Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 135


__ADS_3

Karena tidak menemukan keberadaan Aneska dan ibunya. Nyonya Rona kembali ke ruang perawatan anaknya.


Di dalam poli kandungan Aneska menceritakan tentang garis dua yang ada di tespek. Dia menunjukkan tespek tersebut ke dokter.


"Aneska mari saya periksa." Ucap dokter kandungan yang telah mengenalnya.


Aneska berbaring di atas tempat tidur. Perawat memberikan gel ke atas perut Aneska. Dokter mulai menggerakkan alatnya di atas perut pasiennya.


Aneska dan ibunya harap-harap cemas mendengar penjelasan dari dokter kandungan.


Pemeriksaan telah selesai di lakukan. Dokter mempersilahkan Aneska untuk kembali duduk di kursi tepat berada di depan dokter.


"Bagaimana dok?" tanya Aneska penasaran.


"Kamu hamil dan usia kandungannya empat minggu." Mendengar penuturan dokter, Aneska dan ibunya langsung tersenyum bahagia. Ibu dan anak itu saling memegang tangan satu sama lain.


"Tapi..." Dokter diam.


"Tapi apa dok?" tanya Aneska penasaran. Ibu dan anak itu saling pandang.


"Apa kamu ada jatuh?" tanya dokter seraya memperhatikan wajah pasiennya.


"Ada dok, saya baru mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu. Masih ada luka di tangan dan lengan saya." Aneska menunjukkan lukanya.


Dokter Diam dan langsung mengerti.


"Kamu memang hamil tapi kandungannya tidak sempurna. Penyebabnya karena benturan hebat." Jelas dokter.


Bulir-bulir air mata membasahi pipinya. Air matanya sudah tidak terbendung lagi. Begitupun dengan ibu Desi. Dia ikut menangis mendengar penjelasan dokter.


"Dokter anda sedang bercanda kan?" Aneska bertanya dengan derai air matanya.


"Aneska, saya sudah mengenal kamu lama. Semua ini benar." Jelas dokter.


"Apa yang harus kami lakukan agar kandungan anak saya sempurna?" timpal ibu Desi.


"Tidak ada bu, kandungannya harus segera di angkat karena kalau tetap di biarkan nantinya anak ini akan cacat." Penjelasan dokter membuat Aneska semakin histeris. Dia tidak siap jika janinnya harus di angkat.


"Aneska tenang, ini semua demi kebaikan kamu dan anak kamu." Dokter berusaha menenangkan.


"Enggak dok, saya tidak mau janin di dalam rahim ini di angkat." Ujar Aneska menolak.


"Tapi berisiko Aneska."


Aneska masih tetap menolak. Ibu Desi sebagai orang tua juga merasakan kesedihan yang di rasakan anaknya.


"Dokter bisa saya bicara dengan anak saya sebentar saja." Dokter mempersilahkan ibu Desi dan Aneska keluar sementara waktu.


Ibu Desi membawa anaknya ke tempat yang sepi.

__ADS_1


"Anes, ibu mengerti dan merasakannya tapi jika tidak di angkat anak kamu akan cacat.


Aneska hanya diam dan menangis.


"Ibu tidak mau kamu di salahkan dalam hal ini. Mengingat mertua kamu yang galak. Pasti dia akan menyalahkan kamu." Jelas ibunya.


"Ibu, Abian menginginkan anak ini, kalau dia tau aku mengugurkan anak ini, pasti dia akan marah." Ujar Aneska masih tetap menangis.


"Itu menurut kamu, kalau dia tau tentang ini semua. Pasti Abian menyetujui keputusan kamu. Pikirkan lagi sayang." Wanita paruh baya itu memeluk anaknya. Membiarkan anaknya menangis di dalam pelukannya.


"Ibu akan menghubungi Abian, jika kamu merasa terbebani. Biarkan beban ini kamu bagi ke Abian." Ibu Desi mengambil ponselnya tapi Aneska melarang ibunya.


"Ibu semua ini kesalahan Anes. Kalau saja Anes mengikuti saran Abian pasti kejadian ini tidak akan terjadi." Aneska berujar dengan isak tangisnya.


"Tidak ada yang perlu di sesali. Keputusan ada di tangan kamu, baik buruknya sudah ibu jelaskan."


Aneska merenung dengan semua kejadian yang di alaminya. Dia mengelus perutnya.


"Maafkan mama sayang." Menangis dan mengelus perutnya.


"Aneska siap, di angkat bu."


"Baiklah, ibu akan menghubungi Abian." Ibu Desi kembali mengambil ponselnya.


"Jangan hubungi Abian, Anes tidak mau dia bersedih. Seharusnya ini kado terindah untuknya tapi kenyataannya berbeda."


"Tidak mungkin Abian tidak kamu kasih tau. Dia pasti curiga melihat kondisi kamu yang lemah." Ibu Desi memikirkan ke depannya.


Dia menandatangani perjanjian tentang di angkatnya janin dari dalam rahimnya.


"Dokter berapa lama saya di rawat di sini?" tanya Aneska.


"Jika kondisi kamu baik besok sudah bisa pulang." Jelas dokter.


Aneska sepakat akan mengugurkan kandungannya. Walaupun sedih tapi dia harus melakukannya.


Aneska duduk di depan ruang bersalin. Dokter mempersilahkannya masuk.


"Beri waktu sepuluh menit dok."


Aneska mengambil ponselnya.


"Nes, kamu menghubungi siapa?" tanya ibunya penasaran.


"Dokter Arif, dia akan membantu kita untuk mengatasi kecurigaan Abian." Aneska menghubungi dokter Arif.


Tidak berapa lama dokter Arif datang ke tempat yang di sebutkan Aneska. Dokter itu bingung karena Aneska sedang menunggunya di depan ruang bersalin.


"Ada apa Nes?" tanya dokter Arif bingung.

__ADS_1


Aneska mulai menceritakan masalah yang tengah di hadapinya. Dari mengandung sampai penjelasan dokter tentang kondisi kandungannya.


"Terus?" tanya dokter itu masih belum mengerti kenapa dia harus di libatkan dalam masalah itu.


"Sebenarnya janin yang ada di dalam rahim ini sebagai kado ulang tahun Abian. Tapi kenyataannya berbeda, saya bukan memberikan kado indah melainkan kesedihan untuk Abian." Jelas Aneska dengan mata berkaca-kaca.


Dokter Arif mulai mengerti permasalahan yang tengah di hadapi Aneska.


"Saya tau, pasti berat mengambil keputusan ini. Baiklah apa yang bisa saya bantu?" tanya dokter Arif.


Aneska mulai menceritakan apa saja yang harus di lakukan dokter itu. Dan akhirnya dokter Arif setuju.


Aneska masuk ke dalam ruang bersalin. Dokter mulai melakukan kegiatannya. Di mana dokter melakukan dengan menggunakan alat berbahan logam untuk mengeluarkan gumpalan yang bentuknya tidak semestinya.


Dokter berhasil mengeluarkan gumpalan yang ukurannya masih sangat kecil. Dokter juga menjelaskan ke Aneska.


"Kamu tau Aneska, pada usia kandungan satu bulan bagian mulut rahang bawah dan tenggorokan seharusnya sedang berkembang tapi ini tidak. Ini yang saya khawatirkan, jika kamu bertahan anak kamu akan mengalami cacat." Penjelasan dokter membuat Aneska menangis dan merasa orang yang paling bersalah dalam hal ini.


"Setelah ini akan ada nyeri hebat di bagian rahim itu penyebab dari benda logam yang saya pakai untuk mengeluarkan janin kamu."


Penuturan dokter tidak lagi dihiraukannya. Rasa sakit masih bisa di tahannya tapi menyembunyikan rahasia ini ke suaminya yang tidak sanggup di tahannya.


Setelah selesai, perawat membawa tubuh Aneska dengan mendorong tempat tidur ke ruang perawatan. Aneska di tempatkan di kamar yang sama.


Dokter Arif ikut mengantarkan Aneska ke ruang perawatan. Di dalam ruangan itu dokter Arif mulai menghubungi Abian, sesuai permintaan Abian.


Panggilan terhubung.


"Halo." Sahut Abian dari ujung ponselnya.


"Abian, Aneska kembali di rawat." Dokter Arif berujar dan melihat kondisi Aneska yang masih menangis.


"Apa!" Abian sontak kaget.


"Kenapa? bukannya dokter sudah mengizinkan Aneska pulang? kondisinya juga jauh lebih baik dari sebelumnya." Abian mengajukan beberapa pertanyaan.


"Iya Abian, dokter hanya ingin memantau kondisi Aneska. Karena kata Aneska kepalanya pusing jadi dokter menyarankan untuk menginap satu malam dan besok sudah pulang." Jelas dokter Arif.


"Apa membahayakan?" tanya Abian khawatir.


"Tidak bahaya, sebaiknya kamu segera ke sini. Ingat jangan ngebut." Panggilan kemudian terputus.


"Terima kasih dok." Ucap Aneska.


"Sama-sama Nes, kamu harus memberitahukan hal ini ke Abian. Jangan di simpan sendiri."


"Iya dok, saya akan mengatakan ke Abian jika sudah waktunya."


Dokter Arif keluar dari ruangan Aneska dan ketika membuka pintu, dia dan nyonya Rona saling bertatap muka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2