
"Ibu, lepas bu, Anes hanya bercanda." Ucap Aneska pelan tapi terdengar sama suaminya.
"Anes, ibu enggak suka dengan candaan kamu. Hampir saja ibu peyek si Tami." Ucap ibunya marah.
"Maaf bu, Anes melakukan ini karena dia!" Ucap Anes sambil menunjuk ke arah Abian.
"Aku?" Abian bingung sambil menunjuk jarinya ke arahnya sendiri.
"Iya kamu, semua karena ulah kamu, kalau kamu tidak datang pasti aku enggak bakal menikah denganmu." Ucap Anes jujur. Ibu Desi langsung menjewer telinga anaknya.
"Anes minta maaf sama suamimu. Walaupun pernikahan ini seperti paksaan kalian tetap sah. Jadi jangan buat dosa sama suamimu sendiri." Ucap ibu Desi masih menjewer telinga anaknya.
"Ibu sudah lepaskan. Saya akan selesaikan sendiri sama Anes, ibu dan kamu bisa keluar." Ucap Abian sambil menunjuk Tami.
"Jangan siksa anak ibu." Ucap ibu Desi.
"Enggak bu." Ucap Abian. Ibu Desi dan Tami keluar dari kamar. Abian menatap lekat wajah istrinya.
"Apa kamu sengaja melakukan ini agar aku menceraikanmu." Ucap Abian.
"Iya, aku tidak mau kamu menjadikanku istri pajangan." Ucap Aneska sambil menundukkan kepalanya.
"Istri pajangan?"
"Iya, aku hanya sebagai pemanis saja. Jadi ceraikan aku." Ucap Aneska sambil memegang lengan suaminya.
"Jangan bicarakan hal itu lagi samaku." Ucap Abian sambil menepis tangan Aneska.
"Kenapa?" ucap Aneska.
Abian tidak menjawab, dia mengalihkan pembicaraan.
"Aku lapar, apa kamu lapar?" ucap Abian.
"Iya, lapar banget malah." Jawab Aneska.
Abian mengambil telepon yang ada di nakas, dia menghubungi koki untuk mengantarkan makan malam ke kamar.
"Kenapa tidak makan bersama keluarga." Ucap Aneska bingung.
"Aku ingin makan berdua dengan kamu di sini." Ucapan Abian membuat jantung Aneska berdetak kencang.
Anes jangan mimpi untuk di cintainya. Kamu hanya pemanis buatan.
"Aku mau mandi." Ucap Aneska pergi ke kamar mandi. Sambil menunggu makanannya datang Abian memilih menonton televisi. Selang sepuluh menit Aneska keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama panjang. Abian mengerutkan dahinya melihat penampilan istrinya.
"Apa kamu tidak punya pakaian yang lain." Tanya Abian.
"Maksud kamu?" ucap Aneska bingung.
__ADS_1
"Aku perhatikan kamu lebih sering pakai celana dari pada pakai dress atau rok." Ucap Abian.
"Aku suka pakai celana, celana membuatku bebas bergerak kalau pakai dress atau rok aku harus hati-hati dalam bergerak takut kelihatan." Jelas Aneska.
Pintu kamar di ketuk, Abian bergegas membuka pintu. Pelayan membawakan makanan pesanan majikannya.
Walaupun Aneska merasa bukan sebagai istri sungguhan, dia tetap melayani suaminya dengan mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Abian menikmati momen itu, dia senang mendapatkan perhatian dari istrinya.
"Aku mau tanya." Ucap Abian sambil menikmati makanannya.
"Iya, apa?"
"Apa ibu kamu selalu ceplas ceplos begitu." Tanya Abian.
"Iya, ibu memang seperti itu kalau ngomong suka asal. Walaupun suka asal ngomong tapi kalau sama bapak manut loh." Jelas Aneska.
"Ibu paling takut kalau bapak marah." Ucap Aneska lagi.
Abian manggut-manggut.
"Besok bapak sama ibu mau pulang." Ucap Aneska.
"Kenapa mereka pulang." Tanya Abian.
"Cyra mau sekolah, terus bapak mau kerja." Jawab Aneska.
"Apa pekerjaan bapak kamu." Tanya Abian sambil melirik istrinya.
Abian merasa prihatin dengan kehidupan keluarga Aneska.
"Kenapa kamu mau kerja di sini." Tanya Abian.
"Jujur ya, awalnya aku tidak mau menerima tawaran dari dokter Arif tapi aku butuh uang untuk membayar hutang ke bank." Ucap Aneska.
Dia menceritakan kenapa keluarganya sampai punya hutang ke bank. Abian tambah prihatin dengan nasib keluarganya.
"Berapa hutang keluargamu." Tanya Abian.
"Lima puluh juta tapi sudah aku bayar dua puluh juta. Uang itu aku dapatkan dari pembayaran di awal selama aku kerja di sini." Jelas Aneska.
"Sisanya tinggal tiga puluh juta lagi." Tanya Abian.
"Iya." Jawab Aneska singkat. Abian menyelesaikan makannya. Setelah selesai dia mengambil ponselnya.
"Berapa nomor rekening orang tuamu." Tanya Abian.
"Untuk apa?" ucap Aneska bingung.
"Untuk melunasi hutang keluargamu." Ucap Abian lagi.
__ADS_1
"Enggak ah, aku menceritakan ini bukan untuk minta di kasihani ataupun di bayari. Aku hanya menjawab pertanyaanmu, jadi mohon maaf urusan keluargaku biarkan aku yang ngurus." Ucap Aneska menolak.
"Kamu istriku, ingat masalah keluargamu menjadi masalahku, cepat berikan nomor rekening orang tuamu." Ucap Abian menyodorkan tangannya ke arah istrinya.
"Ingat kita menikah bukan karena cinta, kamu menikahiku karena punya maksud tertentu." Ucap Aneska menolak. Dia tidak mau berhutang budi sama suami rekayasanya. Dia khawatir hutang budi itu membuatnya harus terikat dengan segalanya.
Abian mendengus kesal, pendirian istrinya sangat kuat.
"Ok kalau kamu tidak mau aku bantu, tapi kamu bisa menggunakan mahar yang aku berikan kepadamu, bahkan mahar itu bisa menyingkirkan mamiku." Ucap Abian.
"Mahar yang dua puluh lima persen itu?" tanya Aneska. Abian menganggukkan kepalanya cepat.
"Terima kasih karena telah memberikan harta kamu kepadaku, tapi mohon maaf walaupun aku susah aku tidak mau menerima mahar itu ataupun menggunakannya." Ucap Aneska.
"Kenapa? itu hak kamu!" seru Abian.
"Aku enggak mau, pasti mahar itu penyebab semuanya." Ucap Aneska sinis.
"Maksud kamu apa." Tanya Abian bingung.
"Nenek sihir membenciku bukan hanya karena aku miskin tapi karena mahar pemberian kamu yang membuat nenek sihir dan antek-anteknya marah dan membenciku, benar kan?" ucap Aneska.
"Iya." Jawab Abian jujur.
"Ok kalau begitu aku serahkan saja mahar itu kepada keluarga kamu, biar mereka tidak memusuhiku lagi." Ucap Aneska.
"Apa! jangan pernah memberikan mahar itu kepada mereka." Ucap Abian cepat.
"Kenapa? aku ingin damai." Ucap Aneska.
"Kamu tidak kenal mami, Tanisa dan Farid. Kalau kamu memberikan mahar itu, kamu akan tetap di musuhi mereka, bahkan mungkin siksaan menghampirimu." Jelas Abian. Bulu kuduk Aneska langsung berdiri, dia mengingat kejadian di mana hukuman menghampirinya dari di lempar bola sampai tidak di beri makan.
"Aku mohon sama kamu, jangan pernah memberikan mahar itu kepada mereka. Karena itu merupakan harta peninggalan papi, dan aku tidak mau jatuh ke tangan orang yang salah." Jelas Abian lagi.
"Aku bukan orang yang tepat, kalau memang itu alasanmu, kenapa tidak kamu berikan kepada Ila atau oma Zulfa." Tanya Anes.
"Kalau sama oma dan Ila sama saja, mereka lemah bisa saja oma dan Ila di paksa untuk tanda tangan. Tapi kalau kamu berbeda." Ucap Abian.
"Berbeda dari mananya." Tanya Aneska bingung.
"Kamu wanita yang berani."
"Hahaha, kamu salah aku cengeng." Ucap Aneska cepat.
"Terserah, ingat pesanku jangan pernah memberikan satu persenpun kepada mami, Tanisa dan Farid." Ucap Abian.
Abian senang dengan istrinya. Aneska bukan cewek materialistis, tes pertama untuk istrinya lolos.
Mereka selesai menikmati makan malamnya. Abian kembali menghubungi pelayan untuk membersihkan dan mengangkat piring kotor bekas makan mereka. Aneska pergi ke kamar mandi untuk menyikat giginya sedangkan Abian pergi keluar kamar untuk menyelesaikan tugasnya yang belum selesai.
__ADS_1
Bersambung.
Dukung karya author dengan cara vote, like dan komen. Terima kasih.