
Happy Reading๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Tubuh Ramos masih membeku ditempat nya. Dia seolah hilang kesadaran saat wanita ini memeluknya dengan menangis.
"Mas," tangis wanita itu pecah sambil memeluk suaminya yang terdiam. "Maafkan aku Mas," ucapnya baju suaminya sampai basah karena air mata yang mengalir dipelupuk matanya.
Tangan Ramos bergetar saat merasakan pelukan yang sudah begitu lama dia rindukan ini. Ramos perlahan membalas pelukan wanita itu dan melingkarkan lengan kekarnya dipunggung wanita yang tengah memeluknya ini.
"Rachel,"
"Mas,"
Tangis keduanya pecah saling memeluk dalam kerinduan. Perasaan yang sudah lama terkubur didalam keegoisan. Kini kembali menggebu seolah membentur dada.
"Mas,"
"Rachel,"
Keduanya masih terisak dalam tangis. Meluapkan masing-masing emosi dan amarah yang selama ini terpendam dalam dada. Meluapkan sejuta rindu yang mengantarkan mereka pada pertemuan.
Pada dasarnya takdir tak ada yang bisa memihak pada satu orang. Bahkan kedua insan yang terpisah cukup lama karena banyaknya kejadian tak terduga, kini malah Tuhan pertemukan kembali dalam ruang rindu yang mengikat keduanya.
Keduanya masih meresapi saling pelukkan. Pelukan penuh kerinduan yang telah lama hilang. Pelukan penuh penyesalan yang kini mempertemukan. Tak disangka. Tanpa diduga. Jika akhirnya cinta sejati akan menemukan cara nya sendiri untuk bertemu dengan sang pujaan hati.
"Mas, maafkan aku Mas,"
"Aku merindukanmu Rachel. Aku merindukan mu. Sangat merindukanmu. Maafkan aku. Maafkan aku,"
Kata maaf terucap didalam mulut kedua insan manusia itu. Siapa sangka jika takdir kini mengasihani mereka, setelah banyak nya kejadian, air mata, patah hati serta perpisahan yang mereka alami.
Kata maaf memang tak selalu bisa memperbaiki kesalahan. Tapi kata maaf adalah ungkapan penyesalan atas segala kesalahan yang dilakukan secara sengaja. Kedua nya tidak tahu jika takdir yang mempermainkan mereka justru mengembalikan mereka kedalam ruang rindu yang sama.
Rachel melepaskan pelukan nya. Tangisnya kembali pecah ketika melihat suami nya yang tidak bisa melihat. Wanita itu memegang wajah suaminya sambil menangis terisak.
"Mas," Rachel menggeleng.
__ADS_1
"Rachel," Ramos memegang tangan Rachel yang menempel di wajahnya.
"Mas, kenapa kau melakukan ini Mas? Kenapa kau mengorbankan matamu demi aku? Mas...."
Ramos menggenggam tangan Rachel. "Kau segala nya untukku Sayang. Dunia ku adalah dirimu. Melihat dunia mu gelap, hatiku hancur. Sekarang aku bahagia karena kau bisa melihat kembali. Aku akan baik-baik saja selama kau ada didunia,"
"Mas," Rachel menangis sampai susah bernafas.
Rachel meneliti tubuh suaminya yang tampak kurus tak terurus. Apa yang sudah dilewati suaminya ini sehingga penampilan nya pun berantakkan seperti hatinya.
"Jangan menangis Sayang. Aku baik-baik saja," Ramos meraba wajah istrinya agar bisa menyeka air mata wanita itu.
"Bagaimana aku tak menangis Mas. Kau seperti ini gara-gara aku Mas. Gara-gara aku," Rachel masih menyalahkan dirinya.
"Tidak Sayang. Justru yang aku lakukan tidak sebanding dengan penderitaan mu selama ini. Maafkan aku ya,"
"Daddy,"
Ketiga anak kembar itu berhambur memeluk pinggang Rachel dan Ramos karena tubuh mereka yang kecil tak mampu menggapai tinggi badan kedua orang tuanya.
"Nak,"
Ozawa, Rayyan dan Maria serta Raina ikut terharu melihat pertemuan keluarga kecil yang sudah begitu lama mereka nantikan.
"Daddy. Gella lindu Daddy," ucap Gerra sambil terisak memeluk pinggang Ramos.
"Gerald juga rindu Daddy. Sangat rindu Daddy," sambung Gerald.
Sedangkan Gilbert menangis dalam diam. Ini pertama kalinya dia memeluk sang Ayah setelah sekian kali pertemuan mereka. Ternyata beda dengan pelukan Choky dan Sandy. Memeluk Ramos membuat hati Gilbert serasa nyaman dan hangat. Memang ada perbedaan antara Ayah kandung dan Ayah angkat.
"Daddy juga merindukan kalian Nak," ucap Ramos.
Ramos ingin sekali menggendong anak-anak nya tapi dia tidak bisa melihat. Dia takut nanti anak-anak nya jatuh dan terluka karena dirinya.
"Daddy," lirih Gilbert.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Gilbert memanggil Ramos dengan panggilan Daddy.
"Son," Ramos mencari keberadaan Gilbert. Dia meraba-raba kepala anak nya itu.
"Daddy," Gilbert menatap Ayahnya. Dia menggenggam tangan Ramos. "Ini Gilbert Dad," ucap Gilbert dengan air mata berderai dipipi tampannya. "Maafkan Gilbert Dad. Maafkan Gilbert yang sudah menyakiti perasaanmu. Maafkan Gilbert, Dad," Gilbert mencium punggung tangan Ramos berulang kali sambil mengucapkan kata maaf.
"Son, kau kah itu?" tanya Ramos setengah tak percaya.
Ramos tahu betapa benci nya Gilbert padanya. Bahkan pertemuan terakhir mereka berakhir dengan kata-kata pedas dari mulut Gilbert. Ramos masih mengingat nya, namun dia sama sekali tidak dendam. Dia justru malu pada anaknya sendiri.
"Iya Dad. Ini Gilbert Dad," ucap Gilbert sambil menangis. "Maafkan Gilbert. Maafkan Gilbert," dengan ucapan yang sama Gilbert meminta maaf pada sang Ayah.
Ramos menggeleng. "Tidak Son. Kau tidak salah. Jangan minta maaf. Daddy yang bagus minta maaf karena sudah membuang kalian. Maafkan Daddy, Nak," racau Ramos sambil membalas genggaman tangan Gilbert.
Keluarga kecil yang sudah lama terpisah itu masih saling bertangisan satu sama lain. Sambil memeluk untuk memberikan kekuatan.
Ramos merasa dirinya sedang bermimpi saat ini. Meski dia tidak bisa melihat lagi. Namun dia bahagia karena ada istri dan anak-anak nya yang sekarang akan menjadi dunia Ramos.
"Mas,"
"Daddy,"
"Mas, ayo duduk. Kau pasti lelah berdiri," ajak Rachel memapah suaminya itu duduk di kursi taman.
"Daddy," ketiga nya ikut membantu Ramos.
Rachel berjongkok didepan Ramos sambil menggenggam tangan pria itu. Dia memperbaiki rambut Ramos yang sedikit berantakan dan panjang.
"Apa kabarmu Sayang?" tanya Ramos. Andai dia bisa melihat wajah Rachel, dia pasti akan menatap wanita itu sepuas hati ya
"Aku tidak baik Mas," jawab Rachel.
"Kenapa apa kau masih sakit? Dimana yang sakit Sayang. Ayo katakan padaku!" desak Ramos dengan tangannya yang tampak mencari keberadaan Rachel.
"Aku disini Mas," Rachel kembali mengambil tangan suaminya dan menempelkannya diwajah. "Aku tak pernah baik-baik saja saat aku tahu Mas yang mendonorkan mata ini. Pantas saja aku tidak takut lagi saat menyebut dan mengingat namamu, Mas. Aku selalu melihat bayanganmu yang berlarian didepan ku dan aneh nya aku tidak takut," jelas Rachel. "Aku tidak tahu kenapa trauma ini bisa hilang dengan sendirinya. Aku tidak tahu Mas. Yang pasti saat aku kehilangan mu, aku tak memiliki tujuan hidup. Mas, aku. Aku, aku membutuhkanmu untuk anak-anak. Aku mencintaimu Mas," ungkap Rachel
__ADS_1
Ramos menangis terharu. Ternyata wanita ini masih mencintainya seperti enam tahun yang lalu. Ramos pikir perasaan Rachel padanya telah mati bersama perbuatan keji nya.
Bersambung....