
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Benedicto menangis tersedu-sedu ketika mendengar cerita dari Ozawa bahwa kedua cucu nya datang ke Indonesia. Namun terlambat ketika dia hendak menemui kedua cucu nya itu mereka malah sudah kembali ke Sidney Australia.
"A-apakah benar dia c-cucu ku Ozawa?" Tanya Benedicto memastikan dengan deraian air mata.
"Iya benar Benedicto. Mereka adalah cucu kita. Mereka ada tiga yang satu nya perempuan sedang terbaring sakit dan dia membutuhkan Ramos untuk pendonoran tulang sumsum belakang." Jelas Ozawa
"Tiga? Terbaring? Maksudmu cucu kita kembar tiga? Begitu?" Cecar Benedicto dia tak mampu menahan tangis hatinya.
Ozawa mengangguk "Benar Benedicto." Jawab Ozawa, "Kita harus pergi ke Sidney untuk memastikan keadaannya. Aku khawatir terjadi sesuatu pada cucu kita." Terdengar helaan nafas panjang.
"Baik. Aku ikut. Aku ingin bertemu dengan mereka. Bertemu dengan putriku dan cucu-cucu ku." Pria paruh baya itu menangis haru, tak henti-hentinya dia mengucap syukur atas kebaikan Tuhan yang masih memberinya kesempatan untuk bertemu dengan putri yang dia cari selamanya.
"Baik."
Kedua wajah paruh baya itu tampak bahagia ketika tahu bahwa cucu yang selama ini sudah lama mereka nantikan ternyata benar-benar ada.
Benedicto masuk kedalam kamar istrinya. Tampak Nirmala yang duduk dikursi roda dengan tatapan kosong. Sudah lama, sebelas tahun berlalu dia seperti orang gila yang tak memiliki gairah untuk melanjutkan hidupnya.
Kedua putri kembarnya pergi meninggalkan dirinya. Membiarkan dia patah hati sepanjang masa.
"Sayang." Benedicto mendekati istrinya tak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia ini pada Nirmala.
Namun wanita paruh baya itu sama sekali tak merespon panggilan suaminya. Dia hanya ingin bertemu putrinya. Dia ingin memeluk putrinya.
"Sayang." Benedicto berjongkok menyamakan tingginya dengan Nirmala, "Sayang aku punya kabar gembira untukmu," ucapnya menggenggam tangan wanita paruh baya itu.
"Aku ingin bertemu anak kita Benedicto. Tolong bawa aku." Dia menatap suaminya dengan air mata yang luruh dipipi.
Benedicto menyeka air mata yang berjatuhan di pelupuk mata istrinya. Sebagai seorang suami dia benar-benar terluka melihat kondisi mental Nirmala. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa karena istrinya ini seperti mengalami depresi berat.
"Aku menemukan putri kita Sayang. Kita sudah punya cucu, cucu kita ada tiga. Apa kau ingin bertemu mereka?" Ucap Benedicto lembut sambil memperbaiki rambut Nirmala yang berantakkan seperti tak terurus.
"B-benarkah? Di-dimana dia? Ak-ku ingin be-bertemu dengannya?" Wajah nya langsung sumringah meski air mata menetes.
__ADS_1
"Kau tenang saja. Aku akan membawanya kesini bertemu denganmu." Benedicto memeluk istrinya dan mengusap kepala wanita paruh baya ini.
Sebelas tahun dia kehilangan putrinya Rebecca hal itu tidak membuat Nirmala kehilangan tapi juga menguncang jiwa dan batinnya. Hingga dia depresi.
"Dimana Rayana, aku ingin bertemu dengannya Benedicto? Dimana dia?" Nirmala melepaskan pelukan suaminya.
"Sabarlah Sayang." Benedicto merapikan baju istrinya.
"Tapi aku_"
"Aku tahu. Kalau kau ingin bertemu putrimu. Izinkan aku membersihkan mu." Pinta Benedicto.
"Iya iya. Asal aku bertemu dengannya." Seru Nirmala semangat.
Seketika wajah wanita yang menderita gangguan jiwa itu seperti hidup kembali hanya karena mendengar nama putrinya. Dia langsung merasakan jiwanya seolah kembali kedalam raganya. Lebih dari tiga puluh tahun penantian panjang itu, apakah kini Tuhan menjawab semua doa yang dia panjatkan.
.
.
.
.
"Bagaimana Sandy?" Tanya nya tak sabar.
Sandy duduk dikursi kerjanya. Saat ini mereka sedang berada dirumah sakit.
"Hasilnya baru keluar." Sandy menunjukkan amplop putih ditangannya yang masih tersegel.
"Cepat buka Sandy!" Suruh Ramos tak sabar.
"Sabar." Ketus Sandy kesal.
Sandy membuka amplop yang masih tersegel itu. Sebenarnya tak perlu melakukan pemeriksaan lab karena hasilnya pasti positif. Hanya saja untuk memastikan kecocokan nya.
__ADS_1
"Bagaimana Sandy?"
Sandy mengangguk "Seratus persen cocok." Dia memberikan kertas putih bertulisan itu.
Ramos mengambil kertas itu dengan tak sabar. Matanya berkaca-kaca melihat hasil kecocokan dirinya dengan sang putri kecil. Namun sayang hingga kini dia belum bisa melihat wajah putrinya itu. Tapi tidak apa, Ramos akan siap menunggu. Meski hati ingin bertemu.
"Jadi kapan bisa melakukan pencangkokan tulang sumsum ini?" Tanya Ramos.
"Secepat nya." Jawab Sandy.
Jujur saja Sandy masih jengkel pada Ramos mengingat semua perbuatannya pada Rachel. Namun saat melihat kesungguhan hati Ramos dan apa penyesalan diwajah nya membuat hati Sandy terenyuh oleh belas kasihan.
Ramos mengangguk dengan antusias. Dia kembali menatap hasil lab ditangannya. Dia sudah membayangkan wajah cantik putrinya itu. Dia ingin menggendong nya lalu memeluknya hingga puas.
"Ramos." Sandy menatap Ramos yang tersenyum seperti orang gila.
"Iya? Kenapa?" Tanyanya wajah bahagia nya tercetak jelas.
Sandy menghela nafas panjang "Kau harus bersabar. Untuk sementara kau tidak bisa bertemu Gerra, karena ada Rachel," jelas Sandy.
Senyum Ramos memudar ketika mendengar penjelasan Sandy. Tubuhnya terasa melemas. Matanya juga berkaca-kaca menahan lelehan bening itu.
"Aku mengerti." Dia tersenyum kecut, "Aku tidak akan memaksa mereka bertemu denganku, San. Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan putriku. Meski mungkin bertemu dengannya itu sulit," ucap Ramos menyeka air matanya.
Sandy menatap Ramos kasihan. Penampilan Ramos memang tak seperti dulu. Sandy tahu jika Ramos pun tersiksa dengan keadaan yang menghempaskan hatinya.
"Apa kau menyesal Ramos?" Sandy menatap sahabatnya itu. Ramos seperti Mafia yang tega memotong-motong tubuh tangkapannya.
Ramos mengangkat pandangan nya. Tanpa dijelaskan pun semua orang bisa lihat dari raut wajahnya bahwa dia sungguh menyesal. Tapi apakah dia bisa membuat perasaan menyesal dan bersalah nya menghilang.
"Aku sangat menyesal. Tapi, apakah dengan penyesalan ini Rachel akan kembali padaku? Apakah dengan penyesalan ini luka yang aku turihkan dihati Rachel bisa sembuh?" Ramos menyeka air matanya, "Aku tidak memaksa Rachel untuk kembali padaku. Aku hanya ingin meminta maaf atas segala yang sudah aku lakukan padanya. Aku juga ingin bertemu putriku, itu saja San," ucap Ramos terdengar lirih dan penuh penyesalan.
"Aku akan lakukan apapun untuk kebahagiaan Rachel dan ketiga anakku. Tidak apa-apa aku tidak bahagia, asal mereka bahagia dan hidupnya nyaman dan aman," Ramos berdiri dari duduknya, "Hubungi saja kapan operasi nya akan dilakukan." Lelaki itu melenggang keluar dari ruangan Sandy.
Sandy menatap punggung Ramos. Menyesal memang tidak ada gunanya lagi. Entah, apapun yang akan Ramos lakukan untuk Rachel hal itu takkan mengobati luka yang sudah tertanam disana. Entahlah, mungkin Rachel akan luluh ketika melihat pengorbanan Ramos.
__ADS_1
Bersambung.......