Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 25


__ADS_3

"Apa kamu yakin akan membawaku keluar dari sini." Tanya Aneksa.


"Apa kamu tidak percaya denganku." Ucap Zidan balik.


Aneska menggelengkan kepalanya. Zidan menghela nafasnya, memang tidak mudah buat Aneska mempercayai Zidan.


"Ok, beberapa hari yang lalu aku pernah menangkapmu karena kabur, dan juga pernah mengatakan jika kamu kabur sampai ke lubang semut akan aku cari, tapi itu kemaren. Jujur aku senang kamu telah menyembuhkan tuan Abian, tapi aku tidak terima kalau kamu menikah dengannya." Ucap Zidan.


"Kenapa? aku bukanlah siapa-siapa bagimu. Kenapa kamu tidak terima." Tanya Aneska.


"Karena aku." Belum sempat Zidan menyelesaikan kalimatnya ada pelayan datang ke kamar Aneska sambil mengetuk pintu. Walaupun pintu dalam keadaan terbuka tapi pelayan itu tetap mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Pak, anda di panggil nyonya Rona, beliau sedang menunggu di ruang kerjanya." Ucap pelayan wanita.


"Baik, saya akan segera ke sana." Ucap Zidan.


Pelayan tadi sudah pergi meninggalkan kamar Aneska.


"Kamu bersiap nanti malam." Ucap Zidan sambil berlalu meninggalkan kamar Aneska.


"Tunggu, apa kamu bisa di percaya." Tanya Aneska lagi.


"Percaya kepadaku, aku pria yang menepati janji." Ucap Zidan sambil pergi menuju ruang kerja nyonya Rona.


"Nyonya mencari saya." Tanya Zidan.


"Kemana saja kamu? kenapa handy talkymu tidak di bawa." Ucap nyonya Rona ketus.


"Maaf saya baru berkeliling." Ucap Zidan bohong.


Nyonya Rona terlihat gusar, dia mondar mandir di depan Zidan.


"Abian sudah menghamili Aneska, aku mau kamu membawa pergi wanita itu." Ucap nyonya Rona tegas.


"Kalau perlu tempatkan dia di rumah danau." Ucap nyonya Rona.


"Kenapa harus di rumah danau, apa tidak sebaiknya kita antar dia ke rumahnya." Ucap Zidan.


"Jangan, kalau dia di antar ke rumahnya sama saja, nanti Abian bisa mencarinya." Ucap nyonya Rona.


"Nyonya rumah danau, rumah masa kecil tuan muda, dulu sewaktu masih kecil dia sering ke sana. Kalau Aneska di sana sama saja. Pasti tuan Abian bisa menemukannya." Ucap Zidan.


"Abian tidak mungkin memikirkan hal itu, rumah itu sudah lama kosong. Kita bisa bilang kepada Abian kalau perawat itu kabur."

__ADS_1


Zidan berpikir sejenak.


"Maaf nyonya, menurut saya bagaimana kalau Aneska tinggal di suatu tempat dan bukan rumah danau. Setelah tuan Abian melupakan Aneska, kita antar dia ke rumahnya." Ucap Abian.


"Baik aku setuju, tapi di mana kira-kira rumah yang aman untuk Aneska." Tanya nyonya Rona sambil berpikir.


"Bagaimana kalau rumah saya, rumah saya ada di sebuah perbukitan dan jauh dari kepadatan penduduk. Saya rasa dia akan aman." Ucap Zidan.


"Baiklah, jangan sampai dia keluar dari rumahmu. Dan buat perawat itu menggugurkan kandungannya." Jelas nyonya Rona.


"Maaf nyonya, apa anda yakin kalau tuan Abian menghamili Aneska." Ucap Zidan.


"Pasti, tadi perawat itu keluar kamar sambil nangis dan bajunya sobek. Pasti Abian telah melakukannya."


Zidan masih mendengarkan sambil berpikir dia penasaran.


"Saya kurang yakin kalau Aneska hamil. Kenapa nyonya selalu saja menentang semua wanita yang dekat dengan tuan Abian." Selidik Zidan.


"Almarhum suamiku telah membuat wasiat. Sebelum meninggal, beliau berpesan kalau tujuh puluh lima persen harta keluarga Bassam akan di berikan kepada Abian." Ucap nyonya Rona.


Wanita paruh baya itu menghela nafasnya sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Tapi akan di berikan jika Abian sudah menikah dan punya anak." Ucap nyonya Rona.


"Apa tuan Abian tau tentang semua ini." Tanya Zidan lagi.


"Jangan-jangan dia tau, karena dia sadar langsung minta nikah." Ucap nyonya Rona panik.


"Nyonya kenapa anda harus khawatir, sudah jelas-jelas kalau tuan Abian anak anda. Berikan saja haknya dan biarkan dia menikah dengan pilihannya bersama Vania." Jelas Zidan.


"Diam kamu, aku tidak mau punya menantu dari kalangan menengah kebawah." Ucap nyonya Rona marah.


"Terus sampai kapan nyonya mau membatasi gerak anak kandung anda sendiri." Zidan bingung.


"Sampai Abian menikah dengan wanita yang tepat."


"Nyonya, lebih baik Aneska kita antar pulang. Saya yakin tuan muda tidak menghamili Aneska." Jelas Zidan.


"Itu pikiranmu, kalau tenyata dia hamil bagaimana? dan dia minta pertanggung jawaban, terus aku tidak mengakuinya. Lalu perawat itu ngomong ke publik bisa gawat."


Nyonya Rona melihat wajah orang kepercayaannya.


"Aku ada ide, yang akan menikah dengan perawat itu kamu bukan Abian." Ucap nyonya Rona tegas.


"Saya." Ucap Zidan bingung sambil menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Iya kamu. Kalau kamu yang menikah dengan perawat itu maka Abian bisa menikah dengan wanita yang sederajat. Kenapa? apa kamu juga mau mencari wanita yang sederajat." Ucap nyonya Rona.


"Nyonya, menikah bukan hal yang gampang, saya tidak mau pihak wanita menikah karena terpaksa. Harus ada cinta di dalamnya." Jelas Zidan.


"Jangan ajarin apapun kepadaku. Ingat kamu orang yang bisa aku andalkan kapanpun aku mau. Keluarga Bassam sudah memberikan segalanya untukmu, saatnya kamu membalasnya dengan ini." Ucap nyonya Rona tegas.


"Beri saya waktu untuk berpikir." Ucap Zidan.


Percakapan nyonya Rona dan Zidan di dengar Farid. Semua rahasia yang selama ini menjadi misteri tentang harta keluarga Bassam baru saja di dengarnya, jiwa serakahnya langsung memberontak. Dia buru-buru pergi dari situ. Farid tidak mau ketahuan mertuanya kalau dia baru saja menguping.


Farid menuju kamarnya. Dia melihat istrinya sedang bersama dengan seorang pelayan. Pelayan itu sedang menghias kuku Tanisa dengan cat kuku.


"Keluar, aku mau bicara dengan istriku." Perintah Farid kepada pelayan yang ada di kamarnya.


"Jangan pergi, bicara saja." Ucap Tanisa ketus.


"Ini penting, cepat kamu keluar." Usir Farid kepada pelayan wanita. Pelayan itu langsung keluar dari kamar majikannya.


"Apa yang penting." Tanya Tanisa ketus.


"Hemmm, apa kamu tau kenapa Abian minta di nikahkan." Ucap Farid.


"Entah." Jawab Tanisa santai.


"Karena dia mau harta. Aku baru mendengar percakapan mami sama Zidan. Kalau semua harta Bassam telah di wasiatkan untuk Abian tapi dia harus menikah dulu." Farid sengaja menambah cerita agar istrinya memihak kepadanya. Karena hanya melalui istrinya, dia bisa mengambil harta keluarga Bassam.


"Aku tidak percaya, mana mungkin papi tidak memberikan sepeserpun untuk kami. Aku mau menanyakan hal ini kepada mami." Ucap Tanisa sambil beranjak dari tempat duduknya. Farid langsung menghalangi langkah istrinya.


"Jangan sayang, kamu tetap mendapatkan harta tapi nanti setelah Abian nikah, dan harta itu harus dari persetujuan Abian." Farid mulai meracuni isi kepala istrinya.


"Kamu bohong." Ucap Tanisa sambil melihat tajam wajah suaminya.


"Kenapa aku harus bohong, coba kamu pikirkan sendiri kenapa begitu Abian sadar, dia.langsung minta nikah, dan coba bayangkan apa mami pernah menyetujui semua wanita yang dekat dengan Abian." Ucap Farid mempengaruhi istrinya.


Tanisa menggelengkan kepalanya.


"Jadi bagaimana." Ucap Tanisa bingung dan takut tidak mendapatkan harta dan takut akan jadi gembel. Karena dia dan adiknya Abian tidak saling akur, mereka seperti punya dendam sendiri-sendiri.


"Kamu harus membuat mami tidak menikahkan Abian sama siapapun. Kalau sampai Abian menikah, kita akan di tendang dari istana ini. Apa kamu mau jadi gembel." Farid menakuti-nakuti istrinya.


"Tidak.... Aku tidak siap harus keluar dari istana ini. Kurang ajar kamu Abian, kamu telah mempengaruhi papi dengan meminta semua kekayaan Bassam." Ucap Tanisa marah. Tanisa marah tapi Farid tersenyum. Dia senang karena istrinya dengan sangat mudah masuk ke dalam permainannya. Dia menjadikan Tanisa sebagai boneka untuk mengambil semua harta kekayaan keluarga Bassam. Sayangnya Tanisa dengan gampang dapat di pengaruhi.


Bersambung


Akankah ada pernikahan? Penasaran?

__ADS_1


Buruan vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse"


__ADS_2