
Ila masih berada di halte, dia merasa ada yang tidak beres dengan rumah tangga kakaknya.
"Apa aku tanya aja ke kak Abian? tapi kalau kak Abian marah bagaimana." Gumam Ila ragu.
Dia kembali ke istana bersama supirnya. Di dalam perjalanan pulang Ila merasa resah. Sesampai di istana gadis belia itu langsung menghubungi Abian.
Panggilan terhubung.
"Semoga kak Abian tidak marah." Ila bergumam dan berjalan menuju kamarnya.
"Halo." Sahut Abian.
"Kakak sibuk?" tanya Ila.
"Ila kakak sedang banyak masalah nanti saja bicaranya." Abian ingin menutup panggilannya tapi suara Ila menahannya untuk menutup panggilan itu.
"Aku lihat kak Aneska di taksi." Teriak Ila.
"Apa? di mana kamu melihatnya?" Abian memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Aku tadi mengantar Cyra ke halte, kata Cyra ibunya mau menjemputnya di halte tapi yang aku heran kenapa ada kak Aneska." Jelas Ila.
Abian sudah menduga jika keluarga istrinya langsung pulang ke kampung.
"Kakak maaf, aku tidak mau ikut campur. Apa kakak dan kak Aneska baik-baik saja?" tanya Ila pelan. Dia khawatir kakaknya akan memarahinya.
"Iya, kakak dan kakak ipar sedang bertengkar. Sekarang kakak bingung mau mencari ke mana. Kakak belum pernah ke rumahnya." Gerutu Abian menyesali perbuatannya.
Ila mencoba memikirkan sesuatu tentang alamat Cyra.
"Sepertinya aku tau alamatnya. Dulu kakak pernah mengirimkan piano untuk Cyra. Apa kakak ingat?" tanya Cyra mencoba mengingatkan kakaknya.
"Oh iya, kakak ingat." Abian menutup panggilannya secara sepihak. Dia melihat pesan yang pernah di kirimkan adiknya. Pesan yang sudah lama.
"Ini dia." Ujar Abian senang dan langsung melajukan mobilnya menuju kampung istrinya. Kampung itu berada sangat jauh dan butuh waktu berjam-jam untuk sampai di sana.
***
Setelah makan siang di restoran jepang. Zidan membawa Tiara ke mall.
"Bapak mau belanja?" tanya Tiara yang berjalan beriringan tapi perawat itu menjaga jaraknya.
"Bukan saya yang berbelanja tapi kamu." Sahut Zidan.
"Hah saya? mall bukan tempat saya untuk berbelanja, gaji saya tidak akan cukup berbelanja di sini." Jelas Tiara.
Zidan tidak menjawab. Dia mendekati perawat, sekarang jarak mereka cukup dekat, tapi Tiara menjauh lagi.
"Tiara kenapa kamu selalu menjauh?" tanya Zidan bingung.
"Saya malu jalan dengan bapak." Sahut Tiara jujur.
"Malu?" Zidan berhenti dan menahan tangan Tiara. Agar wanita itu menjelaskan maksud ucapannya.
__ADS_1
"Jelaskan kepada saya kenapa kamu malu?" tanya Zidan bingung.
"Penampilan bapak seperti mafia." Ujar Tiara jujur.
"Mafia?"
"Iya mafia. Mafia selalu berpakaian seperti bapak.” Jelas Tiara.
Jangan-jangan tidur juga di pakainya.
Tiara bergumam dalam hatinya.
"Apa saya harus ganti baju dulu?"
"Enggak usah, pakai aja itu kalau memang pakaian itu nyaman untuk bapak."
Tiara jalan lebih dulu tapi tangannya langsung di genggam Zidan.
"Kenapa bapak memegang tangan saya? bapak belum minta izin sama saya."
"Sudah terlanjur." Dia tetap memegang tangan Tiara dan membawanya ke toko pakaian.
"Pilih pakaian yang kamu mau."
"Untuk apa? kan sudah saya bilang kalau di sini bukan tempat saya berbelanja." Ujar Tiara bingung.
"Saya akan membayar semuanya." Zidan meninggalkan Tiara. Perawat itu mulai memikirkan tentang rencana Zidan.
"Pasti dia ingin membeliku dengan pakaian-pakaian ini. Pikirnya aku bisa di belinya, tidak semudah itu pulgoso.” Tiara tidak membeli ataupun memilih pakaian untuknya, melihat harganya saja dia sudah ngeri.
“Ya ampun ganteng banget.” Gumam Tiara.
“Idih kenapa aku mengaguminya.” Tiara memukul mulutnya sendiri.
“Apa kamu sudah menemukan pakaian yang cocok?” tanya Zidan.
“Semua pakaian di sini tidak ada yang cocok buat saya.” Ujar Tiara berbohong.
“Apa kamu yakin? Toko ini mempunyai kualitas yang sangat bagus.”
“Mungkin bagus menurut bapak tapi menurut saya tidak.” Tiara berjalan keluar dari toko meninggalkan Zidan yang masih harus melakukan pembayaran di meja kasir.
Di luar toko Zidan kembali memegang tangan Tiara.
“Apa yang bapak lakukan.” Tiara menepis tangan Zidan.
“Jangan protes.” Zidan memegang kembali tangan Tiara dan membawa perawat itu menuju toko tas.
“Pak ini toko tas wanita.” Ujar Tiara bingung.
“Iya saya tau, kamu kan wanita.” Zidan menarik tangan Tiara untuk masuk ke dalam toko tas tersebut.
“Jangan bilang kalau kamu tidak cocok atau tidak suka dengan tas ini, semua wanita menyukai tas. Kalau kamu tidak menyukai tas bisa di ragukan jenis kelamin kamu.” Ujar Zidan.
__ADS_1
“Apa!” Tiara merasa sedang di jebak Zidan.
“Saya memang suka tas tapi bukan tas seperti ini.” Tolak Tiara.
“Oh ya, tas seperti apa tas yang kamu suka? Apa seperti itu?” Tanya Zidan seraya menunjuk tas yang ada di tangan Tiara.
“Bukan tas ini tapi tas kresek.” Tiara langsung keluar dari toko dan lagi-lagi Zidan menarik tangannya.
“Ayolah saya hanya ingin membelikan kamu tas tidak ada maksud lain.” Jelas Zidan.
“Bohong! Bapak ingin memperalat saya dengan tas-tas branded ini iya kan!” seru Tiara.
Zidan menggelengkan kepalanya.
“Apa harga diri kamu seharga tas?” Tanya Zidan.
“Apa!” Tiara mulai marah.
“Saya bukan mau membeli kamu dan menurut saya, kamu lebih mahal dari tas ini. Saya tidak bermaksud merendahkan harga diri kamu sebagai wanita tapi saya hanya ingin memberikan tas ini sebagai kado.” Jelas Zidan.
“Kado apa maksud bapak? Saya sedang tidak berulang tahun.” Ujar Tiara.
“Kado karena kamu mau menemani saya.” Jelas Zidan lagi.
Tiara memandang wajah pria di depannya untuk memastikan jika yang di ucapkan pria itu benar. Walaupun tidak di pungkiri sebagai seorang wanita, matanya batinnya selalu meleleh ketika melihat tas branded.
"Pilih salah satu tas yang kamu mau, jangan anggap apapun anggap ini kado ingat kado." Zidan mengulang ucapannya.
"Iya-iya." Tiara mulai mengelilingi toko itu. Dimana berbagai merek terkenal di pajang di atas rak kaca.
Melihat harganya yang selangit membuat Tiara ngeri untuk membeli tas itu.
"Pak harganya seharga satu motor." Bisik Tiara.
"Ya udah kamu cari yang seharga mobil." Ucap Zidan dengan menggerakkan kepalanya.
Tiara langsung membelalakkan matanya, dia tidak percaya dengan omongan Zidan. Tapi ekspresi pria itu cukup serius.
"Kalau seharga baby walker ada tidak?" tanya Tiara berbisik.
"Baby walker? apa itu?" Zidan tidak mengerti dengan istilah itu karena dia belum mempunyai bayi, jadi dia heran dan bingung dengan ucapan Tiara.
"Ah lupakan." Tiara mengelilingi toko dengan di dampingi Zidan dan tentu tetap di awasi para penjaga toko.
Tiara melihat satu tas yang menurutnya sangat cocok untuknya.
"Mbak saya mau yang itu." Ujar Tiara seraya menunjuk salah satu tas.
"Yang ini?" tanya penjaga toko.
"Iya." Tiara menganggukkan kepalnya.
"Koper? pilihan kamu jatuh ke koper kecil itu." Zidan bingung.
__ADS_1
"Iya, harga semahal ini kalau hanya mendapatkan tas kecil rugi banget mending saya pilih koper sesuai dengan harganya." Jelas Tiara.
Bersambung…