Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 133


__ADS_3

Aneska bertanya kepada ibunya tentang bungkusan yang di bawa ibunya keluar.


"Bu, di bawa kemana tadi bungkusannya?" tanya Aneska.


"Ibu berikan ke mertua kamu."


"Kenapa ibu berikan ke nenek lampir? mana mau dia makan." Aneska bingung dengan sikap ibunya.


"Ibu lagi malas menceritakan ke kamu. Mengenai ulang tahun Abian bagaimana? apa jadi?" tanya ibunya.


"Jadi bu." Sahut Aneska singkat.


"Ulang tahunnya tinggal beberapa hari lagi. Dan kamu masih berada di rumah sakit. Terus luka kamu masih ada." Ibunya merasa kasihan dengan kondisi anaknya.


"Enggak apa-apa bu, Anes sudah mulai pulih, acara itu tetap di adakan. Kasihan para pekerja kalau di batalkan." Jelas Aneska.


"Kalau kondisi kamu seperti ini." Ibu Desi diam sesaat melihat kondisi dan tubuh anaknya.


"Kamu tidak hadir pada saat acara." Tebak ibunya.


"Iya bu, enggak apa-apa acaranya juga di istana." Jelas Aneska.


Pintu ruangan di buka Abian datang dengan membawa buah dan keik.


"Pagi sayang." Sapa Abian mengecup dahi istrinya.


"Pagi bu." Sapa Abian melihat mertuanya yang sedang memperhatikannya.


"Menantu, mengenai ulang tahun kamu bagaimana?" tanya ibu Desi.


"Akan di adakan beberapa hari lagi. Apa ibu belum beli gaun?" tanya Abian.


"Ibu tidak mempermasalahkan pakaian. Pakai daster pun jadi cuma Aneska yang ibu khawatirkan. Dia istri kamu dan seharusnya Aneska mendampingi kamu pada saat acara." Ibu Desi merasa khawatir jika anaknya tidak hadir dalam acara itu.


"Saya sudah mengatakan seperti itu kepada Aneska. Tapi Aneska yang memaksa." Jelas Abian lagi.


Ibu Desi langsung melihat anaknya. Wanita paruh baya itu membutuhkan jawaban dari anaknya. Aneska menganggukkan kepalanya pelan.


Melihat anggukan kepala anaknya. Wanita paruh baya itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Kalau kondisi kamu sudah pulih kita pulang sekarang." Ucap ibunya tegas.


"Kenapa bu?" tanya Abian dan Aneska bersamaan.


"Ada yang harus ibu kerjakan." Sahut ibu Desi.


Setelah dokter memeriksa kondisi Aneska. Ibu Desi langsung menanyakan ke dokter tentang rencana pulang anaknya.


Dengan berat hati dokter mengizinkan. Walaupun masih terjadwal sampai besok tapi ibu Desi kekeh minta pulang hari itu. Berbeda dengan jadwal Tanisa yang kemungkinan lusa baru bisa keluar dari rumah sakit.


Aneska keluar dari rumah sakit bersamaan dengan Zidan. Abian bingung karena pria itu kemarin terlihat sehat.


"Apa kamu baru di rawat?" tanya Abian.


Zidan menjawab hanya dengan senyumannya.


"Sakit apa?" tanya Abian lagi.


"Cacingan tuan." Zidan permisi untuk keluar lebih dulu dari bosnya.


Abian mendekati istrinya yang sedang berjalan bersama ibunya.

__ADS_1


"Sayang apa cacingan bisa di rawat juga?" tanya Abian dengan cara berbisik.


"Hah cacingan? siapa yang cacingan?" tanya Aneska.


"Zidan di rawat katanya karena cacingan." Jelas Abian.


"Mungkin bisa kalau cacingnya demo." Sahut Aneska asal.


Mereka kembali ke istana. Dimana Abian duduk di belakang setir, Aneska dan ibunya berada di kursi baris kedua.


Sesampainya di istana. Ibu Desi langsung menuju taman. Dia mengambil beberapa batang pohon lidah buaya.


Aneska bingung karena ibunya membawa lidah buaya ke kamarnya.


"Ibu mau ngapain?" tanya Aneska yang bingung dengan kelakuan ibunya.


Begitupun Abian ikut penasaran. Menurutnya apa yang akan di lakukan wanita paruh baya itu.


"Anes buka baju kamu." Titah ibunya.


"Tapi untuk apa bu?" tanya Aneska bingung.


"Udah cepat." Aneska membuka bajunya dan hanya menyisakan dalaman yang masih menempel di tubuhnya.


Abian melihat tubuh indah istrinya. Jika tidak ada mertuanya pasti dia sudah menerkam istrinya.


Ibu Desi mengolesi gel lidah buaya itu ke luka anaknya, setelah itu memijat lembut di bagian luka anaknya.


"Aw sakit bu." Aneska meringis.


"Jangan cengeng." Ibu Desi tetap melakukan itu sampai tiga puluh menit.


Abian tersenyum, dia salut dengan kegigihan mertuanya untuk menyembuhkan anaknya terutama untuk menjaga keutuhan rumah tangga anaknya.


"Menantu, cari lagi lidah buaya di taman." Titah ibu Desi. Abian langsung menuju taman mencari pohon lidah buaya seperti permintaan mertuanya.


Wanita paruh baya itu memijat badan anaknya. Mereka mulai mengobrol lagi.


"Anes, bagaimana kado untuk Abian? apa kamu sudah menyelesaikannya?" tanya ibunya.


"Sudah dong bu, Anes harap Abian suka dengan kado itu."


Ibu Desi memijat bagian perut anaknya. Dia diam sesaat.


"Kenapa bu?" tanya Aneska bingung.


"Tidak ada." Ibu Desi keluar dari kamar anaknya dan menghampiri anak bungsunya. Dia membisikkan sesuatu ke telinga Cyra. Cyra mengikuti perintah ibunya. Setelah itu ibu Desi kembali ke kamar Aneska.


Abian sudah berada di dalam kamar itu.


"Ibu, aku banyak kerjaan. Titip Aneska ya."


"Aman menantu." Sahut ibu mertuanya.


Di dalam kamar tinggal Aneska bersama ibunya.


"Anes, kapan terakhir kamu mens?" tanya ibunya.


Aneska mencoba mengingat tanggal terakhir dia mens.


"Lupa bu, memangnya kenapa?" tanya Aneska bingung.

__ADS_1


"Menurut ibu kamu hamil." Ujar ibunya pelan.


"Idih ibu, memangnya ibu tespek." Ejek Aneska.


"Anes, ibu biasa memijat terutama bagian perut. Dan menurut ibu perut kamu sedang berisi." Jelas ibunya.


"Iya berisi nasi." Sahut Aneska.


"Baiklah kita tunggu sampai Cyra datang." Ucap ibunya yang tetap memijat.


"Cyra? kenapa dengan Cyra. Apa dia sedang beralih jadi dukun beranak." Gurau Aneska.


Ibu Desi menggelengkan kepalanya. Tingkah anaknya memang sangat mirip dengannya.


Wanita paruh baya itu masih menunggu anak bungsunya di kamar Aneska.


Setelah hampir empat puluh lima Cyra datang dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Ini bu." Cyra menyerahkan ke ibunya.


Ibu Desi meletakkan bungkus plastik itu ke depan anaknya.


"Apa ini bu?" tanya Aneska melihat isi plastik itu.


"Tespek!" Aneska bingung.


"Cepat, ibu mau tau hasilnya." Aneska beranjak ke kamar mandi. Dia melakukan tes tersebut dengan air urinnya.


Dia menunggu hasilnya. Aneska keluar dari dalam kamar mandi. Dia melihat ibunya sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Bagaimana?" tanya ibunya.


Aneska menunjukkan tespek itu ke ibunya.


Ibu Desi langsung membelalakkan matanya.


"Kamu hamil Anes." Ibunya langsung memeluk anaknya.


"Iya bu, Aneska hamil." Dia langsung menangis di dalam pelukan ibunya. Rasa haru di rasakan keduanya.


"Ibu akan mengatakan ke Abian." Tapi tangan ibu Desi di tahan anaknya.


"Kenapa Nes? ini kabar bahagia. Pasti Abian senang jika tau kamu hamil."


"Aku ingin memberikan kejutan untuknya."


Ibu Desi mengerti dengan rencana anaknya.


"Ini kado ulang tahun yang sangat spesial. Abian pasti senang." Ucap Aneska membayangkan reaksi suaminya.


"Iya nak, selamat ya. Besok kamu harus periksa ke dokter kandungan."


"Pasti Abian akan curiga bu."


"Tenang sayang, ibu kan ada. Ibu yang akan mengantarkan kamu."


Aneska kembali memeluk ibunya. Rasa bahagia di rasakan keduanya. Mereka tidak sabar mendengar kabar tentang kondisi kandungannya dari dokter. Dan tidak sabar melihat reaksi Abian.


Bersambung...


Memenuhi janji untuk kalian 😍

__ADS_1


__ADS_2