Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Kecewa nya seorang anak.


__ADS_3

Happy Reading ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Gilbert memutuskan menemui Ayah nya. Ini semua adalah ulah dan karena Ramos. Untuk kali ini Gilbert takkan mengizinkan sang Ayah untuk mendekati hidup mereka lagi.


Lelaki kecil itu turun dari mobil. Tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Choky dan Sandy. Sejak Rachel di nyatakan buta permanen karena kecelakaan tersebut. Kedua lelaki itu fokus mengurus Rachel serta mencari pengobatan dan donor mata. Namun uang pun tak cukup mampu membeli dua biji mata yang berbentuk kecil itu namun mampu melihat seluruh isi dunia yang besar nya tak bisa di ukur.


Gilbert masuk dengan tatapan penuh amarah. Meski masih kecil tapi pria itu sudah menunjukkan ekspresi-ekspresi yang membuat orang bergidik ngeri.


"Maaf anda siapa Tuan Kecil?" Sapa seorang pengawal yang berjaga didepan kediaman mewah rumah Rayyan.


Sang pengawal itu terkejut ketika melihat tatapan Gilbert. Dalam hati berpikir, kenapa anak kecil ini bisa benar-benar mirip dengan tuan-nya Ramos.


"Aku ingin bertemu dengan Tuan-mu," jawab Gilbert tanpa melihat kearah pengawal itu.


"Maaf anda ingin bertemu Tuan siapa, Tuan Kecil. Disini ada Tuan Ray dan Tuan Ramos_"


"Yang kau sebutkan terakhir," potong Gilbert.


"Maaf apakah anda sudah membuat perjanjian dengan Tuan Ramos, Tuan?" Tanya pengawal itu sopan. Baru kali ini dia takut pada anak kecil.


Gilbert melayangkan tatapan tajamnya, mirip seperti iblis kecil.


"Cepat buka gerbang nya atau kau mau kuledakkan kepalamu?" Ancamnya.


Sang pengawal bergidik ngeri, sebenarnya tidak perlu takut karena anak sekecil ini tidak mungkin bisa meledakkan kepalanya. Tapi kenapa dia merasa ketakutan?


"B-baik Tu-tuan Kecil," sang pengawal membungkuk hormat.


Gilbert masuk dan berjalan santai. Kedua tangannya dia masukkan kedalam saku celananya. Tatapan dingin nya membuat lelaki kecil itu justru terlihat menggemaskan.


"Heii kau siapa?" Rayyan menatap Gilbert dari ujung kaki sampai ujung rambut.


'Ehem, kenapa mirip dengan Kak Ramos?' Batin Rayyan


Gilbert malah duduk di sofa dengan santai tanpa peduli dengan pertanyaan Rayyan. Sikap dan tingkah laku nya persis seperti Ramos. Like father like Son


"Ck, aku belum mempersilahkan mu duduk. Kau siapa?" Gerutu Rayyan ikut duduk sofa. "Hei anak kecil kalau ditanya itu jawab. Apa kau bisu?" Rayyan mencebik kesal.


Namun Gilbert tetap diam dengan melipat kedua tangannya didada. Dia tidak ada urusan dengan pria ini. Dia ingin menemui pria yang berstatus Ayah biologisnya. Gilbert tak habis pikir kenapa Tuhan malah menjadikan Ramos sebagai Ayah biologisnya? Padahal Tuhan tahu jika Ramos adalah penyebab segala penderitaan sang Ibu.

__ADS_1


"Ck, kau mau apa?" Rayyan mulai jenggah ketika anak kecil ini tak menjawab.


"Aku tidak ada urusan denganmu. Jadi aku takkan katakan apa yang ku mau," jawab Gilbert dingin.


Rayyan bergidik ngeri mendengar jawaban Gilbert. Dia menatap Gilbert dari ujung kaki sampai ujung rambut. Jika di perhatikan bocah ini masih berusia lima tahun. Tapi kenapa ucapannya pedas seperti sambal terasi saja?


"Kau_"


"Ada apa Ray?" Ramos berjalan menuju ruang tamu dia baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan nya dan sedang berusaha mencari dokter terbaik untuk kesembuhan istrinya.


"Dia sia_"


Ramos langsung mematung ditempatnya ketika melihat Gilbert yang sudah duduk dengan santai sambil melipat kedua tangannya didada.


"Gilbert?" Gumam Ramos.


Gilbert menatap Ramos penuh kebencian. Kecewa. Marah. Menjadi satu. Harusnya anak kecil seperti nya tidak perlu memahami masalah dewasa. Tapi apa dia bisa menolak dewasa sebelum waktunya? Melihat apa yang sudah terjadi pada sang Ibu, membuatnya semakin tak ingin memberikan Ramos kesempatan kedua untuk bersama-sama dengan mereka.


"Son," mata Ramos berkaca-kaca.


Sedangkan Rayuan menatap kedua orang itu secara bergantian. Apakah anak kecil ini anak dari Kakak nya yang sering diceritakan oleh Daddy mereka?


Ini adalah pertemuan kedua kali nya mereka dan ini pertama kalinya Ramos sedekat ini dengan Gilbert.


"Aku datang kesini bukan untuk saling bertanya kabar. Aku hanya ingin memperingatkan mu agar tidak mendekati Mommy ku lagi," ucap Gilbert dingin.


Deg


"Jangan pernah bermimpi untuk kembali padanya. Dia sudah tidak mencintaimu. Sadarlah. Kehadiran mu justru membuat Mommy hidup menderita. Kau tahu sekarang bagaimana kondisinya?" Mata Gilbert berkaca-kaca. "Dia tidak bisa melihat dunia lagi. Dunia nya gelap. Hitam tanpa ada warna lain. Ini semua karena keegoisan mu," Gilbert menatap Ramos kecewa.


"Son dengarkan Daddy. Daddy bisa jelaskan semuanya," mohon sambil sambil memegang kedua lutut Gilbert yang munggil itu.


"Aku tidak mau mendengarkan apapun. Apapun penjelasan mu takkan membuat Mommy ku kembali melihat. Aku datang kesini hanya ingin memperingatkan mu untuk tidak datang lagi di kehidupan kami," Gilbert melihat Ramos dengan tatapan dingin dan kecewa.


Gilbert adalah seorang anak kecil yang patah hati. Patah hati karena perbuatan sang Ayah kepada Ibu nya. Sebelum mereka lahir Ibu disiksa tanpa belas kasihan. Bahkan kehadiran dia dan kedua adiknya pun karena kejahatan sang Ayah. Sekarang Ibu nya harus buta permanen yang artinya tidak akan bisa sembuh dengan cara apapun kecuali ada pendonor mata untuknya. Hidup Ibu nya selalu menderita, hal itu membuat hati seorang anak kecil itu patah hati hebat.


Ramos berlutut didepan Gilbert. Menang takkan ada kesempatan lagi untuk dia memperbaiki kehidupan mereka.


"Daddy akan lakukan apapun untuk kesembuhan Mommy. Maafkan Daddy, Son," Ramos masih memohon

__ADS_1


"Dengan cara apa? Dengan cara mendonorkan matamu untuk Mommy?" Gilbert tertawa sinis. "Mommy tetap takkan bahagia apalagi dia melihat dengan mata dari seorang pria brengsek seperti mu,"


"Heii anak kecil jaga ucapanmu! Bagaimana pun dia adalah Ayahmu," sergah Rayyan yang tidak suka mendengar ucapan lancang dari Gilbert.


"Aku tahu kau tidak perlu memperingatkan ku," Gilbert menatap Rayyan balik sehingga membuat Paman-nya itu bergidik ngeri.


"Son," air mata Ramos membanjir.


"Lupakan Mommy ku itu saja. Jangan khawatir, aku akan mencari pendonor mata untuknya. Setelah Mommy bisa melihat, jangan berpikir untuk dihadir dihadapan matanya. Aku adalah orang pertama yang akan memberimu pelajaran jika kau kembali mengusik kehidupan Mommy,"


Deg


Ramos luruh dilantai mendengar ucapan yang keluar dari mulut pria kecil itu. Sakit tak berdarah. Hancur berkeping-keping. Ramos pernah patah hati hebat kehilangan Rachel sangat hebat hingga membuat hidupnya tak tentu arah. Tapi ucapan yang keluar dari mulut Gilbert jauh lebih membuat hatinya sakit luar biasa.


"Kau....." Rayyan geram sendiri.


Gilbert berdiri dan berjalan menuju pintu keluar tanpa berpamitan pada Ayah dan Paman-nya itu.


"Kak," Rayyan mengusap bahu Ramos.


Ramos menggeleng sambil menutup wajahnya. Mungkin Ramos harus menyerah untuk mendapatkan maaf itu. Menyerah dan pergi sejauh mungkin dari kehidupan Rachel dan anak-anak nya.


**Bersambung....


Sore semua...๐Ÿ˜‚


Sekedar memperingatkan jangan marah-marah dibulan suci ramadhan ini, apalagi yang puasa๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Tapi kalau kalian mau marah sile-sile coret-coret dibawah yang guys...


Jangan lupa siapkan batu es sebelum membaca novel ini๐Ÿคญ


Karena novel ini banyak ditambah sambal terasi sama tomat nya๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ


Jangan lupa salahkan otor nya๐Ÿคญ


Sekian dari author.. Terima kasih buat love-love nya...


Selamat berbuka puasa**.

__ADS_1


__ADS_2