
Abian kembali memutar rekaman kejadian yang ada di istana Bassam, dia melewatkan beberapa kejadian yang menurutnya tidak penting dan berhenti ketika melihat istrinya bersembunyi di balik dinding sambil membawa nampan. Dan di ruangan berbeda mertuanya sedang menghubungi seseorang dari ponsel.
"Siapa yang di hubungi ibu Desi? Kenapa ibu Desi tertawa-tawa." Gumam Abian sambil terus menatap layar kamera.
"Kenapa Aneska membawa nampan dan untuk siapa makanan dan minuman yang di bawa Aneska." Gumam Abian sambil memutar kembali rekaman.
Dia melihat maminya keluar dari ruang monitor dan istrinya langsung masuk ke ruangan yang sekarang dia datangi.
"Aku tau, pasti Aneska ingin menghapus rekaman dirinya ketika bersembunyi." Lalu Abian melihat kejadian pertengkaran antara maminya dan ibu Desi sampai dia melihat istrinya di cakar maminya.
"Kurang ajar." Ucap Abian marah sambil mengepalkan tangannya.
Di luar ruang monitor para pekerja masih berdiri di depan pintu. Nyonya Rona heran melihat dua pekerja yang biasa memantau setiap kegiatan penghuni istana berada di luar ruangan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya nyonya Rona bingung.
"Kami di perintahkan tuan Abian untuk berjaga di luar." Ucap salah satu pekerja.
"Apa Abian di dalam?" tanya nyonya Rona lagi.
"Iya nyonya, mulai sekarang tidak ada yang boleh masuk ke ruang monitor tanpa seizin beliau." Jelas pekerja.
"Apa!" nyonya Rona berusaha masuk tapi penjaga menghalanginya.
"Maaf nyonya kami hanya menjalankan perintah."
Nyonya Rona terlihat kesal dan ketakutan. Dia berlari ke kamar anak sulungnya. Abian masih melihat kejadian di mana maminya memasukkan sesuatu ke dalam jus jeruk yang di minum istrinya.
"Pasti itu yang membuat Aneska jadi liar." Gumam Abian penuh amarah.
Amarahnya memuncak ketika Anggela di perintahkan maminya untuk masuk ke dalam kamarnya dan mengintip dia dan istrinya.
"Kurang ajar!" Abian marah sambil memukul meja.
Nyonya Rona menggedor pintu kamar anaknya.
Tok tok tok ...
"Ada apa mi?" tanya Tanisa ketika membuka pintu.
"Gawat Abian ada di ruang monitor." Ucap nyonya Rona ketakutan.
"Memangnya kenapa kalau Abian di ruang monitor?" timpal Farid ikut berdiri di samping istrinya.
"Kenapa kamu bilang? Kalau Abian memutar rekaman kejadian kemarin bagaimana?" ucap nyonya Rona gemetar.
"Kami tidak melakukan apapun, hanya mami yang memasukkan obat kuat ke dalam jus Abian." Ucap Farid santai.
"Jadi kamu ingin lepas dari masalah ini gitu!" ucap mertuanya marah.
"Bukan itu mi tapi.." Farid belum menyelesaikan kalimatnya karena nyonya Rona sudah marah dan mengancam menantunya.
__ADS_1
"Asal kalian tau, kalian berdua terlibat dalam rencana ini. Wajah kalian terlihat jelas di kamera saat menguping di depan pintu kamar Abian." Ucap nyonya Rona ketus sambil menatap tajam ke arah anak dan menantunya.
"Aduh mati kita." Ucap Tanisa ketakutan.
"Mami lakukan sesuatu." Ucap Farid cemas.
"Sekarang kamu bilang lakukan sesuatu! tadi kamu berusaha mencuci tangan di air yang keruh."
"Maaf mami." Ucap Farid yang terlihat cemas.
Anggela melewati mereka yang terlihat ketakutan.
"Apa ada informasi penting?" tanya Anggela sambil berlalu.
"Abian sudah tau kalau kamu mengintipnya." Teriak Tanisa.
"Apa!" Anggela langsung balik dan menghampiri timnya.
"Serius?" tanya Anggela lagi kurang yakin.
Semua menganggukkan kepalanya cepat. Anggela langsung ketakutan dan berusaha bersembunyi di balik badan nyonya Rona.
"Kamu ngapain sih!" gerutu nyonya Rona sambil menggeser tubuhnya agar tidak di jadikan tempat persembunyian.
Terdengar suara yang cukup nyaring.
"Farid, Tanisa, Anggela Mami..." Teriak Abian.
"Aduh mami." Ucap Tanisa ketakutan.
"Aku hitung satu sampai tiga, kalau sampai hitungan ketiga kalian tidak datang ke ruang kerja, hukuman akan bertambah berat." Teriak Abian.
Di kamar.
Aneska membuka matanya perlahan sambil melihat sekeliling kamar.
"Apa Abian sudah berangkat kerja." Gumam Aneska sambil mengangkat badannya. Tapi badannya terasa berat.
"Apa yang terjadi denganku." Gumam Aneska sambil melihat tubuhnya yang hanya memakai selimut. Aneska mencoba mengingat setiap kejadian tadi malam.
Abian berada di ruang kerja. Amarahnya terlihat jelas dari rahang dan wajahnya. Dia masih menunggu dengan kemarahan yang luar biasa.
Oma Zulfa mendengar teriakan yang di ucapkan cucunya. Menurutnya anak dan cucunya sedang melakukan kesalahan yang membuat cucunya Abian marah.
Pintu ruang kerja di buka. Nyonya Rona dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan itu sambil menundukkan kepalanya.
"Apa yang mami masukkan ke dalam jus jerukku!" ucap Abian langsung tanpa mau mendengar penjelasan dari maminya.
Nyonya Rona tidak bisa bicara, lidahnya seperti tercekat. Dia tidak bisa membela diri ataupun menjelaskan perbuatannya.
"Cepat katakan apa yang mami letakkan di dalam jus itu!" teriak Abian lagi.
__ADS_1
Abian tau apa yang di letakkan maminya tapi dia ingin mendengar secara langsung dari mulut orang tuanya.
"Maafkan mami Abian, mami memang berencana menjebak kamu dengan memasukkan obat kuat ke dalam jus itu. Mami ingin menjebak kamu dengan Anggela." Ucap maminya jujur.
"Apa!" Abian menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka ada orang tua yang sengaja menjebak anaknya sendiri agar dapat merusak rumah tangga anaknya semata-mata karena harta.
"Abian jangan hukum kami, perselingkuhan kamu tidak akan kami katakan ke Aneska, iya kan mami." Timpal Tanisa.
"Iya Abian, lupakan masalah ini. Mami akan melupakan perselingkuhan kalian." Ucap nyonya Rona memohon.
Abian mendengus kesal dengan sikap orang-orang di depannya.
"Hukuman tetap berlanjut! tidak ada negosiasi denganku." Ucap Abian tegas.
"Jangan salahkan kami kalau Aneska tau tentang perselingkuhan kamu!" Ancam Farid.
"Apa!" Abian menatap tajam ke arah kakak iparnya. Dia mendekati Farid dan langsung mencengkram kemeja pria itu.
"Aku tidak takut dengan ancamanmu, asal kamu tau Tanisa, suami kamu berselingkuh dengan sekertarisnya di kantorku." Ucap Abian dengan suara yang cukup nyaring.
"Apa!" tiga wanita yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke arah Farid.
"Apa itu betul?" tanya Tanisa.
"I itu tidak..." Farid gugup.
Plak.. Tanisa langsung menampar Farid.
"Aw." Farid meringis.
Plak.. Nyonya Rona ikut menampar Farid.
"Aw." Ucap Farid
Plak.. Anggela ikut menampar Farid. Tanisa dan maminya bingung dengan tingkah Anggela yang mengikuti mereka.
Farid memegang pipinya yang kanan kiri telah jadi tempat amarah istri dan mertuanya.
"Urus masalah kalian nanti, hukuman dariku tetap berlanjut." Ucap Abian tegas.
Semua kembali melihat ke arah Abian. Entah hukuman apa yang akan di terima mereka.
Abian melupakan sesuatu.
"Jelaskan kepadaku, kenapa mami mencakar Aneska?" pertanyaan Abian membuat semua menoleh ke arah wanita paruh baya itu.
Menurut mereka nyonya Rona mendapatkan pasal yang berlapis.
"Itu tidak sengaja, mami bertengkar dengan ibunya, Aneska ingin melerai perkelahian kami, tidak sengaja mami mencakarnya." Ucap maminya jujur.
"Awalnya mami bilang tidak sengaja lama-lama mami akan membiasakan diri untuk melukai istriku. Apa mami pernah dengar ultimatum dariku! tidak ada yang boleh menyentuh secuil tubuh istriku!" Ucap Abian tegas.
__ADS_1
Semua yang ada di ruang monitor bingung dengan sikap Abian yang sangat mencintai istrinya. Tapi berani berselingkuh di belakang Aneska.
Bersambung...