Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Menerima jalan takdir-Nya


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Seorang wanita dengan perut buncitnya, tampak sibuk dengan buku ditangannya. Wajahnya sumringah saat membaca isi buku itu. Mungkin isi buku itu terdapat bacaan-bacaan yang membuat hatinya tampan bahagia.


"Ehem, aku bisa mulai bisnis kuliner." Ujarnya terus membolak-balik buku ditangannya yang juga berisi beberapa gambar makanan disana.


Wanita berambut pendek itu sesekali mengigit bibir bawahnya tampak sedang berpikir keras.


"Kakak."


Dia menoleh dan tersenyum melihat kearah sang adik yang berjalan kearahnya sambil membawa nampan ditangannya.


"Minum Kak." Dia meletakkan secangkir teh manis dengan sedikit gula kesukaan sang Kakak.


"Terima kasih Rima."


Dia dengan senyum sumringah mengangkat cangkir berisi teh manis ini. Dia langsung menyesapnya dengan tak sabar. Dia suka sekali teh manis.


"Ehem teh buatanmu enak." Serunya.


Sang adik tersenyum hangat. Semudah itu membuat Kakak nya bahagia hanya dengan membuatkan secangkir teh lalu dia tersenyum seperti mendapat hadiah yang begitu berharga.


"Kakak sedang apa?" Sang adik penasaran melihat buku ditangan Kakak nya.


"Baca buku!" Dia menunjukkan buku ditangannya "Kakak ingin memulai bisnis setelah melahirkan nanti. Kakak tidak mau terus bergantung pada Mas Choky dan Mas Sandy. Mereka sudah terlalu banyak membantu kita." Sahutnya masih sibuk membaca buku ditangannya.


Rima tersenyum. Kakak nya masih tak berubah, selalu saja tak enak jika hidupnya bergantung pada orang lain. Padahal apa kurangnya Choky dan Sandy yang selalu memberikan semua hal dan banyak hal untuknya.


Kedua pria seusia itu juga kompak seperti seorang suami saat sang Kakak ingin makan apa yang dia mau.


"Iya Kak. Pasti bisnis Kakak akan berjalan lancar." Puji Rima "Bagaimana perasaan Kakak, apakah sudah lebih baik?"


Wanita hamil itu mengangguk. Dia meletakkan buku ditangannya. Usia kehamilan nya sudah memasuki bulan ketujuh. Tampan perutnya membesar dan dia mudah sekali kelelahan. Untung saja dia sudah tidak mengidam lagi. Mengidam itu repot. Karena apa yang mau dia makan dan lakukan harus diikuti tanpa menerima bantahan.


"Sudah lebih baik." Dia tersenyum mengusap perut nya "Dia juga baik-baik saja didalam sana. Kakak tidak sabar menyambut kelahiran nya nanti. Kira-kira dia laki-laki atau perempuan ya?" Wanita itu bergumam sendiri


Rima tersenyum hangat, butuh waktu lama untuk sang Kakak bisa menerima benih dari pria yang dia cintai. Serangan panik kadang menyerang membuat Kakak nya seperti orang gila. Namun sudah beberapa bulan ini sang Kakak tidak lagi menggila. Seperti nya dia sudah bisa menguasai emosinya.


"Rachel."


Rachel dan Rima melihat kearah sumber suara.

__ADS_1


"Mas." Rachel tersenyum sumringah.


"Lihat Mas bawa apa?" Dia menunjukkan kantong kresek ditangannya.


"Wahhh sate ayam." Serunya "Mas beli dimana, apakah di Sidney ini ada yang menjual sate ayam?" Ucapnya penasaran sambil mengambil kantong kresek ditangan Choky


Choky tertawa lebar "Tentu saja ada. Mas mendatangkan penjual sate dari Indonesia ke sini khusus untuk si manis nya Mas ini." Dia mencolek dagu Rachel dengan gemes.


"Mas." Rachel merenggut kesal.


Sementara Rima tersenyum simpul. Choky sudah seperti suami Rachel. Selalu menjaga Rachel memberikan perhatian dan kasih sayang layaknya seorang suami.


"Eitttsss, jangan dibuka dulu. Kita makan di meja makan saja." Choky mengambil kembali kantong itu dari tangan Rachel "Rima tolong bawa ke dapur ya." Dia memberikan kantong itu pada Rima.


"Iya Mas." Rima mengambil dengan senyum


"Ayo sini Mas bantu." Choky memapah Rachel berdiri "Mau digendong?" Dia tersenyum jahil.


"Aku bukan anak kecil Mas. Aku bisa jalan sendiri." Ketus Rachel.


Lagi-lagi Choky terkekeh. Sejak hamil, Rachel semakin lucu dan menggemaskan. Rambutnya yang dulu pendek juga kini perlahan tumbuh lagi, butuh waktu lama untuk menumbuhkan rambut itu. Meski belum panjang tapi setidaknya tidak terlalu pendek.


Choky membantu Rachel menuju meja makan. Tangan Rachel yang satu menempel pada perut nya. Sedangkan tangannya yang lain dipegang oleh Choky.


Usia kehamilan nya memang memasuki bulan ketujuh, tapi perutnya serasa begitu berat hingga membuat wanita hamil itu kesusahan bergerak.


"Mas gendong saja ya?" Tawar Choky.


"Tidak Mas. Aku masih bisa berjalan sendiri." Rachel tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Choky masih saja posessif seperti seorang suami.


Dimeja makan sudah ada Sandy yang menunggu dengan senyum. Sedangkan Ayunia dan Alvan sedang sibuk dengan urusan mereka.


"Mas Sandy."


Sandy menarik kursi agar wanita hamil itu bisa duduk dengan nyaman dikursi meja makan.


"Terima kasih Mas." Rachel tersenyum pada kedua pria tampan itu.


"Sama-sama." Jawab keduanya kompak.


"Kak ini sate nya." Rima meletakkan piring berisi sate.

__ADS_1


"Wahh pasti enak."


Rachel makan sate itu dengan lahap, seperti nya dia benar-benar lapar. Makanan khas Indonesia yang selalu dia cari, di benua Australia ini susah sekali mencari makanan seperti itu bahkan tidak ada. Untung Choky yang seorang sultan dengan mudah mencari makanan tersebut meski harus mendatangkan langsung penjual sate dari Indonesia.


Mereka bertiga menatap Rachel yang makan dengan lahap sambil geleng-geleng kepala salut. Porsi makan Rachel sejak hamil memang bertambah, tubuhnya yang dulu kurus kini mulai berisi. Wajahnya yang juga dulu kusut kini tampak berseri.


"Enak?" Choky menyedorkan gelas berisi air.


"Enak.. enak.. enak.." Serunya "Enak sekali Mas, aku suka." Ucapnya lagi.


"Makanlah. Mas memang membelinya untuk mu. Jika kau mau lagi masih banyak." Seru Choky.


"Wahhh benarkah?" Matanya berbinar-binar.


Sandy menatap Rachel dengan senyuman manis. Hingga kini masih menjadi misteri kenapa Rachel begitu mirip dengan almarhum tunangan nya? Sandy memang belum mencari tahu asal usul keluarga Rachel karena dia sedang fokus pada kesehatan mental Rachel.


"Hel, setelah ini kita kerumah sakit ya. Kita mau cek kehamilan mu pada dokter kandungan." Jelas Choky.


"Iya Mas." Senyum Rachel "Mas, aku lelah. Aku mau istirahat." Dia dengan manja menyenderkan kepalanya dilengan Choky.


"Ayo dikamar saja." Suruh Choky "Tidak mau, mau duduk ditaman sambil tiduran." Renggeknya.


"Bawa saja Chok." Ujar Sandy


"Iya deh." Choky menghela nafas panjang


Rachel sejak hamil dia memang mudah lelah terlihat dirinya begitu manja pada saja termasuk Ayunia. Tak kala dia ingin tidur dipelukkan Ayunia, rasanya nyaman dan damai.


'Semoga Kakak selalu bahagia. Semoga Kakak tidak bertemu dengan lelaki itu lagi Kak. Aku berharap Kakak menerima cinta Mas Choky.' Batin Rima


Choky memapah Rachel duduk disoffa. Keinginan wanita hamil itu memang harus dituruti, jika tidak dia bisa merenggek sepanjan hari dan merajuk.


"Rima bagaimana sekolahmu?" Tanya Sandy. Mereka berdua masih duduk dikursi meja makan sambil melihat Rachel dan Choky yang berjalan kearah meja makan.


"Baik-baik saja Mas." Sahut Rima tersenyum.


"Syukurlah. Jika ada apa-apa, segera beritahu Mas." Ujar Choky.


"Iya Mas. Terima kasih."


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2