Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 145


__ADS_3

Abian dan mertuanya telah sampai di sawah. Dimana banyak para petani yang sedang menanam padi maupun yang sedang memanen padi.


Pak Mirza menjelaskan satu persatu ke menantunya. Dari proses pembibitan, penanaman padi, pemupukan dan panen padi semua dijelaskannya dengan menunjukkan kegiatan teman-temanya.


"Pak Mirza, itu siapa?" tanya temannya. Pak Mirza hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan temannya. Dia dan Abian menuju lahan miliknya yang mana lahan itu tidak terlalu besar di bandingkan milik yang lain.


Abian penasaran dengan sikap mertuanya yang tidak menjawab pertanyaan temannya. Dan dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf pak, kalau boleh tau kenapa bapak tidak menjawab pertanyaan bapak tadi?" tanya Abian penasaran.


Pak Mirza menatap wajah menantunya dengan tatapan datar. "Kenapa pak? apa bapak malu mengatakan ke bapak tadi kalau saya menantu bapak?" tanya Abian lagi.


Pak Mirza menatap ke arah lahannya. "Sebenarnya pernikahan kalian belum di ketahui orang kampung, tetangga berpikir kalau Aneska masih kerja di rumah sakit." Jelas pak Mirza.


"Tapi kenapa pak? seharusnya bapak mengatakan ke tetangga tentang pernikahan kami." Abian bingung dengan pikiran pria paruh baya itu.


"Nak Abian, pernikahan kalian mendadak dan tidak ada bukti mengatakan ke tetangga kalau Aneska telah menikah." Ucapan mertuanya membuat Abian sadar diri. Jika pernikahannya dengan Aneska karena paksaan. Dan belum ada acara sama sekali di kampung itu.


"Di sini di kampung jika tiba-tiba tetangga tau Aneska menikah dan tidak ada syukuran pasti tetangga memikirkan telah terjadi sesuatu dengan Aneska." Jelas pak Mirza.


Abian hanya diam, yang di katakan mertuanya benar. Susah menjelaskan tentang pernikahan yang di lakukan secara mendadak.


Pak Mirza masuk ke dalam lahannya. Dan mulai menaman bibit di lahannya. Abian bingung harus melakukan apa, dia ikut turun ke lahan itu yang mana belum pernah dilakukannya seumur hidupnya. Tanah yang basah membuatnya rada jijik tapi tetap dilakukannya. Dia memakai sendal masuk ke dalam lahan itu.


"Pak, sendal saya tidak bisa bergerak." Ujar Abian yang mencoba mengangkat sendal dengan kakinya. Tapi sendal itu tidak bisa di tarik yang menyebabkan Abian terjungkal kebelakang. Badan dan wajahnya penuh lumpur.


"Duh maaf nak Abian, tidak seharusnya kamu berada di sini." Ujar pak Mirza tidak enak hati. Pak Mirza membantu menantunya untuk berdiri.


"Enggak apa-apa pak." Abian melihat tangan dan badannya telah penuh lumpur.


Pak Mirza mencari sendal yang ada di dalam tanah dengan tangannya. Tidak ada rasa jijik buat pria paruh baya itu untuk mengobok-obok lumpur.


"Sendalnya udah putus, kamu bisa menggunakan sendal bapak di sana." Ujar pria paruh baya menunjuk tempat di letakkan sendalnya.


Abian baru sadar jika mertuanya tidak memakai alas kaki. Dia mengikuti cara kerja pak Mirza untuk menanam benih.


"Kamu pulang saja, biar bapak yang melakukan ini." Abian menolak, dia tetap membantu pak Mirza untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Dia mulai terbiasa dengan lembeknya tanah itu tanpa ada rasa jijik dia mengobok-obok tanah seperti yang di lakukan pak Mirza. Terik matahari tak dihiraukannya lagi. Panasnya matahari membuat lumpur yang di badan Abian mengering.


Hari telah siang, Cyra berteriak memanggil bapaknya. Gadis belia itu datang dengan menggunakan sepeda.


"Pak makan." Teriak Cyra.


"Ayo kita makan." Ajak pak Mirza. Keduanya menghampiri Cyra yang duduk di pondok di pinggir sawah.


Cyra menahan tawanya ketika melihat kakak iparnya yang tidak berbentuk lagi.

__ADS_1


"Kakak mandi lumpur ya." Gurau Cyra.


Abian hanya tersenyum dengan menampilkan gigi putihnya yang rapih. Cekrek Cyra memotret momen itu.


"Apa kamu baru memotret kakak?" tanya Abian.


"Hehehe iya kak, untuk kenang-kenangan. Aku balik ya." Cyra kembali ke rumah dengan sepedanya.


Pak Mirza dan Abian makan dengan lahapnya. Walaupun hanya urap dan ikan asin tapi dia merasa masakan itu sangat nikmat.


Aneska merayu ibunya untuk memaafkan Abian tapi ibunya kekeh menolak permintaan maaf itu.


"Ibu, aku dan Abian udah saling memaafkan kenapa sekarang ibu yang sangat keras. Bukannya ibu yang mengajarkanku untuk patuh terhadap suami dan menjaga keutuhan rumah tangga, tapi sekarang ibu jadi penghalang buat kami." Gerutu Aneska.


Wanita paruh baya itu tidak menjawab semua keluhan anaknya tetang sikapnya. Cyra berteriak dari dalam rumah, kebetulan Aneska dan ibunya sedang di belakang lagi memetik sayur untuk di masak sore hari.


"Kak ada tamu." Teriak Cyra.


"Tamu." Ibu dan anak itu saling pandang. Keduanya langsung berlalu. Aneska melihat Zidan telah duduk di kursi rotan yang ada di ruang tamu.


"Aneska." Ujar Zidan dan langsung berdiri.


"Apa kamu ke sini mau menjemput Abian?" tanya Aneska. Aneska berpikiran demikian karena dia tau jika ulang tahun suaminya tinggal beberapa hari lagi. Dan menurutnya kedatangan Zidan atas perintah nyonya Rona.


Aneska menganggukkan kepalanya.


"Dimana tuan Abian?" Zidan mencoba menjelajahi ruangan itu dengan tatapannya.


"Abian lagi ke sawah sama bapak." Sahut Aneska.


"Ke sawah?" Zidan tidak yakin dengan ucapan Aneska.


"Sebentar lagi mereka pulang." Ujar Aneska melihat jam di dinding. Zidan masih menunggu di ruang tamu, ibu Desi membawakan secangkir teh untuk menantu yang tidak jadi.


"Minumlah." Ujar bu Desi dan duduk di depan pria itu.


"Terima kasih." Zidan meneguk kan sedikit demi sedikit teh panas itu ke dalam tenggorokannya. Dan tidak berapa lama ada suara pak Mirza.


"Kami pulang." Aneska segera menuju pintu dan matanya langsung melotot ketika melihat penampilan suaminya.


"Ya ampun kenapa kamu bisa luluran seperti ini." Gerutu Aneska. Ibu Desi penasaran, dia dan Zidan ikut melihat keluar. Dan ketika melihat penampilan Abian yang penuh lumpur keduanya tertawa terbahak-bahak.


"Biar gak gosong aku sengaja melumuri tubuhku dengan lumpur." Ujar Abian bohong.


Pak Mirza hanya tersenyum dan dia mengajak Abian masuk ke rumah melalui pintu samping yang langsung tertuju ke kebun di belakang rumah.

__ADS_1


Setelah membersihkan badannya Abian dapat meluruskan pinggangnya yang mulai terasa sakit. Aneska memperhatikan tubuh suaminya apakah menghitam atau tidak. Dan ternyata lumpur itu melindungi tubuhnya dari teriknya matahari.


Malam harinya Abian langsung terlelap dengan pulasnya. Badannya terasa remuk karena seharian berada di sawah. Posisi sekarang bertukar Aneska yang tidurnya miring karena suaminya telah menguasai tempat tidur.


Belum juga terlelap pintu rumah mereka di gedor. Aneska sontak kaget tapi dia tidak beranjak dari tempat tidurnya. Pak Mirza keluar dari kamarnya menuju pintu depan. Dan dia kaget melihat banyaknya warga di depan rumahnya.


"Ada apa ini?" tanya pak Mirza bingung.


"Kami dengar bapak telah menerima seorang pria di sini. Siapa dia?" tanya pak RT. Pak RT itu adalah teman sekolah Aneska yang dari dulu sangat mencintai Aneska tapi karena di tinggal Aneska kuliah di kota, pria itu memilih menikah dengan gadis satu kampungnya.


Pak Mirza diam, dia bingung cara menjelaskannya. Bu Desi keluar dari kamar dan wanita paruh baya itu sama kagetnya ketika melihat banyaknya warga di depan rumahnya.


"Ada apa ini?" tanya ibu Desi seraya menatap semua warga.


"Ibu dan pak Mirza jangan menyembunyikan pria asing di sini. Seharusnya bapak melaporkan ke RT jika ada orang lain menginap di sini." Jelas RT itu.


"Iya pak." Sahut pak Mirza pelan.


RT yang bernama Tono masuk ke dalam rumah itu dengan warga.


"Hei apa-apa ini." Teriak ibu Desi. Teriakan ibu Desi membangunkan Abian.


RT dan warga membuka pintu kamar Aneska dan mereka melihat Abian sedang berbaring dengan kesadaran yang belum penuh.


"Apa ini?" tanya pak RT.


"Bapak dan ibu telah menjual anak gadis ibu dengan orang ini." Ujar Tono ketus.


"Kurang ajar kamu." Ibu Desi ingin menampar RT itu tapi di tahan sama suaminya.


"Dia menantuku tau." Teriak ibu Desi.


RT itu tersenyum sinis. "Hei berapa kamu membayar Aneska satu malam." Ucapan pria itu membuat Abian marah.


"Kurang ajar kamu." Dia memukul wajah RT itu yang sekali pukul langsung terpental.


"Abian stop Abian." Aneska berteriak dan memegang tangan suaminya.


Warga ketakutan dan keluar dari rumah itu. "Kalian tidak tau siapa aku, aku adalah suami sahnya. Kalian semua telah membangunkan singa tidur. Aku pastikan kalian semua masuk penjara." Teriak Abian.


Abian mengambil ponselnya yang ada di kamar dia menghubungi pengacaranya.


"Tunggu saja." Abian menyeringai marah dengan merekam semua wajah orang kampung yang ada di situ.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2