
Nyonya Rona menghentikan Zidan dengan berhenti di depan mobil pria itu.
"Nyonya apa yang anda lakukan? kalau anda tertabrak bagaimana?" tanya Zidan bingung dengan tingkah majikannya.
"Bawa turun koper itu." Titah nyonya Rona.
"Maaf nyonya, semua ini perintah tuan Abian." Jelas Zidan yang masih tetap berada di dalam mobilnya.
"Saya akan bilang ke Abian sekarang, tapi turunkan kopernya sekarang." Nyonya Rona berlalu meninggalkan Zidan. Pria itu langsung berteriak.
"Nyonya, tuan Abian tidak ada istana." Teriak Zidan. Nyonya Rona membalikkan badannya.
"Saya akan menghubunginya." Ujar nyonya Rona kekeh dengan pendiriannya.
"Nyonya sebaiknya jangan." Zidan keluar dari mobilnya dan mendekati wanita paruh baya itu.
"Saya tidak mau harta Abian di ambil orang kampung itu." Mendengar ucapan nyonya Rona membuat Zidan mengernyitkan dahinya.
"Di dalam koper itu hanya pakaian tuan muda." Jelas Zidan.
"Pakaian? memangnya untuk apa pakaian Abian di bawa ke kampung wanita itu?" bertanya dengan penuh selidik.
"Tuan Abian dan Aneska sedang menginap di kampung, dan semua pakaian ini pakaian ganti tuan Abian selama di sana." Penjelasan Zidan membuat nyonya Rona tambah stres.
Wanita paruh baya itu memijat dahinya, dimana dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya untuk menginap di rumah yang kumuh.
"Permisi nyonya." Zidan kembali ke mobilnya. Mobil melaju meninggalkan mansion. Nyonya Rona memikirkan tentang acara ultah anaknya yang sebentar lagi. Dia tidak ingin acara itu batal karena undangan telah di sebar kepada kerabat dan orang-orang penting, jika hal itu sampai batal nyonya Rona akan merasa sangat malu dan di jadikan bahan gunjingan teman sosialitanya.
Nyonya Rona menghubungi anaknya.
***
Setelah mandi Abian menikmati sarapan yang sangat sederhana yaitu nasi uduk dengan irisan telur dadar dan kering tempe.
Aneska tersenyum melihat suaminya yang makan sangat lahap. "Pelan-pelan." Bisik Aneska.
Ibu Desi hanya memperhatikan cara makan menantunya. Dia tidak banyak berkomentar. Hanya saja.
"Setelah makan temani bapak ke sawah." Ujar ibu Desi seraya melahap makannya.
Pak Mirza dan Aneska langsung menoleh ke arah ibunya.
"Ibu pekerjaan itu bukan pekerjaan yang cocok untuk Abian." Ujar pak Mirza.
"Memangnya orang seperti apa yang cocok ke sawah? pria berdasi sepertinya juga harus tau cara mengolah padi menjadi beras jangan hanya tau makan saja." Bu Desi berbicara cukup ketus seraya melirik menantunya.
"Ibu cukup, Abian sudah meminta maaf sama Aneska. Jangan hukum Abian seperti ini." Aneska mengeluh dengan sikap ibunya.
"Tidak apa-apa, yang di katakan ibu benar, kami orang-orang berdasi hanya tau menerima proses jadinya saja tanpa pernah memikirkan cara kerjanya."
Ibu Desi tersenyum karena menantunya mau melakukan perintahnya. Suara ponsel terdengar cukup nyaring.
__ADS_1
"Cyra." Ibu Desi langsung melotot ke anak bungsunya karena selalu membawa ponsel ketika makan.
"Dari Ila." Cyra membawa ponselnya ke ruangan lain.
"Ya halo." Sahut Cyra.
"Ya Ila ada apa?" tanya Cyra.
"Apa kak Abian ada di sana?" tanya Ila.
"Ada, apa kamu mau bicara?" tanya Cyra lagi.
"Enggak bukan aku yang mau bicara, tapi mami sampaikan saja sama kak Abian untuk mengangkat ponselnya." Jelas Ila.
"Oke." Panggilan terputus.
"Ada apa?" tanya Aneska ketika melihat adiknya kembali ke dapur.
"Kak kata Ila ponsel kakak angkat, mami kakak mau bicara." Ujar Cyra seraya duduk kembali ke kursinya.
Abian tidak bergeming sama sekali, dia menikmati kopi yang ada di hadapannya. Keluarga itu memperhatikan Abian yang sama sekali tidak menghiraukan panggilan maminya.
"Abian, sebaiknya jawab panggilan dari mami kamu." Bisik Aneska.
"Tidak perlu, aku sudah tau pasti mami hanya akan menginterogasi ku dengan mengajukan pertanyaan tentang nginap di sini." Jelas Abian santai.
"Tapi itu tidak baik Abian, maaf bapak tidak bermaksud ikut campur dalam urusan keluarga kamu, tapi dia tetap ibu kamu. Seburuk apapun dia, adalah orang yang telah melahirkan kamu." Ucapan pak Mirza membuat Abian diam dan menelaah semua ucapan pria paruh baya itu.
"Hemmm." Sahut Abian malas.
"Abian ini mami." Ucap nyonya Rona ramah.
"Hemmm ada apa?" Abian bertanya dengan rasa malas tapi tetap berbicara sopan tanpa menunjukkan sikap kerasnya.
"Tanisa sudah pulang." Ucap nyonya Rona basa basi. Wanita paruh baya itu bingung cara menanyakan tentang alasan anaknya menginap di rumah keluarga istrinya.
"Abian, mami dengar Farid sudah tertangkap?" tanya nyonya Rona gugup.
"Apa mami menghubungiku hanya untuk menanyakan Farid?" nyonya Rona diam.
"Langsung saja ke pertanyaan inti." Ucap Abian dengan nada cukup tegas.
"Hemmm." Nyonya Rona tidak ada keberanian untuk menjawab ataupun menanyakan itu.
"Kalau mami tidak mau mengajukan pertanyaan, aku akan tetap memberikan jawabannya. Aku menginap di sini atas kemauanku sendiri dan jangan memikirkan hal jelek tentang keluarga Aneska, jelas!" Ucap Abian tegas.
"Je je jelas." Sahut nyonya Rona gugup.
"Jika tidak ada yang di tanyakan lagi, aku akan mengakhiri panggilan ini."
"Tunggu jangan di tutup dulu, mami mau tanya bagaimana dengan acara ultah kamu?" tanya nyonya Rona pelan.
__ADS_1
"Aku tidak yakin akan menghadirinya."
"Kenapa? undangan telah di sebar kalau kamu tidak datang mau di letak di mana wajah kita."
"Mungkin wajah mami." Sindir Abian.
Ucapan anaknya langsung mengenai sasaran. "Iya kamu benar, kalau kamu tidak hadir mami orang yang paling malu."
"Tenang mami, jangan terlalu memusingkan omongan orang. Kalau khawatir mami bisa meniupkan lilin untuk mewakili ku." Abian langsung menutup panggilan itu secara sepihak.
***
Di istana
Nyonya Rona berteriak histeris dengan menyebut nama Abian. Ila yang berada di situ menutup telinganya karena maminya berteriak yang sangat memekakkan telinga.
Ila pergi dari tempat itu tapi nyonya Rona menarik tangan anak bungsunya.
"Ila jangan pergi." Ila hanya bisa tersenyum yang di paksakan.
"Bantu mami." Nyonya Rona belum selesai dengan kalimatnya tapi anak bungsunya langsung menolaknya.
"Enggak mam, aku enggak berani. Kak Abian menakutkan. Pasti kak Abian tau kalau mami menyuruhku." Ujar Ila menolak.
"Ya kamu benar, tapi kamu bisa meminta Aneska untuk merayu Abian. Mami yakin jika wanita itu yang minta pasti Abian mau." Jelas nyonya Rona.
"Namanya Aneska mam, kalau kak Abian tau mami bisa kena marah loh." Nyonya Rona langsung menjewer telinga anak bungsunya.
"Sakit mi." Ila meringis.
"Makanya jangan ajari mami." Gerutu wanita paruh baya itu marah.
***
Abian dan mertuanya pergi ke sawah, Abian hanya mengenakan singlet dan celana mertuanya yang di atas paha.
Pak Mirza memberikan topi caping miliknya ke Abian. "Untuk apa ini pak?" tanya Abian bingung.
"Kamu lebih membutuhkan dari pada bapak." Sahut pak Mirza. Pria paruh baya itu khawatir kulit menantunya gosong kena teriknya matahari.
Mereka berjalan kaki menuju sawah, yang mana semua orang ketika melihat Abian langsung menoleh dan takjub akan ketampanan wajahnya.
"Pak, apa penampilan saya ada yang salah?" tanya Abian ke mertuanya.
"Tidak ada yang salah, hanya saja." Pak Mirza diam.
"Hanya saja apa pak?" tanya Abian penasaran.
"Kamu terlalu tampan untuk menjadi seorang petani." Ujar pak Mirza jujur.
Bersambung...
__ADS_1