Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 125


__ADS_3

Farid terus bersembunyi di tempat yang paling aman, dia menyewa sebuah kamar kecil untuk tempat tinggalnya.


"Aku harus menjual semua perhiasan Tanisa, tidak mungkin aku tinggal di tempat kumuh ini." Gumam Farid seraya melihat perhiasan istrinya.


"Pasti perhiasan ini bernilai tinggi." Gumam Farid seraya melihat perhiasan istrinya.


Sebelum keluar dari kamar sewanya, dia merubah penampilannya, Farid memakai jaket dan topi tidak lupa dia memakai kacamata hitam.


Berjalan dengan menyusuri trotoar, dia sengaja tidak menggunakan mobilnya. Karena dia yakin mobilnya sudah di lacak pihak kepolisian.


Farid tau harus menjual kemana perhiasan itu, dia memasuki toko berlian. Seorang pria yang bekerja di toko itu menyapanya.


"Selamat pagi pak." Sapa pria itu.


"Hemm pagi." Sahut Farid jutek.


"Ada yang bisa di bantu?" tanya pria itu lagi. Farid mengeluarkan perhiasan yang ada di dalam tas ranselnya.


"Berapa harga semuanya?" tanya Farid langsung..


Pria tersebut mengerutkan dahinya seraya melirik Farid.


"Bisa saya lihat sertifikatnya?" tanya pria itu lagi.


"Tidak ada sertifikatnya, kemarin rumah saya terbakar jadi tidak sempat mengambilnya." Ucap Farid bohong.


"Sebentar kami cek dulu." Pria itu di bantu temannya mengecek keaslian berlian itu. Dia sedikit curiga dengan gelagat Farid yang terus melihat ke arah luar toko.


"Cepat." Ucap Farid.


Pria itu mempercepat kerjanya dengan mengecek semuanya.


"Pak berlian ini bernilai sangat tinggi tapi karena tidak ada sertifikatnya harganya hanya bisa di hargai dua puluh lima persen dari harga aslinya." Jelas pria yang bekerja sebagai penjaga toko.


"Apa! dua puluh lima persen!" Farid sontak kaget perhiasan istrinya sangat rendah dari harga seharusnya. Karena membutuhkan uang akhirnya dia setuju dengan harga yang di tawarkan pihak toko berlian.


"Ya sudah cepat hitung dan aku butuh uang cash." Ucap Farid.


Pihak toko mulai menghitung berapa yang harus di bayarkan mereka seraya menjelaskan semuanya.


***


Zidan sudah tiba di rumah sakit. Dia terus mencari keberadaan Tiara. Karena tidak melihat keberadaan perawat itu akhirnya dia menuju kamar Tanisa.


Di dalam kamar perawatan itu ada Abian dan nyonya Rona. Dia kembali keluar dari kamar perawatan itu, menurutnya itu adalah waktu kebersamaan keluarga Bassam.


"Abian..." Ucap Tanisa pelan. Abian hanya menatap wajah kakaknya.


"Terima kasih." Ucap Tanisa pelan.

__ADS_1


Abian menganggukkan kepalanya. Dan dia langsung melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangan itu.


"Abian tunggu." Ucap Tanisa lagi.


Abian menolehkan kepalanya ke arah Tanisa. Nyonya Rona yang ada di dalam ruangan itu sangat mendambakan momen seperti itu. Dimana tidak ada pertengkaran di antara keduanya.


"Apa?" tanya Abian.


"Apa aku boleh bercerai dengan Farid?" tanya Tanisa dengan mata berkaca-kaca membayangkan penyiksaan yang di dapatkannya.


"Aku akan mengurus perceraian kamu dengan pria bejat itu. Aku akan mendukungmu." Ucap Abian tegas seraya keluar dari ruangan itu. Di depan ruangan itu, dia melihat Zidan sedang bersandar di dinding.


"Zidan?"


"Iya tuan." Zidan langsung merubah posisinya menjadi berdiri tegak.


"Hari ini libur, kenapa kamu di sini?" tanya Abian.


"Saya hanya ingin melihat keadaan nona Tanisa, mungkin nyonya Rona membutuhkan saya di sini." Jelas Zidan.


Abian menganggukkan kepalanya seraya masuk ke kamar perawatan istrinya. Dia mendengar oma sedang menceritakan kejadian kemarin di istana Bassam.


Aneska menunjukkan ekspresi takut, membayangkan pisau di leher bu Tatik dan membayangkan tamparan yang di dapatkan oma.


"Oma jangan menakuti istriku." Abian langsung duduk di sebelah istrinya di atas tempat tidur.


"Oma bukan menakuti, oma hanya cerita kekejaman Farid, belum lagi Tanisa habis babak belur di siksa hantu itu." Ucap oma marah.


"Abian." Ucap Aneska pelan.


"Iya sayang." Sahut Abian.


"Kalau seandainya Farid dapat di temukan, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Aneska seraya menatap bola mata suaminya.


"Aku akan membunuhnya." Sahut Abian lantang.


Oma dan Aneska saling tatap, menurut mereka ucapan Abian bukan gertakan belaka. Mengingat kejadian di mana Farid hampir di bacok parang sama Abian.


"Abian jangan, aku tidak mau kamu jadi pembunuh." Aneska langsung memeluk suaminya.


"Pria seperti dia akan terus seperti itu, kalau tidak di bunuh aku tidak akan tenang." Ucap Abian lagi.


"Abian negara kita negara hukum, biarkan pengadilan yang menghukumnya." Jelas Aneska.


"Yang di katakan Aneska benar, biarkan dia mendapatkan hukumannya." Timpal oma.


"Tapi kalau di penjara dia tidak akan merasakan sakit yang di rasakan istriku dan Tanisa." Ucap Abian dengan penuh emosi.


Aneska dan oma hanya diam, mereka tidak ingin membicarakan masalah itu lagi.

__ADS_1


Zidan masih berdiri di lorong rumah sakit tepatnya di depan ruang perawatan Aneska dan Tanisa. Dia melihat beberapa perawat tapi tidak ada tanda-tanda Tiara.


Seketika itu lewat seorang perawat laki-laki yang kebetulan akan masuk ke dalam ruang perawatan Aneska dan Tanisa.


"Permisi." Ucap Zidan pelan.


"Iya." Jawab perawat yang bernama Aldo.


"Tiara ada?" tanya Zidan.


"Tiara masuk malam pak, jam sembilan nanti malam dia masuk." Sahut Aldo.


"Terima kasih." Ucap Zidan.


Aldo masuk ke dalam ruang perawatan Tanisa dan memberikan obat minum untuk pasiennya. Di dalam ruangan itu dia merasa mengenali wajah pria yang menanyakan tentang temannya.


Setelah memberikan obat ke Tanisa, Aldo masuk ke ruangan perawatan Aneska. Dia kaget melihat temannya ada di atas tempat tidur rumah sakit.


"Aneska!" Aldo langsung mendekati temannya dan menyalami tangan temannya. Abian yang duduk di sofa melihat hal itu. Dia langsung berdiri dari sofa dan memindahkan tangan Aldo dari tangan istrinya.


"Maaf anda siapa?" tanya Aldo seraya melirik Aneska.


Aneska tersenyum ke arah Aldo, dan temannya langsung mengerti.


"Pasti anda suami Aneska." Aldo langsung menyalami Abian. Dia merasa bangga dapat berkenalan dengan pemilik istana itu.


"Aldo cukup." Aneska mengingatkan temannya untuk tidak menyalami suaminya. Karena Aldo terus menggerakkan tangannya ketika bersalaman dengan Abian.


"Maaf tuan." Aldo mengambil obat yang harus di minum temannya.


"Ini obat kamu, cepat habiskan." Ucap Aldo tegas.


"Galak amat." Ucap Aneska seraya menerima obat dari Aldo.


"Hahaha, kamu itu susah minum obat, jadi harus galak." Ucap Aldo seraya memperhatikan luka lecet di tangan dan lengan temannya.


"Kamu kenapa? kalau aku perhatikan pasti kamu lagi belajar bawa motor terus nyungsep di aspal, benar kan?" tanya Aldo.


"Salah." Timpal oma yang duduk di sofa.


Aldo melihat ke arah wanita sepuh itu.


"Anes itu siapa?" tanya Aldo.


"Itu..." Aneska belum menyelesaikan kalimatnya. Karena Aldo langsung memotong ucapannya.


"Mertua kamu tua banget." Ucapan Aldo dapat di dengar oma.


"Kurang ajar, saya bukan mertua Aneska tau!" Oma berbicara dengan menekan intonasinya.

__ADS_1


"Hahahah." Aneska dan Abian tertawa melihat ekpresi oma dan Aldo.


Bersambung...


__ADS_2