Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Pagi yang buram


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Pagi tiba. Rachel terbangun dari tidurnya. Matanya terbelalak melihat Ramos yang sudah tidur dengan begitu pulas di ranjang. Rachel menatap wajah tampan itu dengan menyeka air matanya. Entah kapan suaminya itu pulang karena dia sudah tertidur?


Rachel merasakan dingin di sekujur tubuhnya apalagi suhu AC yang tinggi membuat gadis itu meringguk kedinginan. Dia tidak memakai selimut dan hanya berbaring begitu saja di atas sofa.


“Jika aku bisa membencimu. Maka aku akan membencimu. Tapi aku tidak bisa karena keluargamu sudah menyelamatkan nyawa Ibu dan adikku. Namun, jika sikapmu terus menyiksaku maka jangan salahkan aku jika aku benar-benar akan membencimu dan menghilang dari hidupmu," gumam Rachel.


Setelah merasa cukup kuat. Rachel memaksakan diri bangun menyiapkan sarapan untuk suami kejamnya.


Bagaimanapun Rachel tak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri, meskipun tak dianggap. Karena memang apa yang Ramos katakan benar bahwa dia wanita murahan yang menjual tubuhnya demi uang.


Bagaimanapun kenyataan ini benar dan Rachel tidak mengelak dari kenyataan tersebut.


Rachel bergelut di dapur, membuatkan sarapan pagi untuk sang suami sebelum berangkat ke kantor. Sesekali dia menyeka air mata yang sialnya tak berhenti menetes.


Rachel melihat Ramos yang sudah rapi dengan seragam kantornya.


“Sarapan dulu, Mas," ucap Rachel menghampiri Ramos dan membawa sepiring nasi goreng serta segelas susu segar.


Ramos tersenyum sinis. Dia menatap wanita yang telah sang menjadi istrinya itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Dia mengambil piring dari tangan Rachel, lalu menatap isinya


"Cih."


Dia meludahi nasi goreng buatan sang istri. Dari pada memasukkannya ke dalam perut lebih baik dia meludahinya saja.


Prang


Piring dan gelas itu dilemparnya ke lantai hingga pecah dan isinya berserakan kemana-mana.

__ADS_1


“Dengarkan aku gadis murahan, aku benci bau masakanmu dan aku tidak akan pernah memakannya." Ramos mencengkram dagu sang istri lalu menghempaskannya dengan kasar. Hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.


Brak!


Ramos membanting pintu dengan kasar. Dia melenggang keluar dari apartemen dengan wajah merah padam.


Rachel menunduk dengan air mata yang menetes begitu saja di pipinya. Dia menatap kasihan nasi goreng yang dia buat dengan susah payah agar bisa menyenangkan suaminya itu.


Hatinya begitu perih, dadanya sesak. Kebahagiaan yang Rachel harapkan kini berubah menjadi jadi awal penderitaan.


Namun, sedikitpun Rachel tidak menyesal dengan keputusannya, meski raga dan jiwa menderita dia tidak menyesali apa yang sudah dia putuskan.


Rachel justru menikmati perannya ini, berusaha untuk tidak membenci sikap sang suami. Bagaimanapun Ramos adalah suaminya dan pria pertama yang menyentuh dirinya.


Rachel membereskan pecahan piring dan gelas yang berserakan di lantai. Tak bisa ditahan lagi air matanya terus saja mengalir dengan deras.


“Rachel, kau wanita yang kuat dan tangguh. Lakukan semua dengan lapang dada. Kau pasti bisa. Kau harus bertanggung jawab dengan keputusanmu," ucap Rachel bermonolog sendiri sambil menyeka air matanya yang masih mengalir dengan deras.


Ponselnya bergetar yang artinya ada panggilan masuk. Rachel bergegas mengambil ponselnya di atas nakas. Dia mengusap wajah dan air mata melihat nama yang tertera di layar.


“Iya Bu?" sapa Rachel berusaha menormalkan kembali suaranya supaya tidak terdengar serak.


“Bagaimana kabarmu Nak? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana kabar suamimu?" Tanya Irana dengan bertubi-tubi padanya.


“Rachel baik-baik saja, Bu. Mas Ramos juga baik, kami baru selesai sarapan pagi dan Mas Ramos baru berangkat bekerja," sahut Rachel berbohong berusaha menahan air matanya. Rachel tidak ingin ibunya sedih jika mengetahui apa yang dia alami.


“Syukurlah, Nak," ucap Irana terdengar kelegaan di seberang sana.


“Apa besok kau bisa menemani Ibu untuk membawa Rima check-up ke dokter?" tanya Irana.


Rachel terdiam sejenak, bahkan Ramos tak mengizinkannya sama sekali untuk keluar dari apartemen, karena Rachel sedang dikurung oleh suaminya sendiri.

__ADS_1


“Maaf, Bu. Bukannya Rachel tidak mau, besok Rachel akan berbulan madu dengan Mas Ramos. Maaf ya, Bu. Rachel tidak bisa menemani Ibu," ucap Rachel berbohong. Jika dia berani keluar dari apartemen akibatnya akan fatal untuknya maupun untuk Ibu dan sang adik.


“Baiklah, Nak. Selamat berbulan madu ya. Semoga Ibu bisa segera menimang cucu," goda Irana pada putrinya.


“Puji Tuhan, Bu. Doakan saja yang terbaik. Ibu jaga diri baik-baik. Jangan lelah-lelah. Ingat bekas operasi Ibu belum benar-benar pulih. Nanti kalau ada waktu, Rachel akan ajak Mas Ramos berkunjung ke rumah," ucap Rachel tersenyum getir. Dia wanita kuat dan dia baik-baik saja. Bukankah sudah biasa tubuhnya dipaksa kuat seperti ini hingga hatinya ikutan remuk redam menahan kepedihan didalam sana?


Setelah lama berbicara dengan sang Ibu Rachel pun memutuskan sambungan teleponnya.


Rachel membersihkan seluruh apartemen Ramos yang sangat berantakkan. Mulai dari kamar ruang tamu dan balkon semua dibersihkan oleh Rachel.


Setelah menikah dengan Ramos, Rachel berhenti bekerja atas permintaan Maria yang memintanya agar fokus mengurus suami dan fokus agar bisa segera hamil. Boro-boro hamil disentuh saja dia tidak.


Gadis itu tampak telaten membersihkan apartemen sang suami yang kelak akan menjadi tempat tinggal mereka berdua. Harapan Rachel begitu. Tetapi kenyataannya, dia malah dihempaskan sangat jauh oleh sebuah keadaan rumah tangganya.


Bersamaan dengan keringat yang mengucur air matanya pun luruh tak terkendali. Mungkin mata sudah bengkak akibat banyak menangis.


Rachel menatap foto sang suami bersama pacar dari suaminya yang terlihat begitu intim.


"Pasti Mas Ramos sangat mencintai wanita ini. Wanita ini sangat cantik jauh sekali dari aku. Pantas saja Mas Ramos begitu membenciku karena gara-gara aku dia tidak bisa menikahi wanita yang dia cintai," gumam Rachel merasa bersalah.


Rachel membersihkan kamar suaminya. apartemen semewah ini hanya ada satu kamar saja, hingga mau tak mau Rachel harus tidur di sofa karena tidak mungkin dia tidur di kasur suaminya sudah pasti lelaki itu akan menyeretnya keluar dengan paksa.


Rachel kembali melanjutkan pekerjaannya. Merapikan pakaian yang berantakkan. Merapihkan meja kerja Ramos yang disatukan dengan kamar tidur serta membuang debu-debu yang menempel di sana.


Ramos adalah pria pencinta kebersihan namun karena tahu bahwa Rachel akan tinggal bersamanya pria itu sengaja mengotori kamarnya agar sang istri yang merapikan semuanya. Dia akan buat Rachel menjadi babu di rumahnya sendiri.


"Ah, aku lelah sekali." Gadis itu menyeka keringat di dahinya.


Tanpa sadar Rachel berbaring dengan nyaman di atas kasur milik suaminya. Nyaman sekali kasur ini hingga membuatnya tidur dan terlelap nyaman.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2