Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 97


__ADS_3

Anggela mengganti pakaiannya dengan yang seksi. Memakai baju tidur berwarna hitam yang panjangnya hanya sepaha, dan bagian depannya terbuka agar menunjukkan kesan seksi dari tampilan gunungnya. Dan menyemprotkan parfum keseluruh tubuhnya.


Anggela keluar kamar secara mengendap-ngendap menuju kamar Zidan. Dia sudah sampai di depan kamar Zidan. Anggela merapikan rambutnya dan penampilannya. Dia mengetuk pintu kamar.


Tok tok tok.


"Pasti itu Anggela." Gumam Farid dari balkon.


Anggela mengetuk pintu secara berulang tapi Zidan tetap belum bangun.


"Orangnya udah tidur pulas di suruh rayu, manalah bisa." Gumam Anggela sambil meninggalkan kamar Zidan, pintu kamar di buka.


Zidan melihat ke depan kamarnya sambil menguap.


Anggela mendengar ada suara pintu di buka, dia langsung berlari ke depan pintu kamar itu lagi.


"Anggela apa yang kamu lakukan?" Zidan memperhatikan penampilan wanita di depannya. Di akuinya kalau Anggela terlihat seksi.


"Zidan, hiks hiks." Anggela langsung memeluk pria di depannya.


Zidan bingung, dia tidak mendekap erat tubuh Anggela ataupun menyentuh gadis itu. Dia masih tertegun sejenak karena masih dalam keadaan mengantuk.


Dari balkon Farid memperhatikan akting kekasihnya yang sangat agresif.


"Anggela ini sudah malam." Zidan melepaskan pelukan gadis itu dari badannya.


"Aku tau ini sudah malam tapi aku butuh teman curhat, hiks hiks." Anggela bersandiwara menangis.


"Sebaiknya curhatnya besok saja, tidak enak jika di lihat orang kamu masuk ke kamarku." Ucap Zidan sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menghindari gunung Anggela yang merekah.


"Sebentar saja, aku harus bercerita kalau tidak aku tidak akan bisa tidur." Rayu Anggela.


"Ummm." Zidan masih berpikir. Tapi Anggela langsung masuk ke dalam kamar itu.


"Anggela sebaiknya kita bicara di luar saja, jangan di sini." Ucap Zidan khawatir kejantanannya akan berdiri.


"Di sini saja." Anggela duduk di pinggir tempat tidur sambil melipat kakinya. Pahanya yang mulus terpampang nyata di depan Zidan.


"Baik-baik." Ucap Zidan sambil mengambil sesuatu di dalam lemari.


Anggela menghampiri pintu kaca yang menuju ke balkon


"Hatcing.." Anggela pura-pura bersin sambil memutar kunci agar tidak terdengar Zidan.


Zidan mencari Anggela yang sedang berdiri sambil bersandar di dinding tidak jauh dari lemari.


Zidan menutupi badan Anggela dengan selimut.


"Zidan apa-apaan ini." Ucap Anggela bingung.


"Aurat harus di tutup bukan di umbar." Ucap Zidan.

__ADS_1


Anggela melirik ke arah balkon, Farid belum bisa keluar dari situ. Anggela memikirkan cara agar Farid bisa keluar tanpa di ketahui Zidan, tapi itu membutuhkan waktu lama, walaupun pintu kamar terbuka tapi untuk sampai ke pintu membutuhkan waktu tiga menit jika berlari.


"Ini terlalu tebal, bisa cari yang sedikit ringan." Ucap Anggela sambil mengikuti Zidan mendekati lemari. Anggela menggerakkan jarinya dari balik badannya. Dia memberi kode untuk Farid agar keluar setelah ada aba-aba darinya.


Zidan berjongkok sambil mencari sesuatu yang cukup ringan dari selimut. Posisi lemari ada di samping pintu. Farid memikirkan cara agar keluar dari kamar itu tanpa terlihat Zidan.


Anggela berdiri di samping Zidan, paha mulusnya sengaja di perlihatkannya ke Zidan agar pria itu tergoda.


Dia ikut membantu mencari kain yang tidak terlalu tebal yang dapat menutupi tubuhnya. Anggela ikut jongkok di sebelah Zidan. Jarak mereka sangat dekat.


"Hatcing.." Anggela bersin Farid membuka handle pintu.


Zidan seperti mendengar sesuatu yang lain, tapi begitu dia menoleh ke samping, Zidan mencium pipi Anggela secara tidak sengaja. Farid dapat keluar dari balkon dan sembunyi di bawah tempat tidur.


"Maaf." Ucap Zidan sambil buru-buru mencari sesuatu dari dalam lemari.


"Ah Zidan, kamu diam-diam genit." Ucap Anggela sambil tersenyum malu.


"Pakai ini saja." Zidan mengambil jaketnya dan menyerahkan ke Anggela. Gadis itu memakai jaket pemberian Zidan, dia mencium aroma maskulin dari jaket itu.


"Bagaimana penampilanku." Tanya Anggela.


Zidan melihat dari atas sampai bawah, untuk bagian atas sudah tertutup tapi untuk bagian bawah masih terlihat jelas.


"Pakai selimut ini." Zidan melingkarkan selimutnya ke pinggang Anggela.


"Ok sempurna." Ucap Zidan sambil mengangkat jempolnya.


"Kamu mau cerita apa." Tanya Zidan.


"Cerita?" Anggela bingung tapi dari bawah kakinya di cubit Farid.


"Aw." Anggela kaget. Dia meringis sambil memegang kakinya.


"Kenapa?" Zidan memperhatikan gadis di depannya yang sedang memegang kakinya.


"Enggak apa-apa. Oh iya aku tadi mau curhat. Kalau aku lagi sedih." Ucap Anggela berbohong sambil melirik tas yang ada di atas kasur.


Zidan duduk bersandar di bagian kepala tempat tidur. Dia mencoba menjadi pendengar yang baik.


"Kenapa kamu bersedih." Tanya Zidan lagi.


"Si boy, hiks hiks." Anggela menangis.


"Kenapa si boy?"


"Dia meninggal." Ucap Anggela menangis.


"Innalillahi, aku turut berduka cita." Ucap Zidan.


"Zidan hiks hiks." Anggela mendekati Zidan dan langsung memeluk pria itu.

__ADS_1


Zidan seorang pria yang gampang tersentuh hatinya, apalagi untuk urusan gadis menangis dia tidak tega.


Zidan mengelus rambut Anggela dan mengelus punggung wanita itu memberikan rasa simpati yang paling dalam.


"Sabar kamu harus mengikhlaskan semuanya." Ucap Zidan sambil mengelus punggung Anggela.


Di bawah tempat tidur Farid bingung siapa yang di maksud si boy.


"Berapa usia si boy." Tanya Zidan.


"Baru tiga bulan, aku sedih Zidan kenapa cobaan ini menghampiriku." Anggela menangis seperti pemain film sungguhan, dia bisa mengeluarkan air matanya tanpa harus di peras.


"Ya Allah kasihan sekali." Zidan ikut prihatin.


Anggela menganggukkan kepalanya sambil mengusap air matanya.


"Sebenarnya sakit apa si boy, di usia yang masih kecil begitu pasti rentan terhadap penyakit."


"Iya kamu benar, boy sangat kecil tubuh mungilnya membuat aku selalu suka dengannya. Sebenarnya boy tidak punya penyakit tapi pada saat itu dia memaksa minta makan bubur ayam" Jelas Anggela.


"Bubur ayam? jelaslah usia seperti itu belum boleh makan dan hanya boleh makan pada saat usia enam bulan." Jelas Zidan.


"Tapi waktu usia satu bulan dia sudah makan." Ucap Anggela lagi.


"Makan? memangnya apa makanannya." Tanya Zidan.


"Biji bunga matahari." Jawab Anggela.


"Biji bunga matahari?" Zidan mengangkat satu alisnya berpikir.


"Tunggu boy ini siapanya kamu dan apa hubungannya sama kamu." Tanya Zidan lagi penasaran.


"Aku ibu asuhnya boy." Jawab Anggela singkat.


Kenapa aku tidak pernah tau kalau dia jadi ibu asuh.


Farid bergumam dalam hati.


"Kamu ibu asuh yang buruk anak usia satu bulan sudah kamu kasih kuaci dan umur tiga bulan kamu kasih bubur ayam."


"Zidan tapi kata pedangnya memang seperti itu." Ucap Anggela lagi.


"Pedagang? maksud kamu apa? kamu beli si boy dari orang lain dengan kata lain asal usul anak itu tidak jelas!"


"Anak? Zidan yang aku bicarakan ini hamster bukan anak bayi." Jelas Anggela.


Zidan langsung menepuk jidatnya.


Farid menahan ketawanya, dia ingin tertawa sekencang-kencangnya karena dia dan Zidan memikirkan kalau boy yang di maksud manusia.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2