Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 42


__ADS_3

Abian dan Zidan berlari ke kamar Aneska, keluarga Aneska mengikuti dari belakang. Sesampai di kamar itu, Abian mengetuk pintu tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Abian memegang handle pintu dan menggerakkan secara menurun. Pintu tidak di kunci tubuh Aneska ada di tempat tidur dengan posisi terlentang tangannya di lipat dan berada di atas badannya.


Ibu Desi langsung panik dan masuk ke dalam kamar. Wanita paruh baya itu ingin menyentuh anaknya tapi Abian melarang.


"Jangan di sentuh bu, kita tidak tau siapa yang melakukan ini." Ucap Abian sedih.


"Bapak, Aneska meninggal, hiks hiks." Ibu Desi menangis


"Serahkan semuanya pada yang kuasa bu." Ucap pak Mirza menenangkan istrinya. Abian terlihat marah dan kesal, dia memukul tembok berkali-kali. Sedangkan Zidan hanya bisa terduduk di lantai.


"Pak anak kita kalau mati keren sekali pakai headset di telinganya, anak kita matinya seperti film romawi dan juliet, hiks hiks." Ucap ibu Desi sambil menangis. Abian mendengarkan ucapan mertuanya. Dia meletakkan telinganya ke headset yang ada di telinga istrinya dan mencari ponsel istrinya. Di layar ponsel istrinya sedang di putar musik mp3, Abian menekan stop pada layar ponsel itu dan menarik headset di telinga istrinya. Semua masih melihat Aneska tanpa berani menyentuh tubuhnya. Karena di pikiran Abian ada seseorang yang telah meracuni istrinya.


Tiba-tiba Aneska ngulet sambil mengangkat tangannya ke atas dengan mata masih terpejam.


"Bapak Aneska sudah bangun dari mati suri." Ucap ibu Aneska senang langsung memeluk anaknya. Aneska sontak kaget melihat ibu bapaknya sudah ada di kamar dan lebih kaget lagi ada Abian dan Zidan di kamar itu.


"Kenapa semuanya ada di sini." Ucap Aneska bingung sambil duduk di kasur.


"Nak kamu baru mati suri." Ucap ibu Desi sambil memeluk tubuh anaknya.


"Aku mati?" ucap Aneska bingung.


"Iya kamu baru koma." Ucap ibunya senang. Aneska bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bu sudah selesai peluknya." Tanya Abian.


"Kenapa? apa kamu mau memeluk anak ibu juga?" jawab ibu Desi ketus.


"Bukan bu, saya mau bicara sama Anes." Ucap Abian.


"Nanti saja bicaranya, Anes kamu selama mati suri ada lihat nomor tidak." Tanya ibunya.


"Nomor cantik?" Aneska bingung.


"Ibu, ngapain tanya begituan." Ucap pak Mirza menegur istrinya.


"Ye bapak kali aja ada nomor terus kita pasang, syukur-syukur menang." Jawab ibunya.


Suami istri itu berdebat tentang masalah nomor. Zidan memberanikan diri bertanya tentang keadaan Aneska.


"Kamu kenapa di sini Nes." Tanya Zidan.


"Kalian kenapa juga di sini, aku itu tadi masuk ke kamar ini, enggak taunya ketiduran." Jelas Aneska.


Ibu Desi yang berdebat sama suaminya langsung menoleh ke arah anaknya. Langsung mencubit lengan anaknya.


"Jadi dari tadi kamu tidur?" ucap ibu Desi marah.

__ADS_1


"Aw sakit ibu, iya Anes tidur bukan mati suri." Jawab Aneska.


"Kenapa enggak bilang dari tadi, ibu udah nangis segala lagi." Gerutu ibunya.


"Mana Anes tau, ibu tiba-tiba main peluk tanya nomor terus bilang mati suri segala." Sindir Aneska.


"Wajar kalau ibu pikir kamu meninggal, tidur kamu seperti orang mati tangannya di lipat terus kamu seperti ada di film romawi dan juliet." Ucap ibunya marah.


"Romeo and juliet bu." Timpal Abian memperbaiki perkataan mertuanya.


"Oh udah ganti ya." Ucap ibu Desi.


"Heleh ibu, sok tau dari dulu enggak pernah ganti." Ucap Aneska.


"Ya terserah pokoknya kamu seperti ada di film romawi dan juliet tapi bedanya kamu bukan minum racun tapi kuping kamu yang keracunan." Gerutu ibunya.


Aneska hanya bisa menepuk dahinya. Abian merasa lucu melihat ucapan ibu Desi yang suka ceplas ceplos kalau ngomong.


"Ibu bapak, Aneska tidak meninggal atau mati suri, jadi izinkan saya untuk membawa istri saya." Ucap Abian. Zidan hanya bisa menghela nafasnya karena dia tidak ada hak untuk diri Aneska.


"Menantu ini belum terlalu malam, apa kamu mau main smack down sama Aneska." Ucap ibu Desi.


Abian tidak mengerti dengan istilah yang barusan di ucapkan mertuanya. Hanya Aneska yang berusaha untuk mengerem mulut ibunya.


"Huss ibu ngomong apa sih." Ucap Aneska.


"Duduk." Ucap Abian menyuruh istrinya untuk duduk.


Aneska langsung duduk.


"Apa yang kamu lakukan sama Zidan tadi siang." Tanya Abian.


"Enggak ada, kami hanya mengobrol." Jawab Aneska santai.


"Apa ngobrol harus pegang tangan." Ucap Abian dengan tatapan mengintimidasi.


"Ya enggak sih, tapi kalau sama teman, aku ngobrol sambil saling peluk." Ucap Aneska lagi.


"Saling peluk? kamu suka sesama jenis?" Ucap Abian langsung.


"Iya enggaklah aku normal." Aneska lupa ini kesempatan untuknya mengakhiri hubungannya dengan Abian.


"Syukur aku menikah dengan orang yang normal." Gumam Abian pelan.


"Eh salah, aku itu sebenarnya suka sesama jenis Tami kekasihku." Ucap Aneska bohong.


"Apa!" Abian kaget, dia terlihat stres kebalikan dari suaminya, Aneska terlihat menikmati momen itu.

__ADS_1


"Jangan keluar ataupun kabur lagi." Ucap Abian tegas sambil keluar dari kamarnya. Dia mencari ibu mertuanya dan mencari Tami. Keduanya di bawa ke kamarnya.


"Masuklah." Ucap Abian.


Ibu Desi dan Tami masuk ke dalam kamar. Aneska bingung karena ibunya dan temannya sudah ada di kamar.


"Tami apa hubungan kamu sama Aneska." Tanya Abian.


"Kami sahabat dekat saking dekatnya tidak ada rahasia yang kamu tutupi." Ucap Tami jujur.


Abian terlihat gusar, dia menggaruk kepalanya berkali-kali.


"Menantu, apa kamu juga mau menanyakan hal yang sama dengan Tami." Tanya ibu Desi.


"Tidak bu, bukan itu. Apa ibu tau kalau anak ibu enggak normal." Ucap Abian pelan khawatir kalau ibu Desi tersinggung.


"Oh Aneska memang tidak normal." Abian langsung melotot.


"Aneska itu tidak mengalami namanya proses merangkak dia langsung jalan malah lari." Jelas ibu Desi.


"Bukan itu bu, maksud saya, apa Aneska suka sesama jenis." Ucap Abian lagi pelan. Mbak Tami langsung lirik-lirikan sama Aneska. Mereka berbicara melalui mata. Kalau semua ini hanya rencana Aneska.


"Tentulah suka sesama jenis masak suka sama hewan, kamu itu lucu." Ucap ibu Desi sambil tersenyum lucu.


"Bukan bu, maksud saya apa Aneska suka sama perempuan bukan pria seperti saya." Ucap Abian.


"Apa!" Ibu Desi kaget.


"Soalnya dari penuturan anak ibu, Tami kekasihnya." Ucap Abian lagi.


"Apa! Tami!" Ibu Desi langsung melotot melihat ke arah Tami.


Prok ibu Desi langsung memukul Tami.


"Pantesan kamu belum nikah, rupanya kamu suka sama Aneska." Ucap ibu Desi sambil memukul Tami.


"Ampun bu, Anes jelaskan sama ibu kamu. Jangan libatkan mbak Tami, Nes." Gerutu mbak Tami sambil terus menghindar dari pukulan ibu Desi.


Bersambung.



Ada yang tanya visual Abian jadi author pilih dia. Kenapa? karena hanya dia yang cocok terutama brewoknya seperti singa ingat singa ๐Ÿ˜€. โ˜itu ada foto ketika masih jadi genderuwo dan sesudah.



Dan ini untuk sosok Aneska, kalau ada yang tanya kenapa enggak korea karena enggak cocok. Kalau visual yang author bagi tidak sesuai dengan imajinasi kalian, bayangkan saja visual yang lain.

__ADS_1


__ADS_2