
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Rachel mengeliat dibalik selimut tebalnya. Dia merasakan perutnya berat seperti sesuatu yang menimpa perutnya tersebut.
Wanita itu membuka matanya perlahan dan dia langsung disuguhkan dengan wajah tampan sang suami yang masih memeluk nya erat. Rachel tersenyum hangat dan pegulatan panas mereka semalam terekam jelas dikepalanya. Suaminya ini sungguh ganas dan buas luar biasa.
"Selamat pagi Sayang," sapa Ramos tanpa membuka matanya.
"Pagi Mas,"
Rachel turun perlahan dari ranjang, ahh dia malu sendiri saat mendapati dirinya tak memakai sehelai benang pun. Pakaian mereka berserakan dilantai. Baju penggantin itu sebagai bukti bahwa kini keduanya telah kembali bersama.
Rachel bergegas ke kamar mandi. Untung sudah tidak perawan seperti pertama kali melakukan, kalau perawan kemungkinan dia tidak bisa berjalan akibat kebiasaan Ramos.
Rachel menatap pantulan dirinya didepan cermin. Bekas tanda kemerahan di lehernya banyak sekali. Entahlah, suami nya itu seperti ahli lukisan saja yang melukis bagian lehernya dengan banyak tanda-tanda itu.
"Semoga ini awal yang baik Mas. Aku berharap, kita akan bersama selamanya. Selamanya Mas. Ternyata, kau memang jodohku. Walau di terpa oleh ribuan terjangan ombak hingga kini kita dipersatukan kembali oleh kehendak-Nya,"
Rachel segera membersihkan diri didalam kamar mandi. Menggosok tubuh nya. Dia tak enak membangunkan suaminya yang tampak kelelahan itu. Rachel maklumin saja karena Ramos memang sudah berusia. Perbedaan usia mereka 9 tahun. Namun yang namanya cinta tak memandang usia bukan?
Rachel keluar dengan handuk yang terlilit didadanya dan handuk kecil yang menggulung rambut panjang nya. Wanita itu geleng-geleng kepala melihat suaminya yang masih terlelap dengan nyaman.
Segera Rachel memakai pakaian nya. Seperti biasa dia akan bangun pagi menyiapkan sarapan serta keperluan anak dan suami nya.
"Mas, bangun Mas, bangun....," teriak Rachel berhambur kearah kasurnya.
Sontak lelaki yang tengah terlelap itu terbangun dan langsung duduk.
"Sayang ada apa? Apa yang terjadi? Kau kenapa? Apa kau sakit?" cecar Ramos meneliti tubuh istrinya.
"Hiks Mas, kau melupakan sesuatu," ucap Rachel pura-pura menangis sambil menyeka air matanya.
"Melupakan apa Sayang? Aku melupakan mu karena belum minum obat?"
Rachel menggeleng dengan bibir menggerecut kesal.
"Apa Sayang, ayo katakan," desak Ramos. Dia panik bukan main, apalagi Rachel baru selesai operasi transplantasi ginjal. Bagaimana jika bekas operasi itu infeksi atau mengeluarkan darah lagi seperti yang sudah-sudah.
"Mas belum cium aku," ucapnya sambil tersenyum dengan menampilkan rentetan gigi putih nya.
"Ahhh Sayang, kau ini,"
Cup cup cup cup cup cup.
Ramos menghujani wajah Rachel dengan ciuman bertubi-tubi hingga membuat wanita itu terkekeh geli. Terakhir Ramos mengecup bibir manis Rachel dan ******* bibir itu dengan lembut serta menyesapnya untuk mencari rasa manis dari bibir ranum wanita itu.
Ramos menyatukan kening mereka berdua. Nafas keduanya terengah-engah. Ramos mengusap bibir Rachel yang basah karena dirinya.
__ADS_1
"Kau membuatku hampir jantungan Sayang," ucap Ramos kesal.
Rachel ngakak. Entahlah kenapa dia jadi suka jahil, apa karena ketularan kedua putra kembar nya itu yang suka sekali menjahili Paman-nya, Rayyan?
"Sudah Mas, cepat mandi sana. Aku siapkan baju dulu. Mas masuk kantor hari ini?" Rachel turun dari ranjang.
Ramos turun dari ranjang dia tak memakai apapun. Bahkan adik kecilnya masih berdiri tegak akibat ulah Rachel yang mengerjai dirinya.
"Mas, pakai celana sana?" Rachel menutup kedua matanya, wajahnya sudah merah merona melihat benda panjang yang memasuki nya tadi malam.
"Kenapa harus malu sih Sayang. Semalam dia sudah membuatmu terbang melayang. Dan dia juga yang membuat ketiga anak kembar kita ada," goda Ramos sambil memakai celana boxer nya.
"Mas, cepat masuk sana," Rachel setengah mendorong tubuh suaminya.
Ramos tertawa lebar, tadi Rachel yang mengerjainya sekarang giliran dia yang mengerjai istrinya itu jadi setimpas satu sama.
.
.
.
.
"Pagi Daddy. Pagi Mommy,"
"Pagi juga anak-anak Daddy," Ramos berjongkok menyambut ketiga anaknya. "Sayang Daddy dulu,"
Cup cup cup cup cup cup.
Gerald dan Gerra menghujani wajah Ramos dengan banyak ciuman. Sedangkan Gilbert mendelik sambil melipat kedua tangannya didada.
"Kakak tidak ingin cium Daddy?" Ramos menatap putranya heran, karena lelaki kecil itu hanya diam sambil melipat kedua tangannya didada.
"Kakak sudah besar Dad. Kakak tidak mau cium Daddy," lelaki itu naik keatas kursi dan duduk dengan tenang disamping Rachel.
"Selamat pagi Mommy," sapanya ramah.
"Pagi Kakak. Sayang Mommy dulu,"
Cup cup cup cup cup cup cup
Gilbert menciumi bagian wajah Rachel dengan sayang hingga membuat wanita cantik itu tersenyum geli.
Ramos mendengus kesal bahkan dia belum sadar dari keterkejutan nya saat mendengar ucapan Gilbert yang mengatakan jika dirinya sudah besar. Besar dari mana? Usianya baru lima tahun, masih sangat kecil. Bahkan anak-anak normal seusia mereka belum mengerti sepenuhnya.
"Kau mencium istri Daddy, Kak?" Ramos merenggut kesal melihat Gilbert yang mencium wajah Rachel.
__ADS_1
"Dia Mommy, Kakak," sahut nya tersenyum santai.
Ozawa dan Maria hanya tersenyum simpul sedangkan Rayyan memutar bola matanya malas. Hari ini mereka akan kembali ke Indonesia.
"Dad. Mom. Mas Ray. Silahkan dimakan," ucap Rachel.
"Terima kasih Hel," balas Maria.
"Ohh ya Son, hari ini kami akan kembali ke Indonesia. Kami tidak bisa lama-lama disini," ucap Ozawa.
"Apa tidak terlalu cepat Dad?" tanya Ramos. Ramos masih merindukan kedua orangtuanya dia masih ingin berkumpul bersama dirumah mewah nya ini.
"Ingin sekali berlama-lama. Tapi perusahaan tidak ada yang handle," jawab Ozawa.
Sementara Benedicto sudah kembali duluan ke Indonesia. Awalnya Benedicto ingin tinggal bersama Rachel dan suaminya. Namun, entah kenapa lelaki paruh baya itu berubah pikiran dan memutuskan kembali kesana. Dia juga memiliki beberapa usaha yang harus dijalankan kembali dan seperti nya, Benedicto akan meminta bantuan Sandy untuk menggelola perusahaan nya. Benedicto sudah berusia dia tidak akan mampu mengelola perusahaan sebesar itu, jadi dia akan menyerahkan semuanya pada Sandy dan menyuruh mantan calon menantunya itu untuk menggelola nya.
"Ya sudah Daddy dan Mommy hati-hati. Sering-seringlah bermain kesini," ucap Rachel.
"Apa Uncle Ray, juga ikut?" sambung Gerald
"Iya. Memang kenapa?" ketus Rayyan.
"Kenapa tidak bertahan disini saja Uncle, tinggal bersama kami. Gerald dan Kakak tidak punya teman bermain,"
"Tidak mau," tatap Rayyan tajam. "Uncle punya banyak pekerjaan disana,' sambung nya.
"Sudah-sudah, ayo makan," ucap Maria menangahi.
Maria suka sekali kalau Gilbert dan Gerald mengerjai Rayyan. Berkat bantuan kedua cucu kembarnya itu dia bisa mengetahui perbuatan keji Rayyan terhadap perempuan.
Setelah selesai makan, Ramos dan Rachel mengantar anak-anak nya ke sekolah dan setelah dari sekolah mereka juga mengantar Ozawa, Maria dan Rayyan ke bandara
**Bersambung.... **
Guyss.....
kita selesaiin kisah nya Ramos dan Rachel dulu yaaa. setelah ini baru kita move ke yang lain. author gak buat karya baru, tapi kisahnya bakal di rangkup disini saja. Author juga gak buat konflik yang berat, kita hilangin masalah pelakor dan pembinor wkwkwkw....
Makasih buat dukungan kalian..
Ayo mampir ke karya sebelah author....
Istri Tuan Muda Delvano
The Blood of the Silence in Mafia
Cinta setelah penyesalan.
__ADS_1