Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 113


__ADS_3

Abian telah menutup panggilannya, dan kembali ke tempat semula yaitu ke tempat di mana ada ibu, istrinya dan kakaknya.


"Aku sudah mengatakan ke pak Dudu, surat-surat akan di persiapkan oleh beliau. Ingat setelah harta warisan kamu di ambil kamu tidak ada hak di Bassam grup dan di istana ini. Karena semuanya akan di uangkan oleh beliau." Jelas Abian.


"Baik Abian." Jawab Farid.


Abian menatap sinis ke Farid.


"Aku bicara sama Tanisa bukan sama kamu! memangnya siapa kamu?" ucap Abian ketus.


Farid langsung diam sambil menundukkan kepalanya.


Tanisa khawatir akan harta warisannya. Dia mengkhawatirkan hartanya di ambil suaminya.


"Abian, aku minta harta warisanku di transfer ke nomor rekeningku dan buatkan deposit di sana." Ucap Tanisa sambil melirik suaminya.


Farid langsung melotot ke arah istrinya. Dia tidak setuju dengan ide istrinya.


"Baiklah itu hak kamu. Pak Dudu akan mengurus semuanya." Abian menggenggam tangan istrinya dan meninggalkan keluarganya.


"Abian tunggu." Teriak nyonya Rona mengikuti anaknya.


"Ada apa." Ucap Abian sambil terus melangkahkan kakinya di ikuti maminya dari belakang.


"Boleh tidak Tanisa datang berkunjung ke sini, apalagi seminggu lagi ulang tahun kamu." Ucap nyonya Rona memohon.


Abian berhenti dan menoleh ke arah maminya.


"Kalau untuk berkunjung boleh tapi bukan untuk menginap."


Mendengar jawaban dari anaknya nyonya Rona langsung mengeluarkan nafasnya secara kasar. Menurutnya anaknya tidak bisa di ajak berunding.


"Satu lagi wanita jadi-jadian itu harus keluar bersama dengan Tanisa dan Farid." Ucap Abian tegas.


"Maksud kamu Anggela?" tanya nyonya Rona bingung.


"Menurut mami siapa lagi? atau mami mau aku panggil wanita jadi-jadian." Ucapan Abian membuat Aneska tertawa kecil. Nyonya Rona langsung menatap sinis ke arah menantunya.


"Tapi Anggela banyak membantu mami."


"Membantu seperti apa maksud mami? Membantu untuk merusak rumah tangga kami gitu." Ucapan Abian membuat nyonya Rona tidak bisa berkata-kata lagi. Dia kalah telak dari anaknya. Aneska langsung menoleh ke arah suaminya dan mertuanya. Dia masih belum mengerti kenapa suaminya bisa memikirkan hal semacam itu.


Abian menarik tangan istrinya menuju kamarnya.


Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual.


"Kamu tidak berangkat kerja?" tanya Aneska melihat suaminya sudah menyalin pakaiannya.


"Aku akan ikut ke singapura dengan kamu." Ucap Abian sambil memeluk istrinya.


"Kamu serius?" tanya Aneska kurang yakin.

__ADS_1


"Tentu sayang, istana ini terasa sepi jika tidak ada suara erangan kamu." Goda Abian.


"Ih kamu genit." Aneska mencubit lengan suaminya.


"Benar sayang erangan kamu yang selalu aku rindukan." Ucap Abian lagi.


"Kamu sekarang tambah genit."


"Aku memang genit apa lagi ketika melihat kamu liar dan ganas, aku jadi ingin mengulang seperti itu lagi."


Wajah Aneska langsung merona malu. Dia tidak mengingat apa saja yang telah di perbuatanya tapi dia yakin jika mereka melakukannya secara berulang.


"Ah kamu ngada-ngada mana mungkin aku liar dan ganas. Kalau kamu aku percaya." Ucap Aneska berkelit agar suaminya tidak mengatakan keliarannya.


"Kamu tidak percaya." Abian membuka kaosnya dan menunjukkan bercak merah di dadanya.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Aneska bingung.


"Ya kamu sayang." Jawab Abian sambil tersenyum.


"Bohong, tidak mungkin aku menggigit semua dada kamu." Ucap Aneska tidak percaya.


"Coba kamu bayangkan, apa bisa aku melakukan sendiri?" ucap Abian sambil tersenyum.


"Iya juga, tapi kenapa bisa seperti ini, kenapa aku bisa seperti singa betina."


"Hahaha, kita sama-sama singa. Apa kita bisa melakukannya lagi." Ucap Abian sambil menggerayangi dada istrinya.


"Hahaha tidak sayang, aku hanya bercanda walaupun kamu minta tetap tidak aku tolak." Ucap Abian genit.


"Kenapa di pikiran kamu hanya itu dan itu, apa tidak ada yang lain." Gerutu Aneska.


"Lalu apa yang harus aku pikirkan, apa kamu mau aku membicarakan masalah kantor dengan kamu."


"Hahaha makasih sayang, jangan ceritakan masalah kantor samaku, bisa-bisa tambah kecil badanku."


"Aku selalu on ketika dekat dengan kamu, jadi untuk menghindari itu, aku akan mempersiapkan semua pekerjaanku di ruang kerja. Masih ada waktu beberapa jam."


Abian meninggalkan istrinya di kamar sendiri, untuk mempersiapkan segala keperluan yang akan di bawa mereka.


Zidan baru kembali ke istana seperti permintaan bosnya. Dia melihat Anggela berlari sambil sempoyongan dan tiba-tiba jatuh. Zidan langsung berlari menghampiri wanita itu.


"Anggela bangun." Ucap Zidan. Wanita itu tidak membuka matanya sama sekali. Dia langsung membopong tubuh Anggela dan membawa masuk ke istana.


"Tolong..." Teriak Zidan. Abian mendengar ada suara yang tidak asing. Dan dugaannya benar, suara itu suara Zidan.


Dari jauh dia bisa melihat Zidan datang sambil membawa sesuatu. Ketika sudah sampai dekat, Abian tau jika yang di bawa Zidan adalah wanita jadi-jadian.


"Tuan dia pingsan, sepertinya dia berolah raga di jam yang salah." Ucap Zidan.


Abian tersenyum mendengar ucapan Zidan.

__ADS_1


"Kamu tau harus melakukan apa, aku akan tunggu kamu di ruang kerja." Abian meninggalkan Zidan yang masih membopong Anggela.


Zidan pernah menangani hal serupa ketika Anggela berada di kamarnya. Dia membawa Anggela ke kamarnya sendiri. Dia tidak ingin wanita itu berada di kamarnya agar tidak muncul fitnah di antara mereka.


Tubuh Anggela sudah di letakkan di kasur. Dia mulai berpikir cara menyadarkan Anggela.


"Iya oma." Zidan berlari ke kamar oma dan mengetuk kamar oma secara berulang tapi tidak ada sahutan dari dalam, dia bertanya ke pelayan yang kebetulan lewat di depannya.


"Apa kamu lihat oma?" tanya Zidan.


"Sepertinya oma ada di kebun bunga." Jawab pelayan itu.


"Panggilkan oma, bilang Anggela pingsan." Titah Zidan. Pelayan langsung bergegas mencari oma. Zidan memikirkan cara agar Anggela cepat sadar sebelum oma datang.


Dia pergi ke dapur dan meminta minyak jelantah dan air putih.


Zidan membawa itu ke kamar Anggela.


"Kemarin dia sadar pakai minyak jelantah, pasti dia akan cepat sadar." Gumam Zidan dan duduk di pinggir kasur.


Dia mengolesi telapak tangannya dengan minyak jelantah dan meletakkan di bawah hidung Anggela.


"Sadar ayo sadar." Ucap Zidan, tapi Anggela tetap belum sadar.


"Mungkin kurang banyak." Zidan melumuri tangannya dengan minyak jelantah dan mengolesi ke seluruh wajah Anggela dan memercikkan air ke wajah wanita itu.


Anggela membuka matanya secara perlahan.


"Akhirnya kamu sadar juga." Ucap Zidan tersenyum.


"Aku kenapa?" tanya Anggela bingung.


"Kamu tadi pingsan, sebaiknya kamu minum dulu." Zidan menyerahkan gelas yang berisi air putih ke Anggela. Wanita itu langsung menghabiskan dalam sekali tegak.


"Kamu kalau olah raga harus tau waktu yang tepat jangan panas terik seperti ini." Ucap Zidan sambil melihat warna kulit Anggela yang sudah berubah warna.


Anggela mendengus, dia seperti mencium sesuatu yang amis. Dan wajahnya serasa berminyak dan lengket. Anggela memegang wajahnya dan mencium dengan jarinya.


"Minyak jelantah."


"Zidan...." Anggela teriak dan memukuli Zidan.


"Kamu kenapa? bukannya bilang terima kasih samaku malah memukuliku." Gerutu Zidan sambil menghindari pukulan dari Anggela.


"Aku tidak akan mengucapkan terima kasih padamu karena kamu wajahku bau ikan." Ucap Anggela marah dan terus berusaha memukuli Zidan.


"Tapi kamu sadarkan." Ucap Zidan lagi.


"Iya sadar kali, lain kali kalau aku pingsan olesi minyak gemuk." Ucap Anggela marah sambil merapatkan giginya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2