Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 71


__ADS_3

"Hah!" Aneska kaget sambil melihat ke sekeliling ruangan.


"Permisi." Aneska keluar ruangan dan mengejar dokter Arif yang jalan lebih dulu darinya.


"Dokter tunggu." Dokter Arif berhenti dan menunggu Aneska.


Aneska menjaga jarak dari dokter itu. Dia masih ingat tentang peraturan yang di buat suaminya.


"Dok, kenapa bilang sama semua orang kalau aku sudah menikah." Ucap Aneska.


"Kamu memang sudah menikah kan?" ucap dokter Arif.


"Iya tapi kenapa di publikasikan sama semua orang, mereka taunya aku hanya pindah tugas, tiba-tiba masuk kembali terus nikah. Pasti mereka berpikiran aneh-aneh tentangku." Jelas Aneska.


"Kenapa tidak kamu katakan sebenarnya." Ucap dokter Arif.


"Aduh dok, kalau aku jujur mengatakan menikah mendadak dengan pasienku sendiri, bisa di hujat habis-habisan aku." Ucap Aneska.


"Lebih baik kamu temui Abian. Sepertinya dia sedang marah sama kamu." Ucap dokter Arif.


"Aduh gimana nih." Aneska bingung.


Dokter Arif memperhatikan wajah perawatnya yang cemas.


"Apa kamu baru melakukan kesalahan." Tanya dokter Arif.


"Iya dok, seharusnya pagi ini yang mengantarkanku kerja dia, tapi karena dia masih tidur aku pergi sama supir." Jelas Aneska.


"Hari pertama kerja kamu sudah buat masalah. Kalau Abian mencabut izin kamu. Saya angkat tangan. Cepat temui Abian di depan pintu loby." Ucap dokter Arif.


Aneska berlari menuju lift. Dia satu lift dengan seorang dokter blesteran.


"Pagi dokter Jasmin." Sapa Aneska.


"Pagi." Jawab dokter cantik itu. Dokter itu keluar dari lift lebih awal dari Aneska. Ting pintu lift terbuka dia sudah berada di loby.


Aneska melebarkan pandangannya ke sekeliling loby rumah sakit. Dia melihat ada seorang pria sedang berdiri di depan pintu loby sambil berkacak pinggang.


Aneska berlari menghampiri suaminya.


"Abian." Ucap Aneska pelan.


"Ambil semua barang kamu." Ucap Abian marah.


"Abian, aku kan sudah minta maaf." Ucap Aneska sambil menundukkan kepalanya.


"Ayo balik." Abian menarik tangan istrinya.


"Abian, mohon izinkan aku tetap bekerja. Tadi pagi kamu masih tidur. Aku tidak tega membangunkan mu." Jelas Aneska.


"Penjelasanmu tidak akan aku terima." Ucap Abian marah.


Aneska mendekati suaminya.


"Abian, aku mohon izinkan aku tetap bekerja, please." Aneska mengatupkan tangannya.


Suara ponsel Abian berbunyi. Ada panggilan dari sekertarisnya.

__ADS_1


"Ya halo, hemmm baik." Panggilan terputus.


"Masalah ini belum selesai, aku mau balik ke kantor." Ucap Abian. Suaminya hendak pergi tapi Aneska langsung mencium punggung tangan suaminya.


"Hati-hati." Ucap Aneska sambil melihat suaminya berlalu meninggalkannya.


Aneska kembali ke ruang perawat temannya sudah menunjukkan raut wajah butuh penjelasan. Terutama Tiara dan Aldo. Mereka berdua yang paling penasaran dengan ucapan dokter Arif.


"Nes, jelaskan sama kami tentang ucapan dokter Arif." Bisik Tiara.


"Iya-iya tapi nanti waktu istirahat." Ucap Aneska.


Dokter Diki datang ke ruangan mereka. Dokter itu akan mengunjungi pasiennya.


"Aneska, Tiara kalian yang mendampingi dokter Diki." Perintah ibu Susan.


"Baik bu." Aneska melihat daftar pasien yang akan di kunjungi dokter Diki.


"Farid masuk dalam daftar dokter Arif, aduh gimana nih." Gumam Aneska pelan sambil memakai kembali maskernya.


Dokter Diki mulai mengunjungi pasiennya satu persatu. Tiara dan Aneska mengikuti dokter itu dari belakang dan mencatat setiap keluhan yang di ucapkan pasien kepadanya. Dan mencatat tambahan obat jika di butuhkan pasien.


Mereka masuk ke dalam ruang rawat inap tempat Farid berada.


"Pagi." Sapa dokter Diki.


"Pagi dok." Jawab Tanisa dan suaminya.


Dokter Diki melihat kondisi pasiennya.


"Apa tidak perlu operasi dok." Tanya Tanisa.


"Tidak perlu. Ini hanya lebam dan luka saja. Memang ada retak di beberapa bagian tapi tidak parah. Nanti bisa sembuh dengan rutin meminum obat yang saya resepkan." Jelas dokter.


Farid terus menatap tajam ke arah Aneska, dia penasaran dengan perawat yang memakai masker.


Dokter Arif, Tiara dan Aneska keluar dari ruang rawat inap itu dan kembali ke ruang perawat. Dokter membuat beberapa resep untuk pasiennya.


"Tanisa, coba hubungi mami." Ucap Farid.


"Kenapa." Tanya Tanisa.


"Tanyakan sama mami, perawat itu ada di istana apa tidak. Aku penasaran dengan perawat yang memakai masker." Ucap Farid.


Tanisa menghubungi maminya.


"Halo mami." Ucap Tanisa.


"Iya sayang, apa ada kabar baik tentang Farid." Tanya nyonya Rona.


"Lukanya sudah mulai membaik, tinggal lebamnya saja. Mami aku mau tanya perawat itu ada di istana apa tidak." Ucap Tanisa.


"Ada, sepertinya dia sedang di kamarnya. Pada saat sarapan Mami memang tidak melihat Abian dan wanita itu, mungkin mereka makan di kamar." Jelas nyonya Rona.


"Oh gitu ya."


"Memangnya kenapa." Tanya nyonya Rona.

__ADS_1


"Kami pikir dia kembali bekerja." Jawab Tanisa.


"Mana mungkin dia di izinkan bekerja sama Abian, kamu seperti tidak kenal Abian saja."


"Ya sudah mam, bye." Panggilan terputus.


"Bagaimana." Tanya Farid.


"Dia ada di istana, jadi perawat yang pakai masker itu bukan wanita yang mau kamu bunuh, jelas?" Ucap Tanisa.


Waktu istirahat tiba.


Aneska dan teman-temanya dapat giliran pertama. Mereka mengambil makanan yang sudah di siapkan untuk semua tim medis.


Aneska dan temannya duduk di satu kursi panjang dan saling berhadapan.


"Nes, ceritakan tentang ucapan dokter Arif." Tanya Tiara.


Aneska melihat ke arah Tami.


"Dokter Arif tadi hanya bercanda." Elak Aneska sambil mulai menikmati makanannya.


Tiara menatap tajam wajah temannya.


"Aku kenal kamu Nes! kamu berbohong." Ucap Tiara.


"Nes, sudah jujur saja." Ucap mbak Tami.


"Nah benar kamu telah menyembunyikan sesuatu dari kami." Gerutu Tiara sambil melihat cincin berlian yang ada di jari manis tangan Aneska.


"Jelaskan tentang ini." Ucap Tiara sambil menarik tangan Aneska yang ada cincin berlian.


"Ok, aku jelaskan tapi jangan histeris." Aneska mewanti-wanti.


"Aku memang sudah menikah."


"Nah kan betul dugaanku." Timpal Aldo.


"Sstt, kamu diam dulu." Ucap Tiara.


"Suamiku orang yang kalian temui di mall." Ucap Aneska pelan.


"Apa!" Tiara kaget.


"Sstt, kalau pakai acara kaget aku tidak akan melanjutkan ceritaku." Ancam Aneska.


"Aku sudah bilang sama kamu ada sesuatu antara Aneska dengan pria itu." Timpal Aldo.


"Aldo kamu mau diam enggak." Ucap Tami tegas. Aldo menutup menutup mulutnya rapat-rapat.


Aneska kembali menceritakan tentang awal mula dia menikah dengan Abian, dia menceritakan tentang siapa suaminya tapi tidak menceritakan kalau suaminya pernah main tangan sama beberapa perawat termasuk dia dan Tami. Dan tentang pernikahan mendadak juga diceritakannya.


"Ya ampun Nes betapa beruntungnya kamu. Udah ganteng kaya, penyayang lagi." Ucap Tiara.


Aneska dan Tami saling pandang, karena masalah yang di hadapinya di istana tidak diceritakannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2