Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Terbuka


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Sandy membuka pelan perban yang menutupi kedua mata Ramos. Dokter tampan itu tampak berhati-hati dan dengan hati yang sedikit was-was karena takut jika operasinya gagal.


"Buka matamu pelan-pelan," suruh Sandy.


Tampak tiga anak kembar itu tak sabar melihat sang Ayah bisa melihat kembali. Begitu juga dengan Ozawa dan Maria yang ingin melihat putranya kembali normal seperti biasa.


Rayyan pun tak kalah deg-degan juga. Akhirnya kakak nya itu bisa melihat kembali seperti sediakala. Harapan Rayyan juga sama, semoga Ramos bahagia bersama anak-anak dan istrinya.


Perlahan mata Ramos terbuka. Namun pandangan nya masih kabur dan belum jelas. Beberapa kali lelaki itu mengerjab-ngerjabkan matanya hingga penglihatan nya kembali pulih.


"Bagaimana Ramos, apa kau bisa melihatku?" tanya Sandy.


Ramos mengangguk mata nya langsung berkaca-kaca karena terharu. Setelah sekian lama hidup dalam kegelapan kini dia bisa kembali melihat terang yang begitu dia rindukan.


"Daddy,"


Gilbert, Gerald dan Gerra berhambur memeluk sang Ayah sambil menangis dan terharu karen bahagia.


"Nak," Ramos membalas pelukan ketiga anaknya itu.


Anak dan Ayah itu saling bertangisan satu sama lain karena terharu. Menangis bahagia. Akhirnya penantian panjang setelah pengorbanan cinta yang mereka perjuangkan kini berbuah manis.


"Hiks hiks, akhirnya Daddy bisa melihat lagi," ucap Gerra sambil menyeka air matanya. "Gella lindu Daddy. Gella ingin makan disuapi Daddy," seloroh nya sambil menangis segugukan.


"Daddy juga rindu Gerra," balas Ramos.


Ramos melepaskan pelukan ketiga anaknya. Dia tersenyum hangat dan air mata meleleh begitu saja dipipinya.


"Gilbert,"


"Daddy,"


Gilbert memeluk Ramos. Ini adalah pelukkan yang dia rindukan selama ini. Begitu juga dengan Ramos. Dia tak menyangka jika putra yang begitu membenci nya, kini memeluk nya kian erat.


"Maafkan Gilbert Dad. Maafkan Gilbert," ucap lelaki kecil itu penuh penyesalan. Dulu dia adalah anak kecil yang sudah berani melukai hati sang Ayah.


"Daddy, juga minta maaf Son. Maafkan Dad," balas Ramos. Ramos paham perasaan anaknya. Sebab itu dia tak pernah dendam pada ucapan Gilbert kala itu.


"Ramos," Maria juga ikut memeluk Ramos dan Gilbert.

__ADS_1


"Mom,"


Tangis haru masih terdengar menggema di ruangan rawat Ramos. Isakkan bahagia saling bersahutan disana. Apalagi ketiga anak kembar itu pun masih tak henti-hentinya menangis saking bahagia karena Daddy yang begitu mereka rindukan dan cintai kini bisa kembali melihat dunia yang baru.


"Kau sudah bisa melihat Son?" Maria memegang wajah putranya. "Mommy merindukan mu," isak nya.


"Aku juga merindukanmu Mom. Aku sudah bisa melihat kembali. Aku sudah bisa melihat wajah Mommy," sahut Ramos memegang tangan Maria yang melekat dipipinya. "Apa kabarmu, Mom? Sudah lama aku tak melihat mu. Sudah lama aku tak melihat wajah ayu dan cantikmu. Maafkan aku, jika aku belum bisa membuatmu bahagia," ucap Ramos tulus.


Maria menggeleng. "Kau adalah suami dan Ayah terbaik, Nak. Serta putra terbaik Mommy," ucap Maria.


Tunggu, kenapa ada yang kurang. Istrinya, ya dimana Rachel? Kenapa tidak ada Rachel? Bukankah Ramos sudah berjanji orang pertama yang ingin dia lihat ketika membuka mata adalah Rachel. Lalu dimana istrinya itu?


"Mom, Rachel dimana?" sontak Ramos melepaskan pelukan nya dan sibuk mencari sang istri. "Son, dimana Mommy?" tanya nya pada kedua anak lelakinya. "Girl, Mommy dimana?" Ramos ikut bertanya pada Gerra yang tampak menatapnya dengan berkaca-kaca.


"Mommy," mata Gerra berkaca-kaca.


"Ramos, Rachel belum sadar dari obat bius setelah operasi. Selain itu, ada dia juga baru melewati masa kritisnya. Semoga Rachel cepat sadar," jelas Sandy. Sandy tak mau Ramos berpikiran yang macam-macam tentang Rachel. Ramos tidak boleh berpikir keras.


"Dimana istriku, aku ingin bertemu dengannya?" lelaki itu menyimak selimut nya.


"Sabar Son, istirahat lah. Rachel baik-baik saja. Jangan khawatir," cegah Ozawa.


"Iya Daddy. Mommy sedang tidur. Nanti kalau Mommy sudah bangun kita baru bisa melihat nya. Sebaiknya Daddy, istirahat saja," seru Gerald.


"Son, istirahat lah," sahut Maria lembut. "Kau baru saja pulih. Tenanglah. Semua akan baik-baik saja," ucap Maria menenangkan.


Ramos menurut, tapi hatinya masih keukeh ingin bertemu dengan istrinya. Kenapa perasaan nya tidak nyaman? Seperti sedang berkecambuk dengan kegelisahan. Semoga Rachel baik-baik saja. Semoga Rachel tidak apa-apa.


Ramos kembali berbaring tapi matanya terus tertuju kearah pintu masuk sambil berharap istrinya datang dan menyambut dirinya. Kenapa istrinya belum datang? Benarkah jika wanita itu sedang dalam pengaruh obat bius? Tapi kenapa lama sekali? Bukankah ini sudah lewat tiga hari dari masa operasi nya.


'Rachel, ku harap kau baik-baik saja Sayang. Tapi kenapa kau tidak ada disini? Padahal aku ingin kau orang pertama yang kulihat. Tapi kenapa kau tidak ada,' batin Ramos berusaha tenang.


"Daddy, Gella temanin yaaa?" seru gadis kecil itu.


"Iya Sayang," Ramos tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.


"Ya sudah kita biarkan Ramos istirahat," ucap Sandy. "Son, kalian jaga Daddy yaaa jika ada apa-apa segera beritahu Papa," pesan Sandy.


"Iya Paaa,"


Sandy, Ozawa, Maria dan Rayyan keluar dari ruangan rawat inap Ramos dan membiarkan Ramos istirahat, sebab Ramos memang perlu banyak istirahat.

__ADS_1


"Daddy, Gella pijitin tangan Daddy yaaaa?" ujar Gerra sambil memijit-mijit lengan Ramos.


"Terima kasih Girl," senyum Ramos.


"Gerald juga yaaa Dad," seru Gerald ikut memuji lengan Ramos. Ketiga anak itu naik keatas ranjang Ramos. Tubuh mereka yang kecil tentu muat diatas ranjang yang ukurannya cukup besar itu.


"Daddy, disini saja yaa dengan Gerald dan Gerra. Gilbert keluar sebentar," lelaki kecil itu turun dari ranjang Ramos.


"Mau kemana Son?" tanya Ramos sedikit curiga pada putranya.


"Mencari udara segar Dad," jawab Gilbert asal sambil tersenyum.


Ramos menatap putranya dengan selidik, anak sekecil itu sudah tahu mencari udara segar. Seperti orang dewasa saja.


"Jangan lama-lama Son dan jangan jauh-jauh," pesan Ramos. Meski rumah sakit ini dilengkapi dengan fasilitas pengawasan yang ketat tapi tetap harus waspada.


"Iya Dad," Gilbert melambaikan tangannya lalu menutup pintu.


Ramos tampak menghela nafas panjang. Entah kenapa pikiran nya kalut memikirkan istrinya. Ini sedikit aneh, tidak mungkin Rachel masih dalam pengaruh obat bius padahal sudah lewat beberapa hari.


"Nak, dimana Mommy?" tanya Ramos lembut pada kedua anak nya. Gerald dan Gerra masih polos tidak seperti Gilbert yang dewasa dan tidak bisa dirayu.


Gerald dan Gerra tampak saling melihat, kedua anak itu terlihat gugup saat ditanya seperti itu. Apalagi tatapan mata Ramos yang seperti curiga pada keduanya.


"An-nu, Dad. Mommy..," Gerald menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajahnya tampak gugup.


"Son, kau tahu kan kalau bohong itu berdosa?" ucap Ramos tersenyum hangat pada anaknya. Pertanyaan nya seperti sebuah ancaman.


"Belum tahu Dad," Gerald nenggelng dengan wajah polosnya.


Ramos mendengus kesal. Ini pasti ada yang tidak beres. Kemana, istrinya itu? Ramos merindukan Rachel-nya.


**Bersambung..**


Apa kabar kalian para kesayangan?


Author minta maaf yang sebesar-besarnya kemarin tidak update karena lampu masih mati dan sinyal hilang....


Ahhh rasanya kangen banget sama kalian...


Sehat-sehat kalian disana...

__ADS_1


Dan puji Tuhan lampu sudah hidup dan sinyal normal....


Makasih buat kalian yang selalu setia nemanin author.... Makasih buat support dan dukungan nya...


__ADS_2