
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Rayyan Horta Ozawa, pria blasteran Indonesia-Belgia. Usianya sudah 35 tahun. Kebiasaan nya adalah menghabiskan malam-malam bersama para wanita bayaran. Namun setelah perbuatan nya di ketahui oleh ketiga keponakan nya. Pergerakan Rayyan terus di pantau oleh kedua orang tua nya. Ia Presdir di perusahaan yang ia bangun sendiri. Meski play boy kelas kakap ia tetap tekun dalam bekerja.
Dia belum menikah. Lebih tepatnya dia tidak mau menikah. Ia tidak mau terikat dalam hubungan yang mengurungnya tsuak bisa kemana-mana. Ia pria pencinta kebebasan dan ia tidak suka ada peraturan dalam hidupnya. Namun hidupnya tak lagi bebas sejak ia terus diawasi oleh kedua orang tua nya secara diam-diam. Apalagi ia di pantau satu kali dua puluh empat jam
"Ck, ini semua gara-gara kecebong Kak Ramos. Awas saja nanti," lekaki itu mengerutu kesal saat mengingat kejahilan ketiga keponakan nya.
"Huh, kenapa mereka harus ahli IT?" ia mengomel sendiri didalam mobil.
Herwin sang aissten dilarang mengikuti kemana Rayyan pergi karena Rayyan tak mau rahasia nya di bongkar oleh asisten nya itu.
Lelaki itu menepikan mobilnya disebuah restourant mewah. Ia di hubungi Choky untuk malam siang bersama. Tentu saja Rayyan tak menolak karena disana ada Chicha. Wanita incarannya. Lebih tepatnya ia ingin menaklukkan hati wanita itu hingga Chicha menyerahkan diri padanya.
Rayyan keluar dari mobil dengan senyuman liciknya. Ia pasti berhasil mendapatkan hati Chicha kali ini. Rayyan bosan sebenarnya mendengar pertanyaan yang sama.
"Kapan kamu menikah?"
Apakah tidak ada pertanyaan lain? Pertanyaan yang kira-kira tidak menjerumuskan seperti itu.
"Kak Choky," Rayyan tersenyum simpul. "Siang cantik," sapanya pada Chicha.
Chicha memutar bola matanya malas. Apalagi dia masih mabuk gara-gara Chika yang membawa mobil seperti orang balapan.
"Ayo Ray, gabung," ajak Choky.
"Iya Kak," sahut Rayyan duduk disamping Chicha, wanita incarannya.
Kening Rayyan berkerut ketika melihat Chika. Seperti nya ia pernah melihat gadis ini, tapi dimana? Dan siapa dia?
"Kak, dia siapa?" menatap Chika penuh selidik.
"Sekretaris baru Kakak," jawab Choky ketus.
Chika menelan salivanya kasar saat Rayyan menatapnya penuh selidik. Jangan sampai Rayyan mengenali dirinya, bisa habis masa depannya kalau lelaki itu mengatakan kenal dia.
"Kita pernah bertemu tidak?" tanya Rayyan berpikir keras.
__ADS_1
Chika menggeleng. "Tidak Tuan. Saya baru pertama kali bertemu anda," sahut Chika sambil tersenyum. Ia memasang wajah semanis mungkin
Rayyan manggut-manggut saja. Padahal hatinya masih terus mengingat, kapan dia bertemu gadis ini? Kenapa tidak asing? Tapi di mana?
Chika dan Chicha makan dengan lahap. Kedua gadis itu seperti berlomba makan. Sedangkan Choky dan Rayyan menelan saliva susah payah. Apalagi melihat kedua gadis yang ada didepan mereka tampak seperti orang sesat.
"Kamu lapar Chika?" tanya Chicha.
"Lapar Kak. Tadi pagi aku tidak sarapan," sahut gadis itu.
"Ya sudah. Makan saja yang banyak," suruh Chicha.
"Iya Kak,"
Nafsu makan Choky langsung menghilang. Kepalanya masih berdenyut sakit gara-gara mabuk. Seperti nya setelah ini ia pulang saja langsung istirahat, kepalanya tak bisa di ajak bekerja sama.
Lelaki itu mendorong piring nya. Kepalanya benar-benar pusing. Ini hari pertama sekretaris nya bekerja. Lalu bagaimana dengan besok dan seterusnya? Ulah apa lagi yang akan Chika lakukan.
"Chicha Kakak pulang duluan saja. Kepala Kakak pusing," ucap Choky memijit-mijit pelipisnya.
"Tidak. Tidak. Kamu urus saja semua meeting hari ini. Itu sebagai hukuman buat kamu karena sudah membuat kepala saya pusing," ketus Choky.
"Maaf Tuan," Chika kikuk sambil menelan salivanya.
"Kakak yakin bisa pulang sendiri. Atau aku saja yang antar," tawar Chicha juga. Wajah Choky pucat. Lelaki itu hanya makan beberapa sendok saja. Mungkin ini pertama kali nya Choky mabuk naik mobil akibat ulah Chika.
Choky mengangguk. Baik Chika atau pun Chicha sama saja. Membuat kepalanya pusing dengan sikap kedua gadis itu.
"Kak pulang sama aku saja," kali ini Rayyan yang menawarkan.
"Tidak perlu," tolak Choky.
Lelaki itu berdiri dari duduknya. Ia berjalan sempoyongan. Sumpah ini pertama kali nya dia mabuk setelah naik mobil.
Chika sontak berdiri dari duduknya. Ia tak mungkin membiarkan Choky pulang sendirian dalam keadaan mabuk seperti itu.
"Tuan, biar saya antar," gadis itu langsung memapwh Choky. Sementara Rayyan dan Chicha hanya melihat dari jauh.
__ADS_1
"Tidak perlu. Saya akan semakin mabuk kalau kamu bawa mobil," ketus Choky hendak menyingkirkan tangan Chika.
"Ck, jangan keras kepala Tuan. Saya tidak akan membawa mobil kencang-kencang lagi. Tadi saya lapar makanya bawa mobilnya cepat," seru Chika.
Choky tak membantah karena jujur saja kepalanya masih pusing padahal dia sudah mengeluarkan isi perut nya. Tapi mabuk itu menghantam kekepala. Ternyata mabuk naik mobil lebih sakit dari pada mabuk alkohol.
Chika membuka pintu mobil dan memasukan tubuh kekar Choky di bangku penumpang.
"Huffh, Chika. Jangan khilaf lagi," ucapnya pada diri sendiri. "Kalau Boss kamu meninggal, kamu bisa dipenjara," gumamnya lalu masuk kedalam mobil. "Ehh memang ada yaa orang meninggal karena mabuk naik mobil?" gadis itu tampak berpikir sebelum menyalakan mesin mobil.
"Tunggu apa lagi Chika? Cepat jalankan mobil nya," suruh Choky dengan suara lemah nya. Ia bersandar di jok mobil sambil memijit-mijit ujung pelipis nya.
Chika menjalankan mobilnya. Kali ia sangat pelan. Ia trauma Choky mabuk lagi gara-gara ia yang membawa mobil seperti orang kesetanan.
"Ck, kenapa pelan sekali? Kapan kita sampai kalau kamu bawa mobil kayak siput?" omel Choky.
"Tapi kan Tuan mabuk kalau bawa mobil nya kencang-kencang?" ujar Chika melirik Choky lewat kaca mobil.
"Astaga Tuhan," Choky mengusap wajahnya kasar. "Tidak pelan juga Chika. Yang sedang-sedang saja," ucap Choky tak habis pikir dengan gadis yang menyetir ini
"Iya Tuan," Chika langsung kikuk.
Gadis ini seperti paham tapi sebentar lagi ia membuat orang kesal dengan sikap dan tingkah nya. Entah ia yang terlihat pura-pura polos atau memang sengaja membuat orang kesal dengan sikap nya.
"Kamu tahu kan alamat rumah saya?" Choky sebenarnya lelah berbicara. Padahal setelah jam makan siang ini dia ada meeting penting. Tapi dia benar-benar sudah tidak mood lagi untuk kembali ke kantor, kepalanya pusing bukan main.
Chika menggeleng. "Tidak tahu Tuan," jawab gadis itu.
Choky lagi-lagi mendengus kesal. Chika dari tadi tidak bertanya, terus saja menjalankan mobilnya. Bagaimana kalau mereka malah tersesat nantinya.
"Ini," Choky memberikan ponsel nya. "Ikuti saja arah GPS itu," ucapnya sambil memejamkan matanya lelah.
"Baik Tuan,"
Bersambung...
Jangan lupa like nya ya guysss...
__ADS_1