Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 147


__ADS_3

"Tes hantu?" tanya Abian, Aneska dan pak Mirza seraya menatap wanita paruh baya itu.


"Iya tes hantu, jadi kemarin malam ibu pura-pura jadi kuntilanak." Ibu Desi berujar dengan menahan tawanya.


"Oh jadi yang bapak dengar suara teriakan itu suara kamu Abian?" tanya pak Mirza.


Abian menganggukkan kepalanya, harga dirinya langsung turun ketika keluarga istrinya tau jika dia mempunyai kelemahan.


Semua tertawa membayangkan lucunya wajah Abian ketika ketakutan. "Ibu lain kali di rekam, jadi kalau dia marah Aneska tunjukkan wajahnya yang culun." Ujar Aneska tertawa dan Abian hanya bisa tertawa kecil walaupun kenyataannya dia malu.


***


Pagi harinya di sambut dengan suara ayam yang bersahut-sahutan Abian membalikkan badannya dan tidak menemukan sosok istrinya.


"Kemana dia." Gumam Abian dan keluar dari kamar menuju dapur. Di dapur dia menemukan banyaknya ibu-ibu yang sedang mengupas bawang dan melalukan pekerjaan lainnya. Ketika melihat Abian, ibu-ibu itu tersenyum dan menundukkan kepalanya.


Abian membalas dengan tersenyum kembali. Dia keluar dari dapur hendak menuju kamar mandi dan di belakang rumah telah di pasang tenda.


"Abian kamu sudah bangun." Aneska menghampiri suaminya.


Abian hanya melihat sibuknya warga di rumah mertuanya.


"Warga sedang membantu untuk acara resepsi kita, bukan hanya itu warga banyak mengirim hasil panennya ke kita." Aneska mengajak suaminya menuju tumpukan bahan pangan yang akan di gunakan untuk acara resepsi mereka.


"Berapa kita bayar mereka?" tanya Abian.


"Idih kamu ini selalu di sangkut pautkan dengan uang, kalau di kampung seperti ini setiap ada yang hajatan warga akan gotong royong membantu dengan memberikan hasil panen mereka." Jelas Aneska.


"Apa mereka enggak rugi?" tanya Abian bingung.


"Ya enggaklah, mereka membantu kita dengan ikhlas nanti jika mereka ada hajatan kita juga membantu mereka." Jelas Aneska dan langsung diam menundukkan kepalanya.


"Kenapa sayang?" tanya Abian.


"Warga hanya membantu dengan mengirimkan hasil panen tidak ada lauknya. Jadi...."


"Oh aku ngerti? mereka vegetarian ya." Tebak Abian.


"Aduh sayang bukan itu, maksud aku mana uang untuk beli daging dan ayam, kan gak mungkin warga datang makan bawang goreng saja." Gerutu Aneska.


"Oh itu, bilang dari tadi kenapa pakai acara mutar-mutar." Abian kembali ke kamar dan mengambil kartunya.


Dia menyerahkan kartunya ke Aneska.


"Ini." Abian menyerahkan kartunya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ada uang cash?" tanya Aneska.


"Enggak ada, gesek aja."


"Gesek di mana?" tanya Aneska bingung.


"Di gigi." Sahut Abian dengan gelak tawanya. Aneska merengek dan Abian langsung memeluk istrinya di saksikan ibu-ibu.


"Aneska sangat beruntung dapat suami kaya raya udah gitu ganteng lagi, ngidam apa bu Desi sampai dapat menantu kaya raya seperti itu." Ujar salah seorang wanita paruh baya.


"Bukan ngidamnya tapi karena Aneska sekolah di kota dan kerja di sana jadi dia ketemu suaminya di kota. Kalau di sini ya itu lagi itu lagi jodohnya kalau enggak samping rumah belakang rumah muter aja." Sahut ibu-ibu.


Aneska dan suaminya pergi ke pasar bersama ibunya. Mereka membeli keperluan untuk acara itu dan Abian ikut serta masuk ke dalam pasar yang becek dan bau.


"Kamu belum pernah melakukan ini kan?" tanya bu Desi berjalan beriringan dengan anak dan menantunya.


"Belum bu."


"Nah, karena di sini kamu tau kegiatan rakyat kecil seperti kami. Kami itu harus bekerja dulu baru bisa makan, beda sama kamu dalam orok sudah kaya." Jelas ibu Desi.


Abian hanya menganggukkan kepalanya. "Banyak bersyukur atas nikmat yang kamu rasakan sekarang." Bu Desi menasehati menantunya.


Banyak pembelajaran yang dia dapatkan selama tinggal di kampung istrinya. Setelah semua keperluan terpenuhi mereka kembali ke rumah.


Abian hanya bisa bertugas sebagai mandor untuk kegiatan para warga yang berjenis kelamin pria, mereka sedang memasang tenda di depan rumah.


"Halo." Sahut oma dari ujung ponselnya.


"Bagaimana kabar oma?" tanya Abian.


"Baik, kapan kamu balik?"


"Kenapa? apa oma di suruh mami untuk menyuruhku pulang?" tanya Abian balik.


"Bukan itu, oma sih enggak perduli kamu mau balik atau tidak, hanya saja oma penasaran kenapa Aneska tiba-tiba di bawa pulang ibunya, apa terjadi sesuatu dengan kalian?" tanya oma penasaran.


"Memang tadinya ada salah paham tapi sekarang sudah selesai, dan aku menghubungi oma untuk hadir dalam resepsiku dan Aneska." Jelas Abian.


"Resepsi?" tanya oma dan suara oma terdengar oleh nyonya Rona.


Abian menceritakan semuanya dari penggerebekan sampai di putuskan acara resepsi yang di hadiri seluruh warga.


"Bilang juga ke mami untuk hadir tapi aku tidak yakin mami mau menghadiri acara orang kampung." Setelah percakapan itu panggilan terputus. Nyonya Rona mendekati maminya.


"Mami tadi aku dengar mami menyebutkan kata resepsi?" tanya nyonya Rona penasaran.

__ADS_1


"Oh iya, Abian dan Aneska mengadakan resepsi pernikahan mereka di sana."


"Apa! kenapa harus di sana? seharusnya Abian mengadakannya di hotel bintang lima bukan di kampung yang becek, menginjakkan kaki di sana aku sudah jijik apalagi makan dan nginap di sana, ihhhh." Nyonya Rona menggerakkan badannya dia jijik membayangkan semuanya.


Oma Zulfa hanya menggelengkan kepalanya, anaknya benar-benar tidak bisa mendekatkan dirinya dengan Abian dan besannya.


"Mami hanya mengatakan kepada kamu, kalau mau besok kita berangkat tapi kalau tidak mau ya sudah." Oma meninggalkan anaknya dan kembali lagi beberapa detik kemudian.


"Mami tau kamu pusing dengan acara ulang tahun Abian yang hanya berselisih satu hari dari acara resepsi mereka. Tapi kalau mami jadi kamu mami akan menghadiri acara tersebut, agar Abian perduli dengan kamu. Sebelum kamu menginginkan Abian mengikuti keinginan kamu, belajar perduli terhadap orang lain." Sindir oma.


Nyonya Rona diam, dia membutuhkan teman bicara yaitu anak sulungnya. Tanisa sedang berada di kamarnya. Dia memandangi baju Farid yang masih tergantung di dalam lemarinya.


Tok tok tok pintu kamarnya di ketuk tapi Tanisa tidak mendengarkan suara ketukan itu. Dia terlalu meratapi nasibnya. Nyonya Rona langsung masuk ke kamar anaknya dan menemukan Tanisa sedang duduk seraya memangku pakaian suaminya.


"Tanisa apa yang kamu lakukan? kenapa pakaian pria bejat itu masih di sini." Nyonya Rona langsung menghampiri nakas yang di atasnya ada telepon. Wanita paruh baya itu menghubungi bu Tatik.


Tidak berapa lama bu Tatik datang bersama dengan dua orang pelayan.


"Iya nyonya?" tanya bu Tatik.


"Bakar baju pria bejat itu, saya tidak mau melihat barangnya di sini." Titah nyonya Rona.


"Baik nyonya." Pelayan membawa semua pakaian Farid keluar dari kamar Tanisa.


"Mami kenapa mi? biarkan pakaiannya di sini!" seru Tanisa.


"Untuk apa? biar kamu bisa mengingatnya kembali? apa kamu tidak berpikir dengan jernih! nyawa kamu hampir melayang karena dia!" seru nyonya Rona marah.


Bu Tatik membawa semua pakaian itu kebelakang dan ingin membakar seperti perintah majikannya.


"Tatik mau di apakan semua pakaian itu?" tanya oma.


"Mau di bakar oma, ini baju si Farid sialan itu." Bu Tatik merasa geram dan benci dengan Farid, karena ulah pria itu dia harus mengalami luka yang sengaja di lakukan Farid dengan mendorong tubuhnya dari dalam mobil.


"Bajunya masih bagus, dan baju ini bermerk semua. Lebih baik kamu berikan ke pelayan pasti mereka mau." Titah oma.


"Tapi nanti nyonya Rona..." Bu Tatik khawatir jika dia akan di damprat majikannya karena tidak menjalankan tugasnya dengan baik.


"Urusan itu biar oma yang atur. Menurut oma pasti banyak pelayan yang belum memiliki pakaian untuk acara Abian, jadi pas banget jika mereka mengenakan pakaian itu."


Bersambung...


Untuk yang ingin mengetahui tentang novel bisa follow ig author : anita_rachman83. Informasi novel hanya ada di ig bukan di grup ya 😉


🌷🌷🌷

__ADS_1


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2