
Aldo keluar dari ruang perawatan Aneska. Dia masih melihat Zidan di depan ruangan itu. Aldo menganggukkan kepalanya. Dia berjalan menuju ruang para perawat.
"Aku ingat siapa pria itu." Gumam Aldo seraya mengambil ponselnya yang ada di saku. Dia langsung menghubungi Tiara.
Panggilan terhubung tapi tidak ada jawaban dari Tiara. Aldo mengulang lagi panggilannya dan akhirnya ada sahutan.
"Ya halo." Ucap Tiara dengan suara khas bangun tidur.
"Tiara, kamu ingat pria yang membantu kamu memenangkan taruhan dariku." Ucap Aldo.
Tiara masih mengantuk jadi dia tidak terlalu fokus dengan yang di katakan Aldo.
"Tiara..." Ucap Aldo lagi.
"Ha apa?" tanya Tiara lagi.
Aldo mengulangi kalimatnya lagi.
"Terus kenapa?" tanya Tiara seraya memejamkan matanya.
"Sepertinya pria itu ingin menuntut kamu." Ucap Aldo.
"Menuntut?" Tiara sontak kaget dan langsung duduk di mana sebelumnya dia tidur.
"Iya, tadi aku bertemu dengannya di depan tempat Aneska di rawat, dia menanyakan kamu." Jelas Aldo.
Tiara langsung berpikir keras, siapa pria yang di maksud Aldo.
"Maksud kamu pak Zidan?" tanya Tiara lagi.
"Zidan? jadi namanya Zidan. Bagaimana kamu bisa tau namanya?" Aldo berujar dengan penasaran.
"Dia, kerja bersama dengan suami Aneska." Jelas Tiara.
"Oh seperti itu, jadi dia bukan mau menuntut kamu, tapi kenapa dia menanyakan kamu?" Aldo masih penasaran dengan Zidan.
"Mana aku tau. Aku ngantuk jangan menghubungiku lagi." Tiara langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
***
Di rumah sakit
Zidan ingin bertemu dengan Tiara tapi perawat itu masuk malam. Dia merencanakan sesuatu agar dapat bertemu dengan Tiara.
Dari jauh terlihat dokter Arif sedang berjalan bersama dua orang perawat. Dokter itu masuk ke beberapa ruang perawatan lainnya. Dia sedang memeriksa pasiennya.
Setelah memeriksa beberapa pasien. Dokter Arif berjalan menuju ruangan Tanisa tapi tidak bersama perawat. Dia hanya sendiri menuju ruang perawatan Tanisa dan Aneska.
"Zidan, kamu tidak masuk?" tanya dokter Arif seraya masuk ke dalam ruang perawatan Aneska.
Zidan ikut masuk ke dalam ruangan itu.
"Pagi Aneska." Sapa dokter Arif.
"Pagi dok." Sahut Aneska.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya dokter Arif.
"Jauh lebih baik." Sahut Aneska.
"Apa dokter yang merawat kamu sudah visit?" tanya dokter Arif.
"Belum." Sahut Aneska singkat.
"Mungkin sebentar lagi." Dokter Arif keluar dari ruangan itu di ikuti Abian dan Zidan.
"Apa keberadaan Farid sudah diketahui?" tanya dokter Arif.
"Belum, pihak polisi belum mengabari ku." Ucap Abian seraya menatap dokter Arif.
"Rif, menurut kamu, apa aman operasi kemarin?" tanya Abian.
"Selama ini tidak ada masalah atau keluhan dari pasien jadi menurutku aman." Dokter Arif menepuk pelan bahu temannya memberikan ketenangan untuk Abian.
"Jangan memikirkan hal-hal yang aneh. Tapi pikirkan kesembuhan istri kamu. Baiklah aku masuk ke ruangan Tanisa dulu." Ucap dokter Arif seraya masuk ke dalam ruangan itu.
"Pagi." Sapa dokter Arif.
"Pagi Arif." Sahut nyonya Rona dan Tanisa.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya dokter Arif.
"Jauh lebih baik." Sahut Tanisa.
Dokter Arif tersenyum dan langsung permisi meninggalkan ruangan itu.
"Silahkan."
Nyonya Rona melihat anaknya.
"Sebaiknya di luar saja. Zidan jaga Tanisa." Ucap nyonya Rona.
Nyonya Rona keluar dari ruangan itu bersama dengan dokter Arif. Dan di gantikan Zidan.
Mereka berdua berdiri di lorong.
"Arif, kamu tau Tanisa baru saja mengalami kekerasan dalam rumah tangga."
Dokter Arif manggut mengerti.
"Tanisa sering menangis membayangkan kejadian kemarin."
Dokter itu masih menunggu maksud ucapan wanita paruh baya itu.
"Tante bisa minta tolong sama kamu." Nyonya Rona diam sesaat seraya melihat Arif.
"Minta tolong apa?" tanya dokter itu.
"Bisa kamu mengembalikan Tanisa yang dulu, tante tidak ingin dia bersedih, dan kalau bisa Tanisa dapat melupakan kejadian kemarin." Jelas nyonya Rona.
"Tapi kenapa saya tante? tante kan tau saya dan Tanisa bukan seperti Abian. Kami tidak pernah akur sewaktu kecil dulu. Beda halnya sama Abian, saya selalu akrab dengannya." Ucap dokter Arif bingung dengan cara pemikiran nyonya Rona.
__ADS_1
Nyonya Rona diam, dia tidak tau kenapa harus meminta dokter Arif.
"I itu kan dulu, tante rasa Tanisa kecil dengan Tanisa sekarang berbeda, ayolah anggap saja kamu sedang menyenangi saudara kamu." Ucap nyonya Rona gugup seraya memegang tangan Arif.
Pria itu bingung seraya melihat tangannya yang di genggam nyonya Rona. Menurutnya sikap wanita paruh baya itu sangat berbeda dan jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Baiklah aku akan membantu Tanisa. Aku membantu ini karena kalian seperti keluarga bagiku." Ucap dokter Arif.
"Terima kasih Arif." Nyonya Rona kembali ke kamar perawatan anaknya. Melihat wanita paruh baya itu sudah masuk ke dalam ruangan itu. Zidan langsung keluar dan mencari keberadaan dokter Arif.
Dokter itu sudah berjalan jauh, Zidan berlari kecil untuk dapat mengikuti langkah dokter Arif. Mendengar ada suara orang yang berlari, dokter Arif langsung menoleh ke belakang.
"Zidan." Gumam dokter Arif seraya berhenti.
"Dokter saya mau bicara penting dengan anda." Ucap Zidan seraya mengatur nafasnya.
"Baiklah, kita ke ruangan saya." Mereka berjalan beriringan menuju ruangan dokter Diki. Ruangan dokter Diki ada di lantai atas. Mereka masuk ke dalam lift khusus tenaga medis dan berhenti ketika sudah sampai di lantai ruangan dokter Arif berada.
"Masuklah." Ucap dokter Arif seraya membuka pintu ruangannya.
Zidan masuk ke dalam ruangan itu dan langsung duduk di kursi yang telah di sediakan di dalam ruangan itu.
"Ada apa?" tanya dokter Arif seraya memperhatikan pria yang duduk di depannya yang hanya berbatas meja kerjanya.
"Hemmm." Zidan bingung. Dia tidak tau cara menyampaikan ke dokter itu.
"Zidan ada apa? saya masih ada praktek di lantai satu." Ucap dokter Arif seraya melihat jam tangannya.
Zidan menghela nafasnya, dia berharap apa yang diucapkannya tidak membuat dokter Arif tertawa ataupun berpikiran aneh.
"Saya mau di rawat." Ucap Zidan pelan.
"Apa!" dokter Arif sontak kaget.
"Iya di rawat seperti Aneska dan Tanisa." Ucap Zidan lagi.
"Tapi kenapa? kamu sepertinya sehat." Dokter Arif berujar heran dengan tingkah Zidan.
"Karena saya ingin merasakan tidur di rumah sakit." Ucap Zidan asal.
"Hah?" dokter Arif menggelengkan kepalanya.
"Zidan Zidan, tidak ada orang yang ingin menginap di rumah sakit, semua pasien berharap tidak pernah kembali ke sini. Tapi kamu...." Dokter Arif menggelengkan kepalanya lagi.
"Ayo dokter bantu saya."
Ucapan Zidan membuat dokter itu langsung berpikiran aneh.
"Katakan kepada saya, kenapa kamu ingin menginap di sini, atau lebih tepatnya di rawat di sini?" tanya dokter Arif bingung.
Zidan menatap wajah pria di depannya. Dia khawatir jika yang diucapkannya akan membuat dokter itu tertawa atau malah mengejeknya.
Bersambung...
Bantu vote ya biar semangat updatenya. Untuk info novel bisa follow ig author: anita_rachman83
__ADS_1