Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 100


__ADS_3

Abian kembali menarik tangan istrinya untuk kembali tidur. Tapi Aneska enggan untuk tidur kembali karena dia melihat ibunya sedang perang dengan kepala pelayan istana.


Aneska membuka pintu, di depan kamar masih meributkan kursi, dua wanita paruh baya masih tarik menarik.


"Ibu." Suara Aneska menyadarkan ibu Desi.


"Aneska." Ibu Desi memeluk anaknya.


"Ibu kamu norak, lihat pintu kamar sampai rusak." Tunjuk ibu Tatik ke arah pintu.


Aneska melihat pintu kamarnya yang berbekas pukulan benda tumpul.


"Apa yang ibu lakukan?" tanya Aneska bingung.


"Ibu pikir kamu mati nak." Ucap ibu Desi.


"Kenapa ibu bisa berpikir Aneska mati?" tanya Aneska lagi.


"Ini gara-gara dia." Ibu Desi menunjuk ke bu Tatik.


"Aku?" ibu Tatik bingung.


"Iya, kenapa kamu bilang tidak ada tanda-tanda kehidupan! tinggal bilang masih tidur susah amat." Ucap ibu Desi marah.


"Susah ngomong sama orang kampung." Ibu Tatik pergi meninggalkan lorong dan melaporkan ke nyonya Rona.


"Kamu tidak sarapan di ruang makan?" tanya ibunya sambil melirik ke dalam kamar. Aneska melihat pandangan ibunya yang melihat keadaan kamarnya.


"Abian masih tidur, ibu lanjutkan lagi makannya." Ibu Desi kembali ke ruang makan. Di ruang makan nyonya Rona langsung menatap tajam ke arah besannya.


Ibu Desi kembali duduk di kursinya di sebelah Cyra.


"Kenapa matanya melotot gitu." Bisik ibu Desi ke Cyra anaknya.


"Ibu baru merusak pintu kamar kak Abian ya?" bisik Cyra.


"Eh besan, soal pintu jangan di perbesar nanti aku gosok pakai kertas pasir." Ucap ibu Desi santai sambil menikmati kembali sarapannya.


"Kenapa kamu tidak punya sopan santun, hah!" bentak nyonya Rona.


"Iya-iya aku salah, jadi tidak usah di permasalahkan lagi, nanti aku benerin. Diam-diam gini aku punya bakat jadi tukang." Ucap ibu Desi bangga.


"Oh ya, ibu Desi pernah membangun rumah?" tanya Ila penasaran.


"Pernah, malah banyak." Jawab ibu Desi santai.


"Wah hebat." Puji Ila.


Nyonya Rona langsung melirik anaknya, anak bungsunya tidak pernah memujinya sama sekali.

__ADS_1


"Kamu membangun rumah apa." Timpal oma Zulfa yang ikut penasaran.


"Rumah ayam." Ucap ibu Desi santai.


"Hahaha kandang ayam di banggain." Ejek nyonya Rona tertawa.


"Masih mending kandang ayam dari pada tidak sama sekali."


Farid dan Tanisa datang ke ruang makan.


"Selamat pagi, maaf terlambat." Ucap Farid sambil menarik kursi untuk istrinya.


Nyonya Rona memperhatikan wajah anak sulungnya yang sembab.


"Tanisa, kamu tidak apa-apa?" tanya maminya sambil melirik ke Farid.


"Tidak apa-apa ma." Jawab Tanisa.


Ingin rasanya dia mengatakan semuanya ke maminya, tapi ancaman lebih menakutkan dari apapun.


Farid memperhatikan sekeliling ruang makan, Anggela belum keluar sama sekali begitupun dengan Zidan. Menurutnya Zidan dan Anggela telah melakukan permainan panjang tadi malam.


"Mami hari ini kami mau pergi." Ucap Farid di sela makannya.


Nyonya Rona tidak menjawab, dia masih kesal dengan penghianatan yang di lakukan Farid kepada keluarganya.


"Kami?" ucap Tanisa bingung.


Tanisa tidak berekspresi sama sekali. Dia tidak tau maksud ucapan suaminya.


"Berapa bulan kamu hamil?" tanya oma Zulfa ke Tanisa.


"Um- empat." Jawab Tanisa bersamaan dengan jawaban Farid.


"Satu setengah bulan." Jawab Farid.


Oma Zulfa bingung dengan sepasang suami istri itu.


"Kok bisa beda?" tanya ibu Desi.


"Um-empat minggu yang benar." Sahut Tanisa gugup.


"Oh eh iya empat minggu ya sayang, aku lupa." Ucap Farid gugup.


Di kamar Abian.


Sepasang suami istri itu bukan kembali tidur tapi mereka kembali membuat anak di kamar mandi, menurut Abian itu tempat favoritnya. Setelah melakukan tiga kali dalam jarak yang tidak terlalu lama, mereka akhirnya selesai.


Abian bergegas memakai pakaian kerjanya, dia teringat sesuatu tentang janji temu dengan pengacaranya.

__ADS_1


"Aku harus pergi sayang, jangan lupa kabari aku jika sudah berangkat ke bandara." Abian memeluk istrinya serasa tidak ingin melepaskan Aneska.


"Iya sayang, hati-hati." Ucap Aneska sambil mengecup suaminya.


"Hah? kamu menciumku?" ucap Abian senang.


"Memangnya salah kalau aku mencium suamiku sendiri."


"Enggak salah sayang itu sebuah kemajuan, selama ini aku yang selalu memulai tapi hari ini kamu melakukannya tanpa aku minta." Ucap Abian senang.


"Ingat aja ciumanku jangan ingat wanita jadi-jadian." Sindir Aneska.


"Hahaha, tidak sayang. Aku tidak tertarik dengannya. Aku lebih suka memangsa wanita seperti kamu, susah di taklukan. Aku pergi ya." Abian membalas ciuman istrinya. Lalu pergi keluar istana menuju kantornya.


Aneska melihat suaminya dari balkon sambil tersenyum.


"Aku cinta kamu Abian." Gumam Aneska.


Perutnya berbunyi, Aneska melupakan sesuatu tentang sarapannya.


"Lebih baik aku ke dapur." Gumam Aneska sambil keluar dari kamarnya menuju dapur. Dia melewati lorong dan beberapa ruangan. Tidak sengaja Aneska mendengar ada suara perdebatan di satu ruangan.


"Cepat! kita harus menemui selingkuhan kamu!" ucap Farid.


Aneska membelalakkan matanya, dia tidak percaya harus mendengar itu semuanya.


"Aku tidak mau hamil dari selingkuhanku, aku mau kamu yang menghamiliku." Ucap Tanisa pelan.


"Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak bisa. Jalan satu-satunya kamu harus minta pria itu untuk membuangnya di dalam." Jelas Farid.


Aneska tidak percaya dengan semuanya, dimana suami mendukung istrinya untuk berselingkuh. Aneska mundur perlahan dan tidak sengaja menabrak sesuatu.


"Aw." Aneska menutup mulutnya dan berusaha untuk bersembunyi di tempat lain.


Tanisa dan Farid saling pandang, mereka langsung berlari keluar dan mencari suara apa tadi.


"Sepertinya ada yang menguping pembicaraan kita." Ucap Farid pelan.


"Aduh Farid bagaimana ini, aku takut." Tanisa gemetar dia terus mengguncang tangan suaminya.


"Sstt diam, kamu harus tenang." Farid berjalan ke ruangan sebelah dan mencari orang yang baru saja menabrak kursi. Aneska bersembunyi di balik tirai. Farid melihat dan mencari di belakang pintu dan tempat-tempat yang bisa di jadikan persembunyian. Dia berjalan mendekati gorden besar. Aneska mendengar ada suara tapak kaki mendekat ke arahnya. Dia menutup matanya dan mulutnya, rasa takut menghampirinya.


"Sebaiknya kita lihat ke ruang monitor." Ucapan Tanisa menghentikan langkah Farid.


"Kamu benar, kita ke ruang monitor." Farid dan Tanisa berjalan menuju ruang monitor yang ada di lantai satu.


Aneska menghembuskan nafasnya dan mengontrol debaran jantungnya. Dia keluar dari tempat persembunyian.


"Aduh gawat, mereka ke ruang monitor lagi. Apa aku bilang ke Abian semuanya. Duh kenapa tidak ku rekam sih." Gerutu Aneska sambil menggaruk kepalanya, dia memikirkan cara membatalkan rencana Farid untuk ke ruang monitor. Dengan jalan tertatih-tatih Aneska menuju lantai satu dan mengabaikan rasa laparnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2