
Aneska terus memandangi jam tangannya, waktu terus bergerak tapi Abian belum juga tiba.
"Kita jadi berangkat enggak?" tanya ibunya.
"Jadi bu, tunggu Abian datang ya." Jawab Aneska.
Abian terjebak macet, kemacetan terjadi sepanjang jalan.
"Sialan! bisa terlambat sampai bandara kalau seperti ini caranya." Gerutu Abian kesal.
Pihak bandara memberikan informasi ke para penumpang untuk masuk ke dalam ruang tunggu.
"Kak, ayo." Ucap Ila.
"Kak Abian belum sampai." Ucap Aneska cemas.
"Coba hubungi sudah sampai mana dia." Ucap ibu Desi.
Aneska mengambil ponsel ibunya yang sementara waktu di pegangnya. Dia menghubungi nomor suaminya.
"Ayo jawab." Gumam Aneska. Panggilan terhubung.
"Ya sayang." Jawab Abian dari ujung sana.
"Kamu di mana?" tanya Aneska lagi.
"Aku terjebak macet sayang." Jawab Abian.
"Terus gimana?" ucap Aneska lagi sambil melihat ke arah ibu dan adik-adiknya.
"Aku usahakan sebelum kalian berangkat aku sampai, bye sayang." Abian memutuskan panggilannya, dia memikirkan jalan lain untuk sampai ke bandara sebelum istrinya berangkat.
"Bagaimana Nes?" tanya ibunya lagi.
"Abian terjebak macet bu." Ucap Aneska sedih.
"Terus bagaimana? sebentar lagi pesawat kita akan berangkat." Rengek Cyra.
"Jika kak Abian tidak sampai pada detik terakhir kalian pergi tanpa kakak." Ucap Aneska.
"Apa! oh tidak Nes, ibu bisa mati nanti di sana. Bahasa Inggris enggak bisa." Ibu Desi terlihat cemas.
"Ibu, Aneska janji akan susul ibu besok." Aneska menenangkan ibunya untuk tidak mencemaskan apapun.
Ibu Desi menganggukkan kepalanya walaupun hatinya menginginkan anak sulungnya ikut tapi yang berhak atas anaknya adalah Abian.
"Kalau gitu kami masuk dulu ya kak, ini tiket kakak. Kabari kami jika kakak batal naik pesawat." Ucap Ila sambil menyerahkan tiket Aneska.
Sebelum masuk ke dalam bandara, mereka memeluk Aneska dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Aneska masih menunggu suaminya dengan duduk di kursi. Melihat cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
"Abian kamu di mana?" gumam Aneska sambil melihat sekeliling bandara, di mana banyak mobil yang berhenti di depan pintu keberangkatan untuk mengantarkan sanak keluarga ataupun supir taksi yang mengantarkan para penumpangnya.
Ponsel Aneska kembali berdering.
"Sayang sepertinya aku tidak bisa sampai tepat waktu, kamu berangkatlah, hati-hati di sana." Ucap Abian sambil menyetir mobilnya.
"Tapi aku masih menunggumu di sini, di depan pintu keberangkatan." Rengek Aneska.
"Iya sayang tapi waktuku tidak cukup, pergilah kasihan ibu dan adik-adik." Ucap Abian lagi.
"Kenapa kamu berangkatnya telat, apa tidak berniat mengantarku." Ucap Aneska marah.
"Maaf sayang, sudah pergilah jangan tunggu aku, sebentar lagi pesawat yang mengantar kamu berangkat." Ucap Abian sambil melihat jam tangannya.
"Ya udah aku berangkat, jangan main serong ya." Ucap Aneska mewanti-wanti suaminya untuk tidak melirik wanita lain.
"Iya sayang." Kemudian panggilan terputus. Aneska menghela nafasnya sambil menarik koper dan memegang tiket di salah satu tangannya.
Abian sampai bandara terlambat lima belas menit, dia melihat dari layar nomor pesawat yang membawa istrinya sudah berangkat.
Dia melihat sekeliling bandara berharap istrinya masih duduk menunggunya.
Abian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku sudah mengizinkannya berangkat, kenapa aku masih berpikir Aneska masih di sini." Gumam Abian sambil meninggalkan bandara.
Istana Bassam terlihat sepi, keluarga menikmati makan malamnya. Nyonya Rona dan yang lainnya senang karena Aneska dan keluarganya tidak ada di istana untuk seminggu ke depan.
Untuk oma Zulfa, dia lebih memilih makan di kamarnya, karena dia tidak ingin berkumpul dengan orang-orang munafik.
"Tante, kenapa Abian belum pulang, apa Abian ikut berangkat ke singapura?" tanya Anggela di sela makannya.
"Tidak sayang, Abian tidak berangkat ke singapura tadi tante tanya sendiri sama Ila." Jawab nyonya Rona.
"Ma, apa mama sudah menyiapkan kado untuk Abian?" tanya Tanisa.
"Sudah sayang, kamu sudah belum?" tanya maminya.
"Aku sudah tante." Timpal Anggela.
"Enggak ada yang tanya kamu tau!" ucap Tanisa ketus.
"Tante lihat, Tanisa sepertinya tidak menyukaiku." Rengek Anggela.
"Tanisa kamu tidak boleh seperti itu, Anggela di sini mau membantu kita memisahkan Abian dan Aneska." Jelas nyonya Rona.
"Membantu dari mana? buktinya Abian dan istrinya tambah lengket. Mami kalau cari orang yang benar." Ucap Tanisa ketus sambil melirik ke suaminya yang terlihat muram dan tidak banyak bicara.
__ADS_1
Farid muram karena rencana dia untuk mengambil surat perjanjian itu gagal dan dia menyalahkan rencananya gagal karena Anggela.
Mendengar ucapan Tanisa, Anggela langsung cemberut.
"Sabar Tanisa, mami punya rencana malam ini." Nyonya Rona membisikkan rencananya ke Tanisa dan Anggela.
"Mami ingin menjebak Abian dengan Anggela?" ucap Tanisa kurang yakin.
"Iya sayang, sama halnya dulu waktu Abian dengan Vania, sekarang kita balikkan Abian yang kita jebak. Mungkin Abian tidak akan melepaskan istrinya tapi mami yakin Aneska yang akan meninggalkan Abian." Ucap maminya semangat.
"Wah mami hebat." Ucap Farid yang tiba-tiba ikut bicara.
"Siapa dulu mami." Nyonya Rona membanggakan dirinya.
"Jelaskan rencana mami agar kami bisa membantu." Ucap Farid.
"Abian tidak menyukai makanan luar, hanya ada beberapa restoran di kota ini yang dia kunjungi, karena Abian tipe pria yang perfeksionis jika makanannya ada yang kurang di lidah maka dia tidak akan makan di restoran itu, tapi di istana ini semua ada jadi Abian bisa makan sesuai seleranya." Jelas nyonya Rona.
"Selanjutnya bagaimana mi?" tanya Tanisa.
"Jika tidak ada istrinya pasti Abian akan makan di kamarnya, koki akan memasak makanan baru untuk Abian dan ini dia kuncinya." Nyonya Rona mengambil sesuatu dari sakunya.
"Botol apa ini?" tanya Tanisa penasaran.
"Apa di dalam botol itu sianida?" tanya Anggela.
"Hust sembarangan, mana mungkin tante membunuh anak sendiri kalau mau dari dulu tante racun Abian." Gerutu nyonya Rona marah.
Wanita paruh baya itu menjelaskan isi kandungan yang ada di dalam botol itu.
"Ini obat kuat, nanti Abian akan merasa terangsang dan mencoba menyalurkan hasratnya nah di situ kamu masuk." Jelas nyonya Rona.
"Jadi mereka akan melakukan wok wok." Ucap Farid penasaran.
"Iya, kalau bisa Anggela hamil biar wanita itu pergi."
"Asik." Teriak Anggela kegirangan.
Farid langsung melirik ke Anggela, dia tidak menyangka jika kekasihnya kegirangan karena mau di tiduri Abian. Sedangkan Tanisa geleng kepala, dia merasa Anggela gadis yang oon karena mau di jadikan alat oleh maminya.
Abian sampai di istana dan memberhentikan mobilnya di depan pintu istana. Keluar dari mobil sambil memandang balkon kamarnya, yang biasanya ada cahaya lampu dari dalam kamarnya. Tapi hari ini tidak ada cahaya sama sekali di dalam kamarnya, karena Aneska sedang dalam perjalanan di ke singapura.
Dengan langkah gontai Abian masuk ke dalam istana, nyonya Rona dan yang lainnya sudah mengintai dari ruangan lain.
Abian membuka pintu kamarnya membiarkan ruangan tetap dalam keadaan gelap. Belum satu hari Aneska pergi tapi dia sudah merindukan istrinya.
Abian membuka jasnya di sembarang tempat dan membuka kemejanya, dia menuju ruang ganti sambil menyalakan lampu, Abian melihat ada sosok perempuan berambut panjang sedang berdiri di dekat gorden, tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Abian mencari saklar dan menyalakan seluruh lampu kamar.
"Kamu!" Ucap Abian sambil membelalakkan matanya.
__ADS_1
Bersambung...
Bantu vote ya, biar masuk 10 besar. Seputar novel bisa follow ig author ya anita_rachman83