Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 161


__ADS_3

Mobil masih melaju menuju istana. Aneska dan adiknya memilih untuk tidur, karena jalan yang di tempuh jauh, keduanya memanfaatkan waktu untuk tidur. Sama halnya dengan anaknya, ibu Desi ikut terlelap dan melupakan tatanan rambutnya.


Berjam-jam perjalanan akhirnya mereka sampai di kota. Suara kebisingan kendaraan roda empat maupun roda dua menyadarkan ibu dan anak itu itu.


"Kita sudah sampai?" tanya Aneska ke Abian.


"Iya sebentar lagi kita menuju istana." Aneska melirik ibunya. Dan dia langsung tertawa.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya ibunya. Tertawa Aneska membuat Abian dan pak Mirza penasaran, Abian melihat melalui kaca mobil sedangkan pak Mirza langsung membalikkan badannya melihat ke arah istrinya.


"Ya ampun bu, kenapa rambut ibu seperti orang kalah judi." Ejek pak Mirza kaget.


Bu Desi mengambil ponselnya dan melihat tatanan riasan dan rambutnya.


"Pak Alis ibu berminyak." Rengek istrinya.


"Bahaya itu bu, kalau pembalap balapan di area itu pasti bakalan terpleset." Ejek pak Mirza.


Ibu Desi langsung menepuk suaminya. "Kasih solusi kenapa? jangan taunya ngejek aja." Gerutu bu Desi.


"Ibu sih percaya aja sama bu Tarno, bu Tarno enggak bisa make up bisanya sulap." Ejek Aneska sekaligus menyalahkan ibunya.


"Terus gimana nih." Rengek bu Desi yang bingung dengan riasannya.


"Hapus, jangan buat malu bapak, ibu udah mirip wayang." Sindir suaminya.


"Kalau di hapus nanti pada saat pesta wajah ibu pucat dong." Jelas ibu Desi yang tidak siap jika riasannya harus di hapus.


"Lebih baik ibu tidak memakai riasan dari pada mirip hantu." Sindir suaminya lagi.


"Ya udah nanti di istana aja." Sahut bu Desi.


***


Zidan pulang lebih awal dan dia sudah berdiri di depan mes para perawat. Dia sedang menunggu calon istrinya.


Tami dan Tiara berjalan bersama-sama dengan perawat lainnya. "Ti, ada pak Zidan." Ujar Tami yang melihat sebuah mobil parkir di depan gerbang mes.


"Di mana?" tanya Tiara seraya melebarkan pandangannya.


"Itu di dalam mobil." Sahut Tami menunjuk ke arah mobil.


"Mau ngapain lagi sih bapak itu." Gerutu Tiara.


"Jangan terlalu membenci seseorang entar kamu cinta loh." Tami tertawa dan berjalan masuk ke dalam gerbang mes sedangkan Tiara menghampiri mobil Zidan.


"Ada apa?" tanya Tiara jutek.


"Sebentar." Zidan membuka pintu mobilnya dan mengeluarkan dua paper bag dari dalam mobil dan menyerahkan ke Tiara.


"Apa ini?" tanya Tiara bingung.


"Itu gaun untuk kamu dan Tami." Sahut Zidan.

__ADS_1


"Gaun? tapi untuk apa?" tanya Tiara bingung.


"Untuk acara tuan Abian, pasti kamu dan Tami belum membeli gaun jadi saya dan dokter Arif membelikan gaun untuk kalian. Di pakai ya." Zidan naik ke mobilnya.


Dia menurunkan kaca mobilnya. "Nanti malam aku jemput ya." Ajak Zidan.


"Enggak usah, nanti malam kami pergi bareng Aldo." Sahut Tiara.


"Baiklah dandan yang cantik ya." Zidan mengedipkan salah satu matanya dan tentu saja membuat jantung Tiara berdegup kencang.


"Ya ampun ada apa denganku." Gumam Tiara dan segera berlari ke dalam mes. Tiara menuju mes Tami. Dan langsung mengetuk pintu ketika telah berdiri di depan.


"Tiara ada apa?" tanya Tami yang menatap ada tentengan di tangan temannya.


Tiara langsung masuk dan membaringkan badannya di kasur Tami.


"Itu gaun dari pak Zidan dan dokter Arif." Ujar Tiara.


"Gaun?" Tami langsung membongkar isi paper bag yang ada namanya.


"Kenapa dokter Arif membelikan gaun?" tanya Tami.


"Karena dokter Arif menaruh perasaan dengan mbak." Sahut Tiara.


"Sepertinya enggak deh, kenapa juga dokter Arif tidak mengatakan ketika di rumah sakit." Gumam Tami dan terdengar oleh Tiara.


"Mungkin dokter melalukan itu agar tidak terlihat oleh perawat lain." Sahut Tiara yang berasumsi sendiri.


Tami menoleh ke Tiara yang terlihat suntuk. "Kamu kenapa?" tanya Tami ikut berbaring.


"Benar juga, bagaimana kalau kita tidak pakai gaun ini." Ujar Tami berharap idenya dapat di terima Tiara.


"Enggak mungkin mbak, pak Zidan memberikan gaun ini pasti telah memikirkan semuanya. Karena di pesta itu pestanya orang kaya, banyak orang penting akan hadir. Dan menurutku alasannya memberikan ini agar kita terlihat wah di depan semua tamu undangan."


Tami diam sekaligus memikirkan semua yang di ucapkan Tiara. "Lalu bagaimana? kamu dan mbak boro-boro pintar make up, ke salon pasti mahal." Ujar Tami ikut bingung.


Keduanya melihat ke langit-langit kamar dan Tiara langsung tersenyum. "Aku ada ide, kita pergi ke rumah Dimas." Ujar Tiara.


"Ngapain ke rumah Dimas?" tanya Tami bingung.


"Pasti mbak lupa ya? kalau ibunya Dimas punya salon, nah kita bisa ngutang dulu." Jelas Tiara.


"Kok ngutang sih, jangan ngutang dong malu tau, kita minta diskon aja tapi langsung bayar, gimana?" tanya Tami ke Tiara.


"Oke deh, tapi mbak yang bayar dulu ya." Rayu Tiara.


"Heleh ujung-ujungnya ngutang sama mbak." Gerutu Tami.


"Hehehe, mbak kan yang paling dermawan di antara kami, boleh ya." Rayu Tiara.


Tami akhirnya setuju, mereka pergi ke rumah Dimas menggunakan taksi dengan membawa paper bag sebelum berangkat mereka menghubungi Aldo untuk menjemput di rumah Dimas.


Sesampainya di rumah Dimas, pria itu bingung karena ada dua wanita yang selalu ditemuinya di rumah sakit dan sekarang berada di depan rumahnya.

__ADS_1


"Bukannya acaranya nanti malam?" tanya Dimas bingung.


"Iya, kami ke sini mau numpang make up sama ibu kamu." Sahut Tiara menjelaskan kedatangan mereka.


Dimas mengerutkan dahinya. "Enggak ngutang kami tetap membayar tapi minta diskon ya." Timpal Tami menjelaskan.


"Oh gitu. Ibu ada di ruko depan, ayo aku antar." Dimas dan kedua teman perawatnya menuju ruko yang ada di depan jalan.


"Bu." Ujar Dimas yang melihat ibunya sedang memotong rambut seorang pelanggannya.


"Ada apa Di?" tanya ibunya.


"Ini temanku, mereka minta di rias sama ibu." Sahut Dimas dan memperkenalkan kedua temannya.


"Sebentar ya." Sahut ibunya ramah.


Wanita paruh baya itu menyelesaikan pekerjaannya, setelah selesai menghampiri kedua wanita yang di bawa anaknya.


"Di antara kalian siapa kekasih Dimas?" tanya ibunya.


"Hah?" Tiara dan Tami saling pandang.


"Ibu ngomong apaan? mereka ini teman Dimas bukan kekasih." Jelas Dimas.


"Oh gitu ya, padahal ibu berharap Dimas membawa calonnya ke rumah." Berujar sedih.


"Tenang bu, Dimas sedang pedekate sama wanita yang sangat cantik." Sahut Tiara. Dimas dan Tami langsung melirik ke arah Tiara.


"Oh ya, siapa wanita itu? apa perawat juga seperti kalian?" tanya ibunya penasaran.


"Enggak bu, bukan perawat tepatnya apa ya." Tiara memikirkan sesuatu. Dimas dan Tami tidak tau siapa yang ada di pikiran Tiara.


"Model bu." Sahut Tiara asal.


"Hah model? pasti cantik ya? duh cocok berarti sama ibu, ibu suka merias dan calon mantu model. Di bawa calon itu ke rumah ibu mau lihat menantu ibu." Wanita paruh baya itu bergegas masuk ke dalam suatu ruangan di ruko.


Dimas dan Tami langsung mengajukan pertanyaan ke Tiara. "Tiara, kenapa kamu berbohong?" tanya Dimas.


"Aku enggak berbohong, yang aku katakan benar, kamu naksir sama kakak iparnya Aneska kan." Tebak Tiara.


"Hah? wanita sombong itu." Ujar Dimas


"Kamu naksir kan?" tanya Tiara lagi.


"Iya awalnya dan sekarang tidak, sombong aku ngeri jika punya kekasih seperti itu. Mana mungkin dia mau tinggal denganku yang hanya tinggal di gang sempit." Jelas Dimas.


"Maaf kalau gitu, aku pikir kamu benar-benar ingin mempersuntingnya." Ujar Tiara menyesal.


"Sekarang minta maaf ke ibunya Dimas, bilang ke ibu kalau kamu salah." Titah Tami.


"Jangan sekarang, nanti ibu sedih. Biarkan saja semoga ibu melupakan semuanya." Sahut Dimas.


Bersambung...

__ADS_1


🌹🌹🌹


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2