Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Malam penyiksaan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Setelah melalui perdebatan yang panjang antara Ramos dan Maria yang menginginkan pengantin baru itu untuk menginap di mansion keluarganya. Hal tersebut di tantang keras oleh Ramos dengan alasan supaya lebih banyak waktu berdua. Akhirnya mereka kembali ke apartemen milik Ramos yang memang menjadi tempat tinggalnya sendiri.


Malam pertama bagi dua pasang sejoli yang baru saja sah menjadi pasangan suami istri. Harusnya begitu, tapi tidak dengan pasangan Ramos dan Rachel. Tak ada malam pertama, mengingat mereka bukan menikah karena cinta. Setiap pasangan pasti menanti yang namanya malam pertama saling memadu kasih dalam penyatuan. Begitu juga dengan Rachel tetapi sayang pernikahan ini hanyalah bayangannya saja. Suaminya tidak akan menerima dirinya. Suaminya sudah katakan untuk tidak berharap pada pernikahan tak di inginkan ini.


Rachel duduk dikursi meja riasnya, berusaha menghapus make-up yang sedari tadi menempel di wajahnya dan melepaskan jepitan rambut yang berjejer di rambutnya. Susah sekali melepaskan jepitan rambut tersebut hingga membuat kesusahan hanya untuk sekedar melepaskan jepitan rambut di kepalanya.


“Mas, tidur di ranjang saja, biar aku di sofa," ucap Rachel tanpa melihat Ramos.


Ramos hanya menatap intens gadis itu. Rasa benci dan jijiknya tak bisa di sembunyikan. Dia benar-benar membenci wanita yang menjadi istrinya itu. Tidak tahu alasannya apa. Yang pasti Ramos sangat membenci wanita ini.


Ramos langsung menarik rambut Rachel hingga gadis itu terjerembab ke lantai dengan gaun pengantin yang masih membelit tubuh rampingnya.


“Berapa keluargaku membeli tubuhmu? Aku yakin kau menikahi ku hanya karena uang. Jawab! Hah?" bentak Ramos menarik Rachel dengan kasar mencengkram dagunya dengan keras hingga terhempas ke lantai.


“Jawab gadis gila? Apa kau bisu?” Tatap Ramos penuh kebencian sambil menatap wajah Rachel yang sudah di penuhi dengan air mata. Rachel meringgis kesakitan, sepertinya bekas operasi itu akan mengeluarkan darah lagi.


"Dasar pelacur." Ramos menghempaskan dagu Rachel sampai tersungkur di lantai.


Rachel memejamkan matanya menahan rasa sakit, di bagian bekas operasi yang belum benar-benar sembuh.


“Hm, kau lumayan cantik dan sepertinya tubuhmu ini sudah dijamah oleh ribuan pria di luar sana. Sayang sekali jika aku tidak menikmatinya, sangat rugi karena keluargaku sudah membelimu dengan sangat mahal." Ramos tersenyum sinis penuh kebencian.


Dia langsung menarik baju pengantin yang dikenakan Rachel, merobeknya dengan kasar hingga tampil lah tubuh Rachel yang hanya memakai bra dan ****** *****


“Tubuhmu sungguh menggodaku, Sayang," goda Ramos lagi, sambil melepaskan pengait bra Rachel.


Dia meremas payudara Rachel dengan kasar. Gadis itu hanya mengigit bibirnya menahan suara ******* yang hendak keluar dari mulutnya. Ini kenapa rasanya begini? Apa karena Rachel tidak pernah di jamah pria sebelumnya?

__ADS_1


“Bagaimana, Sayang. Apakah nikmat?” bisik Ramos lagi masih meremasnya dengan kasar. Kedua tangannya terus meremas dua bukit kembar Rachel.


“Bibirmu ini juga sangat manis. Apa boleh aku mencicipinya, Sayang?" goda tersenyum sinis seraya mengusap bibir wanita tersebut.


Ramos langsung ******* kasar bibir ranum nan manis milik Rachel. Perempuan itu memberontak tetapi percuma badan kekar Ramos telah menguncinya dengan kasar. Dia hampir kehabisan oksigen dan lelaki itu melepaskan panggutannya.


“Kau tahu, Sayang? Betapa nikmatnya berciuman. Tapi sayang aku takkan membiarkanmu menikmati ciuman ini karena bibirmu bekas pria lain dan aku tak sudi berbagi bibir." Ramos kembali mencengkram dengan kasar dagu Rachel.


Namun, matanya terhenti kala melihat sebuah perban yang terbalut di perut istrinya. Tanpa rasa kasihan Ramos menarik Rachel dengan kasar menyeretnya sampai ke kamar mandi.


Dia mencelupkan kepala Rachel kedalam bath up dengan kasar dan berulang kali, menarik lalu mencelupkannya kembali.


“Kau adalah wanita yang paling ku benci. Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Dengarkan aku baik-baik pelacur, aku akan membuat hidupmu bagaikan di neraka bersiap-siaplah untuk menderita." Ramos langsung menghempaskan dagu Rachel dengan kasar.


Dia berlalu pergi dan menutup pintu dengan kasar. Sementara Rachel berusaha menahan rasa sakit di bagian perutnya, bekas operasi itu berdarah karena baru satu minggu.


“Ibu. Rima. hiks hiks." Tangis Rachel pecah sambil memeluk lututnya dibawah shower.


“Maafkan Rachel, Bu. Asal Ibu dan Rima bahagia Rachel juga bahagia, hiks hiks. Tapi bolehkah Rachel jujur, Bu? Jika Rachel lelah saat ini," jeritnya dengan ruangan tangis pasrah pada kehendak takdir.


Setelah cukup lama menguyur tubuhnya dibawah shower. Gadis itu segera mengambil handuk dan memakai pakaiannya serta menganti perban bekas operasi.


“Aw," rintihnya kesakitan saat membuka pelan perban yang sudah hampir semuanya berwarna merah.


“Kau harus kuat, Rachel. Perjuanganmu baru dimulai, masih banyak lagi yang harus kau lewati. Kau harus kuat," ucapnya berusaha menguatkan diri. Walau air mata terus mengalir di pipi.


“Argh," jerit Rachel lagi saat mengoleskan obat di luka bekas operasinya.


“Ayah, seandainya Ayah masih ada pasti Rachel tidak akan menderita seperti ini. Apa Ayah tahu sekarang putrimu ini sangat merindukanmu? Maafkan Rachel, Ayah. Rachel belum bisa menjadi anak yang baik untuk ibu dan juga Rima. Tapi Rachel janji akan membuat mereka bahagia." Isak Rachel lagi sambil menyeka air matanya yang sudah mengalir sejak tadi.

__ADS_1


Dia memaksakan dan mengumpulkan sisa tenaganya. Lalu langsung berdiri dan keluar menuju dapur untuk membuat makanan sebelum dirinya meminum obat.


Hanya telur ceplok dengan sedikit nasi, sudah cukup mengganjal perut untuk memberi tenaga pada tubuhnya. Rachel memang belum boleh memakan makanan keras. Dia disarankan untuk makan bubur beberapa waktu sampai lukanya sembuh.


Setelah selesai makan Rachel langsung meminum obat yang diberikan Sandy padanya. Sandy adalah dokter yang masih merawat Rima sekarang.


Setelah rasa sakitnya sedikit berkurang. Rachel langsung membaringkan tubuhnya di sofa. Dia tidak berani untuk menyentuh ranjang milik Ramos, bisa-bisa lelaki itu mengamuk kembali dan menyiksanya.


Setelah puas menangisi nasib dan takdir hidupnya akhirnya Rachel tidur terlelap dan melupakan semua rasa sakitnya.


Gadis itu terlelap di atas sofa tanpa berselimut. Dia takut mengambil barang apapun dari lemari suaminya. Takut pria itu akan kembali menyakitinya.


Rachel sudah menyiapkan diri untuk menghadapi hari pernikahannya. Sebab dia tahu jika sang suami tidak menerimanya sebagai seorang istri.


Semua orang ingin bahagia. Begitu juga dengan Rachel. Semua orang ingin pernikahannya baik-baik saja saling mencintai dan memiliki anak. Namun, sepertinya Rachel harus membuang jauh-jauh semua perasaan tak mungkin itu.


Bersambung...


Hai guys makasih buat yang udah ikutin..


Jangan lupa buat slalu dukung karya2 author yaa...


Yang mau gabung digroup silahkan bergabung...


Yuk kepoin akun media author...


FB; Fitriani Yuri


IG ; fitrianiyurikwon_

__ADS_1


__ADS_2