Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Bab 8. Love Me Please


__ADS_3

**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**


Chika memarkir mobilnya didepan sebuah rumah mewah yang diyakini adalah rumah Choky.


"Tuan," panggil Chika.


Choky tampak terlelap dibangku belakang sambil menahan pusing dikepalanya.


"Aduh kenapa malah tidur?" gadis itu mendengus kesal. "Maafkan saya Tuan," Chika merasa bersalah. "Huh, Chika. Chika," ia menggeleng mengingat dirinya yang membawa mobil kencang tadinya.


Tok tok tok tok


Satpam mengetuk kaca mobil, saat melihat mobil itu terparkir tapi belum masuk kedalam gerbang.


"Maaf Nona, anda siapa?" tanya satpam saat Chika sudah membuka kaca mobil.


"Hem, Paman. Bisa bantu keluarkan Tuan Choky?" Chika melirik Choky kasihan. Lelaki itu tampak lelah.


"Tuan kenapa Nona?" tanya sang satpam setengah panik.


"Hem, kurang sehat Paman," sahut Chika asal.


Gadis itu keluar dari mobil. Lalu membuka pintu mobil belakang. Choky tampak berkeringat dingin. Seperti nya lelaki itu memang kurang sehat.


Dua orang satpam memapah Choky keluar dari mobil. Lelaki itu tak sadar sama sekali, ia seperti dibawah pengaruh alkohol padahal mabuk mobil.


"Choky, astaga," pekik Lewi terkejut melihat putranya yang diseret dengan mata terpejam itu.


"Apa yang terjadi sama kamu Son?" Lewi panik bukan main takut terjadi sesuatu pada putranya itu.


"Choky," Morres pun ikut menghampiri Choky. "Ayo bawa ke kamarnya," suruh pria paruh baya itu.


Chika kikuk melihat kepanikan diwajah kedua orang tua Choky. Ini semua karena dia. Chika mengutuki kebodohannya. Setelah ini ia pasti akan di pecat gara-gara membuat Boss nya itu sakit.


"Choky," Lewi mengusap wajah putranya yang berkeringat. "Kenapa bisa seperti ini?" wanita itu melepaskan pelan jas anaknya.


"Diman, cepat panggilkan Dokter," suruh Morres


Morres juga tak kalah panik. Sebelum nya putranya tak pernah seperti ini. Tapi kenapa sekarang Choky terlihat lemah sekali.


Tidak lama kemudian dokter datang bersama Diman. Diman adalah asisten pribadi sekaligus supir keluarga Morres.

__ADS_1


Sang dokter memeriksa Choky. Lelaki itu sama sekali tak terusik dengan suara berisik didalam kamarnya. Ia tetap terlelap karena kepalanya memang pusing luar biasa.


"Bagaimana Dok?" tanya Morres. "Apa putra saya baik-baik saja?" sambung Morres lagi.


"Seperti nya Tuan Choky mabuk mobil," sang dokter memasukkan kembali alat-alat medisnya


"Mabuk mobil?" gumam Lewi dan Morres bersamaan lalu keduanya saling melihat satu sama lain.


"Iya Tuan. Tuan Choky juga masuk angin. Seperti nya tadi pagi dia belum sarapan," jelas sang dokter.


Lewi mengangguk. Putranya itu memang tak pernah sarapan dirumah. Choky biasanya sarapan di kantor karena semua keperluan nya disiapkan oleh sang asisten, Josh. Tapi sekarang Josh sudah pindah ke Bandung, otomatis tidak ada lagi yang mengurus lelaki itu.


"Nyonya ini obat sakit kepala untuk Tuan. Jika Tuan bangun langsung suruh makan dan berikan obat ini padanya," ucap dokter saling menulis aturan minum di bungkus obat yang akan dia berikan pada Choky.


Lewi mengangguk. Dokter pun berpamitan setelah memeriksa Choky.


.


.


.


"Kamu siapa?" Lewi menatap Chika dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Nama saya Chika, Nyonya," jelas Chika takut-takut.


"Kamu siapanya Choky?" kali ini Morres yang ikut bicara. Ia menatap Chika penuh selidik. Gadis ini masih sangat muda jika di katakan sebagai kekasih Choky.


"Saya sekretaris baru Tuan Choky, Tuan," jawab gadis itu sambil tersenyum kaku.


"Kenapa anak saya bisa sampai mabuk mobil? Apa dia belum sarapan tadi pagi? Dia bukan tipe orang yang mengabaikan kesehatan? Apa sebenarnya yang terjadi?" cecar Morres.


Chika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jantungnya berdebar-debar. Bagaimana kalau orang tua Choky malah menuntut dirinya dan melaporkan dia ke polisi atas kasus penganiyaan?


"An-u.. itu," gadis itu menggaruk tengkuknya.


"Anu apa?" ulang Morres dan Lewi bersamaan.


Chika menarik nafas dalam sangat dalam. Lalu gadis itu menceritakan apa yang terjadi pada Choky. Boss nya itu memang tidak sarapan pagi Karena makanan yang Chika masak sangat asin. Ditambah dengan mabuk mobil jadilah Choky masuk angin.


Morres dan Lewi mengerjab-ngerjabkan mata berulang kali apalagi melihat Chika yang menjelaskan dengan begitu antusias.

__ADS_1


Bagaimana bisa Choky memiliki sekretaris bar-bar seperti Chika? Apa gadis ini bisa bekerja selain membuat ulah?


"Hem, Chika kamu mengingatkan saya pada seseorang," ucap Lewi. "Tapi mungkin hanya kebetulan," sambungnya menepis perasaan nya.


Sedangkan Morres menghela nafas panjang. Wajarlah Choky masuk angin tidak sarapan pagi juga. .


"Kamu tidak bisa masak?" Morres menatap Chika.


"Hehehe, tidak bisa Tuan," jawab Chika jujur. Dia memang tidak bisa masak. Mau bagaimana lagi, itu lah kenyataan nya?


"Chika, kamu kan sekretaris Choky. Usahakan kamu bisa masak. Sebab anak saya itu jarang makan dirumah. Biasanya kalau ada Josh, Josh yang memasak untuknya," jelas Lewi lembut.


"Ohhh iya Nyonya," jawab Chika paham-paham saja. Nanti sampai kost dia akan belajar masak.


"Ya sudah kamu pulang saja ya. Bawa mobil Choky," suruh Morres tersenyum. "Kamu ini kayaknya masih kuliah?" sambungnya.


"He, iya Tuan. Saya masih kuliah semester 4. Tapi karena kekurangan biaya saya terpaksa cuti," curhat nya sambil menyeka air matanya yang tidak jatuh sama sekali. Dalam hati gadis itu berharap kedua orang didepannya percaya apa yang dia ucapkan.


"Sabar ya Chika," Lewi mengusap bahu Chika. "Kamu baik-baik bekerja dengan Choky. Dia memang pemarah tapi sesungguhnya dia baik," jelas wanita paruh baya itu.


Berbeda dengan Morres ia menatap Chika curiga. Gaya anak itu terlihat elit meski ekonomi nya sulit. Mencurigakan.


.


.


.


"Buaaaaa hahahaha," tawa Arnetta pecah saat mendengar cerita Chika. Sudah dia duga bahwa gadis ini akan membuat ulah. Ahh Arnetta tak bisa bayangkan bagaimana ekspresi wajah Choky.


"Kok malah tertawa sihhh?" gerutu Chika. "Aku lagi curhat," ucap nya dengan bibir menggerecut kesal.


"Lagian kamu itu yaaa. Hari pertama bekerja saja sudah membuat kasus. Untung anak orang tidak apa-apa. Kalau sampai Tuan Choky sakit, kamu pasti akan di tuntut sama orang tua nya," ucap Arnetta sengaja menakutkan Chika.


Chika tampak berpikir keras. Gadis itu merasa bersalah. Apalagi mengingat wajah pucat Choky.


"Kamu itu kebiasaan bawa mobil seperti di kejar kuntilanak," Arnetta geleng-geleng kepala.


Chika mendesah. "Apa aku akan di pecat ya Ta?" wajah Chika tampak sendu. "Masa baru pertama masuk sudah di pecat lagi," ia menyeka air matanya. Chika menangis benaran. Padahal dia bukan gadis cenggeng. Kalau dia dipecat pasti susah lagi mencari pekerjaan. Dia belum mau kembali ke rumah sebelum kedua orangtuanya membatalkan masalah perjodohan itu.


**Bersambung .. **

__ADS_1


__ADS_2