Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 127


__ADS_3

Dokter Arif masih menunggu penjelasan dari pria di depannya.


"Dokter janji tidak akan tertawa?" tanya Zidan.


"Iya saya janji." Sahut dokter itu.


"Saya sedang pedekate dengan seorang perawat dan kebetulan dia masuk malam hari ini." Jelas Zidan.


"Hahaha pedekate sampai segitunya." Ejek dokter Arif dengan gelak tawanya.


"Dokter, anda sudah berjanji untuk tidak tertawa, kenapa sekarang anda tertawa?" Zidan bertanya dengan nada kesal.


"Zidan kamu itu aneh, mana ada orang kencan di rumah sakit." Ucap dokter Arif dengan gelak tawanya.


"Terus apa yang harus saya lakukan, hari-harinya selalu habis di rumah sakit." Gerutu Zidan.


"Siapa nama perawat itu?" tanya dokter Arif.


"Tiara." Sahut Zidan singkat.


"Tiara!" dokter Arif sontak kaget dan langsung berasumsi sendiri.


Dia melihat pria di depannya dengan tatapan penuh selidik.


"Saya tau, kamu mendekati Tiara karena dia sahabat Aneska dan kamu sengaja melakukan itu sebagai pelarian, benar kan?" tanya dokter Arif.


Zidan langsung menggelengkan kepalanya.


"Anda salah, Tiara bukan tempat pelarian, saya sudah tertarik ketika melihat wataknya seperti Aneska." Jelas Zidan.


"Seperti Aneska? itu sama saja kamu masih mencintai Aneska."


"Tidak dok, mungkin saya tidak bisa memiliki Aneska tapi saya masih mempunyai kesempatan bersama dengan wanita lain. Sikapnya memang mirip dengan Aneska tapi saya menyukainya bukan karena dia mirip Aneska tapi bersama dia ada rasa kesenangan tersendiri. Apa adanya tanpa harus melebihkan sesuatu dalam dirinya, menurut saya dia unik." Jelas Zidan.


Dokter Arif mencoba membandingkan dua perawat itu dari segi fisik. Aneska jauh lebih cantik dari Tiara, tidak heran banyak yang suka dengan Aneska. Berbeda dengan Tiara yang hanya segelintir orang yang menyukainya bahkan belum pernah dia mendengar ada yang menaruh hati pada Tiara.


"Cinta memang unik, mungkin kamu punya penilaian sendiri. Selamat berjuang." Dokter Arif memberikan semangat untuk Zidan.


"Terima kasih dok, sekarang rawat saya." Ucap Zidan seraya mengulurkan tangannya ke hadapan dokter Arif.


"Hei kenapa kamu menyerahkan tangan kamu kepadaku? kamu seperti mau di borgol saja." Dokter Diki berujar seraya menggelengkan kepalanya.


Zidan tertawa, dia juga bingung kenapa mengulurkan tangannya ke dokter itu.


"Tidak segampang itu masuk ke rumah sakit. Banyak pemeriksaan nantinya." Jelas dokter Arif seraya berpikir.


Tiba-tiba plak....


Dokter Arif langsung menampar Zidan.


"Dokter kenapa kamu menampar saya?" tanya Zidan bingung seraya memegang pipinya yang barusan kena tampar.


"Kamu ingin di rawat tidak?" tanya dokter Arif lagi.

__ADS_1


"Ya maulah." Sahut Zidan.


"Ya sudah sini wajah kamu lagi."


Zidan mendekatkan wajahnya dan dia mendapatkan beberapa tamparan dari dokter Arif.


Plak plak plak...


"Dokter stop." Zidan menjauh.


"Kenapa? bukannya kamu mau di rawat." Ucap dokter Arif semangat ingin melakukannya lagi.


"Dokter sepertinya anda punya dendam pribadi, tamparan anda sangat kuat." Gerutu Zidan seraya memegang pipinya.


"Kamu bilang mau di rawat jadi harus kuat. Kalau di sentuh mana bisa. Apa mau seperti Tanisa?" Ucapan dokter Arif membuat Zidan merinding membayangkan wajah Tanisa yang bapak belur.


Zidan mengambil ponselnya dan melihat wajahnya melalui kamera yang ada di ponselnya.


"Sepertinya cukup." Zidan langsung beranjak dari ruangan dokter Arif menuju IGD.


"Zidan...." Teriak dokter Arif. Zidan tidak mendengar teriakan dokter itu. Dia langsung menuju IGD.


Perawat yang ada di IGD langsung bertanya kepadanya.


"Ada yang bisa di bantu?" tanya perawat.


"Hemmm, saya baru saja di tampar." Zidan melihat perawat mengerutkan dahinya.


"Lalu pak?" tanya perawat itu lagi.


"Hah?" perawat itu merasa pendengarannya salah.


"Iya di rawat, lihat pipi saya." Zidan menunjukkan pipinya yang barusan kena tampar.


"Tunggu sebentar." Perawat itu mendatangi dokter IGD. Dia menceritakan seperti yang Zidan ceritakan kepadanya.


Dokter itu meminta Zidan untuk menemuinya. Zidan duduk di kursi tepat di hadapan dokter IGD.


"Kenapa bapak ingin di rawat?" tanya dokter lagi.


Zidan kembali menceritakan tentang penamparan yang di dapatnya.


"Saya paham, tindakan bapak sudah tepat. Tapi sebaiknya bapak melaporkan dulu ke pihak kepolisian mengenai kekerasan yang bapak terima. Setelah melapor nanti pihak penyidik dari kepolisian akan mengajukan permintaan visum kepada pihak layanan kesehatan." Jelas dokter itu.


"Visum?" tanya Zidan bingung.


"Iya visum, bapak mau visum kan?" tanya dokter itu lagi.


"Saya bukan mau di visum, saya merasa pipi saya sakit dan butuh perawatan di sini." Ucap Zidan bohong.


"Pak, yang di rawat di sini orang-orang yang benar-benar sakit." Jelas dokter itu seraya menatap pria di depannya penuh selidik.


"Saya sakit dok, kalau tidak percaya lihat pipi saya merah." Zidan berujar memaksa agar dapat di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


Dokter memanggil perawatnya. Dan memerintahkan apa saja yang harus di lakukan perawatnya.


"Bapak silahkan ikut perawat." Ucap dokter itu.


Zidan mengikuti perawat dan di persilahkan berbaring di atas tempat tidur. Perawat mulai mengecek tekanan darah Zidan. Setelah itu mencatat hasilnya, kemudian melakukan tes lainnya seperti tes urine, tes paru-paru dan lainnya. Setelah mendapatkan hasilnya perawat kembali menyerahkan ke dokter.


Dokter membacakan hasilnya.


"Bapak setelah di lakukan beberapa tes ternyata kondisi bapak sangat baik, jadi tidak perlu di rawat. Saran saya laporkan ke pihak kepolisian nanti akan ada surat pengajuan visum." Jelas dokter itu lagi.


Zidan keluar dari IGD lemas. Dia tidak tau harus melakukan apa agar bisa bertemu dengan Tiara.


Zidan mengirimkan pesan ke Tiara.


Will you marry me


Dia mengirimkan dengan tanda hati. Berharap dapat jawaban dari Tiara.


"Aku harus menemui dokter Arif." Zidan melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter Arif. Mengetuk pintu secara berulang.


"Dokter Arif sedang praktek di lantai satu." Ucap salah satu perawat yang kebetulan lewat situ.


"Terima kasih." Zidan kembali ke lantai satu dan menunggu dokter Arif di loby.


Hampir setengah jam dia menyisir loby rumah sakit dengan pandangannya tapi sosok dokter Arif tidak terlihat.


Dia mengirim pesan ke dokter itu.


Saya menunggu anda di loby.


Pesan terkirim. Tidak berapa lama terlihat sosok dokter Arif. Zidan langsung menghampiri dokter itu.


"Dokter saya mau bicara." Bisik Zidan.


"Kita bicara di luar." Dokter Arif keluar dari loby menuju parkiran.


"Dok kenapa jauh sekali." Ucap Zidan bingung dengan definisi di luar versi dokter Arif.


"Saya lapar Zidan, sekarang waktunya makan siang." Dokter Arif masuk ke mobilnya di ikuti Zidan yang duduk di sebelahnya.


Mobil melaju meninggalkan rumah sakit menuju tempat makan.


"Saya tidak bisa di rawat." Ucap Zidan memulai pembicaraan.


"Sudah saya duga, tidak semudah itu untuk di rawat, kamu harus melakukan berbagai pemeriksaan." Jelas dokter Arif.


"Terus apa yang harus saya lakukan selain babak belur seperti Tanisa?" tanya Zidan bingung.


Dokter Arif mulai memikirkan cara agar kerabatnya dapat di rawat demi pujaan hatinya.


Muncul ide di benaknya. Dia langsung tersenyum sumringah seraya melirik Zidan.


"Dokter jangan goda saya dengan lirikan anda, saya pria normal." Ucap Zidan.

__ADS_1


Bersambung...


Bantu vote ya biar semangat updatenya. Untuk info novel bisa follow ig author: anita_rachman83


__ADS_2