
Nyonya Rona mencari informasi mengenai Aneska melalui anak bungsunya.
"Ila, mami dengar perawat itu sakit?" ucap nyonya Rona.
"Iya mi. Badannya kemaren malam panas, terus tadi pingsan." Jawab Ila.
"Sekarang bagaimana?"
"Udah sadar, tumben mami khawatir dengan kak Anes." Ila curiga.
"Jelas mami khawatir dia kan menantu mami." Ucap nyonya Rona sambil menekan intonasinya.
Kalau dia mati, dua puluh lima persen akan ikut mati.
"Mami mau ke rumah sakit apa kamu mau ikut?" ajak nyonya Rona.
"Enggak ah, aku takut lihat wajah kak Farid." Ila menolak.
Nyonya Rona berangkat pergi ke rumah sakit. Selama perjalanan dia memikirkan cara memisahkan anaknya dengan Aneska.
"Bagaimanapun mereka berdua harus berpisah. Jangan sampai aku punya cucu dari wanita itu. Tapi apa yang harus aku lakukan." Gumam nyonya Rona sambil tetap menyetir mobil.
"Ya ya aku tau harus berbuat apa." Nyonya Rona tersenyum sumringah.
Setelah satu jam mengendarai mobil, akhirnya nyonya Rona sampai di rumah sakit. Wanita paruh baya itu memasuki loby rumah sakit, seseorang memanggil namanya.
"Rona." Teriak seseorang. Nyonya Rona mencari asal suara yang memanggil namanya.
Seorang wanita tua datang menghampirinya.
"Ibu Nely." Ucap Rona ramah.
"Siapa yang sakit." Tanya oma Nely.
"Menantu aku sakit bu, ibu apa kabar." Tanya Rona basa basi.
"Biasalah sakit tua, gimana kabar mami kamu Zulfa? dia sehatkan?"
"Sehat, kapan-kapan main ke istana ya." Ucap Rona.
"Iya nanti kalau Luky enggak sibuk ya." Ucap oma Nely.
"Luky? Luky yang mana?" ucap Rona penasaran.
"Apa oma belum cerita sama kamu ya? cucu oma itu gila kerja waktunya banyak habis di kantor. Nah itu dia." Oma Nely menunjuk ke arah cucunya yang sedang berjalan menghampirinya.
"Luky kenalkan ini tante Rona, anaknya oma Zulfa." Ucap oma Nely.
"Luky tante." Ucap pria itu ramah sambil menyalami Rona.
Ganteng, aku jodohkan saja sama Ila, dia gila kerja. Cocok kalau begitu, menambah pundi-pundi kekayaan.
Nyonya Rona bergumam dalam hatinya sambil tersenyum.
"Rona, ibu mau pulang kapan-kapan main ke rumah ibu ya, salam sama Zulfa." Ucap oma Nely.
"Iya ibu Nely."
Oma Nely meninggalkan rumah sakit dan Rona kembali ke tujuan awalnya menjenguk Farid dan Tanisa.
"Bagaimana kabarnya Farid." Tanya nyonya Rona sama Tanisa.
"Mami bisa lihat sendiri."
"Farid, apa kamu baik-baik saja." Tanya nyonya Rona khawatir.
"Apa mami tidak lihat! wajahku hancur semua karena orang gila itu!" Teriak Farid marah.
"Farid tenang, kamu pasti sembuh." Nyonya Rona menenangkan menantunya.
__ADS_1
"Mami harus bantu kami untuk kembali ke istana, apapun itu caranya." Ucap Farid.
"Jangan Farid, nanti Abian memukulmu lagi." Nyonya Rona khawatir.
"Mami tenang saja. Kami sudah merencanakan sesuatu." Tanisa membisikan ke telinga maminya tentang rencana yang telah di buatnya dengan Farid.
"Baiklah, mami setuju dengan rencana kalian. Sekarang fokus dengan kesembuhan Farid. Setelah itu kita lanjut ke tahap selanjutnya." Ucap Rona semangat.
***
Aneska hanya membaringkan tubuhnya seharian di atas kasur, waktunya habis dengan menonton televisi.
"Nes, kamu mau mandi enggak." Tanya Tami.
"Iya mbak, sebentar lagi pasti Abian pulang, kan aneh kalau aku masih berbentuk seperti ini." Ucap Aneska sambil beranjak dari tempat tidur.
Tami memperhatikan kasur temannya yang ada bercak darah.
"Nes kamu datang bulan." Tanya Tami.
"Enggak."
"Terus ini darah apa." Tanya Tami lagi.
"Oh itu, eh iya aku datang bulan." Ucap Aneska gugup.
"Mbak bisa mandi dulu, nanti balik lagi ke sini." Ucap Aneska gugup.
"Ya udah, mbak tinggal dulu ya." Tami keluar dari kamar temannya dan di lantai satu dia melihat Abian baru masuk istana.
"Tami." Panggil Abian.
"Iya tuan." Bagaimana keadaan istriku.
"Dia baik-baik saja tuan, cuma yang saya heran, kenapa demam bisa merubah jalan seseorang." Ucap Tami heran.
"Kenapa pada polos semua, hahaha." Gumam Abian sambil menuju lift dan menekan lantai lima.
Ting pintu lift terbuka, Abian mencari keberadaan istrinya di kamar, tapi tidak ada. Dia mendapatkan istrinya sedang membersihkan diri di ruangan transparan, dia tersenyum sambil menikmati kemolekan tubuh istrinya. Aneska kaget karena ada sosok pria yang sedang memperhatikannya. Dia buru-buru menyelesaikan mandinya takut akan di terkam lagi.
"Sudah siap mandinya?" ucap Abian menghampiri istrinya yang baru selesai mandi dan hanya memakai handuk dengan rambut tergerai basah.
"Kamu seksi sekali sayang." Ucap Abian sambil mencium aroma tubuh istrinya.
"Eh iya, aku pakai baju dulu ya." Aneska menghindar sambil berjalan perlahan.
"Sini aku bantu." Abian menawarkan diri.
"Enggak usah, aku bisa sendiri." Aneska menolak, khawatir kalau Abian kembali menusuknya.
"Udah sini." Abian mengambil baju kaosnya dan memakaikan ke tubuh istrinya.
"Aku kan punya baju sendiri." Ucap Aneska bingung.
"Baju kamu terlalu sempit, setiap aku pulang kerja kamu harus pakai pakaianku."
"Kenapa?" Aneska bingung.
"Karena kamu seksi kalau pakai pakaianku dan satu lagi agar aku mudah melucuti kamu." Ucap Abian genit sambil menarik Aneska dan membuka handuk istrinya.
"Abian jangan." Aneska takut.
"Enggak sayang ini masih sore, kita pemanasan dulu boleh kan?" Ucap Abian genit sambil menciumi istrinya.
"Abian stop, aku merasakan ada sesuatu yang keluar dari bawah." Ucap Aneska pelan.
"Aku belum melakukannya sayang, kenapa kamu udah keluar." Ucap Abian bingung.
"Bukan itu." Aneska kembali ke kamar mandi dan mencari tisu. Dia memeriksa bagian bawahnya.
__ADS_1
"Darah." Aneska menunjukkan ke suaminya.
"Apa! kamu pendarahan? tadi pingsan sekarang pendarahan." Ucap Abian panik.
"Apa yang harus aku lakukan?" Abian panik.
"Ambilkan roti kelapa." Ucap Aneska.
Abian menghubungi koki untuk membawakan roti kelapa.
"Terserah yang penting roti." Kemudian panggilan tertutup.
Tidak berapa lama kamar di ketuk, pelayan membawakan pesanan Abian.
"Tuan adanya roti isi keju." Ucap pelayan.
"Udah bawa sini." Ucap Abian.
Aneska masih menunggu di dalam kamar mandi.
"Sayang adanya roti isi keju." Abian menyerahkan nampan yang berisi roti kepada istrinya.
"Bukan roti itu." Aneska menggaruk kepalanya.
"Tadi kamu bilang roti." Jawab Abian bingung.
"Ambilkan di lemari pakaianku bungkus plastik dan bawa ke sini." Ucap Aneska.
Abian kembali mengacak-acak lemari istrinya.
"Sayang enggak ada." Teriak Abian.
"Apa habis ya." Gumam Aneska.
"Sayang aku sudah mengacak lemari pakaianmu tidak ada namanya plastik yang ada kain berbentuk gunung kembar." Ucap Abian.
"Aku cari sendiri." Aneska mau jalan tapi suaminya melarangnya.
"Sayang, kamu tidak boleh jalan, nanti pendarahan kamu tambah banyak." Ucap Abian khawatir.
"Aku tanya oma tau enggak." Tanya Abian.
"Mungkin tau." Jawab Aneska. Abian keluar kamar dan mencari omanya di kamarnya.
"Oma buka pintu." Teriak Abian sambil mengetuk pintu.
Pintu di buka.
"Ya ampun oma, kenapa seperti hantu! mengagetkan saja." Gerutu Abian sambil memegang dadanya karena kaget.
"Itu wajah kenapa bisa hitam." Abian bingung dengan wajah omanya yang hitam.
"Ini namanya masker." Ucap oma sambil merapatkan giginya karena masker itu membuatnya susah bicara.
"Oh masker, aku pikir itu arang. Oma bantu aku." Ucap Abian panik.
"Bantu apa?"
"Aneska pendarahan." Ucap Abian.
"Apa!" Oma teriak.
"Aduh keriput deh oma, cucu sialan!" oma marah dan memukul Abian.
"Siapa suruh oma teriak."
"Kamu ya, tadi pingsan sekarang pendarahan. Nanti lama-lama oma sunat lagi kamu! enggak sabaran banget." Gerutu oma.
Bersambung.
__ADS_1