Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 59


__ADS_3

"Hahaha, Abian kamu bercanda." Ucap dokter Arif sambil dengan gelak tawanya.


"Apa wajahku menunjukkan kalau aku sedang bercanda." Ucap Abian dengan wajah serius.


Dokter Arif langsung tidak tertawa lagi, wajahnya sama seriusnya dengan Abian.


"Pulang tidak boleh di atas jam lima, tidak ada shift malam dan tidak ada peraturan lain yang memberatkannya." Ucap Abian tegas.


Di kamar Aneska menggerutu.


"Ih heran nih sama orang yang satu ini, yang jadi dokter siapa, dan rumah sakit itu punya siapa. Kalau buat peraturan baru, buat rumah sakit sendiri." Gerutu Aneska.


"Bian, perawat pasti ada beberapa shift. Mana mungkin aku membedakan shift mereka dengan perawat yang lain. Apa kata perawat lain." Ucap dokter Arif.


"Terserah mau ikut peraturanku apa tidak. Kalau peraturan yang aku sebutkan tadi tidak kamu penuhi Aneska dan Tami tidak akan kembali bekerja." Ucap Abian tegas.


Dokter Arif bingung, dia sangat mengharapkan dua perawat itu, selain berkompeten dalam bidangnya, dia ingin segera menepati janjinya untuk mengeluarkan Tami dan Aneska dari istana Bassam. Dan satu yang menjadi tujuan utamanya yaitu mempersunting Aneska, karena dia yakin perawat itu cocok untuknya.


"Akan sangat sulit untuk mengatur jadwal mereka, kecuali." Dokter Arif diam.


"Kecuali apa?" ucap Abian.


"Gaji mereka di potong." Ucap dokter Arif.


"Iya potong saja gajinya, kalau perlu enggak usah kasih gaji." Ucap Abian.


Di dalam kamar Aneska mengupat habis-habisan, dia tidak setuju dengan ide suaminya yang suka-suka.


"Kamu tidak bisa seperti itu, aku harus menanyakan sama dua perawatku dulu, jangan seenaknya main potong gaji." Ucap dokter Arif.


"Kamu yang memberikan ide tentang potong gaji sekarang kamu bilang aku seenaknya!" Ucap Abian ketus.


"Tenang Bian, hanya ide itu yang terlintas di kepalaku, cuma aku heran, kenapa kamu memperjuangkan dua perawatku." Ucap dokter Arif.


"Karena mereka berjasa kepadaku." Jawab Abian langsung.


Dokter Arif mengerutkan dahinya.


"Berjasa sampai segitunya?" ucap dokter Arif bingung.


"Iya." Jawab Abian singkat.


"Bian, kalau mereka sudah berkerja mereka akan tinggal di mes, jadi menurutku biarkan mereka bekerja sesuai jam kerjanya."


"Tidak bisa! kalau kamu tidak mau menerima peraturanku, Aneska dan Tami tidak akan bisa kembali ke rumah sakit." Ucap Abian marah.


"Bian, aku tidak mau bertengkar denganmu, cuma mau mengingatkan kepada kamu, kalau surat perjanjian yang di tanda tangani setiap perawat yang menyebutkan jika dapat menyembuhkan kamu, maka mereka berhak bebas. Jadi bebaskan mereka." Ucap dokter Arif tegas.


"Persetan dengan surat itu. Aku tidak akan pernah mengizinkan mereka kembali ke rumah sakit ataupun ke mes." Abian marah.


"Abian jangan egois, kamu tidak ada hak untuk mereka!" Dokter Arif marah.


"Siapa bilang aku tidak ada hak, huh! aku yang paling berhak untuk Aneska." Jawab Abian lagi.


Aneska di dalam kamar panik, dia panik karena kedua pria itu sedang berdebat dan dia khawatir kalau Abian menonjok dokter Arif.


"Kamu!" dokter Arif mulai panas dia menuding wajah Abian.

__ADS_1


Aneska buru-buru keluar kamar.


"Stooooop." Teriak Aneska.


Dokter Arif dan Abian menoleh ke arah Aneska.


"Lihat, gara-gara kamu istriku bangun." Ucap Abian marah.


"Istri?" dokter Arif bingung dan mencari jawaban dari wajah Aneska. Perawat itu langsung menganggukkan kepalanya pelan.


Dokter Arif langsung mundur dan menjatuhkan badannya ke sofa. Dia mengacak-acak rambutnya.


"Maaf dok." Ucap Aneska pelan.


"Kamu kenapa minta maaf? kamu enggak salah." Ucap Abian sambil merangkul bahu istrinya.


"Ssttt diam, kamu bisa diam tidak." Ucap Aneska marah.


"Ok, aku diam. Kamu mau apa dariku." Ucap Abian santai.


"Izinkan aku bicara berdua dengan dokter Arif." Ucap Aneska.


"Tidak aku izinkan." Ucap Abian tegas.


"Suamiku." Aneska mengeluarkan jurus mautnya dengan mengatakan kata suamiku dan membuat wajah imutnya. Abian langsung luluh.


"Iya, tapi kalian berdua bicara di depanku." Ucap Abian.


"Ok, tapi kamu tidak boleh ikut nimbrung." Ucap Aneska ketus.


"Oke-oke." Jawab Abian. Aneska melepaskan tangan suaminya dari bahunya dan hendak menghampiri dokter Arif. Tapi Abian langsung menggerakkan tangannya untuk berbicara di tempat yang sama yaitu di sebelahnya.


"Dokter, saya dan Abian sudah menikah." Ucap Aneska pelan.


"Anes jangan bercanda." Ucap dokter Arif tidak terima penjelasan perawatnya.


"Enggak dok, memang pernikahan kami terlalu mendadak. Dan pernikahan ini juga terjadi karena saya mendapatkan ancaman darinya." Ucap Aneska sambil menunjuk suaminya.


"Enggak heran kalau dia selalu mengancam. Sesuatu yang di paksakan tidak baik dan akan berujung ketidakharmonisan." Ucap dokter Arif.


"Kamu!" Abian marah dan ingin menghajar sahabatnya, tapi Aneska langsung menahannya.


"Dokter lupakan tentang pernikahan dadakan kami, izinkan aku kembali bekerja di rumah sakit." Ucap Aneska memohon.


"Maaf Aneska, saya tetap menerima kamu kapanpun, cuma saya tidak bisa terima status kamu menikah dengan teman masa kecil saya." Ucap dokter Arif pelan.


"Tapi sudah terjadi dok." Ucap Aneska lagi.


"Kenapa kamu harus menikah dengan Abian?" gerutu dokter Arif.


Aneska belum paham dengan sikap dokter Arif yang mempermasalahkan statusnya menikah, karena seingat dia, ada perawat yang sudah menikah tapi tetap bisa bekerja menjadi perawat.


"Dokter kenapa mempermasalahkan status saya, ibu Susan dan perawat yang lainnya tetap bisa bekerja, padahal mereka sama statusnya menikah." Jelas Aneska.


"Karena saya sayang sama kamu." Ucap dokter Arif.


Aneska langsung membelalakkan matanya, dia kurang yakin dengan ucapan dokter itu. Tapi melihat reaksi suaminya yang ingin menghajar dokter Arif, dia yakin kalau pendengarannya tidak salah.

__ADS_1


"Abian stop, itu hak dia untuk menyukaiku." Ucap Aneska tegas sambil menghalangi suaminya.


"Tidak ada yang boleh mencintai kamu selain diriku." Ucap Abian tegas. Aneska kaget, Abian mengucapkan cinta untuknya.


"Arif lebih baik kamu pergi dari ruanganku! jangan sampai aku menghajarmu dengan mengatakan sayang lagi kepada istriku!" Abian memperingati sahabatnya.


"Aneska, jika dia menyakiti kamu bilang sama saya." Ucap dokter Arif.


"Apa kamu bilang!" Abian marah.


Aneska langsung berteriak.


"Stoooop! kalian bisa diam tidak. Sekarang yang berhak bicara di sini aku. Untukmu suamiku, jangan suka main tangan." Aneska marah sambil menunjuk suaminya.


"Dan untukmu dokter Arif, terima kasih atas kejujuranmu telah mengungkapkan perasaanmu kepadaku. Perlu kamu ingat pernikahan kami sudah terjadi, ini buktinya." Ucap Aneska sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya.


"Hahaha, bagus istriku." Abian tertawa. Tapi Aneska langsung menuding suaminya untuk tidak tertawa ataupun bicara.


"Mungkin saya telat untuk mengungkapkan perasaan ini sama kamu. Tapi jika dia meninggalkanmu, saya siap menerima kamu." Ucap dokter Arif lagi.


Mendengar ucapan temannya Abian kembali marah tapi Aneska langsung pasang badan.


"Dokter sekarang aku dan Abian sudah menikah jadi jangan omongin masalah yang entah terjadi apa tidak. Aku harap kamu dan Abian bersahabat seperti dulu, jangan karena aku kalian bertengkar." Ucap Aneska.


"Maaf Aneska kami tidak akan bisa seperti dulu lagi." Jawab dokter Arif.


"Aku pun tidak sudi punya sahabat seperti kamu." Jawab Abian juga.


"Baik kalau begitu." Aneska mundur beberapa langkah dan mengambil pena yang ada di meja.


"Kalian mau baikkan tidak!" Aneska teriak sambil memegang ujung pena dan meletakkan di pergelangan tangannya.


"Istriku jangan lakukan." Abian panik. Begitupun dengan dokter Arif juga panik.


"Aneska, jangan bertindak bodoh. Saya dan Abian akan bersahabat lagi. Walaupun kecewa tapi saya terima." Dokter Arif menyalami dan memeluk Abian.


"Selamat atas pernikahan kalian, aku kalah cepat darimu, jangan sia-siakan Aneska, kalau sampai kamu menyakitinya, aku akan duel sama kamu." Ucap dokter Arif.


"Tenang sobat, aku akan menjaganya dan tidak akan menyia-nyiakannya. Kamu hanya boleh memilikinya kalau aku sudah mati." Jawab Abian sambil memeluk erat sahabatnya.


"Hei aku bukan barang, seenaknya saja di pindah tangankan." Aneska marah.


Kedua pria itu tertawa bersama.


"Belum selesai." Jawab Aneska.


"Apa lagi." Jawab kedua pria itu bersamaan.


"Aku mau kembali bekerja." Ucap Aneska pelan. Abian menoleh ke arah sahabatnya.


"Oke-oke akan aku usahakan." Ucap dokter Arif.


Aneska meletakkan kembali pena Abian.


"Selamat atas persahabatan kalian berdua." Ucap Aneska tertawa senag.


Dokter Arif keluar dari ruangan temannya. Sebelum pulang dia selalu mengatakan jaga dan sayangi Aneska.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2