
Abian mengerutkan dahinya. "Menurut mami di mana ruangan investor?" tanya Abian balik.
Wanita paruh baya itu mengedikkan bahunya. "Mana mami tau." Sahut maminya.
"Investor tidak mempunyai ruangan tetap di sini. Jika tidak ada yang mau di bicarakan lagi silahkan keluar. Aku sibuk." Ujar Abian tegas.
"Ya udah mami keluar, untuk besok malam mami sudah memanggil chef terkenal untuk memasak menu yang sangat lezat." Sahut maminya segera keluar dari ruangan anaknya.
Di depan ruangan anaknya ada dua meja yang saling berhadapan. Wanita paruh baya itu mengerti jika kehadiran Aneska untuk menjaga Abian dari Vania.
Melihat ke arah menantunya yang sedang menyibukkan diri. Dan melihat meja yang satunya.
"Di mana sekretaris itu?" tanya nyonya Rona ke Aneska.
Aneska sedang belajar dan dia terlalu fokus dengan berkas yang akan di serahkan ke suaminya.
"Hei, saya bicara sama kamu!" serunya marah.
"Mami bicara samaku?" tanya Aneska seraya tetap sibuk dengan berkas di hadapannya.
"Kamu pikir siapa yang bernyawa di sini selain kita berdua." Sahut nyonya Rona ketus.
"Oh aku pikir mami sedang bertanya sama cicak di dinding." Sahut Aneska santai.
Tya baru saja selesai makan siang. Dan dia baru tiba di mejanya. "Kamu yang jadi sekertaris Abian?" tanyanya bingung.
Nyonya Rona berpikir jika Vania yang menjadi sekretaris anaknya.
"Iya nyonya." Sahut Tya.
"Mami kenapa? mau cari Vania." Tebak Zira.
Wanita paruh baya itu menatap tajam ke arah Aneska.
"Kalau mami mau cari Vania, dia ada di departemen pemasaran." Sahut Aneska.
Nyonya Rona langsung menghentakkan kakinya menuju departemen pemasaran. Tapi Aneska buru-buru mengejar mertuanya.
Aneska berdiri di depan mertuanya. "Mau apa kamu!" seru nyonya Rona marah.
"Mami mertua, perlu aku beritahukan kalau Abian tidak ingin Vania jadi sekretarisnya."
Wanita paruh baya itu masih tidak percaya dengan ucapan menantunya. "Apapun rencana mami untuk memisahkan kami semuanya akan sia-sia. Karena cinta kami terlalu kuat jadi menurutku lebih baik mundur dari pada sakit." Ujar Aneska.
__ADS_1
"Kamu pikir segampang itu menjadi keluarga Bassam, sampai kapan pun tidak ada restu untuk kamu!" berseru seraya menuding wajah Aneska.
Aneska menepis jari telunjuk mertuanya yang berada di depan wajahnya. "Jangan lupa kalau dua puluh lima harta Bassam ada di tanganku. Kalau mami menghadirkan orang ketiga di rumah tanggaku itu sama saja hilangnya harta yang dua puluh lima persen." Gertak Aneska.
"Maksud kamu apa?" tanya nyonya Rona bingung.
"Kalau aku berpisah dengan Abian, aku akan jadi janda yang kaya raya, hahaha." Aneska segera berlalu meninggalkan mertuanya yang bingung dengan hartanya.
"Sebelum kalian bercerai akan saya pastikan harta itu telah berpindah tangan." Gumamnya dan langsung masuk ke dalam lift menuju departemen pemasaran.
Semua karyawan yang ada di departemen pemasaran bingung dengan hadirnya nyonya Rona. Wanita paruh baya itu menyusuri ruangan mencari keberadaan Vania. Gadis itu terlihat sedang duduk di pojok dan ada pria yang ada di depan meja kerjanya.
"Itu Zidan. Apa Vania jadi sekretarisnya." Gumamnya seraya mendekati Zidan.
"Nyonya." Zidan bingung karena wanita paruh baya itu sedang berdiri di sampingnya.
"Zidan saya mau bicara dengan kamu." Nyonya Rona masuk ke dalam ruang manager pemasaran.
"Ada apa nyonya?" tanya Zidan.
"Kenapa Vania di sini? bukannya dia seharusnya menjadi sekretaris Abian?" tanyanya. Mendengar pertanyaan itu, Zidan langsung mengerti jika ini semua rencana nyonya Rona.
"Maaf nyonya, tuan Abian telah mempunyai sekretaris dan Vania di sini atas perintah dari tuan Abian." Jelas Zidan.
"Maaf nyonya, menurut saya tidak mungkin. Tuan Abian sudah mempunyai dua sekretaris dan yang satunya lagi orang yang sangat dicintainya." Sahut Zidan.
"Kenapa kamu seperti ini? bukannya kamu mencintai perawat itu?" tanyanya bingung. Nyonya Rona bingung dengan sikap Zidan yang menyerah dengan gampangnya.
"Mungkin dulu iya, tapi sekarang tidak. Saya sudah mempunyai calon istri dan tambatan hati saya jatuh ke gadis itu." Penjelasan Zidan membaut nyonya Rona kesal. Dia membanting pintu ruangan Zidan dan menarik perhatian karyawan yang ada di departemen pemasaran.
Wanita paruh baya itu berdiri di depan meja kerja Vania.
"Vania saya mau bicara sama kamu. Saya tunggu di kantin." Titahnya dan segera berlalu.
"Tapi ini masih jam kerja." Gumam Vania bingung. Vania meminta izin ke Zidan.
"Untuk apa kamu ke kantin?" tanya Zidan.
"Nyonya Rona ingin bicara dengan saya." Sahut Vania jujur. Zidan memberikan izinnya, pria itu bisa berasumsi jika nyonya Rona sedang mencuci otak Vania.
Vania menemui nyonya Rona di kantin. Keduanya duduk berhadapan.
"Iya nyonya." Ujar Vania.
__ADS_1
"Jangan panggil nyonya, panggil tante." Wanita paruh baya itu menggenggam tangan Vania.
Vania bingung dengan sikap wanita yang duduk di depannya. Masih ingat di benaknya liciknya wanita paruh baya itu. Karena ulahnya Vania dan Abian harus berpisah.
"Vania, saya minta maaf. Saya khilaf, sekarang saya baru sadar kalau kamu yang pantas jadi pendamping Abian bukan wanita sialan itu." Ujarnya dengan air mata buaya.
"Maaf tante kenapa tante mengatakan seperti ini? apa tante tidak merestui pernikahan mereka?" tanya Vania penasaran.
"Tante tidak pernah merestui hubungan mereka, semuanya serba terpaksa. Tante akui semenjak kalian berpisah Abian stres. Dia mengurung dirinya di kamar, setiap orang yang masuk ke kamarnya selalu dihajarnya."
Vania tidak menduga perpisahan itu berdampak sangat buruk bagi Abian. "Sampai perawat itu datang, dan semuanya terjadi. Seharusnya Aneska menikah dengan Zidan, tapi Abian yang langsung menikahi perawat itu. Tante tau semua ini di lakukan Abian untuk membalas dendam sama tante karena telah memisahkan kalian berdua." Ujarnya yang berakting bersedih.
Vania diam dan dia tidak tau harus melakukan apa.
"Vania apa kamu masih mencintai Abian?" tanya nyonya Rona.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Abian cinta pertama saya dan tidak mungkin bisa saya melupakan cinta ini." Sahutnya pelan.
"Kalau kamu masih mencintainya rebut Abian, tante akan memberi restu untuk kamu. Perawat itu mencintai Zidan bukan Abian." Nyonya Rona mengarang indah. Mencuci otak Vania agar mau menjadi bonekanya.
Tamat...
๐น๐น๐น
Kicauan author....
Author mengucapkan terima kasih atas dukungan kalian dari vote dan komen positif.
Sebenarnya cerita ini masih panjang dan harus di tamatkan secara paksa ๐. Kenapa harus tamat karena sudah seharusnya tamat di sini.
Tapi tenang novel ini akan berlanjut di youtube dengan channel Anita Rachman Chan. Berlanjut setelah "Double Zi" tamat ya.
Mungkin ada yang bertanya kenapa tidak melanjutkan di sini. Jawabannya karena adanya peraturan baru yang membuat saya dan author lainnya harus angkat kaki dengan terpaksa๐ฅ.
Jika peraturan masih seperti dulu mungkin "Double Zi" dan novel ini akan tetap di sini.
Mungkin ada yang bertanya akankah ada novel baru di sini. Jawabannya tidak tau kita lihat saja nanti.
Saya mohon maaf jika tidak bisa membalas satu persatu komen kalian. Terimakasih semuanya kalian tidak akan saya sibukkan dengan vote lagi๐.
Bisa follow ig saya ya. Anita_rachman83
Kalau grup jangan tanya, saya jarang aktif di sana tapi kalau di ig saya aktif. Dan satu persatu insyaallah pesan kalian akan saya balas.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa saya katakan lagi. Peluk dan cium dari author I Love you all๐๐๐