
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Ck, jangan tarik-tarik. Kalian pikir tangan Uncle tali apa?" Gerutu Rayyan saat kedua bocah ini malah menarik nya masuk kedalam kamar. "Tadi kalau mau mandi, kenapa malah membawa Uncle masuk kedalam kamar?" Ujar Rayuan benar-benar kesal.
"Diam Uncle. Berhenti menggerutu. Kau ini, mulutnya seperti perempuan saja," sindir Gerald.
"Duduk Uncle," suruh Gilbert.
"Ck, ini kamar Uncle harusnya Uncle yang bilang seperti itu. Kenapa malah kalian?" Rayyan menatap tajam kedua bocah tampan yang tengah berdiri didepannya ini.
"Ehem, jangan lupa Uncle. Ini rumah Grandfa yang artinya rumah kami juga. Kami tak perlu meminta izinmu untuk mempersilahkan duduk," ujar Gerald.
"Uncle," Gilbert menatap Rayyan serius.
Rayyan mendelik. Tatapan Gilbert sama saja seperti Ramos yang terlihat menyeramkan jika ditatap lama-lama seperti itu.
"Huffh, kita harus mencari donor mata untuk Daddy," ucap Gilbert. "Tapi dimana mencarinya Uncle, Gilbert tidak tahu?" Sambungnya.
"Mencari donor mata?" Ulang Rayyan. "Ehem, seperti nya Uncle tahu mencarinya dimana?"
"Dimana Uncle?" Seru kedua bocah kembar itu
"Ck, kalian ini. Sabar sedikit, kenapa?" Protes Rayyan.
"Mana bisa kami sabar Uncle. Kau itu lelet sekali," sahut Gerald.
"Sabar," ketus Rayyan.
Rayyan mengambil ponselnya dan tampak sibuk mengotak-atik. Gilbert dan Gerald yang tak sabar juga melirik layar ponsel Rayyan.
"Bisakah kalian sabar sedikit?" Rayyan segera menyembunyikan ponselnya. Diponselnya banyak video-video aneh yang tidak boleh dilihat oleh anak kecil seperti mereka.
"Kenapa di sembunyikan Uncle?" Protes Gerald. "Kami sudah tahu isi ponsel mu jadi tidak perlu disembunyikan," ujar Gerald.
Rayyan membulatkan matanya sempurna saat mendengar ucapan kedua keponakan nya. Dia menatap dua anak kembar itu tajam.
"Kenapa Uncle?" Tanya Gilbert dengan wajah polosnya.
"Ehem, kalian tahu darimana isi ponsel Uncle?" Rayyan tampak gugup. Jangan sampai kedua bocah kembar ini mengatakan lagi kepada Ozawa dan Maria perbuatan nya.
"Uncle, cepat apa yang ingin kau tunjukkan. Tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan mu," sergah Gerald.
Rayyan menghela nafas panjang. Kedua keponakan nya ini tidak bisa di bujuk, rayu atau di bohongi malah dirinya yang di kerjai.
"Uncle sudah menemukan pendonor mata untuk Daddy kalian," jelas Rayyan.
__ADS_1
"Serius Uncle?" Pekik keduanya kesenangan.
"Ck, bisakah kalian tidak berteriak. Ini bukan hutan?" Gerutu Rayyan. "Kalian mau membuat Uncle jantungan?" Rayyan menatap kesal kedua anak kembar itu.
"Begitu saja protes Uncle," sindir Gerald
"Uncle kapan bisa operasi mata Daddy?" Tanya Gilbert menatap Rayyan serius.
Rayyan menghela nafas panjang. "Kita harus melakukan beberapa pemeriksaan sebelum donor mata," jelas Rayyan. "Kalian tenang saja biar Uncle yang urus semuanya," sambung Rayyan.
"Jangan lama-lama Uncle. Kasihan Daddy," ucap Gerald.
Rayyan mengangguk. Sebenarnya dia memang sudah lama mendapatkan donor mata untuk Rachel. Hanya saja dia terlambat karena Ramos sudah mengambil keputusan mendonorkan matanya untuk Rachel.
Kedua anak itu tiba-tiba terdiam. Keduanya kompak menunjukkan ekspresi wajah seriusnya.
"Kalian kenapa? Kenapa tiba-tiba diam?" Tanya Rayyan menatap kedua bocah itu dengan bingung karena tiba-tiba terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu yang begitu penting.
"Uncle, kata Papa Mommy hanya punya satu ginjal. Apakah Uncle bisa mencari ginjal seperti gingal Mommy? Kasihan Mommy Uncle, dia selalu kesakitan kalau terlalu lelah," jelas Gilbert sendu karena dia sudah biasa melihat Rachel kesakitan dibagian pinggangnya.
Rayyan mengangguk. "Nanti Uncle akan mencari pendonor ginjal untuk Mommy kalian,"
Rayyan terkadang merasa kagum dan bangga dengan anak-anak Rachel, karena anak-anak Rachel seperti orang dewasa yang memiliki pengetahuan diatas rata-rata anak seusia mereka. Namun kadang dia juga merasa jengkel jika anak-anak itu malah mengerjai dirinya dan membuatnya kesal setengah mati.
"Uncle, mandikan kami. Kami bau," seru Gerald mencium bau asam dari tubuhnya.
Gerald mendengus kesal. Sementara Gilbert yang tidak banyak bicara itu memilih keluar dari kamar Rayyan dan menuju kamar nya, kamar baru yang sudah disediakan oleh kakek dan neneknya.
Gilbert menuju kamar kedua orangtuanya. Dia masih belum puas melepaskan rindu pada sang Ayah. Gilbert berjanji akan menjadi anak yang baik dan berbakti.
Gilbert masuk kedalam kamar kedua orang tuanya. Dia tersenyum hangat ketika melihat Rachel yang tampak sedang memasangkan baju ditubuh suaminya.
"Daddy. Mommy," panggil Gilbert.
"Kakak,"
"Son," Gilbert menghampiri kedua orangtuanya. Dia duduk disamping Ramos. "Apa kau baik Dad?" Tanyanya.
"Daddy baik-baik saja Son," senyum Ramos.
"Kakak belum mandi?" Rachel menatap anaknya sambil geleng-geleng kepala.
"Ehem, belum Mom," Gilbert menggaruk kepalanya.
"Mandi Kakak. Sebentar lagi Mommy mau siapkan makan malam untuk kita,"
__ADS_1
"Iya Mom. Kakak mandi dulu," sahut Gilbert.
.
.
.
.
"Kak, apa rencana kita selanjutnya?" Tanya Gerald pada Gilbert yang sedang sibuk dengan laptop dipangkuannya.
"Melindungi data perusahaan Daddy," sahut Gilbert. "Jangan katakan pada Uncle mesum itu apa yang dia lakukan. Dia bisa mengerjai kita lagi," jelas Gilbert.
Gerald mengangguk. "Kak kapan ya Daddy dioperasi. Aku sudah tidak sabar ingin Daddy agar bisa melihat kembali,"
"Ehem," Gilbert hanya berdehem.
"Apa perlu kita beritahu Ayah dan Papa, Kak?"
"Tidak perlu. Kita harus menghargai perasaan Daddy," ujar Gilbert. "Daddy pasti cemburu kalau apa-apa kita mengadu pada Ayah dan Papa. Kita harus bisa belajar sendiri dan mandiri," sambungnya.
"Tapi kan kita masih kecil Kak? Kita tidak bisa melakukan banyak hal," ucap Gerald sendu.
"Kita memang anak kecil. Tapi pikiran kita tidak kecil Gerald. Tunggulah sebentar, Uncle Ray juga sedang melakukan beberapa pemeriksaan pada pendonor itu. Tidak usah gegabah. Tugas kita sekarang adalah menjaga perusahaan Daddy," jelas Gilbert.
Gerald mengangguk paham dan melihat Gilbert yang sedang sibuk dengan laptop dipangkuan nya.
"Memasukkan sistem keamanan di perusahaan Daddy. Seperti nya ada yang berusaha mengambil data-data penting perusahaan Daddy," tukas Gilbert.
Gilbert menutup laptopnya setelah apa yang dia kerjakan sudah selesai. Lalu anak kecil itu menyimpan laptop nya diatas nakas.
"Kak," panggil Gerald. Mereka tidur berdua satu kamar. Sedangkan Gerra memiliki kamar sendiri.
"Kenapa?" Gilbert naik keatas ranjang.
"Ahh aku masih tak menyangka jika Daddy dan Mommy kembali bersatu Kak. Rasanya seperti bermimpi saja," seru Gerald dengan wajah bahagianya sambil naik keatas ranjang.
Gilbert mengangguk. Anak kecil ini memang jarang menampilkan wajah senyumnya. Dari kecil saja sudah terlihat jika dia dingin engah bagaimana kalau dia sudah besar nanti.
"Kakak juga tak menyangka," respon Gilbert sambil berbaring.
Gerald ikut berbaring. Kamar mereka sangat besar dan mewah.
"Ya sudah ayo tidur. Besok kita masih memiliki misi yang lain,"
__ADS_1
"Iya Kak,"
Bersambung....