Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 104


__ADS_3

Di dalam perjalanan Aneska menghubungi suaminya. Panggilan terhubung.


"Ya sayang." Jawab Abian dari ujung ponselnya.


"Kami sudah berangkat." Sahut Aneska.


"Sebentar lagi aku akan ke bendara. Sampai jumpa di sana, love you." Kemudian panggilan terputus.


Aneska melihat pohon-pohon yang ada di kanan dan kiri jalan, dia sengaja membuka kaca jendela agar angin dapat menerpa wajahnya.


Menurutnya udara di sekitar istana masih asri tapi jika sudah melewati hutan, udara tidak sehat karena di pusat kota sudah penuh dengan asap knalpot dari kendaraan bermotor. Perjalanan masih panjang Aneska mencoba menutup matanya untuk beristirahat sejenak.


***


Tanisa dan Farid tiba di istana Bassam. Hal yang di lakukan keduanya adalah ke ruang monitor. Farid memegang handle pintu ruang monitor, tapi pintu itu tidak terbuka sama sekali.


"Sialan! kenapa tidak bisa di buka." Gerutu Farid.


"Mungkin di kunci dari dalam." Tanisa menggedor pintu ruang monitor. Terdengar ada suara sahutan dari dalam.


"Ada apa?" sahut pekerja yang berada di ruang monitor.


"Ini Tanisa, buka pintunya." Teriak Tanisa.


"Maaf nona, tidak sembarangan orang masuk ke ruang monitor." Sahut pekerja lagi.


"Peraturan dari siapa itu!" timpal Farid yang ikut berteriak.


"Dari nyonya Besar tuan." Sahut pekerja.


"Mami!" ucap keduanya sambil berlari mencari maminya.


Mereka mendapati nyonya Rona di ruang baca. Keduanya ngos-ngosan.


"Tanisa kenapa kamu berlari? bukannya kamu lagi hamil?" nyonya Rona memperhatikan pasangan suami istri itu.


"Enggak mi, aku enggak berlari." Ucap Tanisa bohong.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya nyonya Rona.


Sepasang suami istri itu saling pandang.


"Umm, kata dokter janinku tidak berkembang." Ucap Tanisa berbohong dan menunjukkan wajah sendu.


"Ya ampun Tanisa." Nyonya Rona membawa anaknya untuk duduk di sofa.


"Kenapa bisa terjadi?" nyonya Rona prihatin. Dia memegang tangan anaknya.


"Tidak tau ma, dokter hanya bilang kalau janinku tidak berkembang, dan harus di angkat." Ucap Tanisa sambil mengeluarkan air mata dusta.

__ADS_1


"Dokter pasti memikirkan sebab akibatnya, mami yakin pasti kamu akan segera hamil."


"Apa mami tidak marah?" tanya Tanisa sambil melirik suaminya.


"Untuk apa mami marah, dokter lebih tau yang terbaik buat kalian." Tanisa memeluk maminya dengan erat.


"Tapi aku takut." Tanisa kembali murung.


"Takut kenapa?" tanya nyonya Rona.


"Abian akan mengusir kami."


Nyonya Rona bingung ucapan anaknya ada benarnya, Abian pasti akan mengusir anak sulungnya.


"Mami lakukan sesuatu." Timpal Farid.


"Aduh mami enggak berani, kamu tau sendiri kalau Abian marah bagaimana, makanya jangan jadi pencuri." Sindir nyonya Rona.


Farid langsung diam, dia tidak bisa membantah ataupun menjawab ucapan mertuanya.


Nyonya Rona masih mengkhawatirkan tentang nasibnya. Dia tidak sepenuhnya percaya dengan janji Aneska.


Farid mengingat tentang tujuan mereka mencari mertuanya.


"Mami tadi kami mencari mami di ruang monitor tapi pintu terkunci dari dalam, tidak seperti biasanya." Ucap Farid sambil melirik istrinya.


"Tidak ada siapapun boleh masuk ke dalam ruangan monitor. Itu peraturan dari Abian." Nyonya Rona menjual nama Abian agar Tanisa dan Farid tidak merengek kepadanya untuk meminta izin masuk ke dalam ruangan itu.


"Kata penjaga mami yang buat peraturan itu." Timpal Tanisa.


"Iya mami yang menyampaikan ke mereka tapi yang membuat peraturan Abian, kalian kenapa sih? tiba-tiba mengurusi ruang monitor! apa kalian merahasiakan sesuatu dari mami?" tebak nyonya Rona.


"Bu bukan itu mami, tadi kami hanya menebak kalau mami sedang berada di ruang monitor eh enggak taunya di sini, benarkan sayang." Ucap Farid gugup.


"Iya mi." Jawab Tanisa cepat.


"Kalau gitu aku tinggal dulu." Farid meninggalkan ruang baca dan mencari keberadaan Anggela.


"Pasti dia masih di kamarnya." Gumam Farid sambil menyusuri lorong menuju kamar Anggela. Ketika sampai di depan pintu kamar Anggela, Farid memperhatikan sekitarnya, keadaan aman tidak ada pelayan di sekitar lorong itu. Dia mengetuk pintu kamar dalam sekejap pintu terbuka.


"Ada apa?" tanya Anggela dengan merapatkan giginya karena wajahnya masih penuh masker.


Farid langsung masuk ke kamar Anggela.


"Semalam berapa ronde kamu wok wok sama Zidan?" tanya Farid.


"Apanya berapa ronde, dia hanya memberiku minyak jelantah." Ucap Anggela kesal.


"Jadi kalian tidak melakukannya?" ucap Farid kurang yakin.

__ADS_1


"Idih kamu itu enggak percaya banget samaku. Gara-gara dia aku pakai masker. Ini masker yang kelima dengan merek yang berbeda." Jelas Anggela dengan merapatkan giginya.


"Memangnya apa hubungannya masker dengan minyak jelantah?" tanya Farid bingung.


"Idih kamu itu, hidungku di beri minyak jelantah sama si Zidan alasannya untuk menyadarkanku karena pingsan, tapi gara-gara minyak jelantah itu wajahku bau, nanti Abian tidak tertarik samaku di pikirnya aku nelayan." Jelas Anggela dengan logat manjanya.


"Ok ok, jangan bilang kalau kamu belum mengambil surat itu!"


"Sepele." Anggela mendekati meja rias dan membuka laci. Dia mengambil kertas putih yang masih terlipat kecil. Dan menyerahkan ke Farid.


"Kenapa jelek banget bentuknya." Ucap Farid sambil membuka lipatan kertas itu.


"Ya udah lain kali aku kasih pita biar keren." Jawab Anggela.


Farid membaca kertas itu dan langsung mengerutkan dahinya.


"Apa ini?" tanya Farid sambil menunjukkan kertas itu kehadapan Anggela.


"Kertas." Jawab Anggela singkat.


"Iya kertas, apa kamu tidak membaca dulu! ini rekening listrik." Ucap Farid marah.


"Mana aku tau kalau itu, kamu hanya bilang ambil kertas di dalam tas Zidan sedangkan di dalam tas itu ada banyak. Kamu juga tidak menyebutkan surat apa yang harus aku ambil." Anggela membela diri.


"Anggela oh Anggela kenapa kamu oon." Ucap Farid gemas.


"Enak aja bilang aku oon, kalau tidak ada aku, pasti kamu masih terkurung di luar sampai pagi dan kamu masih bilang aku oon!" Anggela marah dan membalikkan badannya membelakangi Farid. Dia melupakan jika dia sedang menggunakan masker.


"Kalau memang di sana ada banyak kertas, kenapa tidak kamu baca dulu surat yang mau aku ambil." Gerutu Farid.


"Tuan Farid, aku ke kamar Zidan mau mencuri bukan mau membaca." Jawab Anggela ketus.


"Bukannya bilang terima kasih malah marah-marah, masih mending aku bawakan rekening listrik mau aku bawakan kartu nama Zidan." Ucap Anggela jutek.


"Aaaargh." Farid marah dan langsung keluar dari kamar itu.


"Marah sana." Teriak Anggela. Dia baru sadar kalau wajahnya masih penuh masker.


"Aduh wajahku keriput." Anggela langsung berlari ke kamar mandi.


***


Waktu sudah menunjukkan jam lima lebih, Abian bergegas keluar gedung. Mobilnya sudah terparkir di depan pintu loby. Dia langsung melajukan mobilnya menuju bandara.


Aneska dan yang lainnya sudah tiba di bandara. Mereka masih berdiri di depan pintu keberangkatan menunggu datangnya Abian.


Bersambung...


Untuk info seputar novel bisa follow akun ig author anita_rachman83.

__ADS_1


__ADS_2