Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 115


__ADS_3

Farid buru-buru pergi dari depan kamar mertuanya. Dia akan menunggu istrinya di kamarnya.


"Baiklah Tanisa, kamu belum tau siapa aku." Ucap Farid sambil berlalu ke kamarnya.


Zidan sudah kembali ke kantor menyelesaikan semua pekerjaannya. Abian menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan segala keperluan yang akan di bawanya ke singapura. Abian langsung memeluk istrinya dari belakang mencium leher istrinya. Menurutnya aroma tubuh istrinya membuatnya ketagihan lagi dan ingin lagi.


"Abian cukup, aku tidak ingin ngesot." Ucap Aneska melepaskan pelukan suaminya.


"Baiklah sayang, kalau sudah selesai kita berangkat sekarang."


"Kenapa cepat banget ini masih siang Abian." Ucap Aneska sambil melihat jam dinding.


"Iya aku tau, kita berangkat lebih awal. Aku ingin memperbaiki ponsel kamu."


"Baiklah aku akan bersiap." Aneska mengganti pakaiannya dengan celana jeans ketat dan blouse yang panjang lengannya sampai siku. Penampilannya terlihat lebih kasual dari biasanya.


"Wow kamu seperti anak kuliahan." Puji Abian.


"Makasih sayang." Aneska mencium suaminya memberikan kado karena telah memujinya.


"Sayang jangan pancing aku tuk melakukannya. Kamu tau kalau kerisku selalu on."


"Hahaha iya sayang, yuk kita berangkat." Aneska menggandeng tangan suaminya keluar dari istana. Nyonya Rona tidak sengaja melihat dari balkon.


"Mau kemana mereka? ada koper di bagasi mobil. Pasti mereka mau pergi bulan madu. Huh lama-lama hamil juga wanita itu." Gerutu nyonya Rona.


Tanisa kembali ke kamarnya. Begitu pintu di buka plak wajahnya di tampar suaminya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Tanisa menangis sambil memegang pipinya.


"Masih berani kamu tanya." Plak Farid kembali menampar istrinya.


"Ampun Farid ampun." Ucap Tanisa menangis.


Farid memukuli istrinya, dia seperti kesetanan.


"Ampun Farid." Teriak Tanisa.


Farid membungkam mulut istrinya dengan tangannya.


"Kamu tau apa kesalahan yang baru kamu perbuat?"


Tanisa menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak tau kenapa suaminya langsung menghajarnya.


"Karena mulutmu ini aku marah." Plak Farid memukul mulut istrinya lagi. Tanisa menangis dan melihat darah telah menetes di lantai. Bibirnya berdarah.


"Aku sudah mengatakan kepadamu jangan katakan tentang perbuatanku kepadamu, ini akibatnya!" Farid menekan intonasi bicaranya.


"Maafkan aku Farid, hiks hiks."


"Sekarang kamu baru tau kesalahanmu kan!" Farid menjambak rambut istrinya.


Tanisa memegang rambutnya, rasa sakit yang di perbuat Farid membuatnya tidak berdaya.


Tok tok tok pintu kamar di ketuk.


"Siapa?" tanya Farid.

__ADS_1


"Mami." Teriak nyonya Rona.


"Sialan." Farid menarik istrinya dan membawanya ke kamar mandi.


"Jangan bersuara. Awas kalau sampai kamu bersuara. Aku siksa kamu lebih dari ini." Ancam Farid sambil menghidupkan keran shower.


"Tunggu." Teriak Farid sambil menutup pintu kamar mandi.


Farid menghembuskan nafasnya terlebih dahulu lalu membuka pintu kamar.


"Ada apa mi?" tanya Farid.


"Tanisa mana?" tanya mertuanya.


"Ada lagi mandi." Jawab Farid.


"Ya udah mami tunggu." Ucap nyonya Rona sambil duduk di sofa.


"Tanisa baru masuk ke kamar mandi mi, pasti lama." Ucap Farid yang khawatir kalau perbuatannya di ketahui mertuanya.


"Tidak apa-apa lagian mami sedikit santai hari ini." Ucap nyonya Rona sambil melihat sekeliling kamar, wanita paruh baya itu melihat ada warna merah di lantai. Dia mendekati lantai itu dan melihat cairan berwarna merah di lantai.


"Darah." Gumam nyonya Rona.


"Darah?" Farid melupakan sesuatu.


"Darah apa ini?" tanya nyonya Rona.


"Oh itu darahku mi, aku tadi mimisan." Ucap Farid bohong.


"Oh." Nyonya Rona kembali duduk di sofa dan masih menunggu anak sulungnya.


"Farid."


"Iya mami." Ucap Farid gugup.


"Apa Tanisa selalu begini kalau mandi?" tanya nyonya Rona.


"Iya mi, dia bisa sampai berjam-jam di kamar mandi." Jawab Farid bohong.


Nyonya Rona beranjak dari tempat duduknya. Dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Sebelum keluar dia mengatakan sesuatu.


"Mami tunggu kalian di ruang baca." Ucap nyonya Rona sambil berlalu keluar dari kamar anaknya.


Farid buru-buru menutup pintu kamarnya. Dia memaki dirinya sendiri.


"Kenapa aku bisa **** begini, kalau sampai wanita tua itu tau aku menyiksa anaknya pasti dia akan mengusirku dan langsung meminta kami bercerai. Ayo Farid pikirkan caranya." Farid memikirkan cara agar dapat memberi alasan yang tepat untuk mertuanya. Dia melihat istrinya yang masih menangis di dalam kamar mandi.


"Diam!" teriak Farid.


Tanisa berusaha menahan tangisnya agar tidak menambah kemarahan suaminya.


"Jangan pernah katakan kalau aku baru menyiksamu, kamu mengerti!" bentak Farid.


Tanisa menganggukkan kepalanya.


"Mulutmu masih bisa bicara, mau aku tampar lagi!" bentak Farid sambil mendekatkan tangannya ke bibir istrinya.

__ADS_1


"Jangan, iya aku mengerti." Jawab Tanisa sambil memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Bagus, jadilah budakku. Bilang ke Abian warisan milik kamu harus dalam bentuk uang cash. Jangan di simpan dalam bentuk deposito, kamu mengerti!" bentak Farid lagi.


"Me mengerti." Jawab Tanisa dengan air mata yang telah menetes deras.


Farid menyerahkan ponselnya ke Tanisa. Dia mengetahui kalau Abian sedang berangkat ke singapura dan informasi itu di dapatnya dari bu Tatik.


"Hubungi Abian sekarang." Titah Farid sambil menyerahkan ponselnya ke Tanisa.


Tanisa menerima ponsel suaminya.


"Hapus air matamu, jangan sampai Abian tau kalau kamu menangis. Kalau sampai Abian tau kamu menangis, habis kamu!" ancam Farid.


Tanisa mengusap air matanya sambil mengatur nafasnya agar pada saat dia berbicara tidak sesegukan. Panggilan terhubung Abian sedang di mall bersama dengan istrinya. Mereka sedang menunggu ponsel Aneska di perbaiki. Sambil menunggu keduanya menikmati makan siang di dalam mall.


"Siapa?" tanya Aneska melihat suaminya sedang mengambil ponselnya.


"Farid." Jawab Abian dan langsung menutup panggilan itu.


"Kenapa di tutup?" tanya Aneska.


"Enggak penting." Jawab Abian sambil melanjutkan makan siang yang tertunda.


"Di tutup Abian." Ucap Tanisa dengan suara yang bergetar.


"Hubungi lagi." Titah Farid. Tanisa menghubungi kembali adiknya.


Abian melihat ponselnya dan lagi-lagi nama Farid di layar ponselnya.


Abian mendengus kesal dan langsung menjawab panggilan itu.


"Jangan ganggu aku." Ucap Abian langsung memutuskan panggilan itu.


"Di tutup Abian lagi." Ucap Tanisa.


"Makanya langsung bicara jangan diam aja, dasar ****!" Farid memukul kepala istrinya.


"Ampun Farid, iya akan aku hubungi lagi." Ucap Tanisa sambil menghapus air matanya.


Panggilan terhubung.


"Kamu dengar tidak! jangan ganggu aku!" bentak Abian dari ujung ponselnya.


"Abian ini aku Tanisa." Ucap Tanisa pelan.


"Oh kamu ada apa?" tanya Abian dengan suara datar.


"Hemm mengenai hartaku sebaiknya jangan di transfer ke rekeningku. Aku mau uang cash." Ucap Tanisa pelan.


"Uang cash? apa kamu yakin?" tanya Abian penasaran dengan perubahan sikap kakaknya yang cepat berubah.


"Abian." Tanisa melihat ke arah suaminya.


"Ya ada apa?" tanya Abian lagi.


"Abian tolong aku, aku di siksa Farid!" teriak Tanisa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2