
Dokter Arif memperhatikan wajah Aneska.
"Cepat periksa." Ucap Abian.
Dokter Arif mengambil peralatan dalam tasnya. Dia ingin mengecek perawatnya dengan stetoskop.
"Tunggu, alat itu kalau tidak salah di letakan di dada dan perut pasien, benar kan?" ucap Abian.
"Benar sekali."
"Bawa sini alat itu." Abian meminta stetoskop sama temannya. Dokter Arif menyerahkan kepada Abian.
"Ajarkan aku cara mengeceknya dan bagian mana yang harus aku cek." Ucap Abian.
"Yang sakit bukannya Aneska? kenapa kamu?" dokter Arif bingung begitupun dengan oma dan Aneska ikut bingung.
"Iya yang sakit istriku, tapi lebih baik aku yang memeriksanya. Aku kurang percaya sama kamu." Ucap Abian lagi.
"Ada-ada aja, Abian sekarang bukan waktunya main dokter-dokteran. Biarkan Arif memeriksa Aneska." Ucap oma.
"Tapi Arif akan menyentuh istriku."
Oma menepuk jidatnya.
"Kamu pikir dengan melihat, dokter Arif bisa tau sakitnya." Ucap oma sewot.
Abian over protektif untuk hubungannya. Apalagi dia tau kalau Arif suka sama istrinya. Jadi dia membatasi gerak Arif untuk mendekati Aneska.
"Arif periksa Aneska." Perintah oma.
"Tapi."
"Ssttt, diam." Ucap oma.
Dokter Arif memeriksa perawatnya dengan stetoskopnya, ketika stetoskop mau di letakkan di dada, Aneska langsung berbisik.
"Dok, saya bukan sakit." Bisik Aneska.
"Lalu apa?" ucap dokter Arif.
"Sepertinya saya datang bulan." Bisik Aneska lagi.
"Oma lihat, di depan mataku mereka main bisik-bisikan."
"Aduh Abian, lain kali kalau istri kamu sakit obati sendiri, sama temannya pakai acara cemburu." Gerutu oma.
"Oh seperti itu ya." Ucap dokter Arif.
Aneska menganggukkan kepalanya pelan. Dokter Arif meletakkan kembali peralatan kerja ke dalam tasnya.
"Kenapa di simpan." Abian bingung.
Dokter Arif berdiri di sebelah temannya.
"Begini, istri kamu tidak sakit. Dia hanya datang bulan." Jelas dokter Arif.
"Apa!" oma langsung menghampiri cucunya dan memukul Abian.
"Dasar cucu sialan, bilangnya pendarahan eh enggak taunya datang bulan. Untung oma enggak ada sakit jantung, awas kalau ganggu oma lagi." Ucap oma sambil berlalu meninggalkan kamar cucunya.
"Apa itu datang bulan." Tanya Abian.
"Datang bulan sama dengan menstruasi." Ucap dokter Arif.
__ADS_1
"Ya ampun, sayang kenapa kamu tidak bilang dari awal? kalau kamu bilang menstruasi pasti aku tidak sepanik ini." Gerutu Abian.
"Gimana mau bilang, waktu aku bilang darah kamu langsung bilang pendarahan." Jelas Aneska.
"Baiklah karena istriku tidak sakit jadi kamu bisa pulang." Abian mengusir temannya.
"Tunggu, aku mau memberitahukan sesuatu sama kalian."
Abian dan Aneska saling pandang kemudian melihat ke arah dokter Arif.
"Mulai besok Aneska dan Tami sudah bisa masuk ke rumah sakit." Ucap dokter Arif.
"Apa!" Aneska kegirangan dan langsung berdiri di sofa. Abian dan Arif melihat paha wanita itu.
Abian langsung menutup mata temannya.
"Aneska, apa yang kamu lakukan." Ucap Abian.
Aneska masih kegirangan dan bergoyang layaknya seorang penari.
"Tutup mata kamu." Abian meletakkan tangannya di mata Arif, tapi dokter itu menarik tangan Abian.
"Aneska paha kamu kelihatan." Teriak Abian.
"Apa!" Aneska kaget dan langsung lari kebelakang sofa.
"Jangan di ingat tentang paha mulus istriku, awas kamu!" ancam Abian.
"Hahaha, itu namanya rezeki." Dokter Arif tertawa tapi Abian langsung menendang kaki temannya.
"Aw, aku hanya bercanda."
Aneska merasa malu, dia masih sembunyi di belakang sofa.
"Tunggu, aku bilang sama kamu, kalau Aneska boleh bekerja dan pulang tidak boleh di atas jam lima sore tapi kenapa jadwalnya berubah." Protes Abian.
"Abian seharusnya mereka masuk jam tujuh pagi seperti perawat lainnya tapi berhubung mereka tinggal di istana jadi aku meminta kepada pihak admin untuk memberikan kelonggaran untuk mereka berdua, dan mengenai jadwal pulang tidak bisa di rubah, karena jadwal Aneska dan Tami hanya satu shift, beda kalau mereka mengikuti shift yang telah di jadwalkan." Jelas Arif.
"Aku setuju." Jawab Aneska dari balik sofa.
"Aku tidak setuju." Jawab Abian.
"Ok, urusan persetujuan urusan kalian berdua, aku mau memberitahukan lagi mengenai gaji tidak ada yang namanya lembur, gaji kamu dan Tami masih sama seperti yang dulu." Jelas dokter Arif.
"Tidak masalah dok, sudah bisa bekerja lagi sudah membuat hatiku senang." Ucap Aneska masih tetap sembunyi.
"Sudah selesai." Tanya Abian.
"Sudah." Jawab dokter Arif singkat.
"Ya sudah ayo keluar." Abian menarik tangan temannya agar keluar kamarnya.
"Aneska kabari secepatnya." Teriak dokter Arif. Abian mengantar temannya sampai depan istana.
"Izinkan Aneska untuk kembali bekerja. Sayang kalau bakatnya harus di kubur di istana ini." Ucap dokter Arif.
"Agar kamu bisa berduaan dengannya, iya kan?" ucap Abian ketus.
"Hahaha, kenapa kamu sangat over protektif beda ketika sama Vania."
"Ah sudahlah, aku tidak akan mengizinkannya." Ucap Abian lagi.
"Ya terserah, kamu sahabatku walaupun aku suka dengan Aneska tapi aku tidak akan merebut dia dari kamu. Kecuali kalau kalian belum menikah pasti akan aku rebut." Jelas dokter Arif.
__ADS_1
"Ah sudah pergi sana." Abian mendorong tubuh temannya.
"Iya aku pergi." Ucap dokter Arif sambil membuka mobilnya.
"Abian tunggu." Dokter Arif mengambil dua paper bag dan menyerahkan sama temannya.
"Apa ini?"
"Itu seragam Aneska dan Tami." Jelas dokter Arif.
"Aku tidak mengizinkan." Ucap Abian tegas.
"Kamu diskusikan dulu sama Aneska, bye Abian." Dokter Arif menuju mobilnya dan langsung mengendarai roda empat itu meninggalkan istana Bassam.
Abian masuk ke dalam istana dan langsung kembali ke kamarnya.
"Aneska." Ucap Abian sambil mencari keberadaan istrinya.
"Aku di sini." Aneska keluar dari balik sofa.
"Mengenai yang tadi batal." Ucap Abian.
"Kok batal sih?" rengek Aneska.
"Aku tidak mau kamu capek sayang." Ucap Abian sambil memeluk istrinya.
"Ayolah, aku tidak akan capek. Kalau capek tinggal tidur." Jawab Aneska.
"Kalau kamu tinggal tidur kapan mengurusku." Gerutu Abian.
"Suamiku, aku tidak mungkin setiap hari di kamar. Kalau keluar kamar kamu khawatir dengan keselamatanku. Jadi yang paling aman menurutku di rumah sakit." Jelas Aneska.
"Tapi aku tidak suka kamu menyentuh orang lain, apalagi pasien pria." Ucap Abian cemburu.
"Hahaha kamu cemburu ya."
"Iya aku cemburu, cemburu artinya cinta." Jelas Abian sambil mengecup bibir istrinya.
Aneska langsung berbunga-bunga.
"Suamiku, aku pastikan nanti di rumah sakit pakai sarung tangan, jadi aman." Rayu Aneska.
"Tetap tidak boleh."
"Ah, kamu benar-benar menjadikanku istri boneka." Gerutu Aneska.
Aneska ngambek sambil melepaskan badannya dari pelukan Abian. Dia meninggalkan suaminya dan pergi ke balkon.
Abian menggaruk kepalanya. Dia mengikuti istrinya ke balkon.
"Baik aku izinkan." Ucap Abian.
"Aaaaa." Aneska teriak kegirangan.
"Tapi ada syaratnya."
"Iya aku tau, tidak boleh berdekatan dengan dokter Arif, tidak menyentuh pasien kalau tidak pakai sarung tangan." Ucap Aneska.
"Iya betul, tapi bukan itu saja. Setiap pergi dan pulang sama aku." Ucap Abian.
"Kamu bukannya ke kantor jam sembilan. Kalau mengantarku apa tidak kepagian."
Bersambung.
__ADS_1