Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 40


__ADS_3

"Anes ibu besok pulang ya." Ucap ibunya sambil memijat anaknya.


"Ibu jangan pulang, kalau ibu pulang siapa yang jaga Anes." Rengek Aneska.


"Kan ada suami kamu, oh iya nenek sihir itu jangan biarkan semena-mena terhadap kamu, kalau perlu lawan sampai darah penghabisan." Ucap ibunya memberikan semangat untuk anak sulungnya.


"Idih ibu seperti mau perang saja." Ucap Aneska.


"Memang perang nak, keluarga suami kamu tidak suka dengan kamu, pasti mereka merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan kamu." Bisik ibunya.


"Kalau Aneska di singkirkan, ya Anes pergi saja bu." Ucap Anes.


Prok, ibunya langsung memukul lengan anaknya.


"Jadi orang itu jangan lembek, lawan Nes lawan, kamu harus kuat, jangan lemah ibu tidak suka keluarga dan anak ibu di tindas." Ucap ibunya sambil terus memijat anaknya. Saking enaknya Aneska tertidur.


"Kebiasaan kalau di pijat pasti tidur." Gumam ibunya sambil mencari keberadaan menantunya.


"Ternyata menantu di sini, ibu keluar dulu, Aneska udah ibu pijat." Ucap ibunya. Abian melihat tubuh istrinya yang hanya memakai selimut.


"Aneska tidak di bangunin bu." Ucap Abian.


"Enggak usah biarkan dia tidur." Ucap ibunya.


"Tapi Aneska belum pakai baju bu." Ucap Abian lagi.


"Kalau di pijat memang enggak pakai baju, gitu aja enggak tau." Ceplos ibunya lagi sambil keluar dari kamar Aneska.


Abian memperhatikan wajah istrinya yang tertidur pulas, dia mendekati istrinya dan duduk di pinggir kasur. Melihat wajah istrinya yang tertidur.


"Kamu cantik sekali." Ucap Abian sambil mengelus pipi Aneska. Aneska membuka matanya, dia kaget melihat Abian sudah berada di sampingnya.


"Kamu mau ngapain." Ucap Aneska panik sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dia melihat sekeliling kamar mencari keberadaan ibunya.


"Ibu mana?" Ucap Aneska panik.


"Ibu sudah keluar." Ucap Abian.


"Idih ibu, bukannya di bangunin di suruh pakai baju malah di tinggalin seperti ini." Gerutu Aneska.


"Mungkin ibu ingin kita melakukannya sekarang." Ucap Abian genit.


"Enak saja." Aneska mendorong tubuh Abian sampai terlentang tapi suaminya langsung menarik tangan istrinya sekarang posisi Aneska ada di badan suaminya dengan posisi dadanya di atas badan Abian.


"Waduh kenapa seperti ini." Ucap Aneska berusaha bangun sambil mencari selimut dengan tangannya.


"Kamu pengen ya." Ucap Abian sambil memeluk tubuh Aneska yang tidak tertutup selimut sama sekali.


"Lepaskan tanganmu dari badanku." Ucap Aneska ketus.


"Ok aku lepas." Abian melepaskan tangannya dari punggung istrinya.


"Ambilkan selimut." Ucap Aneska masih tetap di atas tubuh suaminya.


"Bagaimana aku mau mengambil selimut, kamu saja di badanku." Ucap Abian.


"Terus bagaimana? kalau aku bergerak nanti kamu lihat gunungku." Ucap Aneska jujur.


"Ya udah aku tutup hidung." Ucap Abian.


"Tutup mata bukan tutup hidung." Jawab Aneska ketus.

__ADS_1


"Aku maunya tutup hidung." Ucap Abian sambil menikmati gunung istrinya.


"Cepat dong, posisi seperti ini capek tau." Ucap Aneska sambil merasakan sesuatu yang mengeras.


"Aw, harta pusaka kamu sudah menjadi batu." Ucap Aneska panik.


Dia bingung bagaimana cara bangun agar dadanya tidak terlihat.


"Tutup mata ya, nanti aku kasih kiss deh." Rayu Aneska.


"Bener ya." Ucap Abian.


"Hooh." Aneska menganggukkan kepalanya. Abian menutup matanya. Aneska bukan bangun tapi dia menuruni badan suaminya. Ketika sampai di dekat harta pusaka, Aneska lupa dia langsung bangun tanpa menutup dadanya.


Sontak Abian langsung melotot.


"Busyet gue ngeces Nes." Ucap Abian spontan.


"Aaaaa." Aneska teriak sambil menarik bantal untuk menutupi dadanya dia tidak memperdulikan lagi bokong dan punggungnya yang sudah terlihat. Menurutnya lebih baik kabur dari pada di terkam singa. Aneska mengambil pakaiannya di ruang ganti dan membawa ke kamar mandi.


"Ya ampun kenapa oon banget sih gue." Aneska mengupat dirinya sendiri.


"Aduh dia sudah melihat semuanya. Kenapa juga aku kabur enggak pakai selimut, aku kesannya seperti pemain film baywatch." Gerutu Aneska.


Di luar kamar Abian sudah bingung, harta pusakanya sudah mengeras dia tidak tau harus menyalurkan kemana.


Abian mengetuk pintu kamar mandi. Tok tok tok


"Waduh mau ngapain lagi dia." Gumam Aneska.


"Aneska buka pintu, aku udah kebelet." Teriak Abian dari depan pintu kamar mandi.


"Sampai segitunya kalau kebelet." Gumam Aneska sambil keluar kamar.


Di tempat yang lain khususnya di kamar nyonya Rona. Wanita paruh baya itu sedang berkumpul dengan anak sulung dan menantunya.


Mereka sedang merencanakan sesuatu.


"Farid bagaimana rencana kamu, apa sudah ada?" Ucap nyonya Rona.


"Rencana yang mana mam?" Ucap Farid lupa.


"Aduh kamu itu bagaimana sih! kamu bilang mau menghadirkan seorang wanita di kehidupan Abian." Ucap mertuanya mengingatkan.


"Oh rencana itu, mami tenang saja aku pasti akan membawa seorang wanita ke dalam rumah tangga Abian." Ucap Farid licik.


"Ingat! jangan sampai wanita itu jatuh cinta sama Abian atau sebaliknya."


"Tenang saja mam, tapi aku butuh bantuan mami." Ucap Farid sambil tersenyum licik.


"Apa?"


"Izinkan wanita itu untuk menetap di sini." Ucap Farid.


"Untuk sementara kan?" Ucap mertuanya lagi.


"Iya sementara." Ucap Farid.


"Kenapa harus menetap di sini walaupun itu sementara." Timpal Tanisa.


"Wanita itu harus sering bertemu dengan Abian, kalau jarang bertemu bagaimana dia mendekati Abian." Jelas Farid.

__ADS_1


"Ok, mami setuju, kapan kamu akan membawa wanita itu." Tanya nyonya Rona.


"Segera." Jawab Farid singkat.


"Tunggu siapa wanita yang akan kamu bawa ke sini." Selidik Tanisa.


"Hemmm dia sepupuku." Jawab Farid bohong.


"Sepupu bagaimana?" Tanya Tanisa lagi.


"Hemmm, orang tua kami kakak beradik." Ucap Farid bohong.


"Bukannya kedua orang tua kamu anak tunggal." Timpal nyonya Rona.


"Hemmm saudara tiri." Ucap Farid gugup. Nyonya Rona menganggukkan kepala tapi Tanisa menaruh curiga dengan suaminya.


Aneska mencari keberadaan orang tuanya. Dia tidak menemukan kedua orang tuanya di kamar. Ada suara seseorang main piano, dia ingat siapa yang suka memainkan alat musik itu.


Dia menyusuri lorong dan berhenti pada salah satu ruangan khusus yaitu ruangan tempat Ila memainkan alat musiknya. Aneska mengetuk pintu tok tok tok pintu di buka.


"Kakak ipar." Ucap Ila. Aneska bingung yang membuka Ila tapi suara piano masih terdengar di mainkan oleh seseorang.


"Loh kamu? siapa yang memainkan piano itu." Tanya Aneska penasaran.


Ila tidak menjawab, dia membuka lebar pintu dan melihat adiknya Cyra sedang memainkan piano.


"Cyra." Ucap Aneska kagum.


"Sejak kapan kamu bisa main piano." Tanya Aneska sambil menghampiri adiknya.


"Sudah lama kak, cuma aku tidak memberitahukan sama kakak dan ibu." Ucap Cyra.


"Kenapa? bukannya itu suatu prestasi." Ucap Aneska lagi.


"Aku takut mau memberitahukan sama ibu dan bapak, karena kata orang harga piano mahal. Jadi aku hanya memainkan di rumah teman saja." Ucap Cyra.


"Oh adik kakak yang imut, kakak janji kalau uang kakak sudah terkumpul akan kakak belikan untuk kamu."


"Kenapa harus menunggu mengumpulkan uang, kakak minta saja sama kak Abian pasti langsung di belikan." Timpal Ila.


"Hahaha, kakak? kamu memanggil aku kakak?" Ucap Aneska lucu.


"Iya, kamu sekarang sudah menjadi kakak ipar aku, jadi tidak sopan kalau memanggil dengan sebutan nama, lagian umur kakak lebih tua tiga tahun dari aku." Jelas Ila.


"Tau dari mana kamu tentang usiaku." Tanya Aneska.


"Dari itu." Ila menunjuk ke arah Cyra.


"Oke terserah kamu mau panggil kakak atau nama." Ucap Aneska.


"Kak soal piano jangan lupa tanyakan sama kak Abian pasti dalam sekejap di belikan, percaya deh." Ucap Ila lagi.


"Hahaha, maaf Ila, kakak tidak suka minta walaupun kakak kamu sudah menjadi suami tapi untuk keperluan keluarga kami, Abian tidak boleh terlibat." Jelas Aneska.


Ila menganggukkan kepalanya. Aneska teringat sesuatu tentang niatnya mencari keberadaan orang tuanya.


"Ibu sama bapak mana." Tanya Aneska.


"Bapak dan ibu sepertinya ke taman." Ucap Cyra. Aneska keluar dari ruangan itu dan mencari keberadaan orang tuanya. Ketika hendak pergi dia berpapasan dengan Zidan. Pria itu kembali memutar badan dan mengikuti langkah Aneska.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2