
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ramos masih tak percaya jika sekarang wanita yang dia rindukan saat ini tengah menggenggam tangannya dengan erat.
Begitu juga dengan ketiga anak kembarnya yang masih setia memeluk dirinya. Ramos tak pernah merasa sebahagia ini selama dia hidup. Dia benar-benar bahagia sekarang. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaan bahagianya. Walau dia tidak bisa melihat tapi dia bisa merasakan bahwa Rachel saat ini tulus menyanyangi dirinya.
"Daddy," panggil Gerra. "Gella ingin makan disuapi Daddy lagi. Tapi Daddy tidak bisa melihat Gella lagi. Bagaimana caranya agal Daddy bisa menyuapi Gella lagi?" Ucap gadis kecil itu terdengar sendu.
Ramos mengusap kepala putri kecilnya tersenyum hangat.
"Daddy, masih bisa menyuapi kesayangan Daddy ini. Gerra lapar?"
Gadis kecil itu mengangguk. Namun sayang Ramos tak bisa melihat putrinya yang mengangguk karena yang dia lihat hanya kegelapan.
"Gella mau Daddy. Gella lapal," sahut nya.
Sedangkan Rachel hanya tersenyum simpul. Sekarang Rachel bisa lihat rona kebahagiaan diwajah anak-anak nya termasuk Gilbert. Selama ini anak nya itu hanya pura-pura kuat karena bagaimana pun tak ada seorang anak yang ingin membenci Ayah nya.
"Ayo kita masuk. Udara disini dingin," ajak Ozawa.
"Ayo Glandfa," ujar Gerra berdiri dari duduknya.
"Ayo Dad. Bial Gella bantu jalan,"
"Gerald juga mau bantu Daddy,"
"Gilbert juga mau bantu,"
Ketiga anak kembar itu berlomba-lomba untuk membantu Ramos berjalan. Ketiganya memegang tangan Ramos sambil menunjukkan jalan pada Ayah mereka itu.
"Memang kalian bisa? Badan Daddy kan besar. Sedangkan kalian masih kecil," goda Rachel menatap ketiga anak nya yang tampak celingak-celinguk. Ahh kenapa wajah mereka sangat menggemaskan sekali, Rachel tidak tahan untuk tak mencium wajah ketiga anak itu.
"Ck, Kakak sudah besar Mom, bukan anak kecil lagi," protes Gilbert tidak terima. Dia selalu tidak suka jika dianggap anak kecil. Dia sudah besar.
"Iya Gerald juga sudah besar Mommy, bukan kecil. Gerra itu yang masih kecil," sambung Gerald ikut menggerutu.
"Cihh, kalian telima saja Kak, kalau kita ini masih kecil. Kalau Gella kecil, kalian juga kecil kita kan kembal," Gerra memutar bola mata nya malas.
__ADS_1
"Anak kecil diam," hardik Gilbert dan Gerald bersamaan.
"Sudah jangan bertengkar," sergah Rachel. "Biar Mommy yang bantu Daddy berjalan yaa." Pinta Rachel.
"Iya Mom," ketiganya seketika menurut ucapan Rachel.
Sementara Ozawa dan Maria tersenyum simpul. Anak-anak Rachel memang pintar meski terkadang ucapan mereka terlihat seperti orang dewasa tapi sesungguhnya mereka masih anak-anak yang menginginkan bahagia seperti anak-anak lainnya.
'Cih dasar anak-anak nakal. Lihat saja nanti, aku akan buat mereka kapok karena sudah mengerjai ku,' gerutu Rayyan dalam hati.
Rachel membantu suaminya berjalan. Tangannya menggenggam tangan Ramos sambil tersenyum hangat. Suaminya ini tinggi dan besar, sedangkan badan Rachel hanya proporsional tinggi badan wanita Indonesia. Berbeda dengan Ramos yang memang campuran Indonesia dan Belgia tentu ukuran besar dan tinggi.
"Sayang, terima kasih sudah membantuku berjalan," ucap Ramos sambil tersenyum dengan tangannya yang tampak mencari-cari arah jalan.
"Sudah kewajiban ku Mas," balas Rachel.
"Rachel, bawa Ramos ke kamarnya. Biarkan dia beristirahat," ucap Ozawa.
"Baik Dad,"
"Gella belum bisa mandi sendili Mommy," adu nya dengan wajah sendu. Gerra juga merasa malu karena belum bisa mandiri seperti kedua kakak nya.
"Sini Gerra sama Aunty Raina saja," seru Raina.
Gerra menatap Raina. Orang ini sangat asing tapi mirip dengan Uncle Rayyan nya.
"Tidak usah takut Sayang. Aunty orang baik kok," Raina tersenyum seolah tahu pikiran anak kecil itu.
"Iya Aunty,"
"Sini Aunty gendong," Raina langsung mengambil Gerra dan menggendong nya.
"Ehem, Mommy bolehkah kami ikut Uncle Ray saja?" Pinta Gerald.
Rayyan langsung mendelik. Jangan bilang jika kedua keponakan nya ini mau mengerjai dirinya lagi seperti kemarin.
Rachel mengangguk. "Jangan nakal ya Nak," ucap Rachel memperingati anak-anak nya. Sebenarnya Rachel sedikit trauma gara-gara kedua anaknya mengerjai Rayyan hingga lelaki itu kini malah tidak bisa kemana-mana.
__ADS_1
.
.
.
"Pelan-pelan Mas," Rachel membantu Ramos duduk di bibir ranjang.
"Terima kasih Sayang," Ramos membalas dengan senyuman.
Rachel menggenggam tangan Ramos. Dia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Rachel tak bisa jelaskan perasaan nya saat ini.
"Sayang kenapa?" Ramos membalas genggaman Rachel. "Kenapa diam Sayang?" Tanya Ramos wajah nya terlihat panik saat istrinya hanya diam saja.
"Mas," panggil Rachel. "Aku berdosa ya Mas?"
"Kenapa bicara seperti itu Sayang?"
"Mas buta gara-gara aku. Mas seperti gara-gara aku," lirih Rachel mengigit bibir bawahnya menahan air mata nya yang ingin menetes.
"Stttttttttttttt," Ramos menempelkan jarinya di bibir Rachel. "Aku tidak pernah menyesal Sayang. Jangan bahas itu lagi ya," ucap Ramos lembut. "Kita mulai lembaran yang baru dan hidup bahagia bersama," ujar Ramos
"Iya Mas. Aku mau kita mulai dari awal. Aku mau kita rawat anak-anak kita bersama," sahut Rachel.
Ramos mengangguk dan tersenyum. "Sayang, aku tidak sedang bermimpi kan Sayang? Kau benar-benar ada 'kan?" Rachel mengusap pipi Rachel dengan lembut. "Sayang maaf ya, kau harus bertemu dengan aku dalam keadaan seperti ini. Aku tidak memaksa mu untuk menerima ku jika kau tak bisa melanjutkan hubungan kita karena aku tidak bisa menjaga mu dengan baik,"
"Tidak Mas. Aku menerima mu apa adanya. Aku mencintaimu tulus Mas. Perasaan ku masih sama seperti enam tahun lalu. Tidak berubah sama sekali. Tidak masalah kau buta. Tidak masalah kau tidak bisa melihat. Aku akan menjadi matamu Mas, aku akan menuntut langkahmu. Aku akan menjadi tanganmu saat kau tidak bisa meraba. Aku akan menjadi kaki mu saat kau tak bisa berjalan Mas. Jangan takut, aku akan disini bersama denganmu sampai kutemukan akhir dari usia. Bahkan, apa pun yang aku lakukan takkan bisa membalas apa yang sudah Mas berikan padaku," Rachel menyeka air matanya. Tidak mau tangisnya terdengar oleh sang suami. "Kita mulai dari awal ya Mas. Aku, Mas dan anak-anak. Kita akan bersama selamanya. Kita akan bahagia, apapun alasannya," seru Rachel.
"Terima kasih Sayang,"
Rachel memeluk suaminya. Wanita memejamkan matanya saat merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ah sial seperti nya ginjal yang tertinggal satu itu tidak mampu memompa aliran darah didalam tubuhnya. .
'Tahan Rachel tahan. Kau harus kuat. Demi suami dan anak-anak mu. Harus kuat Rachel,' Rachel hanya meringgis didalam hatinya
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua Sayang. Aku berjanji akan menjaga kalian meski tanpa melihat," Ramos mengusap kepala sang istri.
Bersambung.....
__ADS_1