
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Mas, dia... Dia menarik ku dengan paksa Mas. Bekas operasi ku sakit... Dia melemparku diatas kasur.. Dia menindih tubuhku.. Dia mengambilnya dengan paksa Mas. Dia meracaukan nama Agnes dan menganggap aku adalah Agnes Mas."
"Saat dia masuk kedalam tubuh ku, aku... Aku merasa ada sesuatu yang koyak dan rasanya sangat sakit Mas. Dia terus menghujam tubuh ku berulang kali... Dia tidak peduli pada teriakkanku, dia.. hiks hiks hiks hiks hiks."
"Saat aku terbangun, aku... Aku melihat be-bercak darah di sprei. Saat aku tu-turun dari ranjang bagian sensitif ku sakit.. Sakit sekali Mas.. Tubuhku terasa remuk redam dan tulang-tulang ku terasa patah... Hiks hiks hiks hiks."
"S-saat aku mandi. Bekas operasi itu terbuka Mas dan mengangga. Perutku perih tubuhku sakit.. Semuanya sakit Mas, aku melihat kasihan pakaianku yang koyak dan berserakan dilantai. Aku takut Mas, hiks hiks hiks... Aku tidak mau mengingat itu lagi.. Aku takut Mas. Aku takut."
Tanpa sadar kedua pria itu menitikkan air mata mendengar cerita Rachel. Apalagi air mata yang mengalir dengan deras menandakan jika wanita ini sungguh terluka berat.
"Mas aku takut... Dia marah saat aku berbaring dikasurnya. Dia menyiram wajahku dengan air, dia menarik ku dan menyeretku ke lantai hingga tangan dan kakiku luka terkena lantai keramik itu." Rachel menunjukkan tangan dan kakinya yang bekas luka tergores.
"Setelah itu dia, menarik rambutku Mas. Dia mengambil gunting dan memotong nya sampai habis Mas. Dia menginjak jari-jari ku hingga berdarah dan rasanya sakit.. Hiks hiks hiks tubuh ku sakit Mas."
"Di-dia juga bercinta didepanku dengan Agnes. Dia mengikat tangan dan kakiku, menyumpal mulutku dengan lakban Mas. Dan dia.. Dia hiks hiks hiks."
"Cukup Rachel jangan diteruskan!" Sandy sudah tak sanggup mendengar cerita Rachel. Sampai kapanpun dia takkan membiarkan Ramos kembali pada Rachel dan mengambil Rachel kembali.
"Hiks hiks hiks.... Hiks hiks.. Hiks hiks.. Aku takut dia mencariku Mas. Aku tidak mau disiksa lagi. Dia selalu mengancam akan mencelakai Ibu dan Rima.. Hiks hiks aku takut."
Choky menyeka air matanya. Nafasnya serasa tercekat saat Rachel menceritakan semua kepahitan dan siksaan yang dia alami.
Choky benar-benar menyesal karena terlambat menolong Rachel. Dia menyesal berpura-pura menjadi pria miskin jika saja dia cepat menolong Rachel dan membayar biaya operasi Irina dan Rima pasti wanita ini takkan mengalami hal menyakitkan seperti ini.
"Rachel." Sandy menggenggam tangan wanita itu "Akibat perbuatan bejat suamimu, kau tahu dia telah tumbuh didalam rahim mu?"
"Ma-maksud Mas a-apa?" Tanya Rachel mengulang kembali
"K-kau hamil Hel."
Deg
__ADS_1
Tubuh Rachel membeku seketika. Seluruh aliran darah dalam tubuh nya seolah berhenti mengalir. Beberapa bagian syaraf nya seperti putus dan tak berfungsi.
Tatapan matanya kosong, dia bahkan tak berkedip saking syoknya.
"Dia sudah hadir didalam rahim mu. Kau koma selama tiga bulan." Sambung Sandy.
"Jangan takut Rachel. Kau tidak sendirian. Kami ada disini. Kami akan menemanimu melewati ini dan kita akan bersama-sama menjalani ini."
Rachel menggeleng. Tidak. Tidak. Kenapa dia harus ada? Benih dari pria yang dia benci. Kenapa tumbuh didalam rahimnya? Dia tidak mau. Dia tidak mau punya anak dari pria itu.
"Mas... Tidak.. Mas pasti bohong kan? Aku tidak mungkin hamil Mas. Aku hanya melakukan nya sekali. Bagaimana bisa hamil? Tidak Mas. Aku tidak mau. Aku tidak mau Mas. Aku tidak mau." Wanita itu berteriak histeris sambil memukul perut ratanya.
"Rachel."
Choky langsung mencengkram tangan wanita itu dan memeluknya. Memenangkan nya. Choky tahu ini sangat berat.
"Mas.. Aku tidak mau hamil Mas. Aku tidak mau. Aku benci lelaki itu. Aku benci Mas hiks hiks hiks."
"Mas hiks hiks.. Aku tidak mau hamil. Aku tidak mau Mas."
Sandy mengusap bahu Rachel yang sedang memeluk Choky sambil menangis. Tak mudah menjadi Rachel, menerima kenyataan pahit dalam kondisi seperti ini.
Tangis wanita itu mereda, dia terdiam dengan tatapan hampa dan kosong.
Brakkkkkkkkkkk
Rachel terjatuh dipelukkan Choky dengan mata terpejam. Mungkin karena dia lelah menghadapi hidupnya.
"Rachel."
"Choky bawa Rachel ke kamarnya."
"Baik."
__ADS_1
Choky langsung mengangkat tubuh Rachel dalam gendongan nya. Tubuh Rachel memang kurus. Tulang-tulang selangka nya terlihat. Selain tekanan batin makanya juga tidak teratur.
'Rachel setelah ini tidak akan ada yang menyakitimu lagi. Mas berjanji dengan hidupku takkan membiarkan siapapun menyakiti mu.' Batin Choky menatap Rachel yang terpejam didalam gendongannya.
Choky meletakkan tubuh Rachel dengan pelan diatas ranjang. Dia menatap wajah rapuh wanita itu. Kasihan. Sangat kasihan. Semoga Rachel dan bayi nya baik-baik saja.
Choky menyelimuti tubuh wanita rapuh itu. Wanita yang hidupnya penuh dengan luka liku kehidupan.
Menjadi tulang punggung keluarga diusia muda. Harus menikah dengan pria yang tidak dia cintai dan pria yang telah menyiksa hidupnya. Kini malah dihadapkan dengan kehadiran seorang bayi benih dari laki-laki yang begitu dia benci.
"Biarkan Rachel istirahat. Ayo keluar ada yang ingin aku bicarakan."
"Baik."
Kedua pria itu keluar dari kamar Rachel dan membiarkan wanita itu istirahat sendirian didalam kamarnya. Rachel butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri. Butuh waktu untuk menerima kenyataan hidupnya. Butuh waktu untuk menerima bayi yang hidup didalam rahimnya itu.
"Mas bagaimana keadaan Rachel Mas?" Cecar Ayunia "Apakah Rachel bisa menerima bayi dalam kandungan nya?" Ayunia tak yakin jika Rachel baik-baik saja. Dia pasti rapuh.
Choky menghembuskan nafas kasar lalu duduk di soffa "Dia butuh waktu Nia. Tapi Mas yakin kalau dia bisa menerima bayi itu. Dia perempuan baik. Dia hanya butuh waktu. Dia takkan akan tega membuang bayi itu." Ucap Choky.
Ayunia mengangguk. Dia percaya bahwa semua yang terjadi ada Rachel. Ada maksud baik di balik semuanya. Sahabat nya itu akan mampu melewati semuanya.
"Alvan bagaimana apakah mereka masih mencari keberadaan kita?" Tanya Sandy melihat Alvan yang sibuk dengan laptop dipangkuannya.
"Masih Mas. Tuan Ozawa hampir menemukan jejak kita. Untung aku cepat menutup semua akses informasi kita. Syukurnya kita berangkat menggunakan jet pribadi, kalau kita naik pesawat transit kemungkinan tempat kita bisa dilacak." Jelas Alvan.
"Pastikan tidak ada seorang pun yang bisa menemukan kita Van. Aku yakin jika Ramos juga mencari keberadaan Rachel." Ucap Sandy.
"Baik Mas. Aku sudah buat sistem keamanan. Mereka takkan bisa melacak keberadaan kita." Sahut Alvan "Mas Choky, kalau bisa cincin yang dipakai Rachel dilepas Mas. Aku curiga jika cincin itu memiliki alat penghubung dengan Tuan Ozawa, sebab dia memiliki banyak akses yang sulit ditebak."
"Baik." Jawab Choky.
Bersambung....
__ADS_1