahuan oleh Ibunya itu.


"Mom," dia menyambut Rachel dengan senyuman, "Ada apa?" Tangan nya dengan wajah ramah


"Kenapa kalian berdua belum tidur, ini sudah tengah malam. Ayo minum susu dulu," dia memberikan dua gelas susu pada kedua anaknya


"Ayo tidur," dia mengulurkan tangannya agar kedua lelaki kecil itu menyambut nya.


"Ayo Mom,"


Ketiganya berjalan menuju ranjang. Seperti setiap malam nya Rachel akan menidurkan anak-anak nya. Sementara Gerra sudah terlelap dikamar sebelah.


.


.


.


.

__ADS_1


"Brengsek," umpat seorang pria ketika melihat data-data nya berubah, "Siapa yang berani macam-macam denganku?" Tangan nya terkepal saat kuat.


"Bagaimana bisa data yang kuberi sistem keamanan ini diretas oleh orang lain? Jurus apa yang dia lakukan?" Geramnya.


Dia kembali mengotak-atik komputer nya. Wajahnya tampak marah dan penuh emosi terlihat jelas dari sorot mata dan tatapan elangnya.


"Awas saja, kalau aku menemukanmu aku akan mencincang tubuhmu dan ku makan hingga habis," ucapnya penuh emosi dan kemarahan.


"Dia pikir dia siapa? Dia pikir bisa melawanku? Cih, dia tidak tahu saja siapa aku berani nya bermain-main api denganku?" Dia masih mengoceh sendirian sambil serius dengan komputer yang ada didepannya.


"Hem, lihatlah tikus kecil aku akan mengambil dataku kembali dan mengirim virus untuk menghancurkan komputer mu," dia tersenyum devil, "Kau takkan mampu mengalahkan kemampuan ku. Kau pikir semudah itu mengambilkan sesuatu yang kujaga dengan susah payah. Ohh takkan kubiarkan hal itu terjadi,"


Takkkkkkkk


Dia menekan tombol enter dan seketika datanya yang hilang muncul kembali dengan lengkap dilayar komputer nya.


"Siapa dia? Aku harus lacak keberadaan nya," dia masih mengotak-atik komputer nya.


"Sidney, Australia?" gumamnya, "Aku tidak memiliki munsuh tapi siapa yang berani meretas data-data ku?" Ucapnya


Lelaki itu mencari identitas seseorang yang baru saja meretas data miliknya.


"Sial. Dia begitu pandai bersembunyi. Aku penasaran siapa dia sebenarnya nya? Kenapa dia bisa meretas data-data ku?" Gumamnya.


Cukup lama lelaki itu berkutat dengan komputer didepannya mencari identitas orang yang berani bermain-main dengannya. Namun hasil tak memuaskan dia sama sekali tak bisa mencari siapa yang sudah membuatnya semarah ini. Hingga akhirnya dia lelah sendiri dan mematikan komputer nya.


"Huffhhhhhhh," dia menyenderkan tubuhnya dikursi kebesarannya, "Sampai kapan aku akan terus begini?" Sambil mengusap wajahnya dengan kasar


Lelaki itu menatap langit-langit ruangannya. Jika dalam keadaan sendirian dia adalah pria yang menyedihkan. Pria yang patah hati setiap harinya.


Lelehan bening itu menetes dan jatuh hingga masuk kedaun telinganya. Terlihat berwibawa saat diluar. Terlihat tegas dan dingin tak tersentuh saat orang lain menatapnya. Tapi tak ada yang tahu bahwa itu adalah caranya menutup luka.


"Betapa jahatnya aku telah menyakiti wanita yang sebaik dirimu. Apa yang harus aku lakukan agar perasaan menyiksa ini tak terus mendatangi. Apa yang harus aku lakukan Rachel?" Lirihnya, "Apa aku benar-benar harus menyerah dan melepaskanmu begitu saja? Tolong cintai aku Rachel. Cintai aku seperti dulu, seperti ucapanmu waktu itu," dia memejamkan matanya meresapi segala rasa sakit yang menghantam disana.

__ADS_1


**Bersambung...


Jangan lupa like komen dan vote nya ya guys**......


__ADS_2