Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 164


__ADS_3

Dimas masih mencari seseorang yang bisa di ajaknya berdansa. Melirik ke Cyra dan ke Tanisa. "Baiklah tidak mungkin aku hanya berdiam diri di sini." Gumam Dimas berjalan menuju seseorang yang bisa di ajaknya berdansa.


"Maukah oma berdansa denganku." Ujar Dimas mengulurkan tangannya ke wanita tua itu.


"Hah oma?" oma bingung. Oma melirik ke sampingnya.


"Iya oma." Ujar Dimas lagi.


"Apa tidak wanita yang lebih muda untuk kamu ajak berdansa?" tanya oma.


"Kalau aku mengajak cucu oma berdansa pasti dia tidak akan mau. Kalau adik Aneska yang aku ajak pasti ibu Desi bakal ngamuk. Jadi aku pilih oma." Jelas Dimas.


Oma menerima uluran tangan Dimas. Keduanya berjalan menuju tempat dansa.


"Ya ampun si Dimas, kenapa bawa yang keriput." Ujar Aldo.


Tiara ikut menoleh ke arah Dimas dan oma. "Ya ampun kasihan tidak dapat yang muda tua pun jadi." Gumam Tiara dan terdengar Zidan. Pria itu melihat arah pandangan Tiara.


Begitupun dengan Tami ikut melongo melihat Dimas. "Dimas kenapa sama oma." Bisiknya ke Aldo yang berdansa dekatnya.


"Mungkin seleranya berubah." Sahut Aldo dan mendapatkan lirikan dari Ila.


"Heheheh maaf ada cucunya di sini." Aldo tersenyum kik kuk di hadapan Ila.


Semua mata tertuju pada sosok wanita yang datang dengan anggunnya. "Itu Aneska." Gumam Tiara senang karena temannya sangat berbeda. Aneska seperti wanita bangsawan sungguhan.


Dimas melihat sosok yang ada di belakang Aneska. "Oma siapa wanita yang di belakang Aneska?" tanya Dimas terus memperhatikan yang bodynya tidak kalah seksi dari Tanisa.


"Namanya Anggela, dia..." Oma bingung harus menyebutkan apa posisi Anggela di istana itu.


"Apa dia dayang-dayang Aneska?" tanya Dimas yang terus menatap ke arah Anggela.


"Bisa di bilang seperti itu." Sahut oma.


"Boleh aku berdansa dengannya." Dimas meminta izin. Dan oma menganggukkan kepalanya.


Aneska berjalan mendekati suaminya. Abian tersenyum dan langsung mengecup pipi istrinya di hadapan para tamu undangan.


Geng sosialita nyonya Rona bingung. "Jeng siapa wanita itu?" tanya temannya. Nyonya Rona belum mengakui Aneska sebagai menantunya. Dia mengalihkan pembicaraan. "Jeng besok arisannya di rumah siapa?" tanya nyonya Rona mengalihkan pembicaraan.


"Kamu cantik sekali sayang." Puji Abian seraya memeluk pinggang istrinya.


"Ini berkat Anggela." Aneska dan Abian melirik ke Anggela.


"Terima kasih Anggela." Ujar Aneska. Anggela tersenyum dan pergi menuju meja prasmanan.

__ADS_1


"Akan aku kenalkan dengan tuan Ziko dan istrinya." Abian menggandeng tangan istrinya menuju tamu yang paling istimewa.


"Selamat malam tuan dan nona, kenalkan ini istri saya." Ujar Abian memperkenalkan istrinya ke Ziko dan Zira.


"Nona? anda yang telah memberikan gaun ini ke saya." Ujar Aneska.


Zira tersenyum. "Gaun ini sangat cocok untuk kamu, kamu semakin cantik mengenakannya." Puji Zira.


"Terima kasih, tapi nona lebih cantik dari saya." Puji Aneska balik.


Zira dan Aneska berbicara panjang lebar dan Abian mendekatkan diri dengan Ziko. Karena dia tau sangat sulit untuk bekerja sama dengan orang paling berpengaruh di kota itu.


Ibu Desi memaksa suaminya untuk berdansa. "Ayo pak dansa." Ajak ibu Desi.


"Enggak ah, ibu dan bapak enggak bisa berdansa. Nanti malah buat malu lagi." Sahut suaminya menolak.


"Duh bapak, lihat hanya goyang ke kanan dan ke kiri aja." Bu Desi kekeh menarik tangan suaminya ke tempat dansa.


Dimas menghampiri Anggela yang sedang berdiri menatap aneka makanan. "Hai malam." Sapa Dimas. Anggela melirik ke sebelahnya. "Apa anda berbicara denganku?" tanya Anggela.


"Tentu nona, gadis secantik anda mencuri perhatian setiap pria." Dimas mulai mengeluarkan rayuan mautnya.


"Si Dimas mulai beraksi." Gumam Tiara. Zidan mengerutkan dahinya. "Dari tadi semenjak kita berdansa kamu hanya melihat ke samping dan kanan dan kiri. Tidak mau melihat saya. Dan satu lagi kamu terus membicarakan teman-teman kamu." Gerutu Zidan.


Tiara tersenyum. Sebenarnya Tiara sedang berusaha mengalihkan perasaannya yang grogi ketika di peluk Zidan. Apalagi dalam waktu yang lama.


"Kamu juga cantik." Puji dokter Arif. "Terima kasih dok." Sahut Tami malu.


Masih di meja prasmanan. Dimas dan Anggela saling berkenalan, tidak lupa Dimas meminta nomor ponsel Anggela. Berharap ada kelanjutan nantinya. Ada sosok yang memperhatikan mereka yaitu Tanisa. Tanisa merasa benci dengan Anggela.


"Mau berdansa." Ajak Dimas.


"Boleh." Sahut Anggela. Keduanya berjalan menuju tempat dansa.


"Wah si Dimas dapat yang seksi." Bisik Aldo ke Tami. Posisi mereka cukup dekat sehingga memudahkan keduanya berbicara seperti sedang berada di angkot.


Tanisa meletakkan minumannya dengan jalan bak seorang model dia menuju tempat dansa. Dimas bingung karena ada Tanisa di depannya.


"Waduh si Dimas laris amat." Gumam Aldo.


"Ayo dansa." Ajak Tanisa ke Dimas.


"Maaf aku sudah ada teman untuk berdansa." Jelas Dimas menolak. Tanisa melirik Anggela dengan sinis.


"Dia?" Tanisa mendorong bahu Anggela. Gadis itu mundur beberapa langkah dan beruntung Anggela tidak jatuh.

__ADS_1


"Kamu berdansa saja dengannya." Ujar Anggela meninggalkan Dimas dan Tanisa.


Dimas bingung tapi dia berasumsi jika hubungan Tanisa dan Anggela tidak baik.


"Ayo! bukannya kamu kemarin sok hebat mengatakan ke semua orang kalau kamu mencintaiku kenapa kamu sekarang seperti banci." Cibir Tanisa.


Nyonya Rona mulai kepanasan, pertunjukan di depan matanya membuatnya mau pingsan. "Rona itu anak kamu kan? apa itu calonnya yang baru?" tanya geng sosialitanya.


Nyonya Rona menceritakan tentang penganiayaan yang di lakukan Farid ke Tanisa. Dan semua ibu-ibu yang berpenampilan super mewah berpikir kalau Dimas calon Tanisa yang baru.


"Ah bukan." Ujar nyonya Rona cepat. Wanita paruh baya itu memilih meninggalkan temannya dengan duduk di kursi sebelah oma Zulfa.


"Nely mana ya." Gumam oma yang sedang menunggu kehadiran temannya. Nyonya Rona tidak menghiraukan lagi. Dia sedang berusaha bernafas normal.


Ada sosok yang di kenal oma yaitu temannya. "Itu Nely." Gumam oma menghampiri temannya.


"Nely apa kabar?" sapa oma.


"Baik Zulfa, ini cucuku namanya Lucky." Oma Zulfa bersalaman dengan cucu temannya.


"Siapa yang ulang tahun?" tanya oma Nely. "Abian, ayo aku kenalkan dengan cucuku." Oma Zulfa membawa temannya dan Lucky menuju Abian.


"Abian kenalkan ini teman oma." Ujar oma. Abian bersalaman dengan oma Nely dan Lucky.


"Aneska!" seru oma Nely senang. "Oma." Sahut Aneska dan langsung berpelukan.


Abian dan oma Zulfa bingung. "Apa kalian sudah saling mengenal?" tanya oma Zulfa.


"Aneska perawat yang selalu menemaniku ketika aku di rawat, aku ingin menjodohkan dengan cucuku Lucky tapi aku dengar dia pindah tapi akhirnya kita bertemu di sini." Penjelasan oma Nely membuat Abian dan oma Zulfa menoleh menatap Aneska.


Ucapan oma Nely bukan hanya membuat Abian kaget tapi Aneska juga.


Tanisa dan Dimas masih berdiri di tempat dansa. "Ayo dansa! enggak berani!" Tanisa mengejek Dimas.


"Aku sudah minta maaf tapi kenapa kamu selalu mengejekku?" ujar Dimas pelan.


"Karena kamu memang pria menyebalkan setelah kamu umumkan sama semua orang dengan gampang kamu memilih wanita sialan itu." Gerutu Tanisa.


Tanisa tidak menyukai Dimas, tapi dia kesal karena Dimas memilih Anggela. Karena menurutnya Anggela selalu lebih unggul darinya.


Tanisa terus mengejek Dimas. Kuping Dimas merasa panas. Tidak ada pilihan lain selain membungkam mulut Tanisa. Dimas mencium bibir Tanisa di hadapan semua orang.


Aksi Dimas layaknya film holywood semua sampai tercengang dan ada seseorang yang langsung tidak sadarkan diri yaitu nyonya Rona.


Bersambung...

__ADS_1


🌹🌹🌹


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2