
Bapaknya Tiara melihat sekeliling ruangan itu. "Sapa wonge kuwi (Siapa pria itu) ?" tanya pak Minto ke Tiara.
Tiara menunjuk ke arah Zidan. Awalnya Zidan bernyali besar tapi melihat kumis pak Minto membuat nyalinya ciut.
Pria paruh baya itu mendekati Zidan dan menatap pria itu dari atas sampai bawah.
"Bisa ngomong jowo?" tanya pak Minto.
Dan Zidan menjawab dengan gelengan kepalanya. Padahal Zidan tidak mengerti apa yang di ucapkan pak Minto. Dan dia hanya mengerti tentang kata jawa dan pasti artinya menjurus yang berbau jawa itu pikirnya.
"Apa yang kamu bisa?" tanya pak Minto.
"Buat anak." Ceplos Dimas. Semua langsung menoleh ke arah Dimas. Begitupun dengan pak Minto langsung menghampiri pria itu.
"Saya tidak bertanya sama kamu!" seru pak Minto tegas.
"Maaf om." Sahut Dimas.
"Am om, bukan om tapi pakde!" seru pak Minto lagi.
"Iya pakde." Sahut Dimas dan masih menatap ke arah pak Minto.
"Pakde itu kumis apa semut lagi baris berbaris." Ceplos Dimas lagi.
"Kamu!" pak Minto melototi Dimas dan Tiara langsung mendekati bapaknya.
"Cekap semanten Pak (Cukup pak)." Ujar Tiara.
"Kalau tidak ada anak saya, sudah saya habisi kamu." Berbicara dengan cukup lantang.
Dimas langsung menundukkan kepalanya. Menurutnya bapaknya Tiara seperti tuan Takur. Pak Minto kembali mendekati Zidan.
"Apa yang kamu bisa?" tanya pak Minto lagi ke Zidan.
"Saya bisa bekerja pak." Sahut Zidan.
"Anak kecil juga bisa bekerja, jelaskan secara spesifik ke saya, apa saja yang bisa kamu lakukan."
"Hemmm." Zidan menoleh ke arah Abian dan dokter Arif. Kedua pria itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Saya dapat melakukan semua pekerjaan." Jelas Zidan.
Pak Minto menganggukkan kepalanya.
"Baiklah lamar anak saya sekarang!" titah pak Minto.
"Bapak." Rengek Tiara.
"Sampeyan meneng wae (Kamu diam)" Ujar pak Minto ke Tiara.
Tiara langsung diam. Zidan masih mengenakan seragam pagar bagusnya. Dia berdiri di depan Tiara.
Sebelum berbicara dia melihat sekelilingnya. Abian dan dokter Arif memberikan semangat.
"Will you marry me?" ujar Zidan.
"Apa paribasan kasebut (Ngomong apa itu) ?" tanya pak Minto bingung.
__ADS_1
"Bahasa Inggris pak." Sahut Tiara.
"Kamu pikir kita tinggal di Inggris, kalau kamu mau gunakan bahasa itu, lamarnya jangan di sini! Pakai pakaian adat jawa tapi ngomong sok Inggris." Berujar marah.
Dengan gemetaran Zidan mengulangi lagi. "Maukah kamu menikah denganku."
Pak Minto menyela omongan Zidan.
"Sesuai pakaian kamu, gunakan bahasa jawa." Titah pak Minto.
"Tapi saya enggak bisa pak." Berujar jujur.
"Saya beri waktu satu bulan, dalam satu bulan kamu harus sudah menguasai bahasa jawa. Jika tidak..."
Pak Minto menatap tajam ke arah Zidan.
"Iya pak." Zidan gemetaran.
"Kumis saya akan pindah ke kamu." Ancam pak Minto seraya memegang kumisnya.
"Kita arep mulih saiki bu (Kita pulang sekarang bu) " pak Minto dan istrinya pamit. Sebelum pulang pria paruh baya itu memberikan wejangan dengan bahasa jawa yang tentu saja tidak di mengerti semua orang.
Pak Minto berpesan ke Tiara. "Bapak menehi tanggung jawab marang wong kasebut. Yen ing sewulan dheweke bisa nguwasani basa Jawa. Banjur sampeyan terus menyang gang karo dheweke. Iki minangka tes kanggo dheweke. Bukti manawa dheweke serius karo sampeyan (Bapak sedang memberikan tanggung jawab untuk pria itu. Jika dalam satu bulan dia bisa menguasai bahasa jawa. Maka kamu lanjut ke pelaminan bersamanya. Ini tes untuknya. Pembuktian kalau dia serius dengan kamu)"
Setelah pak Minto dan istrinya pulang, Tiara langsung dikerumuni temannya.
"Bapak kamu ngomong apa?" tanya teman-temannya.
"Panjang." Sahut Tiara malas.
Sedangkan Zidan mulai pusing tujuh keliling. Dia harus menguasai bahasa jawa dalam waktu satu bulan. Dan itu merupakan pr yang sulit untuknya. Karena lidahnya sangat kaku untuk berbicara bahasa daerah.
"Apanya yang semangat, saya malah lemes satu bulan itu sangat singkat." Gerutu Zidan.
"Sebaiknya kamu belajar sama ahlinya." Timpal Abian yang mulai ikut nimbrung dalam pembicaraan dua pria itu.
"Siapa ahlinya?" tanya Zidan penasaran.
"Bu Tatik, dia asli jawa. Aku pernah dengar dia nembang lagu jawa." Ucapan Abian memberikan kecerahan untuk Zidan.
"Lagu apa yang di nyanyikan bu Tatik?" tanya dokter Arif.
"Iwak peyek." Sahut Abian dan langsung tertawa.
"Tuan, itu bukan nembang namanya. Itu dangdutan." Gerutu Zidan.
Abian dan dokter Arif tertawa mereka senang karena dapat menjahili Zidan.
Tiara sedikit lega karena menurutnya Zidan tidak akan bisa memenuhi permintaan bapaknya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? seperti orang gila." Ujar Aneska yang memperhatikan temannya.
"Kamu tau, pria itu tidak akan bisa melakukannya. Sebulan hanya sebentar dan aku akan bebas." Ujar Tiara senang.
"Tenang Tiara, kami akan membantu kamu." Ujar Aneska melirik ke arah Tami seraya merangkul bahu Tiara.
"Membantu bagaimana?" tanya Tiara dengan senyum pasta giginya.
__ADS_1
"Kami akan mencarikan guru les terbaik untuk Zidan." Ucapan Aneska membuat Tiara manyun.
"Kenapa kalian seperti ini sih, aku belum mau menikah." Rengek Tiara.
"Belum mau nikah tapi main peluk-pelukan." Sindir Tiara.
"Ye mbak Tami pun sama." Gerutu Tiara.
"Sama kenapa?" tanya Aneska penasaran.
"Mbak Tami mantannya dokter Arif." Jelas Tiara.
"Enggak itu bohong!" seru Tami.
Dan tatapan Aneska langsung berpindah ke arah Tami.
"Mbak apa benar semua itu?" tanya Aneska penasaran.
"Enggak Nes, kamu kan kenal mbak. Itu hanya sandiwara dokter Arif aja." Jelas Tami.
"Tapi kalau seandainya benar tidak apa-apa juga. Apa mbak mau dilangkahi Tiara lagi. Ayo terima saja lamaran dari dokter Arif." Berujar dengan menggerakkan dahinya.
"Siapa yang di lamar, lama-lama kamu ngaco." Tami langsung meninggalkan temannya. Dan Aneska langsung menghampiri dua temannya yang lain yaitu Aldo dan Dimas.
Dia membicarakan sesuatu ke Dimas dan Aldo. Dan kedua pria itu setuju dengan ide Aneska.
Hari mulai petang semua mulai berpamitan untuk kembali ke kota. Karena mereka akan masuk kerja besok pagi.
Aldo telah berada di belakang kemudi dan Dimas di sampingnya. Ketika Tiara dan Tami mau naik Aldo langsung meninggalkan keduanya.
"Aldo...." Teriak Tiara.
"Aku sumpahin ban mobilmu bocor." Teriak Tiara lagi.
"Sekarang gimana Ti?" tanya mbak Tami.
Tiara melihat dokter Arif yang sedang mengobrol dengan Zidan dan Abian.
"Mbak kita numpang mobil dokter Arif." Menurut Tiara hanya dokter Arif yang bisa di andalkan dalam hal ini.
"Oke, tapi kamu yang duduk di depan." Tami ogah harus satu mobil dengan dokter Arif. Karena dia masih kesal dengan sikap pria itu.
"Enggak mau." Ujar Tiara menolak. Aneska menghampiri kedua temannya.
"Kenapa ini?" tanya Aneska pura-pura bloon.
Tiara menceritakan tentang Aldo yang dengan sengaja meninggalkan mereka. Padahal semuanya itu ide Aneska.
"Gini aja, mbak Tami pulang naik mobil bareng dokter Arif dan Tiara sama Zidan."
"Apa!" kedua wanita itu sontak kaget dengan ide Aneska.
"Ya udah gimana kalau di tukar, tapi kalau tukar tempat aku yakin kalian akan diam satu sama lain. Tapi kalau di posisi yang aku bilang tadi, kalian bisa menyelesaikan masalah kalian." Kedua sahabatnya saling pandang. Ada benarnya yang di ucapkan Aneska dan tapi mereka ogah untuk berduaan dengan pria yang bukan muhrimnya.
Bersambung...
🌹🌹🌹
__ADS_1
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014