
Dokter Arif pergi menemui nyonya Rona, dia sudah tau di mana dia bisa menemukan wanita paruh baya itu.
Dia masuk ke dalam ruang kerja nyonya Rona.
"Tante aku mau bicara." Ucap dokter Arif.
"Tante? aku tidak punya keponakan seperti kamu." Ucap nyonya Rona ketus.
Dokter Arif diam.
"Baik nyonya, aku mau bicara." Ucap dokter Arif pelan.
Nyonya Rona yang pada saat itu sedang membaca langsung meletakkan bukunya.
"Aku mau membawa perawatku." Ucap dokter Arif.
"Hahaha." Nyonya Rona tertawa.
"Atas dasar apa kamu mau membawanya, hah!" Nyonya Rona berbicara ketus.
"Memang aku tidak pantas untuk berbicara kepada nyonya, tapi aku tidak mau perawatku mengalami siksaan terus dari Abian."
"Dokter Arif, ingat kamu punya hutang Budi sama Almarhum suamiku. Kalau bukan karena suamiku kamu tidak akan jadi dokter seperti sekarang ini." Ucap nyonya Rona ketus.
POV Dokter Arif
Arif wicaksana namanya, pada saat masih kecil hidupnya selalu di habiskan di jalanan. Arif menjadi pengamen untuk menafkahi hidupnya.
Keberuntungan berpihak kepadanya, pada saat Arif mengamen di traffic light, ada sebuah mobil mewah yang mana pemiliknya memperhatikannya. Pemilik dari mobil itu memerintahkan supirnya untuk membawa Arif ke istananya.
Nyonya Rona menentang perbuatan suaminya membawa anak jalanan ke istananya. Tapi wanita paruh baya itu tidak punya kuasa, dengan berat hati nyonya Rona menerima kehadiran Arif di tengah-tengah keluarganya.
Arif seumuran dengan Abian, tak heran mereka menjadi teman dekat. Tuan Bassam sengaja membawa Arif ke istana karena kasihan dengan hidupnya, yang mana masih kecil harus mengais rezeki di jalanan.
Dengan adanya Arif di istana itu, Abian merasa senang, karena selama ini dia tumbuh sebagai anak yang selalu di kekang. Tidak pernah mengikuti sekolah di luar, hanya mendatangkan guru dari luar untuk mengajarkan mereka tentang semua ilmu.
Arif dan Abian menjadi sahabat dekat. Mereka tumbuh besar bersama. Rasa sayang tuan Bassam kepada Arif sama dengan rasa sayangnya kepada anak-anaknya. Walaupun dia seorang anak jalanan tidak ada pembedaan sama sekali. Sampai dia tumbuh besar dan menjadi seorang dokter semua karena kebaikan tuan Bassam.
"Iya nyonya, saya bisa seperti sekarang ini karena kebaikan keluarga Bassam. Tapi izinkan saya membawa perawat." Ucap dokter Arif.
"Saya akan izinkan tapi dengan satu syarat." Ucap nyonya Rona.
"Apa itu." Tanya dokter Arif.
"Kembalikan semua uang suami saya. Dari kamu kecil sampai jadi dokter." Ucap nyonya Rona ketus.
Dokter Arif diam, tidak mungkin dia membayar hutang Budi keluarga Bassam dengan sejumlah uang. Karena menurutnya hutang Budi tidak akan pernah bisa di bayar dengan apapun.
__ADS_1
"Maaf nyonya, saya akui kalau bukan karena keluarga ini pasti saya tidak jadi dokter. Dan jasa kalian tidak pernah bisa terbayarkan sedikitpun oleh saya." Ucap dokter Arif.
"Nah kamu tau kan! jadi jangan pernah bawa ataupun memaksa saya untuk mengizinkan membawa perawat itu. Sampai saya sendiri yang menendangnya dari istana ini." Ucap nyonya Rona ketus sambil menggerakkan tangannya mengusir dokter Arif dari ruang kerjanya.
Dokter Arif pergi meninggalkan ruangan itu, sebelum pulang dia menemui Aneska.
"Bagaimana dok? apa aku bisa keluar dari sini." Tanya Aneska.
"Maaf Anes, saya tidak bisa membawa kamu dari sini. Saya terlalu banyak berhutang Budi sama keluarga ini. Maafkan saya Aneska." Ucap dokter Arif dengan tatapan sedih.
Pria itu pergi meninggalkan Aneska. Dia tidak bisa menatap wajah Aneska yang penuh sedih dan kecewa akan perbuatannya.
Di dalam kamarnya Aneska terdiam, dia tidak tau harus berbuat apa. Dia teringat sesuatu tentang temannya Mbak Tami.
Aneska keluar dari kamarnya dan menemui Zidan di ruangannya. Dia ingin meminta izin untuk menemui mbak Tami.
Pintu ruangan monitor di ketuk. Seorang pria yang bekerja di ruangan itu membuka pintu.
"Aku mau bertemu dengan Zidan." Ucap Aneska.
Pria itu menutup kembali pintu ruangan, di dalam dia memberitahukan hal itu kepada Zidan.
Pria itu kembali membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan Aneska untuk masuk.
Ketika sampai di dalam ruangan, Aneska langsung mengatakan niatnya untuk bertemu Tami.
"Lebih baik kamu istirahat." Ucap Zidan tanpa menoleh ke arah Aneska, dia sibuk dengan penanya.
"Di mana aku bisa menemukan Tami." Ucap Aneska berani.
Zidan tidak menjawab dia sibuk dengan pekerjaannya. Karena di acuhkan Zidan, Aneska kesal dia mengambil pena dari tangan pria itu.
"Anes." Ucap Zidan marah.
"Jawab aku, di mana aku bisa menemukan Tami." Ucap Aneska dengan suara yang sedikit kencang. Pria itu tidak menjawab, dia malah berdiri dan mendekati Aneska. Perawat itu langsung mundur teratur.
Zidan menyodorkan tangannya ke hadapan Aneska, dia minta miliknya di kembalikan oleh gadis itu.
"Aku akan berikan, tapi izinkan dulu aku menemui mbak Tami." Ucap Aneska sambil terus mundur, tanpa disadarinya, dia sudah berada di dinding. Dan pria itu sudah berdiri di depannya sambil meletakkan salah satu tangannya di dinding dan tangan yang lainnya berada di depan Aneska.
"Ayo kembalikan penaku." Ucap Zidan sambil menyodorkan tangannya.
"Enggak mau." Ucap Aneska sambil menyembunyikan pena itu di balik badannya.
"Kamu mau menyerahkan sendiri atau aku paksa." Bisik Zidan.
Bulu roma Aneska tiba-tiba berdiri, dia merasa merinding dengan suara Zidan yang masuk melalui lubang telinganya. Nafasnya Zidan yang berada di dekat telinganya membuatnya susah berkonsentrasi. Zidan mengambil penanya dari balik belakang badan Aneska. Tanpa di sadari keduanya saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Minta pelayan untuk mengantarmu." Ucap Zidan buru-buru sambil mengalihkan pandangannya. Aneska girang.
"Makasih." Ucap Aneska dan hampir saja dia mau memeluk Zidan.
Aneska keluar dari ruangan itu. Dia menemui pelayan dan meminta kepada salah satu pelayan untuk mengantarkannya ke kamar Tami.
Zidan tidak bisa konsentrasi, dia mengacak-acak rambutnya sambil mendengus kesal.
"Kenapa aku bisa seperti ini, aaahhhhh." Ucap Zidan kesal.
"Zidan jangan, kamu tidak boleh terpikat oleh gadis itu. Aku harus menjaga jarak dengannya." Gumam Zidan.
Aneska melihat tubuh Tami yang terbaring lemah di kasur.
"Mbak Tami." Ucap Aneska menangis.
Tami membuka matanya secara perlahan.
"Anes sayang, kenapa kamu terima tawaran dari dokter Arif." Ucap Tami pelan.
"Aku melakukan ini demi keluargaku, mbak tau kan kalau keluargaku punya banyak hutang." Ucap Anes pelan.
"Tapi kamu tidak akan bisa keluar dari sini." Ucap Tami lagi.
"Entahlah mbak, bisa keluar ataupun tidak yang penting aku harus bertahan. Dalam tiga bulan aku harus bisa menyembuhkan orang gila itu." Ucap Aneska semangat.
"Bagaimana menyembuhkannya sedangkan Abian selalu memukul siapapun yang masuk ke dalam kamarnya." Ucap Tami.
"Aku yakin bisa, tadi aku tidak di pukulnya."
"Kok bisa? apa yang kamu lakukan." Tanya Tami heran.
"Aku spontan memeluknya. Dia langsung membalasku dengan pelukannya. Tapi aku enggak kuat dengan baunya."
Kedua sahabat itu tertawa.
"Dasar ganjen semua orang di peluk, kalau dia jatuh cinta samamu gimana?" Ucap Tami.
"Mana mungkin dia jatuh cinta kepadaku. Cintanya hanya untuk Vania." Ucap Aneska.
"Jangan bilang tidak mungkin, kalau memang dia benar-benar jatuh cinta?"
"Aku akan mengatakan kepadanya kalau aku suka sesama jenis." Ucap Aneska asal.
"Idih jijik." Keduanya tertawa bersama, sudah lama momen itu tidak terjadi. Akhirnya keduanya dapat bertemu kembali dengan penampilan yang berbeda bukan sebagai seorang perawat tapi lebih tepatnya sebagai boneka mainan, yang kapan saja bisa di buang dan di sakiti Abian.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa vote ya.