Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Kembali ke Sidney


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ramos tersenyum sumringah saat menjemput kedua anaknya dirumah besar Choky. Dia tampak tak sabar untuk terbang langsung ke Sidney hari ini. Penantian dan perjuangan selama enam tahun akhirnya dia bisa bertemu dengan anak-anak dan istri yang telah dia sakiti.


"Haiii Son." Senyumnya ramah sambil melambaikan tangannya kearah Gerald yang turun dari tangga.


"Daddy." Gerald berhambur kearah Ramos.


Ramos langsung menyambut Gerald dengan pelukkan hangat dan nyaman.


"Apa kabar jagoan Daddy?" Dia menggendong anaknya itu.


"Gerald baik. Daddy apa kabar?" Tanya sambil melingkarkan tangannya dileher Ramos.


"Kabar Daddy juga baik Son." Dia mengecup pipi anak nya itu dengan gemes.


Choky dan Gilbert juga turun dari tangga. Sekilas Gilbert melirik pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ayah biologis nya itu, tatapan nya penuh kebencian namun dia tetap diam seolah hatinya baik-baik saja.


"Selamat pagi Tuan Choky." Sapa Ramos ramah.


"Pagi juga Tuan Ramos." Balas choky memaksakan senyum.


"Pagi Son." Ramos menatap kearah Gilbert.


Namun Gilbert malah duduk dengan tenang dengan kaki kanan yang tertumpu pada kaki kiri. Dia seperti orang dewasa yang tampak santai-santai saja.


Ramos menunduk merasakan hatinya sakit ketika melihat tatapan dingin putra sulungnya. Jika boleh kembali ke masa lalu dia takkan pernah melakukan hal sekeji dan sekejam itu pada istrinya. Namun semua sudah terjadi dia tak bisa merubah apa yang telah dia lakukan.


"Ayo kita berangkat." Ajak Choky


Gilbert mengangguk lalu berdiri dan berjalan duluan.


"Aku tidak sabar menaiki jet pribadi milik Daddy. Pasti lebih mewah dari punya Ayah." Seru Gerald dengan wajah sumringah dan bahagianya.


"Tentu saja Son." Senyum Ramos. Dia mencoba menutupi luka yang mengangga dihatinya karena tatapan dingin Gilbert.


Gilbert menatap kearah Gerald dan Ramos.

__ADS_1


"Aku takkan ikut kalian," ujarnya


Ramos tak bisa membantah dia tak ingin memaksa dan membuat anaknya semakin benci kepadanya.


"Tuan Ramos, bawalah Gerald bersama anda. Saya tidak bisa meninggalkan Gilbert sendirian."


"Baik Tuan. Terima kasih."


Choky menyusul Gilbert masuk kedalam mobil. Sejak kedatangan mereka ke Indonesia, Gilbert menjadi lebih pendiam. Jarang berbicara dan menampilkan wajah tak bersahabat. Dia sedang tak baik-baik saja, namun tak ada yang paham bahwa di balik tubuhnya yang kecil ada jiwanya yang terasa diremas-remas hingga mengecil.


"Son." Choky menatap kearah Gilbert, "Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya.


Gilbert melihat Choky lelaki kecil itu menggeleng. Siapa yang baik-baik saja? Dia sama sekali tak baik-baik saja. Dia terluka dia patah hati.


"Katakanlah Son. Jangan dipendam dalam hatimu," ucap Choky.


"Ayah." Mata Gilbert berkaca-kaca. "Apa Gilbert salah tidak bisa memaafkannya? Gilbert tak bisa melupakan apa yang dia lakukan pada Mommy. Dia jahat Ayah. Bagaimana reaksi Mommy saat bertemu dengannya nanti?" Ujarnya


Choky menarik Gilbert kedalam pelukannya. Dia tahu jika perasaan Gilbert saat ini sedang tak baik-baik saja. Dia menyimpan sesuatu yang membuat hatinya rapuh dan sakit bukan main.


.


.


.


.


"Wahhh Daddy, jet mu sangat keren. Mirip seperti di film-film Hollywood," puji Gerald berdecak kagum.


Ramos terkekeh sambil memangku Gerald "Ini juga milikmu Son. Milik Daddy juga milik mu." Sahut Ramos tertawa pelan


"Benarkah? Apakah Gerald boleh bawa pulang Dad?" Serunya


"Kalau kau mau tentu saja boleh. Daddy bisa beli yang baru." Sahutnya gemes.


"Dad."

__ADS_1


"Iya Son?" Sahut Ramos "Kenapa? Ehem!"


"Apa dulu Daddy tidak mencintai Mommy?"


Deg


Jantung Ramos terasa meledak ketika mendengar pertanyaan dari putranya. Dia menatap Gerald. Ada rasa bersalah melihat wajah anaknya. Bahkan adanya bisa hadir didunia ini karena kebencian nya pada sang istri yang dia anggap adalah bekas banyak pria.


"Son." Ramos mengigit bibir bawahnya menahan tangis yang seolah ingin pecah


"Daddy, Gerald melihat semua yang Daddy lakukan pada Mommy didalam video itu."


Deg


Ramos kembali menatap putranya. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan dari putranya itu.


"Apa dulu Mommy jelek Dad? Apa dulu Mommy itu wanita tidak benar? Kenapa Daddy memperlakukan Mommy seperti itu? Apa Daddy tahu, saat Mommy mendengar nama Daddy, Mommy pasti ketakutan dan menangis sampai tertidur seperti waktu itu? Mommy sangat takut pada Daddy. Mommy takut kalau Daddy menyakiti tubuhnya lagi," jelas Gerald menatap mata Ramos. "Dad, jika Mommy itu wanita malam harusnya Daddy tidak membuangnya harusnya Daddy tidak menyakitinya dan harusnya Daddy memperbaiki Mommy dan menunjukkan jalan yang benar pada Mommy." Sambung Gerald.


Ramos tak mampu menahan air matanya. Ucapan ini kembali membuat memorinya kembali ke masa lalu. Masa dimana dia lebih kejam dari mafia. Sekarang anaknya yang masih bertubuh kecil itu sudah paham arti menyakiti, mencintai dan memperbaiki. Bagaimana bisa bocah sekecil ini sudah paham urusan orang dewasa? Begitu banyak waktu yang dia lewatkan dalam pertumbuhan anak-anaknya.


"Kenapa kau menangis Dad?" Gerald mengusap pipi Ramos.


"Son, boleh Daddy bercerita padamu? Daddy tahu kau memang masih kecil tapi sesungguhnya kau sudah dewasa sebelum waktunya. Bisakah kali ini dengarkan Daddy bercerita, sekali saja?" Pinta Ramos memohon.


"Katakanlah Dad. Gerald akan mendengarkan Daddy, barangkali beban dipundakmu bisa sedikit terlepas." Gerald menepuk pundak Ramos.


Ramos menceritakan semua nya pada Gerald. Kenapa dia bisa membenci Rachel dan menolak perjodohan dengan wanita itu. Dia termakan omongan kekasihnya. Dia dihasut dan bodohnya dia percaya begitu saja.


Malam itu Ramos tak bermaksud mengambil mahkota sang istri, dipandangan matanya Rachel seperti wajah mantan kekasihnya Agnes, dia ingin balas dendam dan membuat wanita itu kelelahan melayani dirinya. Namun ketika dia bangun dia malah mendapati dirinya dalam keadaan tak memakai apapun dan terdapat bercak darah disampingnya. Rekaman kejadian malam itu terekam jelas dikepala Ramos dan dia baru sadar jika wanita yang bersamanya itu adalah istrinya sendiri.


"Daddy menyesal Son. Daddy menyesal. Daddy mencari Mommy. Setiap hari. Sepanjang hari, Daddy hidup dalam penyesalan. Hingga Daddy dipenjara dan hidup selama lima tahun didalam jeruji besi yang menjijikan itu. Daddy sudah menerima semua hukuman yang layak Daddy dapatkan tapi tetap Daddy tidak bisa lepas dari rasa bersalah kehilangan Mommy kalian. Apa Daddy harus meninggal dan pergi dari dunia ini, agar semua penyesalan Daddy bisa hilang dan pergi."


"Dad." Gerald memeluk Ramos. "Gerald paham perasaan mu. Jangan dilanjutkan lagi. Gerald menyanyangi mu, walau Mommy dan Kakak tidak menerimamu," ucapnya


"Terima kasih Son."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2