
"Maafkan mami Abian, itu tidak sengaja." Ucap nyonya Rona ketakutan.
Abian mendengus kesal.
"Tunggu semua di halaman belakang." Teriak Abian.
"Apa!" Semua ketakutan hukuman sudah menanti mereka. Tidak dengan Anggela.
"Ayo kita ke taman." Ajak Anggela.
"Sstt diam kamu." Ucap Tanisa ketus.
"Kalian dengar tidak!" ucap Abian sekali lagi.
"Iya Abian." Semua pergi ke taman belakang. Sedangkan Abian kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Dia membuka pintu kamar dan melihat istrinya masih terbaring dengan mata yang terbuka.
"Sayang kamu sudah bangun." Abian langsung menghampiri istrinya.
"Badanku serasa remuk, seperti baru macul satu hektar." Ucap Aneska.
"Hahaha, kamu memang baru selesai macul." Ucap Abian sambil tertawa.
"Serius?" Aneska bingung.
"Serius tapi macul aku, hahaha." Ucap Abian dengan gelak tawanya.
"Ah kamu." Rengek Aneska.
Abian memperhatikan wajah istrinya yang terlihat bingung.
"Kenapa sayang?" tanya Abian.
"Apa saja yang aku lakukan semalam?" tanya Aneska sambil memperhatikan wajah suaminya yang terlihat bahagia.
"Kamu lupa? atau memang tidak mengingat sama sekali?" tanya Abian lagi.
Aneska menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak mengingat kejadian semalam.
"Baiklah dengarkan baik-baik. Semalam kamu berdiri di sana hanya memakai bikini." Ucap Abian sambil menunjuk ke arah dinding tempat Aneska merayu sambil menggerakkan jari jemarinya.
"Serius? aku hanya ingat kalau badanku seperti panas dan dan..." Aneska melirik suaminya.
"Dan apa?" tanya Abian penasaran.
"Daerah sensitifku seperti bergetar." Ucap Aneska malu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hahaha, itu tandanya kamu lagi bernafsu sayang." Ucap Abian sambil membuka tangan yang menutupi wajah istrinya.
"Tapi kenapa berbeda dengan sebelumnya, aku bisa tidak ingat apapun." Jelas Aneska.
Abian tidak ingin mengatakan ke istrinya, jika istrinya telah minum obat kuat dan semua itu di lakukan maminya. Dia memikirkan perasaan Aneska jika tau kalau mereka telah di intip saat berhubungan, dan itu pastinya membuat Aneska malu.
"Yang jelas aku suka permainan kamu semalam." Ucap Abian sambil memeluk istrinya yang masih berbaring melupakan orang-orang yang sedang menunggunya.
Di taman
"Mami bagaimana ni?" ucap Tanisa khawatir.
"Bagaimana apanya?" ucap nyonya Rona marah.
__ADS_1
Tanisa tidak melanjutkan ucapannya lagi, melihat wajah maminya marah dia sudah sedikit takut.
"Tante sebenarnya mau ngapain kita ke taman?" tanya Anggela.
"Aduh Anggela kamu itu oon banget sih, kita itu akan di hukum Abian." Jelas Tanisa.
"Memangnya hukuman apa yang akan kita terima?" tanya Anggela bingung.
"Mungkin kita akan di lempari bola kasti." Ucapan nyonya Rona membuat Tanisa dan Anggela takut.
Sedangkan Farid memilih untuk duduk di kursi taman sambil memejamkan matanya. Bersantai sejenak itu pikirnya.
Dering ponsel terdengar.
Drrrrttttt drttttt
Aneska berusaha bangun tapi tidak bisa, Abian mengambil ponsel yang ada di nakas. Dia mengerutkan dahinya sambil memberikan ponsel itu ke Aneska.
"Ponsel siapa ini?" tanya Abian.
"Sstt, sebentar aku jawab panggilan ini dulu." Aneska menjawab panggilan itu. Aneska menyalakan speaker di ponsel itu.
"Ya halo." Ucap Aneska.
"Aneska ini ibu." Ucap ibu Desi.
"Iya bu, Cyra dan Ila di mana?" tanya Aneska.
"Mereka sedang menuju tempat kompetisi, ibu masih di kamar hotel. Cyra sengaja meninggalkan ponselnya untuk ibu." Jelas ibunya.
"Ya ampun ibu, maafkan Aneska."
"Jadi bu, nanti Anes datang sama Abian." Jawab Aneska.
"Sayang aku tidak bisa." Bisik Abian.
"Kalau kamu tidak bisa, aku tidak akan melayani kamu seperti semalam." Ancam Aneska.
Abian tersenyum menyeringai, istrinya sudah berani mengancamnya.
"Aneska kamu berbicara sama siapa? jangan bilang kamu berbicara sendiri." Ucap ibunya dari ujung ponselnya.
"E e enggak bu." Ucap Aneska gugup sambil menutup mulut suaminya dengan jarinya.
"Ibu sudah makan?" tanya Aneska lagi.
"Udah Nes, tapi ibu heran."
"Heran kenapa bu?" tanya Aneska.
"Kemaren setelah sampai di singapura, ibu dan adik-adik makan di restoran jadi pelayan bertanya what do you want to order." Ucap ibunya dengan logat bahasa inggris yang mendapat nilai lima puluh.
"Iya, artinya mau pesan apa." Jelas Aneska.
"Nah iya, ibu hanya ingat ordernya saja, jadi ibu jawab I want rice cooker. Eh pelayan restoran tersenyum, terus adik kamu malah tertawa, memangnya yang ibu jawab salah?" tanya ibu Desi
"Hahaa iya bu salah, seharusnya ibu jawab I want cosmos, hahaha." Ucap Aneska dengan gelak tawanya. Abian juga menahan tawanya agar tidak terdengar mertuanya.
"Serius Nes?" tanya ibu Desi penasaran.
__ADS_1
"Enggak bu, Anes bercanda."
"Ah kamu, sudah cepat datang biar ibu enggak kesepian."
"Iya ibu sayang, udah dulu ya bu." Aneska ingin menutup panggilan tapi ibunya menahannya.
"Tunggu Nes, kalau mie ayam bakso bahasa inggrisnya apa?" tanya ibunya.
"Memangnya di sana ada mie ayam?" tanya Aneska bingung.
"Enggak tau, tapi jaga-jaga aja."
"Mie ayam bakso bahasa inggrisnya pak Ujang." Jawab Aneska sambil tertawa.
"Nes jangan bercanda, mie ayam pak Ujang, mie ayam terenak di kampung kita, mana mungkin bahasa inggrisnya ujang." Ucap ibunya protes.
"Hahaha enggak bu, Anes bercanda."
"Chicken noodle meatball." Jelas Aneska. Setelah itu panggilan terputus. Aneska menyerahkan ponselnya ke suaminya.
"Ponsel siapa ini?" tanya Abian.
"Ponsel ibu, kemarin.." Aneska diam, dia tidak ingin mengatakan apa yang terjadi dengan ponselnya karena dia sudah berjanji untuk tidak mengatakan ke suaminya atas kejadian kemarin siang.
Abian melihat bekas luka di tangan istrinya.
"Kurang ajar." Abian marah.
"Tenang sayang, ini tidak sakit kok, lihat aku bisa mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Kemarin tanganku tergores ranting pohon." Ucap Aneska sambil memperagakan dengan cara mengangkat tangannya. Dia sengaja berbohong agar suaminya tidak marah dengan ibunya sendiri.
"Sepertinya mami tidak pernah mau mendengar ultimatum dariku."
"Hah, ini bukan perbuatan mami tapi ranting pohon." Ucap Aneska berbohong.
"Hebat sekali ranting itu bisa turun." Sindir Abian.
Aneska tersenyum kecut. Pohon yang ada di pekarangan istana sangat tinggi dan besar, dan yang di ucapkan Abian benar, tidak mungkin ranting itu sengaja turun untuk mencelakai dirinya.
"Jangan takut sayang, ada aku di sini." Ucap Abian sambil mengelus pipi istrinya.
"Aku hanya tidak ingin kamu jadi anak durhaka."
Kamu tidak tau sayang, ibu kandungku sendiri ingin merusak rumah tangga kita, apa aku harus tinggal diam, atas perlakuan mami.
Aneska melihat suaminya yang melamun.
"Kenapa sayang?" tanya Aneska.
"Tidak ada, aku tau harus bertindak apa, dan aku mau tanya sesuatu sama kamu."
"Apa." Aneska berusaha bangun dari posisi bebaringnya. Abian membantu istrinya untuk duduk.
"Apa yang kamu dengar dari percakapan antara Tanisa dan Farid?"
"Apa!" Aneska kaget karena suaminya tau semua kejadian di sini.
"Sayang tidak ada yang perlu kamu takutkan di sini, setiap kejadian yang menurut kamu janggal, kamu bisa memberitahukan kepadaku." Jelas Abian agar istrinya bisa tenang dan tidak ada rasa takut sama sekali. Ancaman apapun yang terima istrinya harus segera di ketahuinya, karena membuat rasa aman dan nyaman adalah tanggung jawabnya sebagai suami.
Bersambung...
__ADS_1