
Pagi hari sang surya sudah muncul ke peraduannya. Aneska bergegas menuju ruang makan, karena dia datang sudah sedikit terlambat. Dia duduk di dekat mbak Tami. Bu Tatik yang berada tidak jauh dari situ memperhatikan mereka.
Pekerja yang berada di ruang makan memperhatikan wajah bu Tatik yang lebam. Tapi mereka semua tidak berani bertanya.
Mbak Tami melirik Aneska dengan arti kalau temannya itu penasaran dengan wajah bu Tatik. Aneska hanya membalas dengan lirikan dan senyuman.
Lonceng berbunyi, semua pekerja kembali bekerja tapi sebelumnya, mereka harus meletakkan piring kotor di dapur.
"Ayo." Ucap bu Tatik ketus.
Aneska mengikuti wanita paruh baya itu dari belakang. Bu Tatik membalikkan badannya.
"Bukan kamu tapi si Tami." Ucap bu Tatik ketus.
"Jangan dia, aku saja." Ucap Aneska.
"Siapa yang beri perintah kamu atau aku." Ucap bu Tatik lagi.
"Jelas ibulah, tapi aku yang akan menggantikan Tami. Kenapa ibu ngebet sekali menggantikan aku dengan Tami? ibu takut aku tarik lagi ya?" Ucap Aneska sambil tersenyum lucu.
"Kamu." Bu Tatik menuding Aneska dengan jarinya.
"Jangan arahkan jari telunjukmu ke wajahku. Walaupun kamu lebih tua, aku tidak segan-segan memperlintir tanganmu." Ucap Aneska ketus.
Aneska jalan lebih dulu, dia melewati bu Tatik. Wanita paruh baya itu geram dengan sifat pembangkang Aneska.
Ketika sampai di depan kamar Abian. Ibu Tatik langsung mundur beberapa langkah, dia takut peristiwa kemaren terjadi lagi, jadi wanita paruh baya itu lebih memilih untuk menghindar.
Pintu di buka, Aneska masuk ke dalam kamar itu dengan perasaan takut dan cemas. Pintu kamar langsung di kunci dari luar.
Abian berjalan mendekati Aneska, dia ingin memukul perawat itu. Aneska belum sempat memeluk Abian karena tangan pria itu sudah menjambak rambutnya.
Abian mencium aroma rambut dan tubuh dari Aneska. Dia teringat akan aroma tubuh sosok wanita yang memeluknya kemaren.
Abian melepaskan tangannya dari rambut perawat itu. Dan menarik tangan wanita itu menuju lemari. Aneska bisa menebak kalau itu sebuah lemari. Tapi dia tidak tau ada apa di dalam lemari itu.
Abian membuka lemari dan mengambil sebuah buku dan menyerahkan kepada Aneska. Gadis itu menerimanya tapi dia bingung untuk apa buku itu di berikan kepadanya.
Di ruang yang berbeda, nyonya Rona dan Zidan memperhatikan dari monitor. Mereka memantau dari depan monitor.
Abian membawa Aneska ke sebuah kursi. Pria itu duduk di kursi. Dan langsung menarik Aneska untuk duduk di pangkuannya.
Waduh, kenapa aku harus duduk di atas pangkuannya.
Aneska hanya bisa diam, dia memilih untuk tidak bergerak ataupun membantah.
"Bacakan aku sebuah cerita." Ucap Abian pelan.
Aneska langsung menolehkan kepalanya ke arah pria itu. Ini pertama kalinya dia mendengar suara Abian.
"Yang mana." Ucap Aneska memberanikan diri untuk berbicara.
__ADS_1
"Terserah." Ucap Abian pelan sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
Dia merespon ucapanku. Dia bukan seperti orang gila. Kalau orang gila tidak mungkin merespon.
"Cepat." Ucap Abian dengan suara yang cukup nyaring sehingga membuyarkan lamunan Aneska.
"Iya." Ucap Aneska gugup. Ketika di bukanya buku itu, gadis itu mengerutkan dahinya. Abian minta di bacakan sebuah cerita untuk pengantar tidur.
Tanpa pikir panjang dia membacakan sebuah cerita kancil dan buaya. Hanya dalam beberapa menit Abian langsung tidur. Aneska mencoba melirik dan melihat wajah Abian dari dekat.
Wajah Abian di penuhi dengan brewok dan rambut yang panjang sampai sebahu.
"Pasti kalau di cukur ganteng. Brewokan aja ganteng." Gumam Aneska pelan. Dia mencoba beranjak dari pangkuan Abian.
Gadis itu menyusuri kamar Abian. Karena ruangan dalam keadaan gelap, Aneska mencoba menghidupkan lampu. Tapi Abian langsung bangun. Dia menangkap Aneska dan mencekik leher perawat itu.
Perawat itu memukul lengan Abian. Pria itu mendekatkan kepalanya ke rambut dan tubuh Aneska. Karena keadaan ruangan gelap, dia hanya mengenali perawat itu dari aroma tubuhnya.
Abian melepaskan cengkeramannya dari leher Aneksa.
"Uhuk-uhuk." Aneska terbatuk.
"Kenapa kamu mencekikku." Tanya Aneska dengan suara yang berat karena baru terbatuk.
Abian tidak menjawab, dia memilih duduk di kursi yang tadi.
"Aku Aneska." Ucap Aneska pelan.
Abian tidak menjawab. Dia hanya menutup matanya.
"Aku mohon kerjasamanya darimu. Aku ingin menyelesaikan tugas-tugasku dengan segera. Agar aku bisa secepatnya bertemu dan berkumpul dengan keluargaku." Ucap Aneska.
Abian tidak menjawab, dia berjalan dan menghidupkan semua lampu kamar. Nyonya Rona dan Zidan yang melihat itu merasa takjub dengan keberhasilan Aneska.
"Mandikan aku." Ucap Abian.
"Apa! mandikan? hello kita belum menikah. Mana mungkin aku memandikanmu." Ucap Aneska.
Abian mendekati Aneksa dan menarik tangan gadis itu menuju kamar mandi. Nyonya Rona dan Zidan tidak bisa melihat karena di area kamar mandi tidak ada kamera.
"Apa yang di lakukan mereka di kamar mandi." Ucap nyonya Rona panik.
Zidan tidak menjawab, dia juga tidak bisa menebak ataupun menerka-nerka.
Tanpa malu Abian membuka pakaiannya. Hanya menyisakan celana dalamnya saja. Aneska yang melihat itu langsung menutup matanya. Matanya telah ternodai oleh kelakuan Abian.
Abian masuk ke dalam bathtub.
"Gosok punggungku." Perintah Abian.
Aneska jalan sambil menutup mata. Dia menabrak sesuatu.
__ADS_1
"Aw." Aneska meringis kesakitan.
"Pergunakan matamu dengan benar." Ucap Abian sambil melambaikan tangannya memanggil Aneska.
Dengan jalan tertatih perawat itu mendekati bathtubb.
Cepat selesaikan pekerjaanmu Anes. Anggap aja kamu lagi beruntung.
Aneska menggosok punggung Abian, dia menggosok cukup keras. Karena masih ingat di benaknya, bau badan Abian yang sangat menusuk hidungnya.
"Gosok yang ini." Ucap Abian sambil menunjukkan dadanya.
Aduh kenapa bagian depan juga, bisa-bisa mati terpesona aku.
Aneska menggosok dada Abian sambil menutup mata. Ini pertama kalinya dalam sejarah dia memandikan seorang pria.
Tiba-tiba nyonya Rona dan Zidan masuk ke dalam kamar Abian. Dan langsung menuju kamar mandi. Nyonya Rona kaget melihat anaknya sedang di mandikan Aneska.
"Kurang ajar kamu." Ucap nyonya Rona sambil menarik rambut Aneska.
"Aw." Ucap Aneska.
"Nyonya Jangan." Ucap Zidan mengingatkan majikannya.
"Lepaskan tangan mami dari rambutnya. Mami tidak berhak menyentuh atau menyakitinya. Dia sekarang milikku." Ucap Abian tegas.
Nyonya Rona kaget dengan ucapan anaknya, selama ini tidak pernah dia mendengar anaknya bicara seperti itu. Karena selama ini wanita paruh baya itu hanya mendengar teriakan dengan menyebut nama Vania. Tapi hari ini anaknya seperti sudah kembali.
"Sayang kamu sudah sembuh." Ucap nyonya Rona senang.
"Keluar kalian dari sini. Jangan ganggu kami." Ucap Abian tegas.
"Baik sayang." Ucap nyonya Rona sambil mengajak Zidan keluar dari kamar mandi.
Nyonya Rona tidak keluar dari kamar Abian dia masih menunggu di dekat ruang baca. Setelah selesai mandi. Abian menggandeng tangan perawat itu menuju ruang ganti. Di dalam ruangan itu ada lemari yang menjulang tinggi.
"Pilihkan aku satu baju." Ucap Abian.
Aneska mengikuti kemauan pria itu. Dia memilih pakaian kasual berwarna putih di padu padankan dengan celana berwarna coklat.
Tanpa ada rasa malu, Abian memakai pakaian di depan Aneska. Gadis itu buru-buru membalikkan badannya.
"Gila benar nih orang, sembarangan banget pakai bajunya. Untung aku tidak melihat barang antiknya." Gumam Aneska pelan.
"Sisirkan." Ucap Abian, perawat itu melakukan semua perintah pria itu. Setelah selesai dia kembali memegang tangan Aneska dan membawa gadis itu keluar dari ruang ganti menuju kamarnya.
Nyonya Rona memperhatikan tangan anaknya yang terus menggandeng tangan Aneska.
"Aku sudah sembuh dan semua karena gadis ini. Nikahkan kami besok." Ucap Abian.
"Apa!" Ketiganya mengucapkan kata itu bersamaan yaitu Aneska, Zidan dan nyonya Rona.
__ADS_1
Bersambung.
Ayo vote yang banyak biar masuk 10 besar.