Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 132


__ADS_3

Farid telah tertangkap, sekarang dia sedang di rawat di rumah sakit kepolisan. Abian meminta kepada pihak kepolisian untuk menjaga ruang perawatan Farid.


Beberapa polisi berjaga di depan pintu. Tidak hanya itu tangannya Farid di borgol. Semua di lakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan.


Setelah cukup yakin dengan penjagaan yang di berikan pihak kepolisian. Abian kembali ke istana. Karena waktu sudah hampir jam empat pagi. Dia memilih beristirahat bersama oma.


Sedangkan Anggela di tangani pihak rumah sakit.


Di perjalanan


Abian melirik oma yang mulai memejamkan matanya.


"Oma."


"Hemmm." Sahut oma dengan mata terpejam.


"Ternyata oma lebih sangar dari yang aku bayangkan." Ucap Abian yang tetap menyetir.


"Makanya jangan hanya lihat casingnya. Walaupun keriput oma hebat. Buktinya sudah ada tadi." Oma membanggakan dirinya.


"Iya tau, apa oma tidak takut Farid melakukan sesuatu ke oma." Ucapan Abian membuat oma langsung membuka matanya.


"Memangnya masih bisa dia melakukan kejahatan lagi?" tanya oma penasaran.


Abian mengangkat kedua bahunya dengan arti dia tidak bisa memperkirakan kedepannya. Dia teringat Anggela.


"Mengenai wanita itu...."


Oma langsung melirik ke cucunya.


"Abian jangan usir, dia sudah membantu kita. Kamu lihat kepalanya sampai berdarah. Dia tidak seburuk yang kita pikirkan." Ucap oma.


"Walaupun dia telah melakukan kesalahan?" tanya Abian balik.


Oma mengerti maksud ucapan cucunya.


"Dia hanya di jadikan boneka oleh mami kamu. Oma harap jangan mengusirnya." Oma kembali memohon.


"Apa oma berani bertanggung jawab?" Abian menoleh ke omanya. Dia ingin melihat ekspresi wanita sepuh itu.


"Oma yang akan bertanggung jawab penuh terhadap dirinya. Oma akan terus mengawasi gerak geriknya." Sahut oma tegas.


"Baiklah, aku serahkan dia sama oma. Pindahkan kamarnya bersama dengan pelayan lainnya. Jadikan dia pelayan." Ucap Abian tegas.


Oma menganggukkan kepalanya. Walaupun dia merasa kasihan dengan nasib Anggela yang berubah menjadi seorang pembantu. Tapi oma masih bersyukur jika wanita itu masih tetap tinggal di istana.


***


Terbitnya fajar mulai menyinari seluruh alam. Ibu Desi mengerjapkan matanya melihat sekeliling kamar perawatan itu. Dia melihat anak sulungnya masih tertidur pulas.


Wanita paruh baya itu membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah selesai dia melihat Aneska sudah bangun.


"Anes, ibu mau ke kantin. Kamu mau titip apa?" tanya ibunya yang mengambil dompet dari dalam tasnya.


"Teh manis bu." Sahut Aneska.

__ADS_1


Ibu Desi keluar dari kamar dan dia berpapasan dengan besannya.


"Kamu!" nyonya Rona langsung marah ketika melihat besannya. Dia merasa kurang beruntung karena pagi-pagi harus bertatap muka dengan musuhnya.


Ibu Desi tidak menghiraukan. Dia jalan lebih dulu dari besannya. Nyonya Rona berjalan di belakang besannya.


"Jangan ikuti aku." Ujar ibu Desi ketus.


"Siapa yang ngikuti kamu. Aku mau ke kantin tau!" sahut nyonya Rona ketus.


Ibu Desi langsung berhenti dan berhadapan dengan besannya.


"Mau ngapain kamu?" tanya nyonya Rona bingung.


"Aku juga mau ke kantin, jadi sebaiknya jaga kamar anak dan menantu kamu. Setelah aku balik baru kamu ke kantin." Titah ibu Desi.


"Emangnya kamu siapa?" nyonya Rona berjalan lebih dulu sengaja menyenggol bahu besannya.


"Dasar nenek sihir." Ejek ibu Desi.


Ibu Desi dan nyonya Rona ke kantin. Tapi yang lebih dulu sampai nyonya Rona. Dia memesan teh dan kopi. Dan menyerahkan uang seratus ribu ke penjual.


"Maaf bu belum ada kembaliannya." Ucap penjual.


"Bagaimana belum ada kembalian?" gerutu nyonya Rona.


"Bu ini masih pagi. Saya juga baru buka." Jelas penjual.


Ibu Desi memesan teh dan mie goreng untuk sarapan paginya. Penjual langsung membuatkan pesanannya.


"Ibu bawa saja uangnya." Jelas penjual.


"Berapa total belanja dia?" tanya ibu Desi.


"Tiga puluh ribu." Sahut penjual.


"Punya saya berapa?" tanya ibu Desi lagi.


"Enam puluh ribu." Jawab penjual lagi yang kembali membuat mie goreng untuk pembelinya.


Ibu Desi mengeluarkan uang seratus ribu dan menyerahkan ke penjual.


"Sekalian dengan belanjaannya." Ucap ibu Desi.


"Kembaliannya tidak ada." Ucap penjual lagi.


"Ambil saja." Ucapan ibu Desi merasa tamparan untuk nyonya Rona.


"Saya tidak minum dari uang kamu." Nyonya Rona berbicara ketus.


"Uang ini bukan uangku besan. Ini uang menantuku." Ibu Desi berbicara dengan menekan intonasinya.


Nyonya Rona gelagapan, dia seperti di tampar dua kali oleh besannya.


"Ambil ini." Nyonya Rona meletakkan uangnya di dekat steling.

__ADS_1


"Bu, saya tidak ada kembaliannya." Penjual kembali menjelaskan ke pembelinya.


"Ambil saja semua." Nyonya Rona tidak mau kalah dari besannya. Dia membawa teh dan kopi pesannya.


Penjual menggaruk kepalanya.


"Itu rezeki kamu jangan di tolak." Ucap ibu Desi. Walaupun dia tau jika yang di lakukan besannya bukanlah dari hatinya melainkan untuk pamer.


"Tapi uang ibu juga tidak ada kembaliannya." Jelas penjual lagi.


"Ambil aja kembaliannya. Mungkin ini memang rezeki kamu." Ucapan ibu Desi membuat penjual itu senang. Dia membuatkan dua bungkus mie goreng untuk bu Desi.


"Kenapa dua?" tanya ibu Desi heran.


"Ini mungkin rezeki ibu." Penjual mengulang perkataannya.


Ibu Desi tersenyum. Dia kembali ke kamar perawatan Aneska dengan menenteng makanan di tangannya.


Ketika sampai di kamar anaknya. Ibu Desi melihat bungkus mie goreng itu. Dia merasa itu bukan miliknya.


Wanita paruh baya itu kembali keluar dengan membawa satu bungkus mie goreng. Dia mengetuk kamar perawatan Tanisa. Sebelum pintu di buka ibu Desi masuk lebih dulu ke ruangan itu.


"Hei ngapain kamu di sini?" nyonya Rona bertanya dengan nada ketus.


"Aku hanya ingin menyerahkan ini ke kamu." Ibu Desi meletakkan bungkusan itu di atas meja.


"Kamu mau meracuniku." Ujar nyonya Rona penuh kebencian.


"Aku kasih tau sama kamu ya, apa untungnya aku meracuni kamu hah! itu dari penjual tadi. Itu hak kamu, kalau tidak mau buang." Ibu Desi berbicara ketus. Sebelum keluar dia melihat kembali ke arah besannya.


"Sebaiknya kamu banyak bersedekah biar hati kamu bersih."


Nyonya Rona kembali marah dia tidak suka di gurui.


"Satu lagi, bersedekah jangan untuk pamer." Ucapan telak dari besannya.


"Dasar orang kampung." Teriak nyonya Rona. Ibu Desi tidak menghiraukan teriakan besannya. Dia sudah berada di luar ketika wanita paruh baya itu teriak.


"Mami ini rumah sakit." Tanisa mengingatkan maminya.


"Kamu dengar tadi, dia mengajari mami." Ucap nyonya Rona kesal.


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Tanisa.


Nyonya Rona menceritakan tentang kejadian di kantin. Tanisa mulai paham dengan cerita itu.


"Mami salah."


"Apa! salah! kamu mendukungnya." Nyonya Rona marah kembali dan kali ini dia marah dengan anak sulungnya.


"Iya, kenapa mami tidak menyerahkan uang seratus ribu itu. Uang segitu sama mami seperti uang seribu. Dan maksud ibu Desi baik, dia membantu mami agar tidak terbebani, tapi mami marah karena merasa harga diri mami di injak-injak oleh besan. Apalagi ibu Desi membiarkan kembaliannya untuk pedagang itu. Dan mami tidak mau kalah dengan menyerahkan uang seratus ribu tadi." Penjelasan Tanisa bukan mendukung keduanya. Dia berada di tengah-tengah untuk kedua wanita paruh baya itu.


"Kamu malah mendukung dia!" gerutu maminya.


Tanisa tidak ingin berdebat dengan maminya. Karena semakin di perdebatkan wanita paruh baya itu tetap dengan pemahamannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2