
Aneska membawa ibunya pergi dari hadapan mertuanya, tapi nyonya Rona terus mengikutinya.
"Mau apa lagi kamu huh!" ucap ibu Desi marah.
"Aneska mari mami obati luka kamu." Nyonya Rona mengabaikan ucapan besannya, dia mengkhawatirkan nasibnya dengan memberi perhatian ke menantunya.
Aneska menoleh ke arah mertuanya. Dia menatap wajah wanita paruh baya itu.
"Ibu mertua, aku seorang perawat dan aku tau cara mengobati luka ini, tidak perlu memberi perhatian lebih kepadaku kalau hati kamu belum bersih terhadapku dan keluargaku." Ucap Aneska dan berlalu meninggalkan mertuanya.
"Wek!" ibu Desi mengulurkan lidahnya ke besannya. Nyonya Rona murka, niat baiknya di sepelekan menantunya.
"Baiklah Aneska, kita lihat sampai kapan kamu masih bertahan di sini." Nyonya Rona kembali ke lantai lima, dia teringat tentang Aneska yang sembunyi di balik dinding sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.
Wanita paruh baya itu memutar haluannya kembali ke ruang monitor. Dia ingin melihat kemana Aneska membawa nampan itu.
Di ruang monitor para pekerja yang selalu stand by di ruangan itu menikmati roti dan kopi yang di bawa Aneska. Ketika nyonya Rona masuk mereka gelagapan.
"Siapa yang memberikan kalian ijin untuk menikmati makanan ini!" ucap nyonya Rona tegas.
"Iii itu nona Aneska yang membawakan ini untuk kami, beliau kasihan sama kami." Ucap salah satu pekerja gugup.
"Apa kalian tau kesalahan yang kalian perbuat!" ucap nyonya Rona lagi.
"Maaf nyonya kami tidak kuasa menolak. Kami tau kalau ini belum waktunya." Ucap salah satu pekerja pelan.
"Bagaimana kalau di dalam kopi atau makanan itu ada racunnya? apa kalian tidak curiga!" ucapan nyonya Rona membuat para pekerja saling pandang dan lari terbirit-birit ke kamar mandi. Mereka memuntahkan semua yang ada.
Ruang monitor kosong, hanya ada nyonya Rona di dalam situ. Wanita paruh baya itu melihat layar monitor, dan memundurkan beberapa menit yang lalu, dia melihat Aneska sedang berdiri di balik dinding, dan tidak jauh dari situ ada dia, Tanisa dan Farid yang berdiri di depan pintu ruang monitor.
"Apa yang di lakukannya." Gumam nyonya Rona dan memutar mundur kembali kejadian sebelum Aneska sembunyi.
Dia melihat anaknya sedang berada di salah satu ruangan dengan Farid, nyonya Rona tidak tau apa yang di bicarakan anaknya dan menantunya. Tapi dari layar monitor lain Aneska lewat di samping ruangan itu dan tidak sengaja mendengar percakapan antara Tanisa dan Farid. Dan kakinya terbentur sesuatu.
"Apa yang di dengarnya?" gumam nyonya Rona dan memutar mundur kembali layar monitor. Terlihat Aneska sedang mencari tempat persembunyian di salah satu ruangan, Aneska sembunyi di balik gorden, lalu Tanisa dan Farid masuk ke dalam ruangan itu mencari orang yang menguping pembicaraannya.
"Pasti Tanisa dan Farid ke sini mau melihat siapa yang menguping pembicaraan mereka." Gumam nyonya Rona.
"Apa yang di dengar Aneska? sepertinya Aneska mendengar sesuatu yang penting sampai mau datang ke ruang monitor." Gumam nyonya Rona lagi.
Para pekerja kembali masuk ke dalam ruangan itu. Mereka merasa lega karena dapat mengeluarkan makanan dan minuman yang kemungkinan racun, itupun menurut majikannya.
"Tidak ada yang boleh masuk ke ruang monitor selain saya." Ucap nyonya Rona tegas.
__ADS_1
"Baik nyonya." Ucap pekerja bersamaan.
Nyonya Rona meninggalkan ruang monitor. Dia berpapasan dengan ibunya.
"Rona! kenapa dengan wajah kamu?" tanya oma Zulfa.
"Ini gara-gara orang kampung itu!" Jawab nyonya Rona ketus dan berlalu meninggalkan ibunya.
Aneska berada di kamarnya bersama dengan ibunya.
"Ibu maaf ya, karena Anes, ibu jadi babak belur." Ucap Aneska sambil mengobati lukanya.
"Udahlah Nes, tidak apa-apa, walaupun rambut ibu habis tapi ibu dapat memukulnya dengan sangat kuat." Ucap ibu Desi sambil menyerahkan ponsel anaknya.
Aneska membelalakkan matanya melihat layar ponselnya yang retak.
"Ibu coba miss call Anes." Ibu Desi mengikuti permintaan anaknya dengan menghubungi nomor Aneska. Ketika ibunya menghubunginya, Aneska mencoba menggeser layar ponselnya ke warna hijau.
"Ibu enggak bisa. Aduh udah mau berangkat lagi." Gerutu Aneska.
"Ya maap ibu enggak tau harus memukul pakai apa, yang ada di tangan hanya ponsel kamu." Jelas ibu Desi.
"Iya bu enggak apa-apa. Anes itu bingung nanti kalau di singapura Abian menghubungi Aneska dengan apa." Jelas Aneska sambil melihat ponsel baru pemberian suaminya yang sudah retak.
"Pakai ponsel ibu aja, nomor kamu letakkan di sini jadi kalau si menantu singa telepon bisa." Jelas ibu Desi.
"Iya iya enggak singa cuma kucing." Ucap ibu Desi.
"Nanti kalau bapak menghubungi ibu bagaimana?" tanya Aneska lagi.
"Kan ada Cyra sama kamu, yang penting kamu dulu jangan sampai tidak mengabari suami, apalagi umur pernikahan masih seumur jagung hal sepele bisa jadi besar." Ucap ibunya.
"Ibu perhatian banget dengan rumah tangga Anes, makasih ibu." Aneska memeluk ibunya. Ibu dan anak itu saling peluk. Aneska meletakkan ponselnya yang rusak di laci nakas.
***
Farid memberhentikan mobilnya di depan apartemen.
"Farid! aku tidak mau turun." Ucap Tanisa tegas.
"Turun!" Farid menekan intonasi bicaranya membuat Tanisa takut.
"Enggak Farid." Rengek Tanisa menolak.
__ADS_1
"Cepat! kita temui kekasih kamu!" Farid menarik tangan istrinya agar keluar dari mobil dan menuntun istrinya agar menunjukkan nomor apartemen selingkuhan istrinya.
Mereka menaiki lift.
"Aku tau perselingkuhan kamu dengannya, aku tidak seburuk kamu." Farid sengaja menekan istrinya. Dia membuat istrinya merasa bersalah atas perbuatannya selama ini. Tapi beda halnya dengan Farid, kelakuannya lebih parah dari istrinya tapi dia membuat seolah-olah yang paling bersalah dan berdosa istrinya.
Ting pintu lift terbuka. Tanisa terus di dorong suaminya untuk menunjukkan apartemen kekasihnya.
Mereka berhenti pada satu apartemen.
"Ini?" tanya Farid.
Tanisa menganggukkan kepalanya. Farid menekan bel apartemen itu, dia sembunyi di pinggir. Tidak berapa lama keluar pria bule berbadan tinggi.
"Hi honey." Ucap pria bule itu menyapa kekasihnya. Dia kaget melihat Tanisa datang dengan pria lain.
"Siapa kamu?" tanya pria asing itu dengan logat inggrisnya.
"Aku suaminya." Ucap Farid sambil mendorong tubuh pria bule itu.
"Honey apa kamu menjebakku?" tanya pria asing itu.
"Tenang bung, duduklah aku tidak akan menghajar kamu." Ucap Farid tenang sambil duduk di sofa dengan menaikkan salah satu kakinya dan meluruskan kedua tangannya di sandaran sofa.
Pria bule itu melihat ke arah kekasihnya. Tanisa menganggukkan kepalanya memberi isyarat agar kekasihnya duduk. Pria bule itu akhirnya duduk.
"Baiklah langsung ke inti permasalahannya. Aku mau kamu menghamili istriku!" ucap Farid.
"What!" pria bule itu bingung.
"Tenang bung, aku tidak akan menuntut apapun ke kamu hanya meminta kamu membuang ke dalam rahim istriku." Jelas Farid.
"Oh tidak tidak." Ucap pria bule itu menolak.
"Hei, selama ini kamu selalu bermesraan dengan istriku tapi kenapa sekarang kamu menolak membuangnya di dalam?" tanya Farid emosi.
"Bung, aku melakukan itu dengan istrimu hanya untuk senang-senang. Aku tidak mau menanggung apapun dengan membuang di dalam." Ucap pria itu menolak.
Farid terlihat marah, dia langsung mencengkram leher kekasih istrinya.
"Lakukan atau kamu akan di deportasi dari sini." Ancam Farid.
"Hahaha." Pria bule itu tertawa sambil menepis tangan Farid.
__ADS_1
"Lebih baik aku di deportasi dari pada mengikuti kemauan gila kamu. Maaf honey kita putus, apapun rencana kalian aku tidak mau terlibat." Pria bule itu berjalan mendekati pintunya memerintahkan tamu tak di undangnya untuk keluar dari apartemennya.
Bersambung...