Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 169


__ADS_3

Aneska ingin terlihat cantik seperti Vania. "Apa ada yang kurang dari penampilanku?" tanya Aneska ke Anggela.


"Enggak ada sudah sangat sempurna." Tapi Aneska merasa penampilannya kurang memukau. Dia mencari koleksi kaca mata hitam milik suaminya.


Mencoba satu persatu milik Abian. Anggela tertawa. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Aneska yang masih sibuk memilih kaca mata.


"Aneska itu kaca mata pria. Aku ada kaca mata, kamu bisa memakainya." Anggela keluar dari kamarnya mengikuti Anggela. Nyonya Rona sekilas melihat penampilan Aneska yang berbeda dari biasanya.


"Apa yang sedang di rencanakannya." Gumamnya.


Anggela memberikan kaca mata miliknya. "Aku rasa yang ini cocok buat kamu." Ujar Anggela menyerahkan kaca mata miliknya ke Aneska.


"Aku pinjam ya." Ujar Aneska yang sedang bercermin.


"Ambil aja, aku masih banyak. Lagian kapan aku bisa memakainya." Ujar Anggela pelan seraya menundukkan kepalanya.


Aneska memeluk Anggela. "Jangan bersedih mulai sekarang kita berteman." Aneska mengulurkan jari kelingkingnya ke Anggela. Dan gadis itu menyambut dengan jari kelingkingnya juga.


Aneska pergi ke kantor suaminya di antar supir. Pada saat Aneska tiba di gedung itu, karyawan sedang beristirahat. Memasuki loby dengan anggunnya. Semua mata tertuju ke arahnya.


"Siapa itu?" tanya karyawati ke teman sejawatnya. Mereka tidak mengenal Aneska apalagi memakai kaca mata hitam membuatnya sangat berbeda.


Aneska menuju meja resepsionis. "Ada yang bisa di bantu?" tanya pekerja wanita yang bekerja sebagai resepsionis.


"Saya mau bertemu dengan Abian." Sahut Aneska.


"Apa nona sudah membuat janji?"


"Belum." Sahut Aneska singkat.


"Maaf tidak bisa menemui pak Abian jika belum membuat janji." Aneska bingung dia ingin memberikan kejutan untuk suaminya.


Dan keberuntungan berpihak padanya. Sekertaris Abian baru turun dari lantai atas.


"Siapa itu namanya?" tanya Aneska ke resepsionis seraya menunjuk ke arah wanita yang di kenalnya.


"Tya." Sahut resepsionis.


"Tya." Teriak Aneska. Sekertaris Abian menoleh ke arah wanita yang sedang berjalan ke arahnya.


Tya masih memperhatikan wanita yang sekarang sedang berdiri di depannya. "Apa saya mengenal anda?" tanya Tya.


Aneska membuka kaca matanya. "Ini aku tya." Ujar Aneska.


"Oh maaf nona, saya tidak tau." Tya menundukkan kepalanya. Dan semua karyawan berbisik-bisik membicarakan Aneska. Tapi mereka bisa menduga jika wanita yang ada di depan Tya orang penting terlihat dari cara Tya yang sangat menaruh hormat kepada Aneska.


"Apa Abian ada di dalam?" tanya Aneska.


"Ada nona silahkan." Ujar Tya. Aneska berjalan menuju lift. Ketika Aneska masuk lift. Semua karyawati mengerumuni Tya.


"Siapa wanita itu?" tanya salah seorang karyawati.


"Istrinya pak Abian." Sahut Tya.


"Hah istrinya? jadi benar pak Abian sudah menikah lalu bagaimana Vania?" para karyawati terlihat bergosip di loby.

__ADS_1


Menuju ruangan suaminya. Dari depan pintu Aneska mendengar suaminya sedang berbicara dengan seseorang.


"Abian, terima kasih karena mau menerimaku kembali di sini." Ujar Vania.


Abian hanya menatap ke layar laptopnya. Aneska masih mendengarkan dari balik pintu.


"Jika tidak ada yang mau di bicarakan lagi silahkan keluar." Ujar Abian.


Vania merasa Abian sangat berbeda. Karena dia mendengar dari nyonya Rona kalau Abian masih mencintainya.


"Abian, aku mau minta maaf. Aku tidak pernah berselingkuh." Ujar Vania.


"Aku sudah tau. Dan jangan membicarakan hal yang dulu. Aku sudah menikah." Ujar Abian tegas.


"Iya aku tau. Apa kamu tidak mencintaiku lagi?" tanya Vania.


Abian belum menjawab. Karena pintu ruangan telah terbuka.


"Suprise." Ujar Aneska yang langsung masuk dan mencium suaminya.


"Sayang kamu?" Abian bingung karena penampilan istrinya sangat berbeda.


Merasa di cuekin Vania akhirnya keluar dari ruangan itu. "Bagaimana penampilanku?" tanya Aneska yang langsung duduk di pangkuan suaminya.


"Tentu kamu sangat cantik tapi kenapa kamu berpakaian seperti ini?" tanya Abian bingung.


"Mulai hari ini dan seterusnya aku akan menjadi sekertaris pribadi kamu." Sahut Aneska.


Abian mengerutkan dahinya. "Kenapa? apa aku tidak pantas jadi sekertaris? seorang perawat bisa menjadi sekertaris hebat loh." Ujar Aneska.


"Iya dong, memangnya dia saja yang bisa menjadi sekertaris kamu. Aku juga bisa." Sahut Aneska membanggakan dirinya.


Abian tersenyum. "Sayang, Vania tidak menjadi sekertarisku. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan ku." Jelas Abian.


"Lalu dia di mana?" tanya Aneska penasaran.


"Dia sekertaris Zidan." Sahut Abian.


"Hah Zidan? jadi dia ingin merebut Zidan dari Tiara?" Aneska berasumsi sendiri.


Abian mengedikkan bahunya. Dia tidak tau dengan rencana Vania.


"Sayang aku mau satu ruangan di gedung ini." Titah Aneska yang sedang mengirim pesan ke Tiara.


Vania bukan menjadi sekertaris Abian tapi Zidan.


Abian meletakkan ponsel istrinya. "Kamu mau ruangan?" tanya Abian.


"Iya kalau bisa yang di dekat sini ruangannya. Agar aku bisa memata-matai kamu." Ujar Aneska.


Abian memikirkan sesuatu. "Ayo aku antar ke ruangan kamu."


"Secepat itu?" Aneska bingung. Dia mengikuti suaminya dari belakang. Abian membawa istrinya ke dalam ruangan yang ada di belakang meja kerjanya.


"Oh di sini, nanti kasih meja juga ya." Ujar Aneska yang sedang memperhatikan ruang kerjanya.

__ADS_1


"Tidak ada namanya meja. Tempat kamu hanya di kasur."


"Di kasur?" Aneska menatap suaminya dengan tatapan bingung.


"Iya di kasur. Jadi tugas kamu hanya melayani suami kamu ini. Di sini." Abian menunjuk kasur.


"Kamu bercanda ya." Ujar Aneska.


"Enggak sayang, aku malah suka kamu di sini. Bagaimana kalau kita guncang gedung ini." Ujar Abian yang telah mengunci pintu ruangan. Membaringkan tubuh istrinya di kasur dan melakukan pergumulan.


***


Tiara dan Tami telah pulang kerja. Mereka kembali ke mes. Tiara melihat pesan di layar ponselnya. Balasan dari Aneska membuatnya marah.


"Ternyata dia yang berselingkuh. Belum menikah aja udah berani." Gerutu Tiara kesal.


"Kamu kenapa?" tanya Tami.


"Mbak tau, Vania bukan menjadi sekertaris tuan Abian tapi Zidan." Ujar Tiara kesal.


"Ye yang cemburu." Goda Tami.


"E e enggak kok." Tiara gugup. Tami merangkul bahu Tiara.


"Enggak apa-apa cemburu, itu tandanya kamu suka dengan pak Zidan." Ujar Tami yang membuat Tiara langsung menggelengkan kepalanya.


"Siapa yang suka, aku hanya heran aja apa tidak ada tempat lain untuk wanita itu. Kenapa harus jadi sekertaris dia." Jelas Tiara.


"Itu sama saja, kamu itu sebenarnya sudah menyukai pak Zidan. Akui saja rahasia kamu aman sama mbak."


"Ah mbak salah." Tiara buru-buru meninggalkan Tami menuju kamarnya.


Tami tersenyum dia melihat jam tangannya. "Semoga aku tidak terlambat." Tami bergegas ke kamarnya. Membersihkan tubuhnya dan memakai dress berwarna merah.


"Semoga dia jodohku." Gumam Tami dan segera keluar dari kamarnya. Menunggu taksi online di depan gerbang.


Memberikan alamat tujuannya. Sesampai di cafe Tami memperhatikan sekeliling cafe mencari pria yang memakai baju berwarna merah. "Apa itu." Gumam Tami melihat pria yang sedang menatap ponselnya.


"Sepertinya bukan, dia tidak membawa buket bunga mawar." Tami duduk di pojok merapikan penampilannya.


Pelayan meletakkan buku menu di depannya. "Saya pesan jus sirsak." Ujar Tami ke pelayan.


Masih menunggu pria berbaju merah. Selang sepuluh menit masuk seorang pria memakai baju berwarna merah dengan buket bunga mawar di tangannya.


Tapi melihat tampangnya Tami langsung melongo. "Oh tidak, benar kata dokter Arif fotonya bohong." Tami menutupi wajahnya dengan tas jinjingnya.


Pria yang bergigi tonggos mencari wanitanya dan ketika melihat seorang wanita memakai pakaian berwarna merah. Pria itu segera berjalan menuju meja Tami.


Jantung Tami udah mau copot tapi sebelum pria bergigi tonggos mendekat ada pria yang menarik kursi di depannya. Tami membelalakkan matanya karena pria itu adalah dokter Arif.


Bersambung...


Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2