
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Rachel POV
Saat aku membuka mata, aku terheran saat mendapati diriku berada disebuah tempat yang asing namun indah. Tempat ini belum pernah kulihat sebelumnya. Tidak ada orang disana selain aku. Tempat yang nyaman sekali, tempat yang membuatku tenang.
Bagian perut ku tidak sakit lagi. Aku seperti orang normal pada umumnya.
“Nak,"
Tuhan suara itu, suara yang sangat aku kenal. Suara yang sangat aku rindukan dan suara yang sudah lama menghilang dari ku.
Aku menoleh kearah suara. Jantungku berdegup kencang.
“Ayah," Gumamku tak percaya.
Aku melihat Ayah berdiri didepanku dengan tersenyum. Wajahnya sangat cerah, pakaiannya serba putih. Senyumnya juga manis sekali.
“Ayah,"
Aku berlari memeluk pria yang sangat kurindukan ini. Aku sangat rindu padanya. Apa aku sedang bermimpi bisa bertemu dengannya?
“Ayah, Rachel rindu," Renggeku manja memeluknya seperti dulu.
Sungguh tak bisa kuungkapkan kebahagiaan yang saat ini kudapatkan. Aku bisa bertemu kembali dengan Ayah setelah sekian lama kepergiannya yang membuatku duniaku runtuh dan rata bersama tanah. Meski hanya Ayah angkat tapi sungguh aku begitu menyayangi nya.
“Ayah," aku memeluk Ayah sepuasku, melepaskan kerinduan sejak kepergiannya sepuluh tahun silam.
“Sayang," Ayah melepaskan pelukku. Dia tersenyum hangat, jari kekarnya menyeka air mata yang berjatuhan dipipiku “Jangan menangis, dan jadilah wanita yang kuat," ucapnya lembut namun mampu membuat hatiku bergetar dan merasakan kehangatan akan kasih sayang seorang Ayah yang sudah lama tak kudapatkan.
“Rachel rindu Ayah," ucapku manja menatap Ayah dengan bahagia.
Dia hanya melemparkan senyum manis dan mengelus kepalaku dengan lembut, rambut panjang yang menjuntai itu dielusnya dengan penuh kasih sayang.
“Rachsl ingin ikut Ayah," ucapku tertahan.
Ayah menggeleng “Tidak sayang. Kau tidak boleh ikut Ayah, dunia kita berbeda," sahut Ayah sambil tersenyum lembut tak ada raut kesedihan seperti dulu yang selalu aku lihat diwajahnya.
“Tapi Ayah……,"
“Tempatmu bukan disini Nak. Belum waktunya kau tinggal bersama Ayah, suatu hari nanti kita akan berkumpul kembali dan Ayah akan menunggumu disini," ucap Ayah lagi
Aku menggeleng tidak mau, aku ingin ikut Ayah “Disana kejam Yah. Rachel tidak sanggup melewatinya sendiri. Rachel kesakitan Ayah. Rachel tidak mau merepotkan orang lain. Tidak ada tempat mengadu dan bersandar saat Rachel melewati banyak masalah, Rachel kasihan pada pada Mas Ramos yang terus bersedih memikirkan Rachel, Ayah. Rachel tidak mau kembali kesana Ayah," kukeluarkan semua unek-unek yang kurasakan selama ini, aku berharap bisa tinggal disini bersama Ayah. Disini nyaman dan tentram dan tak ada kesakitan serta air mata lagi yang menyerangku.
“Rachel,"
__ADS_1
Aku kembali mematung mendengar suara itu. Kualihkan tatapanku pada arah panggilan itu.
"Ibu," aku berlari memeluk Bunda dengan isakkan tangis.
“Ibu," tangisku memeluk wanita ini, dia tampak muda dan sangat cantik wajah keriputnya menghilang
“Ibu Rachel rindu”. Renggekku. Ibu mengelus kepalaku dalam pelukkannya seperti anak kecil yang merenggek minta belikan mainan.
“Rachel lelah Bu," aduku sendu menatap wajah cantik wanita yang begitu ku rindukan ini.
Ayah dan Ibu hanya terus tersenyum. Mereka tak menangis sepertiku yang sangat merindukan kehadiran mereka. Apa mereka tidak merindukan aku? Kenapa wajah mereka biasa saja dan hanya tersenyum.
“Ibu, Rachel ingin ikut Ibu, dan Ayah tinggal disini. Rachel selalu menyusahkan banyak orang dan Rachel juga selalu membuat Mas Ramos menangis," curhatku pada wanita itu.
Ibu malah tersenyum mengelus kepalaku lagi dengan lembut serta senyumnya yang tak memutar sama sekali
“Rachel tidak bisa tinggal disini, Rachel harus kembali lagi kesana. Disana ada orang-orang yang merindukan Rachel," ucap Bunda sangat lembut dan penuh kasih sayang.
Aku menggeleng dengan manja “Tapi Rachel tidak mau kembali Bu. Disana Rachel hidup menderita Bu. Rachel juga sakit," renggekku pada nya sambil menceritakan semua yang aku rasakan.
“Kembalilah Nak, tempatmu bukan disini. Belum waktunya kamu tinggal bersama kami," Sahut Ibu dengan senyum ayunya.
“Ibu,"
"Ayah".
“Ayah, Ibu," tiba-tiba mereka berjalan menjauh sambil melambaikan tangan kearahku.
“Ayah”.
“Ibu,"
Aku berlari mengejar mereka sambil menangis dan terjatuh ditanah.
“Ayah, jangan tinggalkan Rachel. Rachel butuh kalian," tangisku kian pecah.
"Rachel,"
Aku langsung mengangkat pandangan ku dan kulihat seorang wanita paruh baya tengah tersenyum menatapku.
"Bunda,"
Aku berdiri dan berhambur kearah nya. Tadi aku bertemu Ayah dan Ibu. Sekarang aku bertemu Bunda, sebenarnya aku ini dimana.
"Bunda," kupeluk wanita ini dengan erat sambil menangis hebat. "Bunda jangan pergi. Jangan tinggalkan Rachel Bunda. Bukankah Bunda ingin melihat anak-anak Rachel tumbuh?" ucapku sambil memeluknya kian heran.
__ADS_1
Kurasakan usapan lembut dipunggungku. Usapan yang sangat nyaman. Usapan yang seketika mengalir dan meresap langsung membuat hatiku menghangat.
Bunda melepaskan pelukan nya dan tersenyum hangat padaku.
"Kau sudah tidak sakit lagi Sayang?" tanya nya
Aku menggeleng. "Tidak Bunda," sahutku. "Bunda apa kabar? Bunda cantik sekali," puji ku dia memang cantik. Pakaian serba putih itu menunjukkan wajah ayu nan lembut itu.
Bunda tersenyum hangat. "Kembalilah Nak. Bunda harus pergi. Jaga diri baik-baik ya. Bunda titip Ayah. Temani dia. Kasihan dia sendirian," Bunda mengecup keningku dengan lembut.
"Bunda, mau kemana? Rachel ikut," renggek ku memegang tangannya.
"Tidak Nak. Kembalilah," dia melepaskan tanganku.
"Bunda,"
"Selamat tinggal,"
Bunda melambaikan tangannya lalu tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi. Kemana Bunda pergi? Apa dia menyusul Ayah dan Ibu?
"Bunda,"
Aku kembali tersungkur ditanah sambil menangis dengan hebat. Kututup wajahku dengan kedua tangan ini. Kemana Bunda pergi?
"Mommy,"
Aku langsung tersadar ketika mendengar suara yang begitu aku kenal. Yaa itu suara ketiga anakku. Gilbert, Gerald dan Gerra.
"Mommy,"
Aku langsung menyeka air mataku saat Gerra mengulurkan tangan nya padaku.
"Mommy, ayo pulang. Daddy sudah menunggu," ucapnya sambil tersenyum hangat.
"Pulang kemana?" Aku berdiri sambil menyeka air mataku dengan kasar.
"Pulang ke rumah Mommy," sambung Gerald sambil menggandeng tanganku yang satu.
Sementara Gilbert tampak tersenyum hangat padaku. Putraku yang satu ini memang tak banyak bicara dia terkesan misterius dan sulit ditebak.
"Mommy jangan menangis lagi yaaa," Gilbert tersenyum hangat padaku. "Ayo kita pulang, Daddy dari tadi mencari Mommy. Kasihan Daddy Mom," ucapnya dengan sendu.
"Tapi_"
"Ayo Mom,"
__ADS_1
Aku pasrah saat ketiga anakku menarikku untuk meninggalkan tempat ini. Sesekali aku menoleh ke belakang berharap Ayah, Ibu dan Bunda terlihat lagi. Barang kali mereka masih ingin bertemu dengan ku sekali saja. Tapi tetap mereka tak kulihat lagi. Kemana mereka pergi? Apa mereka takkan kembali lagi? Lalu bagaimana dengan ku? Aku merindukan mereka.
**Bersambung....... **